Gio yang menemukan Bono, bukan Denis.
Minggu pagi, pukul tujuh kurang, mobil mereka berhenti di mulut gang di belakang pasar lama, tempat para pedagang sayur sedang menurunkan karung dari bak pikap. Warung kopi di sudut itu hanya punya tiga meja plastik dan satu dispenser yang bocor. Di meja paling dalam, membelakangi dinding dan menghadap pintu, duduk lelaki bertubuh kurus dengan kemeja yang kancingnya salah satu.
"Itu dia," ujar Gio rendah. "Dari semalam saya minta tolong penjual rokok di ujung gang menyebarkan kabar. Dia menunggu sampai kamu datang, bukan Pak Bagas."
"Kenapa saya?"
"Karena Pak Bono lebih takut pada Aileen daripada pada penagih. Itu keuntungan kecil yang jarang dimiliki orang."
Aileen turun pelan, tangan kirinya menopang punggung. Ia berjalan melewati dua meja kosong dan menarik kursi di hadapan Bono tanpa dipersilakan. Bono tersentak. Cangkir kopinya berguncang sampai tumpah ke tatakan, dan pelipis kirinya yang membiru memperlihatkan bekas semalam.
"Ai." Suaranya serak dan sangat kecil. "Aku... aku nggak nyuruh Ibumu ke sana. Aku nggak minta."
"Aku tahu Bapak nggak minta." Aileen meletakkan tas di pangkuan. "Bapak cuma menyebut namaku di depan Koh Aling."
"Mereka mau membunuhku."
"Mereka mau uangnya. Orang mati nggak bisa bayar, jadi mereka cuma menakut-nakuti." Aileen mengatakannya sedatar mungkin. "Dengar. Gio sudah menawarkan tempat. Delapan minggu, tertutup, biayanya dari Bagas. Utang Koh Aling dibicarakan sesudah Bapak di sana."
"Aku nggak mau!" Bono menggeleng keras sampai lehernya berurat. "Itu tempat orang gila! Mereka mengurung orang. Rantai. Obat. Aku pernah dengar..."
"Itu bukan penjara."
"Kamu juga pasti nggak mau kalau kamu di posisiku."
Aileen memperhatikan tangan Bono yang bergetar di sisi cangkir. Lima tahun lalu tangan itu mencengkeram kerah bajunya di loteng, sebelum batu bata itu melayang. Sekarang tangan itu tidak sanggup menggenggam gagang gelas.
"Pasal lima, Pak." Kata itu kaku di lidahnya, dan ia memakainya justru karena kaku. "Perlindungan sudah gugur. Aku nggak akan membayar utang baru, sekecil apa pun. Aku nggak akan menandatangani apa pun. Satu-satunya jalan keluar yang masih terbuka ya tempat itu."
"Kamu tega, Ai."
"Orang bilang begitu setiap kali aku bilang tidak." Aileen berdiri. "Aku capek dianggap tega cuma karena aku nggak mau jadi tebusan."
Gio meletakkan selembar kartu di meja, di samping tatakan basah. "Nomor saya, Pak. Jam berapa pun. Kalau Bapak mau, saya yang menjemput dan saya sendiri yang mengantar sampai pintu. Kalau Bapak berubah pikiran sebelum masuk, saya antar pulang."
Bono tidak mengambil kartu itu. Tapi ia juga tidak mendorongnya pergi.
***
Siang itu Rumah Sakit Setia Budi hampir sepi. Jadwal kontrol Aileen jatuh pada hari Minggu karena Daren bertugas jaga, dan ia sudah mengancam akan menjemput Aileen sendiri bila ia tidak datang. Gio menunggu di kantin. Aileen berjalan sendirian menyusuri lorong lantai dua menuju ruang periksa.
"Bocah gila."
Rachel muncul tepat di depan hidungnya, melayang mundur sambil menghalangi jalan. Tidak ada kehebohan di wajahnya seperti biasa. Tidak ada senyum centil. Ia hanya terlihat muda dan sangat letih.
"Sudah kubilang tidak," desis Aileen sambil pura-pura menunduk membaca ponsel. "Aku bukan kurir semua orang yang sudah meninggal."
"Kamu bilang nanti. Sudah nanti berminggu-minggu." Rachel mengikuti tiap langkahnya. "Aku nggak minta dibawa ke Bulan. Cuma satu kalimat."
"Kalau aku mulai menyampaikan pesan buat satu orang, besok antrean hantu sampai ke parkiran."
"Dia masih lewat ruang 117 tiap hari, Ai." Suara Rachel pecah di tengah. "Dia melewatinya dengan wajah kayak ada yang menusuk dadanya. Tiga tahun. Aku bosan melihatnya menyalahkan diri sendiri."
