Seminggu hampir lewat sejak kepala Aileen dicukur, dan rumah itu sudah terbiasa dengannya. Cintya menyodorkan topi rajut baru tiap pagi tanpa berkomentar, Gio tidak lagi menatap kepala itu terlalu lama, dan Bagas memanggilnya "Aileen" tanpa terdengar kikuk. Pagi ini Senin, hari siklus kedua.
Ponsel Bagas berdering sebelum mobil keluar dari gerbang kompleks.
Layarnya menyala di pangkuan, dan nama yang muncul terbaca jelas dari tempat Aileen duduk. Soraya. Bagas menatap nama itu, rahangnya bergerak sekali, lalu ia menekan tombol samping sampai dering mati. Tiga menit kemudian ponsel itu menyala lagi. Soraya lagi. Ia menekan tombol yang sama.
"Kamu boleh mengangkatnya," kata Aileen ke arah jendela. "Aku nggak akan menagih denda."
"Aku sudah bilang tidak akan menerima telepon."
"Kamu bilang itu waktu kepalaku baru dicukur. Orang bisa ganti pikiran sesudah seminggu."
"Aku belum tidur sebanyak itu." Bagas mengulurkan ponselnya ke kursi depan. "Gio."
Gio menerimanya tanpa menoleh, seperti sudah menunggu perintah itu sejak seminggu lalu. "Siap, Pak. Kalau ada yang berdarah atau terbakar, saya kabari."
"Kalau cuma rapat darurat?"
"Rapat tidak berdarah, Pak."
Di sisi kiri Aileen, Aira menunduk dan meremas tepi dress yang tak bisa kusut. "Dia tidak mengangkatnya," bisiknya. "Padahal biasanya..." Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Aileen hanya menggeser tangannya sedikit di atas jok, tanda bahwa ia mendengar.
***
Ruang infus Rumah Sakit Setia Budi masih sehijau minggu lalu, dengan sepuluh kursi kulit menghadap jendela dan bau alkohol swab yang menempel di hidung. Aileen duduk di kursi ujung, topi rajut abu-abu menutupi kepalanya yang licin, syal jingga dari Cintya melingkar longgar di leher. Perawat yang sama memasang jarum di punggung tangan kirinya dengan satu tusukan bersih.
"Pintar, Bu. Urat Ibu bagus."
"Baru ada yang bilang begitu."
Bagas menarik kursi lipat dari dinding, membukanya sendiri, dan meletakkannya di samping kursi Aileen. Jasnya ia sampirkan di sandaran. Seminggu lalu ia duduk di ruangan ini seperti orang yang dipanggil ke ruang sidang. Sekarang ia duduk dengan lengan kemeja digulung sampai siku dan tidak menatap ponsel sekali pun, karena ponselnya tidak ada.
"Dia bawa kursinya sendiri," bisik Rachel, muncul dari balik tirai dengan mata membulat. "Bocah gila, lihat. Dia bawa kursinya sendiri!"
Aileen pura-pura membetulkan syal. Mardiana menyusul pelan di belakang Rachel, rajutan di tangan. "Tidak ada hitam-hitam hari ini, Nak," katanya lirih. "Sudut itu kosong."
Aileen mengembuskan napas yang tidak ia sadari sedang ditahan.
Dingin mulai merambat dari punggung tangan ke siku. Di kursi sebelah, tepat di sisi Bagas yang lain, seorang ibu tua bertopi wol biru sedang mengaitkan jarum rajut dengan tangan yang gemetar. Infus menggantung di sampingnya. Ia mengamati Bagas cukup lama, lalu tersenyum, dan senyum itu seperti lipatan kain yang sudah sering dibuka.
"Suaminya, ya, Nak?"
Aileen membuka mulut untuk menjelaskan sesuatu yang rumit.
"Jarang ada suami yang tahan duduk sampai habis," lanjut ibu itu sebelum ia sempat bicara. "Suami saya dulu menunggu di mobil sambil baca koran. Tiap siklus. Dua puluh tahun saya tidak pernah marah, karena dia tidak pernah tahu bahwa saya ingin dia duduk di kursi seperti itu."
Bagas tidak langsung menjawab. Aileen melihat tenggorokannya naik turun satu kali, dan matanya bergeser ke tangan Aileen yang terpasang jarum, lalu ke wajah ibu itu.
"Ya," katanya.
Satu kata, tanpa catatan kaki, tanpa "secara hukum" atau "sementara". Aileen menoleh begitu cepat sampai selang infusnya bergoyang.
"Wah," desis Rachel. "Dia bilang ya. Dia bilang ya, Bu Mar!"
"Duduklah, Rachel."
"Aku tidak bisa duduk! Aku melayang!"
Aira menahan tawa dengan seluruh tubuhnya, bahunya berguncang. Ia tidak menangis, hanya tersenyum dengan wajah orang yang menahan sesuatu supaya tidak tumpah, dan Aileen mengalihkan pandangan ke selang infus, karena menatap wajah itu terlalu lama membuat matanya sendiri panas.
