Map cokelat itu tebal, dan Gio memegangnya seperti orang yang membawa piring panas.
Mereka duduk di ruang tunggu lantai dua, di deretan kursi plastik biru yang menghadap koridor menuju ruang infus. Masih tersisa dua puluh menit sebelum nama Aileen dipanggil. Gio sengaja tiba lebih awal, dan ia berdiri di depan Bagas dan Aileen, tidak duduk, seolah laporan semacam ini tidak boleh disampaikan dari posisi nyaman.
"Semuanya ada di meja Pak Bagas sejak pukul lima pagi tadi," katanya. "Tapi Pak Bagas bilang Aileen berhak mendengar, jadi saya ringkas di sini."
"Mulai dari yang terburuk," ujar Bagas.
"Laporan polisi." Gio membuka map dan mengeluarkan lembar pertama. "Kecelakaan tunggal. Penyebab: kampas rem aus dan minyak rem habis. Pengerjaan sebelumnya tidak tercatat di mana pun. Penyelidik hanya datang ke lokasi sekali, dua hari sesudah kejadian, dan menutup kasusnya dalam sepuluh hari. Pemeriksaan lanjutan pada kendaraan tidak pernah dilakukan."
"Kenapa tidak?"
"Karena kendaraannya sudah tidak ada." Gio mengeluarkan lembar kedua, lebih tipis, dengan kop surat sebuah tempat penampungan besi tua. "Bangkai mobil itu dihancurkan tiga hari setelah kecelakaan. Surat persetujuan pemusnahan ditandatangani atas nama pihak keluarga pemilik terdaftar. Mobil itu terdaftar atas nama Bu Aira."
Aileen merasakan perutnya mengerut. Bukan mual kemoterapi; yang ini dingin dan berasal dari tempat lain.
"Hadiah dari Papa," kata Bagas, nadanya sangat tenang. "Aku ingat. Siapa yang menandatangani?"
Gio ragu setengah detik. "Ibu Viona, Pak."
Di sisi Aileen, Aira yang sejak tadi duduk di kursi kosong ujung barisan, berdiri pelan-pelan, seperti orang yang kakinya tidak lagi sanggup menopang berat sebuah nama.
"Tiga hari sesudah kecelakaan," ulang Bagas.
"Persis, Pak. Waktu itu Pak Bagas masih di ICU. Pak Hendra, menurut keterangan perawat yang saya hubungi, tidak mampu berdiri dari kursi roda pada minggu-minggu pertama sesudah pemakaman dan tidak membaca satu pun surat." Gio menutup map. "Surat itu atas nama keluarga. Tapi yang membubuhkan tanda tangan di kolom persetujuan adalah Ibu Viona sendiri."
Bagas bangkit. Bukan dengan gerakan keras, melainkan lambat, ujung-ujung jarinya mengepal dan terbuka. Aileen melihat urat di lehernya menegang.
"Gio. Mobil."
"Pak..."
"Antar aku ke rumah Papa sekarang. Aku mau melihat wajah Mama Viona waktu ia ditanya."
Aileen memegang pergelangan lengan Bagas. Hanya itu, jari-jarinya melingkar di atas manset kemeja, tidak lebih, tidak di kulit. Ia melepaskannya segera begitu Bagas menunduk menatapnya.
"Maaf. Aku tidak izin dulu."
"Tidak apa-apa." Suaranya serak. "Apa?"
"Duduk dulu. Dua menit saja." Aileen menunggu sampai Bagas benar-benar menurunkan tubuhnya di kursi. "Surat itu menunjukkan Bu Viona menandatangani. Bukan bahwa ia tahu sesuatu. Dia akan bilang dia membantu keluarga selagi suaminya tak mampu, dan siapa yang bisa menyalahkan? Orang yang menyingkirkan bangkai mobil setelah kecelakaan itu orang baik, bukan pembunuh."
"Aku tidak bilang dia..."
"Aku tahu. Tapi kamu berjalan ke sana dengan wajah itu, dan dia akan membaca semuanya sekaligus. Dia akan tahu kita sedang mencari. Dan siapa pun yang punya hubungan dengan Pak Darsa akan hilang lebih dalam."
Bagas diam. Aira berdiri di belakang suaminya, tangannya terulur ke bahunya dan menggantung di udara. Ia menoleh kepada Aileen, dan bibirnya bergerak tanpa suara: Dia yang menyisir rambutku di hari pernikahanku, Ai. Aileen tidak punya jawaban untuk itu, jadi ia hanya membalas tatapannya selama satu tarikan napas, lalu kembali pada Bagas.
"Kalau aku menunggu," Bagas berkata akhirnya, "berapa lama?"
