Demamnya turun menjelang subuh dan tidak kembali. Pukul delapan pagi, Aileen berdiri di teras dengan tas kain berisi dua setel pakaian, dua kotak obat bersusun yang diatur Cintya, dan buku catatan gejala bersampul biru.
Gio sudah membuka pintu belakang mobil. Bagas berdiri di ujung teras, tangan di saku, jarak empat langkah dari Aileen. Ia tidak menghalangi apa pun.
"Senin siklus keempat," ujarnya. "Gio menjemputmu jam tujuh."
"Iya."
"Kalau demamnya naik lagi, telepon. Siapa saja. Telepon Gio, telepon aku, telepon Daren."
"Iya, Bagas."
"Dan buku itu..." Ia melirik buku biru di tangan Aileen. "Tidak usah ditulis kalau kamu tidak mau. Itu bukan perintah lagi."
Aileen menunduk melihat buku itu. Ada huruf B di halaman terakhir, gores tinta yang sama tiap pagi. "Aku tetap menulisnya. Bukan untukmu. Untuk Mahesa."
Sudut mulut Bagas bergerak, hampir menjadi senyum, lalu padam. Ia mundur selangkah, membuka jalan.
Aira berdiri di bawah tangga teras dengan tangan terlipat di dada. Matanya merah. "Aku ikut," katanya, hampir tanpa suara.
Aileen menoleh sedikit, hanya cukup supaya Aira tahu ia mendengar, lalu menggeleng sehalus mungkin. Dua hari, kata matanya. Tinggal.
Bahu Aira turun. "Aku jaga rumah," bisiknya. "Dan dia."
Aileen masuk ke mobil. Pintu menutup dengan bunyi mantap, dan lewat kaca belakang ia melihat Bagas masih berdiri di teras sampai gerbang besi menutup di belakang mereka.
***
Pasar ikan di dekat rumah Paman Barito sudah ramai sebelum matahari tinggi. Bau amis, es batu pecah, dan teriakan pedagang bersahutan di antara terpal biru yang bergoyang. Barito berdiri di balik meja panjang berisi bandeng dan kembung, lengan baju digulung sampai siku, tersenyum sampai matanya hilang ketika melihat Aileen.
"Nah, ini dia!" Ia mengelap tangan di celemek dan menarik Aileen ke dalam pelukan yang berbau garam dan es. "Bukan demam, kan? Mira bilang kamu demam."
"Sudah turun, Paman."
"Turun, katanya." Barito mengusap punggungnya dengan kikuk. "Kurus. Kamu makin kurus, Nak."
"Kakak Ai!"
Sesosok kecil menerjang dari balik meja dan memeluk pinggang Aileen sampai ia sedikit terhuyung. Ningsih, dengan kuncir dua dan sandal jepit yang berbeda warna, mendongak dengan mata bulat. Aileen menahan bahunya dan tersenyum, lebih tulus dari yang ia kira.
"Hai, Ningsih."
"Kakak kok pakai topi? Di sini panas." Ningsih menarik-narik ujung syal. "Kakak botak, ya? Teman Ningsih ada yang botak. Katanya ayahnya sakit."
"Ningsih!" tegur Barito.
"Boleh, Paman." Aileen berjongkok supaya sejajar dengan Ningsih. "Iya. Rambut Kakak lagi istirahat. Nanti tumbuh lagi."
"Kapan?"
"Sesudah Kakak sembuh."
"Berarti Kakak cepat sembuh," putri kecil itu memutuskan dengan yakin dan langsung berlari mengambil seekor ikan lele dari ember untuk diperlihatkan. Barito tertawa keras.
Aileen berdiri di antara para pedagang yang menawar dan menimbang, memperhatikan gadis kecil itu menjerit karena ikan lele meloncat dari tangannya. Perutnya, tempat bekas luka dan benjolan itu berada, terasa hangat. Seorang anak yang berlari dengan paru-paru dan ginjal yang bekerja baik. Ia memikirkan satu ginjalnya yang kini ada di tubuh kecil itu, dan untuk pertama kalinya sejak vonis di rumah sakit, ia tidak merasa sedang kehilangan sesuatu.
"Dia sehat sebagian karena kamu, Nak," kata Barito pelan, mengikuti arah pandangannya. "Aku sering lupa bilang terima kasih."
"Jangan bilang, Paman. Nanti Ningsih dengar dan geer."
"Kamu itu." Barito mengusap matanya dengan lengan baju, lalu berdeham keras. "Soal utang kawanku itu, sudah lunas. Pak Gio yang bawa uangnya kemarin dulu, rapi, tidak banyak tanya. Aku ingin menolak."