Di belakang Rachel, Mardiana berdiri dengan rajutan di tangan, tidak memaksa, hanya menatap Aileen dengan sabar yang tidak berusaha membujuk. "Nak, tidak ada yang berutang pesan padamu," katanya pelan. "Tapi ada yang sudah menunggu lama untuk dikatakan."
Aileen membayangkan Daren yang cerewet soal obat, Daren yang menunggu pengakuan soal ginjal tanpa mendesak lebih dari yang perlu, Daren yang selalu bertanya lebih sedikit daripada yang sebenarnya ingin ia tanyakan. Ia berhenti di depan pintu ruang periksa dan menutup mata sebentar.
"Katakan kalimatnya," ujarnya lirih. "Sekali. Aku tidak akan mengulang."
***
Daren sedang menulis di meja ketika Aileen masuk. Jas putihnya kusut dan ada kantong hitam di bawah matanya, tanda jaga semalam suntuk.
"Duduk. Tekanan darahmu, ya?" Ia meraih manset. "Kamu pucat sekali."
"Dok." Aileen tidak duduk. "Aku mau bicara. Bukan soal obat."
Daren menoleh. Ia melihat wajah Aileen, lalu menaruh manset itu di meja dengan hati-hati.
"Aku bisa melihat mereka," kata Aileen. "Orang yang sudah meninggal. Dari kecil. Karena itu aku nggak bisa tinggal lama di rumah sakit ini, tapi aku datang karena nggak punya pilihan."
Ia menunggu Daren tertawa atau memberi tatapan prihatin. Daren hanya diam, jarinya bertaut di atas meja.
"Ada perempuan di sini," lanjut Aileen, menatap sudut di belakang bahu Daren. "Blasteran Belanda. Cerewet. Dia meninggal tiga tahun lalu, di ruang 117, saat Dokter jaga. Namanya Rachel."
Wajah Daren memutih. Bukan pucat biasa, tetapi putih seperti kain yang seluruh darahnya disedot habis. Ia berdiri setengah, kursinya bergeser keras.
"Dia minta aku menyampaikan ini." Aileen menarik napas. "Dokter, terima kasih sudah menahan tanganku. Aku tidak merasa sakit."
Hening. Dari lorong terdengar roda troli melintas, lalu pergi. Daren menutup mulut dengan satu tangan, lalu menurunkannya, lalu menutupnya lagi.
"Tidak ada yang tahu itu," bisiknya. "Aku... waktu itu tengah malam. Jantungnya berhenti. Aku melakukan resusitasi empat puluh menit, sampai perawat memegang bahuku dan bilang cukup. Selama itu aku memegang tangannya. Aku tidak pernah cerita kepada siapa pun bahwa aku memegang tangannya."
"Dia tahu."
"Aku bilang kepadanya..." Daren menelan ludah, dan Aileen melihat matanya berkaca-kaca. "Aku bilang, tolong jangan pergi, sebentar lagi, sebentar lagi. Dia tidak menjawab. Aku mendengarnya terus-menerus, setiap malam. Aku pikir dia menyalahkanku karena aku terlalu lambat."
"Dia tidak menyalahkanmu, Daren." Kali ini Aileen memanggilnya tanpa "dok", dan ia tidak mengoreksi dirinya. "Dia cuma ingin kamu berhenti merasa begitu. Dia juga bilang, kalau kamu keberatan, dia akan terus mengikutimu ke mana-mana sampai kamu mengaku bahwa kamu pantas dimaafkan."
Daren tertawa, serak, basah, lalu menyeka pipinya dengan punggung tangan sambil membuang muka. Ia menangis diam-diam, bahunya gemetar tanpa suara, seperti orang yang sudah lupa cara melakukannya. Aileen tidak mendekat. Ia hanya menarik kursi di seberang meja dan duduk, supaya Daren tidak sendirian di ruangan itu.
"Sejak kapan kamu bisa melihat?" tanya Daren akhirnya, setelah beberapa menit.
"Sejak kecil. Aku membencinya."
"Dan Bagas tahu."
"Dia orang pertama yang kuberi tahu."
Daren mengangguk pelan, seperti mencocokkan potongan puzzle yang selama ini menolak berpasangan. Lalu ia mengangkat wajah. "Aira juga ada?"
Aileen mengalihkan pandangan ke sudut dekat pintu, tempat Aira berdiri dengan wajah serbasalah. "Ada. Dia berdiri di situ."
Daren menoleh ke arah yang ditunjuk, tidak melihat apa-apa, dan tetap menunduk sedikit, seperti kepada seseorang yang dihormati. Lama ia tidak bicara. Ketika bicara, suaranya sudah kembali tenang, suara dokter yang sedang menyusun diagnosis dari potongan-potongan yang tadinya tak tersambung.
"Jadi Bagas tahu," katanya. "Itu alasan sebenarnya. Bukan utang, bukan cinta, bukan apa pun yang dikatakan Bu Viona di balik punggung mereka. Kamu boleh pergi kapan pun, Aileen. Jangan lupa itu."