"Sampai ada sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan."
"Darsa," kata Gio pelan. "Saya sudah mulai, Pak. Alamat yang tercatat di bengkel langganan Pak Pradipta adalah rumah di pinggir kota. Saya datang ke sana kemarin sore. Kontrakannya kosong. Pemilik rumah bilang dia pamit seminggu setelah kecelakaan, membawa dua koper dan istrinya di kursi roda, dan tidak meninggalkan alamat baru. Tetangga menyebut mobil bak terbuka, malam hari, ke arah luar kota."
"Istrinya sakit," ucap Aileen.
"Menurut tetangga, parah." Gio menatapnya sekilas. "Saya cek klinik terdekat. Catatan mereka berhenti sejak bulan kecelakaan itu."
"Cari terus." Bagas mengusap wajah dengan kedua tangan. "Semua bengkel, semua klinik rujukan di kota-kota kecil. Aku tidak peduli berapa biayanya."
"Siap, Pak."
"Siapa saja yang tahu kamu sedang mencarinya?" tanya Aileen.
"Kita bertiga. Montir panggilan Rabu lalu tidak tahu apa-apa selain tugasnya."
"Tambahkan satu syarat," kata Bagas. "Ayah dan Mama tidak boleh tahu. Ayah sendiri yang menyebut nama Darsa di meja makan, dan aku tidak ingin ia mulai bertanya ke sana-sini sebelum kita punya jawabannya."
"Dimengerti."
Nama Aileen dipanggil dari koridor.
***
Ruang infus terasa lebih sempit hari ini, atau mungkin Aileen yang lebih peka terhadap apa pun yang berukuran manusia. Kursi lipat Bagas sudah terpasang di sebelahnya. Ia duduk dengan punggung lurus, tangan yang diperban dalam pangkuan, pandangan menembus jendela hijau. Dua kali Aileen mendengarnya menarik napas seperti hendak bicara, dan dua kali ia menghembuskannya tanpa kata.
Aira duduk di lantai di dekat kaki kursi Aileen sepanjang waktu itu, memeluk lututnya, dan tidak mengatakan apa-apa. Sesekali Aileen melihat matanya mengikuti tetesan infus tanpa benar-benar melihatnya. Rachel melintas membawa kabar bahwa ibu bertopi biru jadwalnya pindah ke hari Rabu. Mardiana merajut sambil mengamati Bagas. Sudut dekat pantri kosong. Cairan menetes dalam tabung bening, dan Aileen menghitung tetesannya sampai angka empat ratus.
"Kamu menahanku tadi," kata Bagas tiba-tiba.
"Ya."
"Kalau kamu tidak menahan, aku akan berdiri di ruang tamu Hendra dengan kepala kosong dan tangan gemetar."
"Kamu masih bisa melakukannya nanti. Dengan sesuatu di tangan."
"Aku tidak pandai menunggu."
"Aku tahu." Aileen tersenyum tipis. "Kamu menyuruhku melakukannya selama sebulan terakhir. Menunggu hasil, menunggu infus, menunggu kamu berhenti mendengus."
"Aku tidak mendengus."
"Kamu mendengus waktu aku salah mengambil sendok."
Bagas tidak membantah. Beberapa menit kemudian, tanpa menoleh, ia berkata pelan, "Kenapa Aira tidak mau menyebut namanya?"
"Karena yang suaranya ia kenal bukan orang asing." Aileen menjaga suaranya rendah. "Dan itu menyakitkan untuk diucapkan."
"Hanya ada sedikit perempuan yang suaranya akan dikenali Aira."
"Jangan menghitung dulu, Bagas. Menghitung itu menuduh dengan sopan."
Bagas menoleh, dan meski tak ada senyum di wajahnya, Aileen merasakan bagian dingin di antara mereka berkurang sedikit. Mereka duduk dalam diam yang bukan lagi diam perang sampai infus habis. Bagas menekan tombol panggil untuk perawat sebelum Aileen sempat membuka mulut, dan menunggu di sampingnya sampai jarum dilepas dan plester ditempel.
Di koridor, ketika Aileen masih menopang diri pada dinding, ponsel Bagas berdering. Ia mengeluarkannya, menatap layar, dan alisnya mengerut.
"Hendra."
Aileen menegakkan tubuh. Bagas menjawab dengan satu kata, mendengarkan, dan tatapannya bergeser ke arah Aileen. Ia mendengarkan lebih lama, menggumamkan sesuatu, lalu menurunkan ponsel dengan tangan menutup mikrofon.
"Dia ingin bicara denganmu," katanya. "Sendirian. Besok pagi, di makam Aira."