Lewat tengah malam, Aileen belum juga tidur. Ia berbaring miring di kamar tamu dengan selimut sampai dagu, menghitung retakan kecil di plafon, ketika udara dingin merayap halus di sisi kaki.
"Aku di sini," bisik Aira.
Aileen tidak membuka mata. "Kamu kembali ke rumah Papamu, kan? Atau kamu cuma kebetulan lewat?"
"Aku menunggu sampai Bagas pulang." Suara Aira serak, seperti habis menangis lama. "Gio menjemputnya di gerbang. Dia berdiri di pinggir jalan hampir setengah jam, Ai. Gio sampai harus bilang tiga kali bahwa mobil sudah siap. Dia tidak bicara apa-apa di jalan, tapi sesudah sampai di rumah dia pergi ke ruang kerja dan menutup pintu. Lampunya masih menyala."
"Dia nggak lihat kamu?"
"Aku di sebelahnya sepanjang jalan. Dia nggak tahu." Aira terdiam sebentar. "Tapi aku berdiri di situ saja. Rasanya kurang kalau tidak ada yang menemani."
Aileen menarik selimut lebih tinggi. Dahinya terasa panas, tengkuknya basah, dan ada denyut tumpul di belakang mata yang sudah ia kenal sejak siklus kedua. "Aira, tolong. Jangan malam ini."
"Iya." Aira mengusap rambutnya dengan telapak yang tidak menyentuh. "Tidur, Ai."
***
Pagi datang dengan demam. Termometer yang dibawa Cintya menunjukkan angka yang membuat Cintya berhenti berbicara selama sepuluh detik penuh, lalu memanggil Gio tanpa mengangkat suara.
"Hanya karena capek, Tante," ucap Aileen dari bantal.
"Hanya karena capek, tapi kamu tetap makan." Cintya meletakkan nampan di nakas: semangkuk bubur dengan irisan jahe, segelas air hangat, dan tiga jenis obat yang sudah disusun rapi dalam tutup botol kecil. "Habiskan. Kalau tidak, Tante panggil Dokter Daren ke sini sebelum jam sepuluh."
"Itu pemerasan."
"Itu kasih sayang." Sudut bibir Cintya naik sedikit, lalu turun lagi. Ia duduk di tepi ranjang dan merapikan selimut Aileen dengan tangan yang gemetar tipis. "Semalam Tante lihat dari barisan itu. Tante tidak akan lupa wajahmu waktu kamu berbalik. Kamu tidak menangis, dan justru itu yang membuat Tante ingin..." Ia menggeleng. "Makan dulu. Nanti kita bicara."
Aileen menghabiskan separuh bubur sebelum perutnya menolak. Cintya baru pergi ketika terdengar ketukan di pintu, dua kali, pelan, jarak yang cukup lama di antaranya seakan si pengetuk sedang menimbang apakah akan mengetuk lagi.
"Boleh masuk?" Suara Bagas.
Aileen menatap pintu. Kamar tamu itu tidak pernah dikunci, dan Bagas tahu. Selama ini ia selalu menunggu di luar. Tetapi hari ini kata "boleh" itu terdengar seperti pertanyaan sungguhan.
"Sebentar." Ia menegakkan badan, membetulkan topi rajut yang ia pakai bahkan saat tidur, dan menarik napas. "Masuk."
Bagas masuk dan berhenti sejauh dua langkah dari ranjang. Ia tidak memakai jas. Kemejanya yang kemarin masih melekat, kusut di siku, dengan lingkar gelap di bawah mata yang menandakan ia tidak tidur sama sekali. Di tangannya ada sebuah map cokelat tipis. Aira muncul di ambang pintu di belakangnya dan berhenti di sana, tangan menggenggam tepi kusen.
"Aku mau bicara," kata Bagas. "Boleh duduk?"
Aileen menunjuk kursi rias dengan dagu. Bagas duduk, punggung tegak, map di pangkuan.
"Ada tiga hal." Ia menatap lantai sebentar, lalu mengangkat wajah, dan itu tampak lebih sulit baginya daripada pidato semalam. "Pertama, rahangmu. Di rumah sakit, waktu kamu bilang kamu indigo. Aku mencengkeramnya. Itu kekerasan. Aku bukan sedang marah pada sesuatu yang kamu lakukan; aku marah karena aku takut, dan aku melampiaskannya pada orang yang tidak bisa melawan."
Aileen tidak menjawab. Jarinya mencengkeram ujung selimut. Ia masih ingat dinginnya dinding lorong rumah sakit di punggungnya hari itu, dan bagaimana ia menahan napas supaya tidak terlihat gemetar.
