Panti asuhan itu berada di ujung gang beraspal, sebuah rumah panjang bercat kuning gading dengan halaman yang cukup luas untuk dua gawang dari sandal bekas. Lima hari sejak makam itu, peringatan hari kesembilan puluh tinggal empat hari lagi, dan Aileen sengaja mengisi Minggu sore dengan urusan lain. Ketika mobil Gio berhenti di depan pagarnya, belasan anak sedang berebut bola plastik yang sudah tipis, dan salah satu dari mereka menoleh lebih dulu.
"Ada tamu!"
Dalam sekejap halaman penuh. Anak-anak berlari mengelilingi mobil, memanggil nama Cintya dengan suara sebanyak jumlah mereka. Cintya turun dengan senyum yang Aileen belum pernah lihat, lebar dan lepas dan sedikit basah. Ia memeluk setiap anak yang sampai ke jangkauannya dan menepuk-nepuk kepala yang tidak sempat dipeluk.
"Tante dulu sering ke sini bersama Aira," bisiknya kepada Aileen, setengah menjelaskan, setengah mengaku. "Sesudah dia pergi, Tante tidak sanggup. Hari ini Tante pikir harus mencoba lagi. Dan Tante tidak mau datang sendirian."
"Saya senang diajak, Tante."
Aira turun dari sisi lain mobil dan berhenti dua langkah dari pagar. Ia memandang halaman itu, rumah kuning itu, jemuran yang bergoyang di sisi dapur, dan bibirnya bergetar sebelum ia sempat menahannya.
Seorang gadis kecil berkepang dua menarik ujung kaos Aileen. Ia menatap topi rajut abu-abu dan syal jingga itu dengan sungguh-sungguh, seperti memeriksa barang di toko.
"Kakak siapa?"
"Aileen."
"Kakak Aira yang baru, ya?" Gadis kecil itu mengangguk mantap pada dirinya sendiri. "Kemarin Bu Soraya bilang, Kak Aira sudah pergi jauh, tapi nanti ada Kakak yang baru. Kakak yang baru pakai topi."
Perut Aileen berputar. Di belakangnya, Cintya menarik napas cukup tajam hingga terdengar.
"Bukan, Sayang." Aileen berjongkok supaya matanya sejajar dengan mata gadis kecil itu. "Aku bukan pengganti Kak Aira. Kak Aira cuma satu, dan nggak ada yang bisa menggantikannya. Aku teman Kak Aira. Teman yang diminta datang untuk melihat kalian."
"Teman?" Gadis itu berpikir. "Teman Kak Aira juga teman kami?"
"Kalau kalian mau."
Anak-anak bersorak seakan itu pengumuman kemenangan. Dan Aira, di dekat pagar, menutup mulut dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara, tapi wajahnya tersenyum, senyum yang ia pegang erat-erat.
***
Soraya menyambut di ambang pintu rumah dengan blus putih dan celana panjang krem, rambut disanggul rapi, senyum yang rapi pula. "Tante. Mbak Aileen. Senang sekali kalian datang." Ia mencium pipi Cintya dengan kehangatan yang terukur. "Anak-anak sudah menunggu sejak pagi."
"Sebagian dari mereka mengira saya pengganti Aira, Mbak," ujar Aileen datar.
"Anak-anak suka berpikir macam-macam." Senyum Soraya tidak bergeser sedikit pun. "Saya hanya bilang akan ada orang baru yang datang menjenguk. Maksud saya hanya itu."
"Tentu."
Cintya dibawa anak-anak ke ruang makan untuk melihat gambar mereka. Soraya mengajak Aileen melihat ruang administrasi di belakang rumah, sebuah ruangan sempit dengan meja kayu, mesin fotokopi tua, dan lemari arsip besi. Di meja itu terbuka sebuah buku kas besar bersampul hitam. Aileen melirik, tidak lebih dari yang sopan.
Tulisannya rapi sekali. Kolom pemasukan, kolom pengeluaran, nama donatur, jumlah, tanggal, dan di sudut halaman satu kolom berlabel "Bantuan Medis" yang terisi garis-garis lurus berangka kecil. Tanpa coretan, tanpa angka yang digeser. Bahkan tinta pulpennya sama sepanjang halaman.
"Saya mengelola ini sejak Kak Aira tidak ada," kata Soraya, mengikuti arah matanya. "Kak Aira yang paling rapi. Saya hanya mencoba memenuhi standarnya."
"Mbak berhasil."