"Kamu bohong ke orang sakit," bisik Aileen tanpa menggerakkan bibir.
"Aku menjawab pertanyaan. Pasal delapan belum berakhir." Bagas masih menatap lurus ke depan. "Lagi pula dia tidak bertanya apakah aku suami yang baik."
"Itu pertanyaan berikutnya."
"Kalau begitu aku punya waktu sampai dia bertanya."
Ibu bertopi biru itu kembali merajut sambil bersenandung, seperti tahu persis bahwa percakapan di sampingnya bukan untuk didengar.
Jam pertama lewat dengan lambat. Aileen memejamkan mata dan mendengarkan hal-hal kecil: tetesan di tabung bening, derit roda troli perawat, Rachel yang berbisik kepada Mardiana soal model rambut apa yang cocok untuk kepala botak ("Bukan botak, Rachel, licin," koreksi Mardiana tanpa mengangkat mata dari rajutannya). Sesekali ia merasakan kursi lipat di sebelahnya bergeser, dan setiap kali itu terjadi, ia tahu Bagas hanya mengubah posisi duduk, bukan berdiri. Itu saja. Tetapi ia menghitungnya juga.
"Kamu tidak bosan?" tanyanya, mata masih tertutup.
"Bosan." Bagas terdengar jujur sekali. "Tapi bosan di sini lebih ringan daripada bosan di ruang kerja."
Menjelang jam kedua, pintu ruang infus terbuka dan Dokter Mahesa masuk dengan map di tangan. Lelaki berusia empat puluhan itu berjalan tanpa tergesa, jas putihnya rapi, dan ia tidak berbasa-basi selain menunduk sedikit kepada ibu bertopi biru.
"Aileen. Pak Bagas." Ia membuka map. "Saya baca hasil darah pagi ini. Fungsi ginjal stabil, dan itu yang paling saya khawatirkan. Penanda tumor turun. Tidak banyak, tetapi turun."
"Apa artinya?" tanya Bagas cepat.
"Artinya obatnya bekerja. Belum artinya selesai." Mahesa menutup map. "Kita lanjutkan sesuai jadwal. Setelah siklus keempat saya pindai ulang, baru kita bicara soal tanggal operasi. Aileen, mualnya bagaimana minggu lalu?"
"Puncaknya hari ketiga, Dok. Sesudah itu bisa makan bubur."
"Itu wajar. Kalau lebih parah dari itu, telepon, jangan menunggu." Ia menatap Bagas sekilas. "Dan tolong catat, ya, bukan sekadar dihafal."
"Sudah dicatat," ucap Bagas. "Di buku biru."
Aileen menoleh lagi. Mahesa mengangkat satu alis tipis, sama sekali tidak bertanya, dan melanjutkan keliling ke kursi lain.
***
Tiga jam kemudian lorong rumah sakit terasa lebih panjang daripada seharusnya. Aileen berjalan pelan di sisi tembok, tangan kanannya menyentuh dinding setiap beberapa langkah, kepalanya ringan seperti balon yang talinya hampir lepas. Bagas berjalan di sebelahnya dengan tas kecil milik Aileen di bahu, tidak lebih dekat dari sejengkal, tidak lebih jauh dari yang diperlukan.
"Mau duduk?"
"Nanti di mobil." Aileen berhenti sebentar menarik napas. "Kamu bawa tasku seperti tukang antar belanjaan."
"Aku tidak pernah mengantar belanjaan. Aku hanya tahu bagaimana cara membawa barang orang." Bagas menggeser tas itu ke bahu yang lain.
Gio menunggu di depan lift dengan ponsel Bagas di tangan, wajahnya sedatar biasa. "Sebelas panggilan tak terjawab dari Bu Soraya, Pak. Satu pesan. Isinya cuma 'Penting'."
"Penting untuk siapa?"
"Tidak dijelaskan, Pak."
"Kalau begitu nanti sore." Bagas mengambil ponsel itu dan memasukkannya ke saku tanpa menyalakan layar. Ia menoleh lagi pada Aileen, seakan urusan sebelas panggilan tadi sudah selesai di kepalanya. "Adikmu masih bekerja di warung kopi itu?"
Pertanyaan itu jatuh begitu saja di tengah lorong, dan Aileen sempat mengira ia salah dengar. "Denis?"
"Kamu bilang dulu ia bekerja di sana."
"Dipecat." Aileen memandang lantai yang berkilat. "Sehari setelah penagih itu mengacau. Pemiliknya takut warungnya jadi sasaran lagi. Sekarang dia mengerjakan skripsinya, dan menerima kerjaan apa saja yang ada."
Bagas tidak menyahut. Ia berjalan dua langkah, tiga langkah. Aileen mulai berpikir pembicaraan itu sudah selesai, sampai ia mendengar suaranya, datar sekali:
"Lima orang yang memukulinya itu orangku."
"Aku tahu."
"Aku belum pernah bilang apa-apa kepadanya." Bagas berhenti di depan lift, menatap angka lantai yang menyala satu per satu. "Aku harus bicara dengan adikmu. Besok."
"Dia akan memukulmu."
"Dia berhak."