"Aku bisa ikut sampai gerbang makam," kata Bagas.
Pagi itu ia berdiri di kaki tangga dengan kunci mobil di tangan, perban di buku jarinya sudah diganti plester kecil, dan nada suaranya tidak terdengar seperti perintah. Lebih seperti orang yang menawarkan sesuatu yang ia sendiri tidak yakin pantas ditawarkan.
"Hendra bilang sendirian," ujar Aileen sambil menyampirkan tas. "Dan dia yang minta, bukan aku."
"Papa tidak menyebut Aira ikut atau tidak."
"Aira ikut. Dia sudah duduk di mobil sejak lima belas menit lalu." Aileen mendengar Aira berbisik sesuatu di sampingnya. "Dia bilang kamu jangan menunggu di gerbang seperti satpam."
"Aku tidak berniat..."
"Kamu berniat. Wajahmu sudah begitu." Aileen tersenyum tipis. "Pergilah kerja. Aku telepon kalau sudah selesai. Janji."
Bagas menatapnya cukup lama. Lalu ia mengembuskan napas dan menyerahkan kunci itu kepada Gio yang sudah menunggu di ambang pintu. "Antar dia. Parkir di jalan luar. Jangan masuk."
"Siap, Pak."
***
Pemakaman itu terletak di lereng landai, dengan jalan setapak dari paving yang dinaungi pohon-pohon kamboja tua. Bunganya putih dan menetes ke tanah. Aileen berjalan sendirian, setengah langkah di belakang Aira yang menunjukkan arah tanpa perlu ditanya, karena tak ada hantu yang lupa letak makamnya sendiri.
Hendra sudah ada di sana.
Ia berdiri membelakangi jalan setapak, jaket abu-abu tipis di bahunya, rambut peraknya tertiup angin. Sendirian, tanpa sopir, tanpa Viona. Di depan nisan marmer putih itu ada sebuket mawar yang sudah layu di pinggirnya dan sebuket baru yang belum. Ia tidak menoleh ketika Aileen berhenti di sisinya.
"Terima kasih sudah datang," ujarnya.
"Sama-sama, Pak."
"Saya biasa datang pagi-pagi. Selagi tidak ada yang melihat." Ia memandang batu itu. "Viona tidak suka saya datang terlalu sering. Katanya lebih baik berhenti berduka supaya cepat sembuh."
Aileen tidak menjawab. Di seberang makam, Aira berlutut di tanah, tangannya terulur menyentuh batu nisan yang tidak bisa disentuhnya, pipinya basah.
"Dia kecil sekali waktu ibunya meninggal," lanjut Hendra. Suaranya rendah dan teratur, suara orang yang sudah terbiasa menyimpan semuanya di dada. "Saya tidak tahu cara mengurus anak perempuan. Saya membelikan boneka yang salah, baju yang salah, mengajaknya makan di restoran yang membuatnya diam sepanjang makan. Lalu suatu hari saya menemukan dia di kolam belakang, memberi makan ikan koi dengan roti dari sarapannya sendiri. Ikan paling gemuk, dia beri nama Pak Jenderal. Saya pura-pura tidak tahu selama bertahun-tahun, supaya dia merasa itu rahasianya."
Aileen berdiri sangat diam.
"Saya sudah memikirkan ini sejak malam kamu bilang kalimat sup jagung itu." Hendra akhirnya menoleh, dan matanya merah tetapi tajam, mata seorang pengusaha yang tak bisa dibohongi pembukuan palsu. "Itu kalimat Aira. Cara dia menyindir tanpa marah. Tidak ada orang lain yang tahu dia selalu mengeluh sup saya keasinan. Saya sudah bertanya pada Bagas sesudahnya, dan dia tidak tahu apa-apa soal sup itu. Jadi saya ingin bertanya, dan saya minta kamu jawab jujur. Bagaimana kamu tahu?"
Di sudut matanya, Aileen melihat Aira mengangguk-angguk dengan wajah penuh air mata, bibirnya membentuk satu kata berulang-ulang: katakan, katakan.
"Saya melihat Aira, Pak," kata Aileen. "Sejak kecil saya bisa melihat dan mendengar orang yang sudah meninggal. Saya tidak pernah meminta kemampuan ini dan saya tidak suka. Tapi Aira ada. Dia ada sekarang, berlutut di depan nisannya, menangis menghadap Bapak."
Hendra tidak bergerak. Matanya bergeser ke tempat yang ditunjuk Aileen, rumput kosong di depan marmer, lalu kembali ke wajahnya, dan ekspresinya sangat sulit dibaca.