"Terima kasih." Soraya menutup buku itu dengan satu tangan, ringan, tetapi tidak terlalu cepat. "Mbak sendiri bagaimana? Kelihatan kurus. Tante Cintya bilang Mbak sedang menjalani pengobatan. Saya turut prihatin. Hal seperti itu pasti berat, apalagi sambil mengurus rumah tangga baru."
"Pengobatannya ditanggung. Rumah tangganya ya begitu." Aileen tersenyum sama tipisnya. "Tidak seberat yang orang kira."
"Syukurlah. Saya senang Tante Cintya mengajak Mbak. Saya sempat khawatir kalian lupa kami di sini."
"Saya tidak lupa pada siapa pun," ujar Aileen.
Mata Soraya bertemu matanya setengah detik lebih lama dari perlu. "Syukurlah."
Dari ambang pintu, seorang anak laki-laki sekitar tujuh tahun menyembul, memegang kertas bergambar rumah dan matahari dengan krayon patah. Ia menatap Aileen, bukan Soraya.
"Kak." Suaranya nyaris berbisik. "Kak Aira masih ada di sini nggak? Kata teman-teman, Kak Aira masih suka lewat di lorong."
Aileen merasakan Aira berhenti bernapas di belakangnya. Soraya, di sampingnya, sama sekali tidak bergerak.
"Aku nggak tahu, Sayang," jawab Aileen. Kalimat itu keluar sebelum ia sempat memilihnya. "Mungkin kamu perlu tanya sama Bu Soraya."
Anak itu mengerutkan kening, lalu mengangguk dan menghilang lagi ke lorong. Aileen mencengkeram tali tasnya. Ia berbohong kepada anak tujuh tahun karena tak punya cara membenarkan kebenaran, dan rasa tidak enak itu menggumpal di tenggorokan seperti kerikil. Ia berjanji pada dirinya, di ruang administrasi sempit itu dengan Soraya yang masih tersenyum di sampingnya, bahwa ia akan berhenti menyembunyikan apa yang bisa disampaikan.
***
Malamnya, di ruang makan, Cintya membawa kabar yang tidak ia sukai.
"Arisan kemarin," katanya, meletakkan garpu dengan hati-hati. "Ibu-ibu itu membicarakan kalian. Mereka bilang Bagas menikahi perempuan miskin yang keluarganya penjudi, belum dua bulan sesudah Aira. Ada yang bilang Aileen mendekati Bagas waktu dia lemah, dan semua ini rencana sejak awal."
Bagas menaruh sendoknya. "Siapa yang bilang?"
"Tidak penting, Nak. Yang penting hari Kamis. Viona pasti mengundang separuh kota." Cintya menoleh pada Aileen dan bicara lebih lembut. "Dan kamu duduk di sebelah Tante. Tidak ada yang boleh menggeser kursi itu."
"Aku akan hadir." Bagas menatap piringnya yang hampir habis, kemudian menengok ke arah Aileen. "Dengan Aileen. Kepala tegak. Aku sudah bilang begitu di hadapan Papa, dan aku tidak berubah pikiran."
"Aku takut," ujar Aileen jujur. Cintya menoleh, Bagas diam. "Bukan pada gosip. Aku sudah terbiasa digosipkan. Tapi aku takut dipermalukan di depan orang yang menunggu itu terjadi. Dan aku takut kamu akan..."
"Akan apa?"
"Diam tiga detik." Ia tidak tahu dari mana kalimat itu muncul. Mungkin dari rasa yang lebih tua dari malam itu. "Seperti orang yang menimbang apakah aku layak dibela."
Bagas tidak tersinggung. Ia meletakkan serbet dan berkata pelan, "Kalau aku menimbang, kamu boleh menamparku di depan semua orang."
"Aku akan mencatat itu."
Sudut bibir Cintya bergerak.
Gio muncul di ambang pintu ruang makan, setelah mengetuk satu kali. Ia tidak biasa mengganggu makan malam, dan wajahnya menjelaskan sebabnya.
"Maaf, Pak. Saya baru dapat laporan dari Denis." Ia menatap Aileen. "Kemarin sore Pak Bono ditemukan di terminal. Beliau dan Ibu Nani dijemput sebuah mobil sedan hitam. Menurut tetangga, plat dan sopirnya milik keluarga Pak Hendra."
Aileen meletakkan sendok pelan-pelan. Ia membayangkan Nani di kursi mobil mewah itu dengan kebaya biru pinjaman, Bono yang pelipisnya masih biru, dan seorang perempuan yang duduk di sisi mereka sambil tersenyum, menenangkan, menawarkan teh.
"Viona," ucapnya. "Dia mengundang Ibu, untuk hari Kamis."