Aula rumah Hendra penuh sebelum jam yang dijadwalkan.
Kursi-kursi lipat berlapis kain putih dijajarkan sampai ke pintu, dan di dinding belakang panggung kecil terpasang foto Aira dalam bingkai besar, tersenyum dengan rambut ikal tertiup angin entah di pantai mana. Ada seratus tamu lebih. Mereka berdiri berkelompok dengan pakaian gelap dan suara yang direndahkan tepat sampai ke batas gosip. Aileen berjalan di antara mereka dengan topi rajut hitam dan syal abu-abu, tangan kirinya menggenggam siku Cintya, tangan kanannya kosong.
Bagas berjalan di sisi satunya. Ia tidak berkata apa-apa sejak turun dari mobil. Hanya sekali, di ambang pintu, ia menoleh dan menatapnya cukup lama, seakan menanyakan sesuatu yang tak perlu dijawab. Aileen membalas tatapan itu. Itu cukup untuk membuat langkahnya tidak goyah.
"Itu mereka," bisik Aira.
Aileen sudah melihatnya.
Di baris pertama, di sisi kiri panggung, ada dua kursi yang ditandai kartu karton bertuliskan KELUARGA MEMPELAI dengan huruf cetak. Nani duduk di satu kursi, mengenakan kebaya hitam yang belum pernah Aileen lihat, kain songket baru, rambut disanggul tinggi seperti dirias profesional. Di sebelahnya Bono dalam kemeja batik yang kebesaran, pelipisnya masih menyisakan memar yang disamarkan bedak. Ketika Aileen masuk, Nani mengangkat tangan dan melambai kecil, dengan senyum yang bukan senyumnya.
"Ya Tuhan," desis Cintya.
"Viona rupanya sudah menyiapkan semuanya." Suara Pradipta terdengar dari belakang, rendah dan dingin. Ia menatap deretan kursi itu seperti menimbang tuntutan perang.
"Biar saja." Bagas yang menjawab, dan suaranya mengejutkan Aileen karena mantap. "Kita duduk di tempat kita."
Viona muncul dari sisi panggung, mengenakan gaun hitam dengan mutiara besar di leher, wajah diterangi senyum yang sangat sopan. Ia mencium pipi Cintya, menepuk lengan Pradipta, dan menyentuh bahu Bagas dengan ujung jari. "Nak Bagas, sudah lama kita tidak berbincang. Dan ini..." Matanya jatuh pada Aileen. "Perempuan itu. Sudah bertemu keluarganya, rupanya? Saya pikir pantas mereka diberi tempat."
"Terima kasih atas perhatiannya, Bu," ucap Aileen tanpa nada.
"Sama-sama." Viona tersenyum lagi. "Silakan duduk di baris ketiga. Tempat keluarga sudah penuh."
Hendra duduk di kursi paling depan, di tengah, jas hitam, wajah kosong. Dari tempat Aileen berdiri ia terlihat sangat kecil. Ketika matanya bertemu mata Aileen, bibirnya bergerak dan tidak menghasilkan suara apa pun: maaf. Atau mungkin sabar. Aileen tidak yakin.
Gio berdiri di dekat pintu samping dengan tangan terlipat di depan tubuh, wajahnya datar, dan ia mengangguk sedikit kepada Aileen seperti seorang penjaga yang sudah menghitung jalan keluar. Di barisan kedua, beberapa ibu berkalung emas menoleh, menilai topi rajut Aileen dengan sekali pandang, lalu saling berbisik. Aileen duduk di kursi yang ditunjuk, di sebelah Cintya, dan memandang lurus ke foto Aira, karena itu satu-satunya tempat di ruangan yang tidak menghakiminya.
***
Acara dimulai pukul tujuh malam. Seorang kerabat jauh membacakan riwayat Aira, seorang teman kuliah menceritakan kebiasaannya menyelipkan roti ke tas orang yang lupa sarapan, seorang anak dari panti membawa gambar dan lupa membacakannya karena menangis. Tangan Aileen berkeringat di pangkuan. Aira berdiri di samping foto dirinya sendiri, kepala miring, mendengar dengan wajah yang tak tahu harus tertawa atau menangis.
Lalu Nani berdiri.
"Maaf!" Suaranya melengking, pecah di tengah. Ia menyeka mata dengan sapu tangan dan melangkah ke tengah ruang di depan barisan kursi, kedua tangan terkepal di dada. "Maaf, saya ingin bicara! Saya... saya hanya ibu miskin. Saya tidak berpendidikan..."
"Bu Nani," bisik seorang perempuan di samping panggung, tetapi Viona menahan lengannya dan menggeleng.
