Aileen baru menarik napas untuk menyampaikan apa yang tampak di wajah Aira, "Bagas, Aira ...", ketika Bagas berdiri begitu cepat hingga selimut di sofa terseret ke lantai.
Aileen sempat melihat bahunya mengejang, rahangnya mengunci, dan sebelum ia sempat mundur, kursi kayu di depan meja kerja sudah terangkat dari lantai. Kursi itu membentur dinding di sisi rak buku dengan bunyi yang lebih keras daripada yang mungkin dibuat benda sekecil itu, jatuh, dan satu kakinya patah dan berputar ke bawah meja.
"Jangan sebut namanya!"
Suaranya pecah di tengah. Ia menyapu berkas dari meja, tumpukan kertas bertebaran di lantai. Toples kaca berlabel "Panti" bergoyang di rak dan Aileen refleks maju untuk menangkapnya, tapi tangan Bagas lebih dulu mendarat di tembok di samping rak, tinju tertutup, sekali, dua kali, tiga kali, sampai kulit di buku jarinya robek.
"Aku tahu remnya lunak! Aku tahu! Dan aku tetap menginjak gas karena takut terlambat ke pesta sialan itu!"
Aileen tidak mundur. Ia sendiri heran. Bertahun-tahun hidupnya diisi lelaki yang mengamuk karena uang, dan tubuhnya tahu persis cara menyelinap ke pintu. Tetapi malam ini, di ruang kerja ini, ia berdiri dengan kedua kaki tertanam di lantai karena tinju itu tidak mengarah kepadanya, tidak sekali pun. Bagas memukul dinding, bukan orang. Itu perbedaan yang tidak boleh ia lupakan.
"Bagas."
"Jangan." Napasnya patah-patah. "Jangan bilang itu bukan salahku."
"Aku tidak akan bilang begitu."
"Dia meninggal karena aku."
"Ai." Aira berdiri tepat di sebelah suaminya, tangannya terulur dan berhenti sejengkal dari lengan Bagas yang berdarah. Wajahnya basah. "Ai, aku tidak tahan. Katakan padanya. Katakan sekarang."
Aileen menarik napas dalam-dalam dan mengeraskan suaranya, bukan membentak, tetapi setegas yang pernah ia lakukan terhadap penagih mana pun.
"Berhenti."
Tinju Bagas turun separuh.
"Aku yang memilih ikut," lanjut Aileen, menyampaikan kata demi kata. "Itu yang dia bilang. Dia yang bilang nanti saja diperiksa. Dia yang memilih gaunnya. Dia yang berdiri di pintu dan menyuruhmu cepat. Kamu tidak memaksa, Bagas. Kamu juga tidak sendirian di mobil itu. Dia ikut memutuskan, dan dia tidak mau kamu memikulnya sendirian."
Bagas berbalik. Wajahnya basah, tidak terlalu keras, hanya mata yang berkilat dan bibir bawah yang bergetar seperti anak yang kepergok menangis. Ia menatap Aileen, lalu ke samping, ke ruang kosong tempat tatapannya tidak pernah bisa menemukan siapa-siapa.
"Itu bukan alasan yang cukup baik," katanya serak.
"Dia tidak bilang itu alasan. Dia bilang itu kenyataan."
Lututnya menyerah. Ia merosot di dinding, duduk di lantai di antara serpihan kayu dan berkas, siku bertumpu di lutut, tangan berdarah menggantung. Aileen berjongkok, menjaga jarak, lalu pergi mengambil kotak P3K dari laci dapur dan handuk bersih dari kamar mandi tamu. Ketika kembali, Aira sudah duduk bersila di hadapan Bagas, memandang wajah suaminya dari jarak yang tak bisa ia lewati.
Aileen meletakkan kotak dan handuk di lantai, dalam jangkauan Bagas.
"Bersihkan sendiri," ujarnya. "Atau aku bantu, kalau kamu izinkan."
Lama Bagas tidak bergerak. Kemudian ia menjulurkan tangan kanannya, telapak ke atas, dengan buku jari yang robek. Itu jawabannya.
Aileen membersihkan luka itu dengan kapas dan cairan antiseptik, pelan-pelan, tanpa berkata apa pun. Bagas tidak meringis. Hanya sekali, ketika jarinya menyentuh kulit yang paling parah, ototnya menegang dan ia menarik napas lewat gigi.
"Maaf."
"Untuk apa?"
"Kursinya," kata Bagas. "Dan karena kamu harus berdiri di sini jam dua pagi."
"Kursinya memang jelek."
Wajah Bagas melunak sedikit, bukan senyum, tetapi bayangan sesuatu yang bisa menjadi senyum bila malam ini selesai. Aileen menempelkan plester besar di punggung tangannya, merekatkan tepinya dengan ujung jari yang sangat singkat, lalu melepaskannya.