"Saya tidak minta Bapak percaya begitu saja. Saya orang asing yang menikah dengan menantu Bapak dengan alasan yang tidak sopan." Aileen menarik napas. "Dia memberi tahu saya tiga hal. Pertama, ikan koi bernama Pak Jenderal, dan Bapak pura-pura tidak tahu. Kedua, kalau Bapak menunggu di depan sekolahnya dulu, Bapak selalu menyiulkan lagu keroncong yang lupa bait keduanya, dan selalu berhenti di nada yang sama. Dia bilang nada itu sampai sekarang masih sering muncul di kepalanya."
Wajah Hendra bergetar. Tangan kirinya yang memegang buket mawar turun perlahan.
"Ketiga..." Aileen menelan ludah, karena Aira di seberang sudah mencengkeram ujung gaunnya dengan kedua tangan. "Di kotak musik yang Bapak berikan waktu pernikahan, ada kartu kecil di bawah alas beludru. Bunyinya, 'Jangan pernah pulang kalau tidak bahagia. Tapi kalau pulang, pintu ini tidak pernah dikunci.' Aira bilang tidak ada orang yang tahu isinya selain dia. Bahkan Bagas tidak."
Hendra menjatuhkan buket itu.
Ia tidak berteriak dan tidak menangis keras. Tubuh tuanya hanya melorot perlahan, satu lutut menyentuh tanah, tangan kanannya menekan dada seperti menahan sesuatu yang hendak lepas. Aileen berlutut di sampingnya tanpa menyentuhnya, dan di seberang makam Aira merangkak mendekat, tangannya melingkupi udara di sekeliling bahu ayahnya, yang tak mampu ia rasakan.
"Dia di sini," bisik Hendra. "Dia di sini, dan saya tidak tahu."
"Dia ada di sini sejak hari pertama, Pak. Dia menangis tiap kali Bapak datang pagi-pagi." Aileen menyampaikannya apa adanya. "Dia bilang, Papa tidak boleh menyalahkan diri. Dia sayang Papa."
Hendra menutup wajah dengan tangan. Dari balik jari-jarinya terdengar napas yang pecah-pecah, tertahan, sunyi sekali, dan angin menggoyang kamboja di atas kepala mereka. Aileen membiarkan lama berlalu. Ketika Hendra menurunkan tangan, wajahnya basah dan matanya tampak jauh lebih tua dan, anehnya, lebih jernih.
"Apa yang dia katakan sekarang?"
Aileen mendengarkan Aira, yang berbicara terputus-putus di sela tangis. Lalu bibirnya melengkung tanpa ia sadari. "Dia bilang Bapak harus makan teratur. Dan sup yang keasinan masih lebih baik daripada tidak ada sup sama sekali."
Hendra tertawa. Basah, pendek, tidak terduga, seperti orang yang sudah lupa bagaimana caranya dan kebetulan menemukan lagi. Ia menoleh ke arah nisan, ke rumput di depannya yang kosong, dan berbicara pelan kepada udara.
"Papa dengar, Nak. Maaf Papa tidak ada waktu itu. Papa tidak akan datang sendirian lagi."
Di seberang makam, Aira tersenyum di antara air matanya, dan untuk sesaat ia tampak seperti anak kecil yang ditemukan di kolam ikan.
"Terima kasih, Nak," katanya. Kata terakhir itu keluar tanpa ia sadari. "Tolong, saya minta satu hal. Jangan katakan ini kepada Viona. Jangan sekarang."
"Saya sudah berniat begitu, Pak."
"Kenapa?"
Aileen memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Karena Bagas dan saya sedang mencari tahu sesuatu tentang malam kecelakaan. Mobil itu sudah dihancurkan tiga hari sesudah kejadian, atas persetujuan keluarga. Bapak tahu soal itu?"
Hendra berkedip. "Mobilnya... dihancurkan?"
"Surat persetujuannya atas nama keluarga Bapak."
"Saya tidak tahu apa-apa soal itu." Suaranya tipis, mendadak sangat dingin. "Waktu itu saya tidak bisa berdiri. Viona yang mengurus semua surat. Pemakaman, polisi, rumah sakit. Saya menandatangani apa pun yang diletakkan di depan saya." Ia menatap nisan itu lama, lalu bangkit dengan susah payah, menepis tangan Aileen yang hendak membantu. Ketika berdiri, punggungnya lebih tegak dari yang Aileen ingat.
"Peringatan hari kesembilan puluh tinggal sembilan hari lagi," katanya. "Viona mengundang banyak orang. Lebih banyak dari yang kamu kira. Hati-hati."