"Aku tahu siapa yang menyuruh."
"Kamu marah?"
"Sudah." Aileen tersenyum tipis. "Dia mendengarkan. Sedikit."
"Kakak, Om yang pakai jas itu mana?" Ningsih muncul lagi di sisinya, tangan basah bau amis. "Yang waktu Kakak pakai baju krem. Kok nggak ikut?"
Barito pura-pura sibuk menimbang kembung untuk seorang ibu. Aileen merasakan telinganya memanas.
"Dia lagi kerja."
"Kakak berantem, ya?"
"Ningsih," tegur Barito lagi, kali ini tanpa tenaga.
"Nggak berantem," jawab Aileen, dan ia terkejut karena kalimat itu terdengar jujur. "Kakak cuma lagi mikir."
"Mikir apa?"
"Mikir apa yang Kakak mau."
Ningsih menimbang jawaban itu dengan serius. "Kakak mau es krim?"
"Nanti kita beli."
***
Sore itu rumah Paman terasa seperti yang selalu ia kenang: dinding hijau pucat yang mengelupas, kipas angin yang berderit, dan aroma ikan kukus dengan jahe dari dapur. Tante Mira tak membiarkan Aileen menyentuh apa pun. Ia disuruh duduk di dipan ruang tengah dengan bantal di punggung, dan Ningsih menggambar di lantai dengan krayon patah, sesekali bertanya apakah matahari berwarna oranye atau kuning.
Hangat. Itu kata yang tepat. Rumah ini hangat tanpa harus berusaha.
Tetapi ketika ia memandang jendela, ia mendapati dirinya menoleh ke sisi kiri, ke sudut tempat Aira biasa berdiri sambil memberi komentar tentang apa saja. Tidak ada siapa-siapa. Beberapa menit kemudian ia menoleh lagi, dan baru sadar ia sedang menunggu bisikan "Ai, lihat itu" yang tak datang. Sudah dua kali.
Yang ketiga kali berbeda. Ia sedang mengaduk teh ketika telinganya menangkap bunyi langkah di teras, dan dadanya mengencang sebelum otaknya sempat bilang itu cuma tetangga. Langkah kaki seorang laki-laki, berat dan terukur.
'Bukan dia,' batin Aileen. 'Dia tidak akan datang. Aku yang minta.'
Ia meletakkan sendok dan menghembuskan napas. Di balik jendela, atap seng tetangga memantulkan cahaya sore dan tiba-tiba ia merindukan hal yang sama sekali berbeda: bangku panjang di teras atap, pagar pembatas yang dingin di bawah telapak tangan, langit yang terlihat lebih luas dari sana. Rumah Paman punya segalanya kecuali itu. Lalu, tanpa ia rencanakan, matanya jatuh pada lehernya sendiri. Kosong. Sejak tagihan rumah sakit Denis, ia tidak pernah lagi merasakan berat kecil di sana.
"Tante," panggilnya, "dulu Ayah punya kalung kecil, ya? Yang bandulnya bulat."
Tante Mira berhenti memotong bawang. "Kalung yang dikasih Fahrul? Kamu pernah pakai terus, Nak."
"Dipakai Denis untuk bayar rumah sakit. Aku belum sempat tanya ke mana." Aileen memutar cangkir di antara kedua telapaknya. "Aku baru sadar. Malam-malam aku suka megang leher, mencari. Padahal sudah lama hilang."
"Namanya juga peninggalan." Mira menyeka tangan dan duduk di sebelahnya. Tatapannya lembut tetapi tajam, tatapan yang melihat lebih jauh dari yang ditanyakan. "Kamu kangen kalungnya, atau kangen yang lain, Nak?"
Aileen terdiam terlalu lama. Dari halaman terdengar gadis kecil itu menyanyikan lagu anak-anak dengan nada sumbang. Sumbang. Ia teringat Bagas yang melamar Aira dengan nyanyian sumbang, dan ia menggigit bibir.
"Aku nggak tahu, Tante."
"Ya sudah." Mira menepuk lututnya. "Kamu boleh tidak tahu."
Telepon rumah berdering di ruang depan. Mira bangkit, menjawab dengan suara tinggi yang ramah, lalu pelan-pelan menurunkannya. Sesaat kemudian ia kembali ke ruang tengah dengan gagang telepon masih di telinga, matanya melebar.
"Nak, ini Pak Gio. Katanya besok ada kiriman untukmu dari Pak Bagas."