Kalimat Daren menempel di kepala Aileen. Kamu boleh pergi kapan pun. Tiga hari ia membawa kalimat itu ke mana-mana, ke ruang makan, ke teras atap, ke tempat tidur kamar tamu, dan belum satu kali pun ia memeriksa apakah pintu depan memang tidak dikunci.
Rabu malam, pukul setengah sepuluh, ia masih duduk di tepi ranjang dengan buku biru di pangkuan. Tulisan gejalanya hari itu pendek: mual ringan, nafsu makan membaik, tidur kurang. Aira mondar-mandir di depan jendela sejak makan malam. Tidak terbang, tidak melayang, hanya berjalan dari ujung ke ujung dengan tangan menggenggam siku sendiri.
"Kamu mengganggu kaktusku," ujar Aileen tanpa mengangkat mata.
"Maaf." Aira berhenti. Dua detik. Lalu ia mulai berjalan lagi. "Aku tidak tahu kenapa aku gelisah, Ai. Seperti ada sesuatu di ujung lidah yang tidak mau keluar."
"Namanya haus. Mau segelas air?"
"Aku tidak bisa minum."
"Tapi aku bisa. Ayo."
Dapur rumah itu gelap, hanya menyala lampu di atas kompor. Aileen menuang air dari teko ke gelas, meneguk setengahnya, lalu menyadari ada cahaya kuning menyelinap dari pintu samping yang menuju garasi, yang biasanya terkunci. Ia mengintip dari celah.
Seorang lelaki berseragam bengkel berjongkok di samping sedan hitam yang jarang dipakai, dengan senter di mulut dan kunci pas di tangan kanan. Gio berdiri tidak jauh, membaca sesuatu di tablet. Bagas sudah memutuskan akan menyetir sendiri ke rumah sakit Senin depan, dan sebelum itu, katanya, mobil harus diperiksa menyeluruh. Gio memanggil montir panggilan dari bengkel langganan yang baru.
"Rem-nya sekalian, Mas," kata Gio tanpa menoleh. "Pak Bagas minta dua kali."
"Siap, Pak."
Ponsel montir itu tergeletak di lantai garasi, tepat di samping ban, menyala. Ia berdering. Montir mengambilnya dengan tangan berminyak, menekan tombol pengeras suara supaya bisa terus bekerja.
"Halo, Dek?"
"Sudah dapat belum?" Suara perempuan, ceria dan tidak sabar, jelas istri atau adiknya. "Aku di pasar, Mas. Mau beli yang mana?"
Di belakang Aileen, Aira berhenti bernapas. Aileen tidak mendengar suara apa pun, tapi ia merasakannya seperti perubahan tekanan udara. Ketika ia menoleh, Aira berdiri dengan kedua tangan di mulut, wajahnya putih sekali, mata terbuka lebar menatap ponsel di lantai garasi.
"Ai," bisiknya. "Ai, aku ingat."
***
Mereka kembali ke kamar tamu tanpa menyentuh gelas air lagi. Aileen mengunci pintu, duduk di lantai bersandar pada ranjang, dan membiarkan Aira berbicara sampai selesai tanpa menyela.
"Sorenya," kata Aira. Suaranya kecil dan teratur, seperti anak membacakan hafalan. "Hari itu, sebelum pesta. Aku mencari kunci mobil. Bagas lupa menaruhnya di mana, dia selalu begitu. Aku turun ke garasi. Pintu samping terbuka. Pak Darsa ada di sana, di bawah mobil. Aku hanya melihat kakinya dan sebagian punggungnya, jadi aku memanggil, 'Pak Darsa?'"
"Pak Darsa. Mekanik keluarga Om Pradipta."
"Bapak sudah mengurus mobil kami sejak aku menikah." Aira menelan sesuatu yang tak ada. "Ponselnya ada di lantai, di samping sepatunya, menyala. Berdering. Dia tidak sempat mematikan. Lalu... lalu pengeras suaranya menyala, mungkin tertekan jarinya. Dan ada suara perempuan, Ai. Suara yang aku kenal."
Aileen menahan napas. "Apa yang dia bilang?"
"Sudah aman?"
Hanya itu. Dua kata, tiga dengan tanda tanya yang tak terdengar. Tetapi Aileen merasakan bulu di lengannya berdiri.
"Pak Darsa sampai menjatuhkan kunci pas ke lantai. Dia kaget sekali waktu melihatku. Dia menjawab, cepat sekali, 'Cek rutin saja, Non Aira. Cek rutin.' Seakan dia bicara padaku, bukan pada telepon itu. Dan dia mematikan ponselnya sebelum perempuan itu bicara lagi." Aira menyeka pipinya meski tidak ada air mata yang bisa jatuh. "Aku tidak berpikir apa-apa. Aku cuma bilang, 'Aku cari kunci mobil.' Dia bilang ada di meja garasi. Dan aku naik."
