Gio datang pukul sepuluh pagi dengan setelan kerja yang sama rapinya seperti hari kerja. Ia berdiri di teras rumah Barito, di antara pot-pot bunga plastik dan ember berisi air cucian, dan membawa sesuatu seperti seorang pelayan istana membawa surat penting: dengan dua tangan, di depan dada.
"Selamat pagi, Aileen. Maaf mengganggu hari Minggu."
"Gio." Aileen menahan pintu. Di belakangnya Ningsih sudah mengintip dari balik pinggang Tante Mira, sendok nasi masih di tangan. "Masuk dulu."
"Terima kasih, tapi saya cuma diminta menyerahkan ini dan tidak menunggu jawaban." Ia mengulurkan sebuah kotak kecil berlapis kain hitam, seukuran telapak tangan. "Pak Bagas minta saya yang membawa, bukan kurir."
Aileen menerimanya. Kotak itu ringan. Ia membuka tutupnya perlahan dan butuh dua detik penuh sebelum menyadari apa yang ia lihat: seuntai rantai tipis sudah hitam di sambungan, dengan bandul bulat sebesar kancing baju yang permukaannya aus oleh tahun-tahun gesekan kulit. Di bagian belakang bandul ada goresan satu huruf kecil yang hanya ia sendiri bisa baca. A.
Ia tidak sanggup bicara.
Gio menunggu dengan sabar, tangan terlipat di depan tubuh. Ketika Aileen akhirnya bisa mengeluarkan suara, yang keluar bukan ucapan terima kasih.
"Dia gimana?"
"Pak Bagas?" Gio menimbang sebelum menjawab. "Makan di meja makan, ditemani Ibu Cintya. Piringnya habis. Semalam ia di ruang kerja sampai lewat tengah malam dan berbicara ke kursi kosong. Saya tidak melihat Bu Aira, tapi sepertinya beliau menjawab." Matanya melembut sepersekian detik. "Pak Bagas tidak menanyakan Aileen sekali pun. Ia hanya meminta saya memastikan Aileen tidak kehabisan obat."
"Mas Denis menitipkannya di toko gadai dekat terminal," kata Gio pelan, memandang ke arah pot bunga plastik. "Waktu mereka bertemu di kampus, Mas Denis menyebutkan nama tokonya kepada Pak Bagas. Kami datang beberapa hari lalu. Waktunya hampir habis, jadi saya tebus sebelum barangnya dilelang. Notanya saya simpan kalau Aileen ingin melihat."
"Bagas yang suruh?"
"Sehari sesudah ia bertemu Mas Denis, ia menyuruh saya mencarinya. Tiga hari ia menanyakan hasilnya." Gio menunduk sedikit. "Di dalam ada catatannya."
Di bawah alas kain, terlipat dua, ada secarik kertas dengan huruf-huruf tegak yang Aileen kenali dari buku catatan biru. Tulisan tangan Bagas, tergesa tetapi rapi.
Ini bukan bayaran. Ini milikmu.
Hanya itu. Tidak ada tanda tangan, tidak ada nama.
"Saya pamit," kata Gio. "Kalau ada yang perlu, kabari saya. Kapan pun."
Ia membungkuk singkat dan pergi, dan baru ketika mobilnya tidak terdengar lagi Aileen sadar air matanya sudah jatuh ke atas kain hitam.
***
Siang itu Barito mengajaknya duduk di bangku bambu di bawah pohon jambu belakang rumah. Kotak itu masih ada di pangkuan Aileen. Dari dapur terdengar denting piring dan suara Mira memarahi Ningsih agar cuci kaki dulu.
"Kamu sudah lihat huruf di belakangnya?" tanya Barito.
"Sudah, Paman. A." Aileen mengusapnya dengan ibu jari. "Ayah beli sendiri?"
"Adikku itu bukan orang yang pandai membeli perhiasan, Nak." Barito tertawa kecil, lalu tawanya menipis. "Dia pesan di toko emas kecil dekat pasar. Dengan uang lembur sebulan, dan dia pulang tanpa makan siang tiga hari. Waktu itu kamu masih SD. Pulang sekolah dia suruh Paman antar ke rumah, katanya kejutan."
"Aku ingat dia memakaikannya di dapur."
"Dia bilang sesuatu waktu itu."
Aileen menoleh. "Apa?"