"Kamu tidak takut tadi?" tanya Bagas, memandang plester itu, bukan wajahnya.
"Takut."
"Tapi kamu tidak mundur."
"Aku takut pada banyak hal, Bagas. Penagih, jarum infus, dokter yang membaca hasil pindai dengan muka datar." Aileen menutup kotak P3K. "Tapi aku sudah belajar membedakan orang yang memukul tembok dari orang yang memukul aku. Kamu yang pertama. Jangan ubah itu."
Bagas tidak menjawab. Tetapi ia mengangguk sekali, pelan sekali, seperti membuat janji kepada diri sendiri, dan membiarkan Aileen membawa kembali kursi yang patah itu ke sudut ruangan.
***
Gio tiba pukul tujuh pagi dengan setelan rapi, dan ia hanya perlu satu pandang ke ruang kerja yang berantakan dan perban di tangan atasannya untuk menyimpulkan bahwa pagi ini bukan pagi biasa. Ia berdiri di tengah ruangan, memegang tablet di depan dada, menunggu.
"Duduk, Gio," kata Bagas. Ia sendiri sudah mandi dan berganti kemeja, tetapi mata merahnya tidak bisa disembunyikan. "Aileen akan menceritakan sesuatu. Dengarkan sampai habis."
Aileen menceritakannya dengan urutan yang sama seperti semalam: garasi, montir, ponsel, suara, kalimat Darsa. Gio mendengarkan dengan wajah datar, kecuali pada kata "Darsa" ketika alisnya bergerak sedikit, dan kata "rem" ketika jarinya berhenti mengetuk layar tablet.
"Itu cerita Aira," ujar Gio setelah Aileen selesai, suaranya hati-hati. "Maaf, Aileen. Saya tidak meragukan kamu berbohong. Tetapi saya belum pernah melihat bukti bahwa Bu Aira..."
"Aku tahu." Aileen menoleh ke Aira yang berdiri di dekat jendela, dan mendengarkan sesuatu yang tak terdengar oleh yang lain. Aira berbisik panjang, dua kalimat, lalu mengangguk pelan. "Gio, setiap tanggal lima, kamu mentransfer uang ke rekening panti yayasan Aira. Tidak atas nama kamu. Atas nama 'Sahabat Panti'. Sudah dua tahun lebih, sejumlah yang sama. Tidak pernah ada orang yang tahu, kecuali Aira, karena dia yang memeriksa rekening yayasan tiap bulan. Dia tidak pernah bilang apa-apa karena kamu pernah memintanya tutup mulut di dapur kantor Bagas."
Gio tidak bergerak. Tabletnya meluncur dari tangannya dan mendarat di karpet dengan bunyi tumpul.
"Tidak ada yang tahu," katanya, nyaris tak terdengar. "Saya melakukannya diam-diam supaya tidak ada yang berterima kasih. Bahkan Pak Bagas pun tidak."
"Aku tidak tahu," Bagas membenarkan, menatap asistennya dengan raut yang tak pernah Aileen lihat di wajahnya: kagum yang bercampur malu karena tidak pernah bertanya.
"Bu Aira," bisik Gio ke arah jendela. Ia menunduk sedikit, seakan kepada seseorang yang duduk di sana. "Saya... maaf kalau saya tidak percaya sebelum ini."
"Dia bilang tidak apa-apa," ujar Aileen pelan. "Dan terima kasih."
Gio memungut tabletnya. Tangannya tidak sepenuhnya mantap. Ketika ia berdiri, tubuhnya lebih tegak daripada sebelumnya, dan Aileen sadar bahwa ia baru saja menyaksikan seseorang selesai berdebat dengan dirinya sendiri.
"Saya percaya, Pak," katanya, dan kali ini ia mengatakannya kepada Bagas dan Aileen sekaligus. "Seharusnya saya percaya sejak Aileen menjawab Rachel di lorong itu. Saya melihatnya waktu itu. Saya hanya memilih tidak melihat."
"Jadi kamu mengakuinya," kata Aileen.
"Saya mengakuinya sekarang. Perintahnya, Pak?"
"Tiga hal." Bagas mengangkat jari satu per satu dengan tangan yang masih berbalut perban. "Laporan polisi kecelakaan itu, lengkap, termasuk yang tidak dikasih ke keluarga. Catatan servis semua kendaraan kami lima tahun terakhir. Dan Pak Darsa. Di mana dia, kapan terakhir terlihat, siapa yang tahu."
"Baik, Pak. Kapan?"
"Hari Senin, sebelum siklus ketiga." Bagas menatap Aileen sekilas, lalu kembali ke Gio. "Semuanya di mejaku."