"Lalu malamnya?"
"Di mobil." Aira memeluk lutut. "Kami sudah terlambat. Bagas menginjak rem di tikungan gerbang, dan dia bilang, 'Remnya terasa lunak, Sayang.' Aku..." Suaranya pecah. "Aku bilang, 'Nanti saja diperiksa, kita bisa terlambat.' Aku bilang begitu, Ai. Aku sendiri yang bilang. Aku tidak ingat sampai tadi."
Aileen menggeser duduknya sampai lututnya menyentuh lantai yang sejuk dan menatap Aira lurus. "Aira. Perempuan di telepon itu. Kamu kenal suaranya."
Aira terdiam. Matanya bergerak ke kiri, ke kanan, seperti mencari jalan keluar dari kamar yang tidak punya pintu.
"Aku... kenal," bisiknya. "Tapi aku tidak berani menyebut namanya. Kalau aku salah, Ai? Kalau aku menuduh orang yang tidak bersalah, orang yang..." Ia menggeleng cepat. "Aku tidak bisa."
Dalam benaknya, Aileen sudah menyebut satu nama, tapi ia menelannya bulat-bulat. Tidak ada gunanya menambahkan tebakan ke dalam kepala yang sedang goyah.
"Jangan sebut," katanya. "Suara bukan bukti. Kalau aku menuduh siapa pun di rumah ini atau rumah Hendra dengan hanya ingatan hantu, mereka akan menertawakan kita, lalu menutup rapat apa pun yang bisa dijadikan bukti. Kita butuh sesuatu yang bisa dipegang tangan."
"Tapi Bagas harus tahu."
"Besok."
"Ai." Aira menatapnya, dan ada ketegasan yang jarang muncul di wajah lembut itu. "Dia bilang remnya lunak, dan aku yang menyuruhnya jalan. Dia menanggung itu hampir tiga bulan dan dia tidak tahu aku pun ikut menyuruh. Tolong. Malam ini."
***
Pukul dua dini hari, lampu ruang kerja masih menyala, menggaris tipis di bawah pintu. Aileen mengetuk dua kali.
"Masuk."
Bagas duduk di sofa dengan kemeja yang digulung, selimut menumpuk di sisi, laptop terbuka di meja rendah tanpa disentuh. Ia tidak terlihat tidur sama sekali. Tatapannya naik, dan melihat Aileen berdiri di ambang pintu dengan kardigan, Aira di belakangnya, wajah keduanya tak bisa disembunyikan.
"Ada apa?"
"Duduk," kata Aileen. "Dan jangan memotong dulu."
Ia bercerita dari awal: garasi, montir, ponsel di lantai, sore sebelum pesta, Darsa yang menunduk di bawah mobil, suara perempuan dari pengeras suara. Ia mengucapkan kalimat Aira satu per satu, sama persis, termasuk "Cek rutin saja, Non Aira", termasuk "Sudah aman?". Ia tidak melewatkan satu kata pun, dan ia tidak menyebut satu nama pun. Bagas mendengarkan tanpa bergerak. Wajahnya berubah perlahan, dari tegang ke kosong, dari kosong ke pucat seperti dinding.
"Dan malamnya," lanjut Aileen, "kamu bilang kepadanya di mobil..."
"Aku bilang remnya terasa lunak." Suara Bagas nyaris tak terdengar. Ia menatap ruang kosong di sisi Aileen, tempat Aira berdiri dengan kepala tertunduk. "Dan Aira bilang nanti saja diperiksa."
"Dia ingat itu sekarang."
"Siapa perempuan di telepon itu?"
"Dia mengenal suaranya. Dia belum berani menyebut namanya, dan aku tidak akan memaksanya menuduh orang hanya dari ingatan." Aileen menautkan jari di pangkuan. "Aku tidak mau kamu bergerak atas tebakan, Bagas. Kalau salah, orang yang benar akan bersembunyi lebih dalam."
"Kamu ingin bukti."
"Aku ingin sesuatu yang bisa dipegang tangan. Rekaman, catatan, orang."
Bagas diam lama. Di luar, jangkrik berhenti, lalu mulai lagi. Ia menatap tangannya sendiri, lalu Aileen, lalu ruang kosong yang ia tahu berisi istrinya.
Bagas menutup mata. Rahangnya bergerak, ibu jarinya menekan tulang pelipis, dan ketika ia bicara lagi, tidak ada satu pun kemarahan di sana, hanya kelelahan yang sudah menua di dalam tubuhnya.
"Aku memang bilang remnya lunak," ucapnya. "Aira bilang nanti saja. Dan aku yang membawa kami berangkat."