"Kamu membuat aku merasa harus minta maaf karena sudah jujur," ucapnya pelan. "Waktu itu."
"Aku tahu." Bagas mengangguk sekali, tanpa membela diri. "Kedua, Denis. Lima orang yang aku suruh. Aku sudah minta maaf padanya, tapi yang menyuruh mereka, aku. Perintahnya tidak salah dengar; aku sendiri yang menyebutkannya. Bukan Gio, bukan mereka." Suaranya merendah. "Dan aku mengancammu dengan keselamatan adikmu supaya kamu mau tinggal. Itu pemerasan. Aku tahu namanya."
"Dan yang ketiga?"
"Tiga detik." Bagas mengatakannya cepat, seakan kalau lambat ia akan menghindar. "Semalam aku tahu kamu menunggu aku bicara. Aku tahu, dan aku diam. Aku diam bukan karena ragu padamu. Aku diam karena aku lumpuh. Aku sudah terlalu sering membiarkan Soraya bicara untuk kami semua di ruangan seperti itu, dan semalam tubuhku melakukan hal yang sama sebelum aku sempat melarangnya. Itu bukan alasan. Itu cuma penjelasan. Alasannya tetap tidak ada."
Hening. Dari lorong terdengar bunyi jam dinding yang berdetak, suara yang tak pernah Aileen perhatikan sebelumnya.
"Itu semua?" tanyanya akhirnya.
"Belum." Bagas membuka map. Selembar kertas bermaterai ia keluarkan, bertulis nama Aileen Andita dan angka seratus juta dengan huruf cetak tebal. Aileen mengenalnya. Kertas itu pernah terbanting di meja kafe, di depan matanya, di hari ia menyerah.
Bagas memegang kertas itu dengan kedua tangan dan merobeknya menjadi dua. Lalu dua lagi. Lalu lagi, sampai pecahannya kecil dan tidak bisa dibaca. Ia meletakkan semuanya di nakas, di sebelah mangkuk bubur.
"Utangmu nol. Tanpa syarat. Tidak ada pasal yang menggantikannya." Bagas menatap serpihan kertas itu, bukan Aileen. "Pengobatanmu tetap kutanggung, apa pun yang kamu putuskan. Kontrak itu mau kamu teruskan atau tidak, terserah kamu. Pintu depan tidak dikunci, dan Gio akan mengantarmu ke mana pun kamu mau pergi."
Aileen menatap serpihan itu. Selama berminggu-minggu kertas itu adalah tembok yang menahannya di rumah ini, dan sekarang ia hanya segenggam serpihan di samping bubur yang separuh dingin. Ia menunggu rasa lega. Yang datang justru sesuatu yang aneh dan ngeri: ia tidak punya alasan lagi.
"Apa yang kamu mau sebagai gantinya?" Suaranya parau.
"Tidak ada."
"Bagas."
"Sungguh tidak ada." Bagas menegakkan badan. "Kalau aku minta sesuatu, aku cuma mengulang cara yang lama."
Di ambang pintu Aira menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Ai," bisiknya, "dia sungguh-sungguh. Aku mengenal wajah itu. Itu wajahnya waktu dia melamarku dengan nyanyian sumbang."
Aileen menelan ludah. Tidak ada gunanya mengulang kalimat Aira keras-keras saat Bagas sudah menatapnya dengan cara itu, jadi ia hanya berkata, "Aira bilang kamu serius."
Bagas menoleh ke ambang pintu, ke ruang kosong, lalu kembali. Wajahnya bergeser sedikit, seperti orang yang menerima sesuatu yang tak layak ia terima. "Terima kasih, Aira," ucapnya pelan ke arah kusen.
Aileen menarik napas panjang. Demamnya membuat langit-langit kamar sedikit berputar, tetapi kepalanya terasa jernih. Terlalu jernih.
"Kalau aku jawab sekarang, itu demam yang bicara," ujarnya. "Atau rasa kasihan. Aku memang kasihan melihatmu duduk di situ dengan kemeja semalam. Tapi kasihan bukan alasan untuk tinggal, dan aku tidak mau tinggal karena alasan yang salah. Lagi."
Bagas menerimanya seperti pukulan yang pantas. "Kamu mau ke mana?"
"Rumah Paman Barito." Ia melirik serpihan kertas di nakas. "Aku mau tahu rasanya memilih ketika tidak ada yang mengancam kalau aku salah pilih."
"Gio akan mengantarmu kapan pun kamu siap."
"Besok." Aileen menyandarkan punggung ke bantal. Telapak tangannya basah, jantungnya berdebar tak keruan, dan ia tidak yakin apakah itu efek demam atau efek lain. "Aku butuh dua hari. Sendirian."