Denis keluar dari kelas pukul dua siang dengan kepala penuh kerangka bab tiga yang belum jadi, dan baru berhenti melamun ketika temannya menyikut rusuknya.
"Den. Itu mobil siapa? Dari tadi ada orang berdiri di bawah pohon."
Ia mengangkat wajah. Di seberang selasar, di depan gedung fakultas yang catnya mengelupas, sebuah mobil hitam berhenti miring di tempat yang jelas bukan parkiran. Gio bersandar di pintunya dengan tangan terlipat. Dan di bawah pohon ketapang, dengan jas gelap yang terlalu rapi untuk kampus itu, berdiri lelaki yang paling tidak ingin Denis temui dalam hidupnya.
Mahasiswa-mahasiswa lain mulai melambatkan langkah. Ada yang berbisik, ada yang mengangkat ponsel. Denis mengenali jas itu, mengenali cara berdiri itu, dan perutnya mengeras seperti pada malam ia dilempar ke tembok rumah sendiri oleh tangan-tangan yang tidak ia kenal.
"Mau kutemani?" tanya temannya.
"Nggak usah." Denis menyampirkan tasnya ke bahu. Tangannya sudah mengepal sebelum ia sadar.
Bagas melangkah maju begitu Denis berada dalam jarak tiga meter, dan itu sendiri sudah mengejutkan, karena orang seperti dia seharusnya membiarkan orang lain yang datang.
"Denis."
"Anda." Suara Denis lebih rendah daripada yang ia rencanakan. "Mau apa ke sini? Mau menagih juga di depan teman-teman saya?"
"Tidak." Bagas tidak menurunkan suara. Ia berbicara cukup keras supaya selasar yang mendadak sepi itu ikut mendengar. "Saya Bagas Pradipta. Lima orang yang memukuli kamu dan Bapakmu di rumah itu adalah orang suruhan saya. Saya yang menyuruh mereka. Tidak ada orang lain yang bisa disalahkan."
Seseorang di belakang Denis menarik napas tajam.
"Saya datang untuk minta maaf. Kalau kamu mau memukul, silakan. Saya tidak akan mengelak, dan Gio tidak akan ikut campur."
Denis tidak ingat kapan ia melangkah. Tahu-tahu jaraknya hanya satu lengan, tinjunya terangkat sampai setinggi bahu, dan di hadapannya Bagas berdiri tegak dengan dagu sedikit terangkat, bukan menantang, hanya menunggu. Mata lelaki itu tidak berkedip. Di sudut matanya Denis melihat Gio meluruskan tubuh, tetapi tidak bergerak.
Ia teringat wajah Kak Ai di rumah mereka, pucat, mengatakan aku yang memilih dengan nada yang tidak pernah dipakainya kalau memang benar-benar memilih. Dua hari ia mengurung diri di kamar setelah itu, memikirkan apa yang bisa dilakukan seorang mahasiswa tingkat akhir terhadap lelaki sekaya ini, dan jawabannya selalu sama: tidak ada.
Tinjunya turun, perlahan, seperti dipaksa gravitasi.
"Kak Ai sudah cukup banyak dipukul," katanya. "Saya nggak mau jadi satu lagi."
"Itu bukan jawaban dari saya, tapi dari kamu." Bagas menunduk sedikit, sesuatu yang Denis yakin bukan kebiasaannya. "Terima kasih sudah menahan diri."
***
Mereka duduk di bangku beton di bawah pohon ketapang yang sama. Gio sudah membubarkan kerumunan dengan hanya berdiri di tempat yang tepat, dan Denis tidak tahu apakah ia harus berterima kasih untuk itu.
"Bahu Bapakmu bagaimana?" tanya Bagas lebih dulu.
"Sudah nggak bengkak. Tapi dia masih bilang pegal kalau mau minta uang." Denis menggeleng. "Jangan salah paham, saya nggak sedang membela dia. Saya cuma capek. Bapak itu orang yang paling mudah ditolong dan paling susah diselamatkan."
"Saya mengenal tipe itu."
"Dari cermin?"
Sudut mulut Bagas bergerak, nyaris tersenyum, dan Denis kaget karena ia sendiri hampir tertawa. Ia membuang muka cepat-cepat.
"Saya dengar kamu juga dipecat dari warung kopi," lanjut Bagas.
"Karena penagih kalian."
