Bagas mendengar langkah Aileen hilang di ambang pintu aula. Sesudah itu suara pertama yang sampai ke telinganya adalah isakan Nani, keras dan dibuat-buat.
Tiga detik. Ia baru menghitungnya sekarang, seperti orang yang menghitung uang setelah uang itu jatuh ke selokan. Seratus kepala masih menunggu apa yang akan ia katakan. Soraya masih berdiri di panggung dengan mikrofon di tangan dan senyum sabar yang sama.
Bagas berjalan ke panggung. Soraya mengulurkan mikrofon itu dengan kedua tangan, seolah menyerahkan hadiah.
"Terima kasih, Soraya," kata Bagas, lalu mengambilnya. Jarinya tidak sengaja menyentuh jari Soraya, dingin dan kering. Ia menarik tangannya lebih cepat dari yang sopan.
Ia berbalik menghadap para tamu. Kalimat-kalimat yang tadi macet di kerongkongannya sekarang keluar tanpa disusun.
"Perempuan yang baru keluar dari ruangan ini istri saya. Namanya Aileen Andita. Saya yang memilihnya, bukan keluarga siapa pun, bukan karena siapa pun menyuruh." Suaranya bergema ke dinding belakang, ke foto Aira yang tersenyum. "Siapa yang menghinanya di rumah ini, menghina saya. Saya harap itu jelas."
Dengung yang tadi sudah mati hidup lagi, kali ini dengan nada lain. Nani berhenti terisak.
"Nak Bagas." Viona maju setengah langkah, tangannya masih di bahu Nani. "Ini acara mengenang Aira. Kita tidak perlu..."
"Mama Viona yang menaruh mereka di barisan depan," potong Bagas, tanpa nada tinggi. "Dengan kartu bertuliskan keluarga mempelai."
Viona membuka mulut lalu menutupnya. Matanya berpindah ke arah suaminya.
Hendra sudah berdiri di tempatnya sejak tadi. Ia berjalan pelan ke depan, tidak ke panggung, hanya ke tengah ruang yang kosong, dan semua orang menyingkir tanpa diminta. Suaranya serak, tetapi cukup keras untuk terdengar sampai pintu.
"Aira tidak akan mau acara ini dipakai untuk menyakiti siapa pun." Ia menatap istrinya, bukan para tamu. "Siapa pun."
Viona tidak menjawab. Bibirnya mengatup rapat, dan itu justru lebih keras dari bantahan apa pun.
"Bagas," Soraya turun dari panggung dengan langkah ringan, suaranya dilunakkan seperti kain, "kamu sedang emosi. Kita semua sedang berduka. Bicarakan ini nanti, di rumah, tanpa orang banyak."
"Aku berhenti menunggu rumah yang tepat untuk bicara, Soraya." Bagas menatapnya lurus. Untuk beberapa saat ia mencari sesuatu di wajah itu, entah rasa bersalah, entah kemarahan, dan hanya menemukan ketenangan yang terlalu rapi. "Tadi kamu bilang tidak semua orang pantas menempati kursi yang bukan miliknya. Kursi di sebelahku bukan milik siapa-siapa. Aku sendiri yang menyiapkannya untuk Aileen."
Soraya tersenyum, tipis dan sopan. Tangannya yang menggenggam ujung gaun memutih di buku jari.
"Menantu saya mau mengusir ibu mertuanya?" Nani menemukan suaranya lagi, lebih kecil. "Saya ini ibunya..."
"Gio," panggil Bagas.
Gio sudah ada di sana, entah sejak kapan. Kerabat Viona yang tadi menghadangnya mundur satu langkah begitu melihat sorot mata Bagas. "Ibu Nani, Pak Bono," kata Gio dengan sopan yang tak memberi celah. "Mobil sudah menunggu. Saya antar pulang."
"Aku nggak mau..." Bono terhuyung, hampir menabrak kursi. Gio menahan sikunya, tegas tetapi tidak kasar, dan menuntunnya ke pintu. Nani menyusul sambil menggerutu pelan, sapu tangannya sudah tidak dipakai lagi.
Di barisan ketiga Pradipta masih duduk tegak. Bagas bertemu mata ayahnya sepersekian detik. Wajah Pradipta tidak tersenyum, tidak mengangguk, tetapi sesuatu di sana berubah. Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang ayah yang menimbang anaknya yang gagal. Bagas tidak punya waktu memikirkannya.
Ia meletakkan mikrofon di tangan seorang pemuda panti yang berdiri melongo di sisi panggung. "Maaf mengganggu acaranya," ucapnya pada ruangan, lalu berjalan keluar.
Cintya menyentuh lengannya saat ia lewat. "Susul dia," bisiknya. "Sekarang, Nak."
