Kaktus yang berkuncup itu ternyata bernama Pak Utang, dan Aileen sedang menyiramnya dengan sendok teh ketika interkom di dinding kamar tamu berbunyi.
Empat hari sudah lewat sejak Bagas membawa kardus mi instan itu pulang dan meletakkannya di ambang pintu kamar tamu tanpa kata-kata, hanya "Dari adikmu, bukan dariku. Dia berpesan begitu." Sejak itu tiga pot plastik berjejer di ambang jendela, menghadap taman, dan Aira menghabiskan separuh hari duduk di depannya sambil bertanya apakah kaktus bisa mendengar. Aileen mengaku tidak tahu. Ia bilang kalau bisa, Pak Utang pasti tersinggung dengan namanya.
"Bu Aileen." Suara penjaga gerbang terdengar kresek dari interkom. "Ada ibu-ibu di luar, katanya ibunya Bu Aileen. Beliau menangis, Bu. Saya tidak berani menyuruh pergi."
Sendok teh itu berhenti di udara. Aira menoleh cepat.
"Ai..."
"Dia datang karena uang," bisik Aira, pelan sekali, seperti minta maaf karena mengatakannya.
"Aku tahu." Aileen meletakkan sendok dan merasakan pegal kemoterapi yang belum benar-benar hilang merayap di punggungnya. Sejak Selasa ia sudah menyiapkan diri untuk hari seperti ini, hanya tidak tahu harinya. "Bilang saya turun, Pak. Jangan dibukakan."
Ia turun dengan syal jingga dan topi rajut abu-abu, menuruni tangga satu per satu karena kakinya masih ringan seperti kapas basah. Di ruang tamu, Bagas berdiri di ambang pintu ruang kerja dengan kemeja rumah dan tangan masuk ke saku. Rupanya ia mendengar semuanya.
"Aku antar."
"Aku bisa sendiri."
"Aku tahu kamu bisa." Ia sudah melangkah di belakangnya. "Tapi tiga langkah di belakang tidak termasuk membantu."
Di balik gerbang besi, Nani berdiri dengan kebaya lusuh dan rambut yang digelung sembarangan, kedua tangannya mencengkeram jeruji. Matanya sembap dan hidungnya merah, dan begitu melihat Aileen ia merosot sedikit, seperti lutut yang sudah dipersiapkan untuk jatuh.
"Ai! Ya Tuhan, Ai, akhirnya."
"Ibu." Aileen berhenti dua langkah dari gerbang. "Ada apa?"
"Bapakmu dipukuli! Orang-orang Koh Aling datang tadi malam dan memukulinya sampai... sampai dia nggak bisa berdiri." Nani menggoyang-goyangkan jeruji. "Mereka bilang utangnya tiga puluh juta. Tiga puluh, Ai! Dan mereka bilang kamu yang jamin."
"Aku?"
"Bapakmu menyebut namamu. Dia nggak punya pilihan, kamu tahu sendiri dia takut mati. Mereka bilang menantu orang kaya itu pasti mau bayar."
Aileen merasakan sesuatu di dadanya mengeras, dingin, rapi, seperti pintu yang sudah lama ia siapkan. Di belakangnya Bagas tidak bersuara.
"Ibu tahu bunyi aturanku waktu itu," katanya datar. "Tiga hal. Jangan berjudi lagi. Jangan sebut nama Bagas ke penagih. Jangan pinjam atas namaku. Bapak melanggar ketiganya dalam satu malam."
"Dia khilaf, Ai..."
"Itu bukan khilaf. Itu kebiasaan." Aileen menggenggam syalnya supaya tangannya tidak gemetar. "Perlindungan yang kuminta dari Bagas gugur kalau itu terjadi. Aku sudah bilang, dan Ibu mengangguk. Aku tidak akan membayar tiga puluh juta."
"Kamu tega." Air mata Nani jatuh deras dan, entah kenapa, Aileen justru lebih mudah menatapnya setelah itu, karena ia sudah melihat tangis ini ratusan kali. Tangis di depan pintu loteng, tangis di telepon tengah malam, tangis di rumah sakit yang berakhir dengan permintaan tolong dan tak pernah dengan permintaan maaf. "Kamu tinggal di rumah mewah, makan enak, suamimu kaya, dan kamu tega melihat Bapakmu dipukuli?"
"Bukan Bapak yang kubiarkan dipukuli. Utangnya yang kubiarkan."
Bagas melangkah maju satu langkah, berhenti di samping bahu Aileen, bukan di depannya. "Gio."
Gio muncul dari samping pos jaga, seakan sudah menunggu isyarat itu sejak tadi. "Pak."