Barito menatap jambu yang menggantung rendah. "Dia bilang, Ai, ini biar kamu nggak merasa sendirian kalau Ayah lagi nggak ada. Waktu itu Paman pikir dia cuma maksud kalau kerja ke luar kota. Sekarang kupikir..." Ia berdeham, menepuk lututnya dua kali. "Adikku itu keras kepala, tapi dia tahu betul bakal pergi duluan. Dia selalu tahu."
Tenggorokan Aileen terasa penuh. Ia menggenggam kalung itu sampai bandulnya meninggalkan jejak bulat di telapak tangan.
"Aku jual," bisiknya. "Maksudku Denis yang jual, tapi karena aku. Aku yang membuat dia harus."
"Jangan." Barito meraih bahunya dengan satu tangan. "Jangan salahkan diri untuk hal yang kamu tidak punya pilihan. Denis tahu, kok. Dia bilang dia mau menebusnya sendiri nanti, kalau sudah kerja."
"Sekarang sudah ada yang menebusnya."
"Iya." Barito mengangguk perlahan. "Orang itu."
"Paman tidak suka dia."
"Paman tidak percaya dia," koreksi Barito. "Itu beda. Orang yang membayar utang dengan cara yang salah, lalu merobek surat dengan cara yang benar, belum tentu orang jahat. Tapi dia juga belum tentu orang baik." Ia mengelus dagu. "Kalau suatu hari dia datang ke sini, Paman suruh duduk di teras dulu. Tidak langsung masuk."
Aileen tersenyum di sela air matanya. "Dia sudah belajar menunggu di teras."
"Kalau begitu Paman tambah satu cangkir teh."
Aileen menangis, lama, tanpa suara, dengan dahi di bahu pamannya. Barito hanya menepuk-nepuk punggungnya seperti menepuk anak kecil yang demam, sampai napasnya kembali teratur.
***
Malam turun dengan cepat di rumah itu. Setelah makan, Ningsih tertidur di pangkuan Mira sambil memeluk lele plastik, dan Aileen naik ke atap seng lewat tangga besi di samping rumah yang pernah dilarang Mira saat ia masih kecil. Sekarang tak seorang pun melarang.
Langit di atas rumah Paman cerah dan bising oleh lampu kota. Orion setengah tertutup menara air tetangga. Ia mencoba memasang ukuran jarinya seperti yang diajarkan Ayah, tiga bintang berjajar, tapi pagar atap yang rendah dan tiupan angin dari arah pasar membuat semuanya terasa kurang. Kurang luas. Kurang tinggi. Kurang dingin.
Ia memegang kalung di leher yang sudah terpasang lagi. Beratnya kecil tetapi nyata.
Dulu Ayah menggendongnya di bahu di halaman belakang rumah lama dan menunjuk tiga titik terang tanpa menyebut namanya. "Kamu cari sendiri, Ai," katanya. "Bintang itu tidak lari. Hanya orang yang berhenti mencari yang merasa ditinggal." Waktu itu Aileen kecil tak mengerti. Sekarang kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang ditulis untuk malam seperti ini, dan ia benci karena Ayah tidak bisa ditanya maksudnya.
Ia merindukan atap itu. Itu mudah. Tinggal akui saja. Sudah dua kali dalam sehari ia mencari bayangan pagar tinggi yang tidak ada di sini. Bangku panjang, pagar dingin, jarak yang cukup dekat dengan bintang.
Ia merindukan Aira, dan itu juga mudah. Bawelnya, ucapan "Ai, lihat itu" yang tak pernah berhenti, tangan tembus pandang yang selalu hendak merapikan rambutnya padahal tak pernah berhasil.
Yang ketiga...
Aileen menutup mata. 'Tidak,' pikirnya. 'Aku tidak akan menyebutnya. Kalau tidak disebut, belum jadi nyata.'
Ia mengeluarkan ponsel dan menggulir ke nama Gio. Jempolnya sempat ragu di atas layar, lalu menekan.
"Aileen?" Suara Gio tenang seperti biasa, tetapi nadanya naik sedikit, tanda ia tidak tidur.
"Terima kasih untuk kalungnya." Aileen menyeka pipi dengan lengan jaket. "Itu bukan sesuatu yang bisa kubalas, dan aku tahu bukan kamu yang minta aku membalasnya."
"Sama-sama."
"Antar aku ke rumah sakit besok pagi," katanya. "Lalu pulang."