***
Di teras, Gio sedang menutup pintu mobil sedan hitam yang membawa Nani dan Bono. Ia melirik Bagas, lalu menunjuk ke arah gerbang dengan dagu, tanpa kata.
Halaman rumah Hendra remang, penuh mobil yang diparkir rapat. Aileen berdiri di dekat gerbang besi, di bawah lampu jalan yang berdengung, topi rajutnya miring sedikit. Ponsel di tangannya menyala, menampilkan peta dengan titik kecil yang bergerak mendekat.
Bagas berhenti dua langkah di belakangnya. Ia tidak tahu bagaimana memulainya, jadi ia mengatakan hal yang paling benar.
"Aku diam tiga detik. Aku salah."
Aileen tidak menoleh. "Aku tahu. Aku ikut menghitung."
"Di dalam tadi aku sudah..."
"Aku dengar." Ia memasukkan ponsel ke saku jaket. "Dari pintu. Bagus, kamu bicara dengan jelas. Kedengaran sampai sini."
"Aileen."
"Aku tidak marah karena kamu telat." Akhirnya ia berbalik. Wajahnya pucat di bawah lampu, matanya kering. Itu yang paling mengganggu Bagas, mata yang kering. "Aku marah karena aku sempat berharap, dan aku benci bahwa aku masih bisa berharap. Itu bodoh."
"Bukan bodoh."
"Itu bodoh, Bagas." Ia menarik napas pendek. "Aku tidak butuh pidato. Pidato gampang, semua orang bisa bicara di depan mikrofon kalau sudah telanjur malu. Yang aku butuh, kamu tidak diam waktu mereka melihatku."
Bagas menelan kalimat pembelaan yang sudah di ujung lidah. Ia tahu, kalau diucapkan, kalimat itu hanya akan terdengar seperti tawar-menawar.
"Kamu benar," ucapnya.
"Aku tahu." Aileen menggeser berat badannya, sedikit goyah, dan Bagas hampir melangkah sebelum ingat. Ia berhenti. Aileen melihat gerakan setengah itu dan, sepersekian detik, ekspresinya melunak, lalu mengeras lagi. Pandangannya bergeser sedikit ke sisi, ke ruang kosong di samping Bagas, lalu kembali. "Aku capek malam ini. Obat pagi tadi sudah habis efeknya. Aku mau pulang."
"Aku antar."
"Tidak."
"Aku bawa mobil. Kita bisa..."
"Aku naik taksi sendiri." Lampu depan sebuah mobil putih menyorot dari ujung jalan dan melambat. "Kamu masih dibutuhkan di dalam. Ibumu, Pak Hendra, tamu-tamu itu."
Bagas mengangkat tangan setengah jalan, tanpa tahu apa yang hendak ia lakukan dengannya. Ia menurunkannya lagi. "Boleh aku..."
"Tidak malam ini." Aileen membuka pintu belakang taksi. Ia berhenti sebentar dengan satu kaki di dalam. "Tapi tadi kamu bilang kalau ada yang menghinaku, itu menghinamu. Jangan lupa kamu pernah mengatakannya. Aku akan mengingatkan."
Pintu menutup. Bagas berdiri di tepi jalan sampai lampu belakang taksi mengecil di tikungan, dan baru sadar kedua tangannya terkepal.
***
Di dalam taksi, bau pengharum jeruk dan plastik. Sopirnya bertanya alamat, Aileen menyebutkannya dengan suara datar, dan pria itu menyalakan radio kecil yang memutar dangdut lawas.
Kursi di sebelahnya turun sedikit, tanpa bunyi apa pun. Aileen tidak menoleh. Di depan ada orang. Ia hanya menggeser satu jari di atas lutut, tanda bahwa ia tahu.
"Ai," bisik Aira. Wajahnya tembus pandang dan basah. "Dia benar-benar menyesal. Aku melihatnya."
Aileen menatap jendela. Lampu-lampu gerbang perumahan lewat satu demi satu.
"Dia berdiri di situ sampai mobil ini hilang," lanjut Aira, tersendat. "Sendirian, Ai. Seperti di atap rumah sakit dulu. Waktu semua orang sudah pergi dan dia masih berdiri di sana."
Aileen menggigit bagian dalam pipinya dan tidak menjawab.
Taksi berhenti di lampu merah di ujung jalan. Aira diam sebentar. Lalu ia berkata, kali ini lebih tegas, "Aku turun di sini."
Ia menembus pintu tanpa menunggu jawaban. Aileen memutar badan dan melihat dari kaca belakang: Aira berdiri di tengah jalan beraspal di bawah lampu merah, rambut ikalnya bergerak oleh angin yang tak terasa di dalam taksi. Hanya sedetik ia memandang taksi itu. Kemudian ia berbalik dan berlari ke arah rumah Hendra, ke arah laki-laki yang masih berdiri sendirian di gerbang, gaunnya berkibar di belakangnya.