"Tawarkan ini kepada Bu Nani. Bukan uang." Bagas menatap Nani tanpa nada. "Sejak malam Bono mabuk di gerbang ini, saya sudah minta Gio mencari tempatnya. Pusat rehabilitasi judi di luar kota, tertutup, delapan minggu. Biayanya saya tanggung. Syaratnya suami Ibu masuk sendiri, tanpa dipaksa, dan menandatangani bahwa ia tidak akan memakai nama Aileen lagi. Utang kepada Koh Aling saya bicarakan sesudah ia berada di sana. Selama itu tidak ada yang akan menyentuhnya, tapi tidak ada uang yang akan lewat tangan Ibu."
"Kemarin Gio sudah menyampaikan gambarannya kepada Denis," tambah Bagas, sekarang kepada Aileen, pelan. "Supaya adikmu siap kalau Ibumu datang."
"Aku nggak bisa pegang uangnya?" Nani menyeka pipi. "Anak sendiri yang bayar..."
"Bukan anak Ibu yang membayar. Saya." Bagas tidak menaikkan suara sedikit pun. "Dan saya tahu kemana uang yang lewat tangan Ibu biasanya mengalir."
Nani menatap Bagas, lalu Aileen, lalu menjatuhkan tangan dari jeruji. Wajahnya berubah dalam satu embusan napas, dari memelas menjadi sesuatu yang lebih tua dan lebih pahit.
"Dasar anak durhaka," desisnya. "Aku yang melahirkan, aku yang membesarkan..."
"Ibu yang melahirkan. Dan Paman Barito yang memberi makan waktu aku sakit." Aileen mengatakannya tanpa tinggi nada. "Aku bukan mau menang, Ibu. Aku cuma tidak mau tenggelam lagi."
Nani membuka mulut untuk membalas. Tetapi pandangannya, yang sejak tadi terpaku pada wajah Aileen, tiba-tiba bergeser ke atas, ke topi rajut abu-abu itu, ke syal jingga yang dililitkan terlalu hati-hati di leher yang terlalu kurus. Mulutnya menutup.
Tangannya terulur melewati jeruji dan menyentuh ujung syal. Hanya ujungnya, dengan dua jari, seperti menyentuh sesuatu yang bisa meledak.
"Rambutmu..." Suaranya serak. "Kamu sudah mulai kemoterapi?"
Hening sebentar. Aileen memperhatikan tangan itu, kuku yang tidak terawat, kulit yang kasar, tangan yang dulu ia genggam saat kecil dan sudah lama tidak ia genggam lagi.
"Sudah dua siklus."
"Ayahmu juga..." Nani menarik tangannya, menunduk, bahunya turun. "Waktu itu ayahmu juga pakai syal. Merah. Aku nggak pernah lihat dia pakai syal sebelumnya..."
"Ibu belum pernah bilang kalau Ibu lihat."
Nani tidak menjawab. Tangannya yang tadi menyentuh syal kini memeluk lengan sendiri. Penjaga gerbang di pos berpura-pura sibuk membaca koran. Ponsel di saku kebaya Nani mendadak berdering nyaring, memecah kebisuan itu, dan ia tersentak sampai nyaris menjatuhkannya.
"Denis," bacanya pada layar, lalu menempelkan ponsel itu ke telinga. "Halo, Nak? Ibu di sini... apa? Kapan?" Warna di wajahnya surut. "Kabur ke mana? Kok bisa..."
Aileen merasakan Bagas menegang di sampingnya. Gio melirik atasannya sekali, rahangnya mengeras. Nani menurunkan ponsel itu perlahan dengan tangan yang gemetar, dan kali ini air matanya bukan pura-pura.
"Bapakmu kabur dari rumah," ucapnya. "Tadi pagi dia nguping Denis menelepon Pak Gio soal tempat itu. Dia bilang dia nggak mau dikurung, nggak mau jadi orang gila seperti di tivi. Denis sudah cari ke warung-warung, nggak ketemu." Ia menelan ludah. "Dan orang-orang Koh Aling sudah mencarinya ke mana-mana."
Aileen menatap ujung sepatunya. Tiga puluh juta, delapan minggu, sebuah nama yang terlanjur dipakai. Di sampingnya Bagas tidak berkata apa-apa, tapi tangan kirinya, yang tadi di dalam saku, sudah keluar dan menggantung kosong di sisi tubuh, seakan hampir terulur lalu memilih tidak.
"Gio," ucapnya akhirnya, "hubungi Denis. Cari Bapaknya sebelum orang Koh Aling menemukannya lebih dulu."