"Karena penagih yang berasal dari urusan Bapakmu, dan karena cara saya menyelesaikannya." Bagas menautkan jari di antara lutut. "Saya bisa membantu biaya skripsimu. Cetak, penjilidan, ongkos, apa pun yang kamu butuhkan sampai wisuda. Tidak ada syarat."
"Nggak."
"Denis..."
"Anda minta maaf pada saya karena saya yang dipukul. Itu sudah. Tapi saya nggak mau dibayar." Denis memandang aspal yang retak di bawah sepatunya. "Kalau Anda mau dibayar maaf, Anda harus bilang itu juga ke Kak Ai. Dia yang paling lama dipukul sama semua orang. Bukan saya."
Bagas diam sebentar. "Belum," katanya. "Itu bagian yang lebih sulit. Saya mulai dari kamu karena kamu yang paling mungkin menolak saya, dan kamu berhak."
"Jangan lama-lama."
"Tidak akan."
"Soalnya orang kaya biasanya mengira minta maaf itu cukup sekali." Denis menatap sepatunya lagi. "Anda tahu apa yang paling membuat saya benci? Bukan pukulannya. Tapi Kak Ai membela Anda di depan saya, dan saya nggak bisa ngapa-ngapain."
"Saya mengerti."
"Anda nggak mengerti." Denis mengatakannya tanpa nada tinggi, seperti membacakan fakta. "Tapi Anda berdiri di depan teman-teman saya dan bilang itu salah Anda. Itu lebih dari yang dilakukan orang-orang lain yang pernah menyakiti keluarga saya. Bapak sendiri belum pernah minta maaf soal apa pun."
Bagas mengangguk sekali, sangat pelan, dan tidak menjawab lagi. Ia tidak membela diri sama sekali, dan itu membuat Denis lebih sulit membencinya.
Angin menggoyangkan daun ketapang, menjatuhkan satu helai ke pangkuan Bagas. Ia memungutnya, memutar tangkainya di antara jari.
"Dia sakit. Seberapa jauh sebenarnya?" tanya Denis akhirnya, nyaris berbisik.
"Obatnya bekerja. Dokter bilang penanda di darahnya turun. Belum cukup untuk berkata selesai." Bagas meletakkan helai daun itu di bangku. "Saya duduk di sampingnya kemarin sampai infus habis. Tiga jam."
"Dia nggak cerita."
"Dia tidak banyak bercerita soal hal yang bisa membuatnya terlihat lemah."
"Saya tahu." Denis mengusap wajah dengan kedua tangan. "Saya... tunggu sebentar."
Ia berdiri dan berjalan ke tempat motornya terparkir di ujung selasar. Dari jok belakang ia melepas ikatan tali rafia yang membelit sebuah kardus bekas mi instan, mengangkatnya dengan dua tangan, lalu kembali dengan langkah berhati-hati yang aneh. Ia meletakkan kardus itu di pangkuan Bagas.
Bagas menunduk. Di dalamnya, terjepit kertas koran dan potongan sandal bekas, berdiri tiga pot plastik kecil dengan tiga kaktus bulat berduri halus. Satu di antaranya sudah mengeluarkan kuncup merah muda sebesar kuku.
"Tadinya saya mau menitipkannya lewat Kak Ai hari Sabtu," ujar Denis. "Tapi pagi tadi saya tiba-tiba kepikiran membawanya. Itu kaktus Kakak. Waktu para penagih itu menghancurkan semua pot di loteng, saya baru bisa masuk setelah mereka pergi. Cuma tiga yang selamat. Saya selamatkan sambil tangan berdarah kena duri."
"Kamu merawatnya sendirian?"
"Tiap pagi saya siram." Denis menepuk pinggiran kardus sekali, seperti menepuk punggung seseorang. "Anda bawakan untuk dia. Tapi bilang ini dari saya, bukan dari Anda."
"Akan saya bilang." Bagas mengangkat kardus itu dengan dua tangan, hati-hati sekali, seakan isinya bisa pecah. "Yang berbunga itu, kamu tahu namanya?"
"Nggak. Kak Ai pasti tahu. Dia kasih nama semuanya, tapi nama-namanya jelek." Sudut bibir Denis nyaris naik. "Satu dipanggil Pak Utang."
"Dan..." Denis menarik napas panjang, bahunya naik turun. Ia menatap Bagas lurus, tanpa rahang mengeras. "Kalau Kak Ai kenapa-kenapa, Anda orang pertama yang saya telepon."
"Saya tahu," jawab Bagas. "Saya akan mengangkatnya."