"Saya mau bilang," lanjut Nani, air mata mengalir, "bahwa saya ibu kandung Aileen. Ibu yang melahirkannya. Yang bertaruh nyawa waktu dia lahir. Dan sekarang anak saya menikah dengan orang kaya dan saya tidak pernah mendapat sepeser pun dari menantu saya!"
Dengung di aula berhenti. Seratus kepala menoleh serempak ke baris ketiga.
"Dia tidak mau memberi uang bulanan! Padahal Bapaknya sakit-sakitan! Anak durhaka! Anak yang menjual diri tidak peduli pada ibunya sendiri!"
"Betul," gumam Bono dari kursinya, sempoyongan berdiri sambil memegang sandaran. Bau minuman keras tercium sampai ke tengah ruang. "Kawin sama konglomerat... orang tua dikasih makan nggak... Dia dulu mukul saya pakai batu bata... di depan Bagas pun saya bilang..."
"Pak, duduk," terdengar suara Gio dari dekat pintu, tetapi seorang kerabat Viona sudah menghadangnya.
Aileen berdiri. Ia tidak ingat memutuskan untuk berdiri. Wajahnya terasa seperti topeng kayu, kakinya terasa seperti milik orang lain. Hanya tangannya yang menolak ikut berpura-pura. Jari-jarinya bergetar sampai ia harus melipat kedua tangan di depan perut.
"Ibu," katanya, cukup keras supaya terdengar sampai ke depan. "Ini bukan tempatnya."
"Tempatmu ya di sini! Kamu yang bikin malu!"
"Ibu datang untuk menghormati Aira atau untuk menagih saya?"
Nani membuka mulut, menutupnya, dan kemudian menangis keras. Viona merangkulnya dari samping dengan wajah penuh iba. Di sebelah mereka Hendra mulai berdiri dari kursinya, perlahan, tangan bertumpu pada sandaran, ketika suara lain mengambil alih seluruh ruang.
"Izinkan saya, Papa."
Soraya naik ke panggung kecil itu dengan anggun, gaun hitam sederhana, rambut disanggul, mikrofon di tangan. Wajahnya sedih dan tenang. Suaranya terdengar jernih ke setiap sudut.
"Terima kasih telah hadir, para tamu yang kami hormati. Hari ini kita berkumpul mengenang Kak Aira, kakak saya yang paling saya sayangi." Ia menoleh pada foto di belakangnya. "Kak Aira mengajarkan saya satu hal. Bahwa tidak semua orang pantas menempati kursi yang bukan miliknya."
Aileen merasakan seluruh tubuhnya mengeras.
"Ada orang-orang yang datang tanpa diundang, menggantikan tempat yang bukan milik mereka, dan berharap kita lupa siapa yang pernah duduk di sana." Soraya menunjuk bingkai itu dengan telapak terbuka, lembut, penuh hormat. "Tapi kita tidak lupa, Kak. Kita tidak akan lupa."
Beberapa tamu menggumam. "Pantas saja," bisik seorang ibu di barisan belakang, tidak cukup pelan. "Kasihan Bu Aira." Seseorang menarik napas keras. Cintya meraih tangan Aileen dan meremasnya sampai terasa sakit.
"Bagas," panggil Soraya manis, dan semua mata berpindah. "Mungkin kamu ingin berbicara kepada para tamu? Menjelaskan?"
Bagas berdiri.
Ia melangkah ke ruang kosong di antara barisan kursi dan panggung. Seratus lebih tamu menahan napas. Nani masih terisak di bahu Viona. Bono mendengus. Pradipta menegakkan tubuh. Hendra sudah berdiri sepenuhnya, tetapi belum berbicara.
Bagas menatap ke arah Aileen.
Aileen menunggu. Ia tahu apa yang ia tunggu: satu kalimat, tiga kata, apa saja. Ia sudah bertahun-tahun menunggu orang membela atau tidak membela dirinya, dan ia tahu bunyi menunggu itu, sunyi yang terlalu panjang.
Satu.
Wajahnya kosong. Matanya tidak berkedip. Di belakangnya foto Aira tersenyum, dan Aileen melihat bahu Bagas mengeras, rahangnya bergerak, rahang yang sama yang dulu mengunci di depan kafe, sebelum ada buku biru, sebelum ada termos jahe.
Dua.
Ia tidak menjawab. Bibirnya terbuka, menutup. Dari sudut matanya Aileen melihat Soraya menunggu dengan wajah sabar seorang pemburu.
Tiga.
Aileen sudah berbalik.
Ia berjalan menyusuri lorong di antara kursi dengan tumit yang tidak mau goyah, melewati tamu-tamu yang menyingkirkan lutut, melewati Gio yang menatap tanpa daya, melewati pintu aula yang terbuka ke halaman penuh mobil. Di belakangnya, teriakan melengking memecah ruang.
"Bagas!"
Tak seorang pun di aula itu mendengar teriakan tadi, kecuali Aileen.