Hari Selasa tiba dengan mual yang sudah jinak. Aileen mematut diri di depan cermin kamar tamu dan memutuskan bahwa ia tidak butuh keajaiban, cukup pakaian yang tidak memalukan.
Pilihannya jatuh pada gaun biru tua tanpa lengan yang dibawakan Cintya dari lemari lamanya, dipadukan dengan jaket tipis berwarna kelabu. Perhiasan dan sambungan rambut ia tinggalkan di laci. Hanya sisir dan sedikit bedak di bawah mata untuk menyamarkan kantong hitam yang tidak mau pergi.
"Kamu cantik," ujar Aira dari sudut kamar, memeluk bantal yang tak bisa ia pegang. "Kalau tidak percaya, tanya Bagas."
"Aku nggak akan menanyakan apa pun pada Bagas."
"Kamu terdengar seperti orang yang sedang mengucapkan doa."
"Itu karena aku sedang berdoa." Aileen menyambar tas. "Supaya aku tidak menuangkan sup ke jas siapa pun."
Bagas menunggu di kaki tangga dengan jas hitam dan dasi abu-abu. Ia menoleh begitu mendengar langkah. Matanya turun dari rambut ke gaun, ke sepatu pantofel datar yang ia pinjam dari Cintya, lalu naik lagi. Ia diam cukup lama. Kemudian ia berkata, singkat, "Pas."
"Hanya itu?"
"Aku tidak punya kata lain yang tidak melanggar pasal."
Aileen mengerjapkan mata, dan untuk sesaat ia tidak menemukan sindiran balasan.
Jamuan itu berlangsung di ballroom sebuah hotel di pusat kota, dengan lampu kristal berat dan meja bundar berlapis kain putih. Para tamu berdiri berkelompok sambil memegang gelas tinggi, dan suara mereka bercampur menjadi dengung dengan bau parfum yang berlapis-lapis. Ketika Bagas melangkah masuk dengan Aileen di sampingnya, dengung itu turun satu tingkat, seperti ruangan menahan napas.
"Pak Bagas." Seorang lelaki bertubuh gempal dengan perut membulat menghampiri, tangannya terulur. "Sudah lama tidak kelihatan. Kami turut berduka atas Bu Aira. Dan ini?"
Aileen merasakan seluruh mata di ruangan memperhatikan jawaban yang akan datang. Di sisi kirinya, Aira berdiri dengan gaun biru muda, wajah tegang, menatap Bagas dengan harapan sekaligus ketakutan.
"Terima kasih," kata Bagas, suaranya terbawa merata ke seluruh lingkaran tamu. "Ini istri saya, Aileen."
Tidak ada tambahan. Tidak ada "calon", tidak ada "yang akan menggantikan", tidak ada pembelaan. Lelaki gempal itu mengerjap, lalu tersenyum kikuk dan mengulurkan tangan kepada Aileen. "Bu Aileen. Selamat datang."
"Terima kasih, Pak." Aileen menyambut tangan itu. Jarinya dingin, tetapi suaranya tidak.
"Dia lebih tinggi dari yang kubayangkan," bisik Aira, dan Aileen nyaris melompat.
Mereka berkeliling dari kelompok ke kelompok. Beberapa tamu ramah, beberapa mengamati dengan senyum yang tidak naik ke mata, seorang ibu berkalung emas menanyakan apakah Aileen "berasal dari keluarga mana". Aileen menjawab, "Dari keluarga kecil, Bu, yang biasanya makan malam di rumah," dan Bagas, di sampingnya, mengambil gelas air dan menyembunyikan wajahnya di baliknya.
Soraya berdiri di dekat meja panjang berisi kue-kue mungil, mengenakan gaun merah marun yang menyatu dengan cahaya lampu. Ia menyapa tamu demi tamu dengan lengan terulur, senyum yang sama seperti di setiap tempat. Matanya mengikuti Aileen setiap kali Aileen bergerak. Satu kali, ketika Aileen menoleh, Soraya mengangkat gelasnya sedikit, seperti bersulang tanpa kata. Aileen membalas dengan anggukan paling sopan yang ia punya. Beberapa menit kemudian Soraya sendiri yang mendekat, gelas di tangan.
"Gaunmu cantik, Mbak Aileen. Pinjaman dari Tante Cintya, ya? Aku kenal gaun itu. Dipakainya waktu ulang tahun Papa."
"Benar, Mbak. Beliau baik sekali."
"Memang." Soraya menyesap minumannya. "Semua orang baik padamu sekarang. Nikmati selagi masih baru."
"Mbak juga kelihatan menikmati malam ini."
Senyum Soraya melebar setengah senti, tidak lebih, lalu ia berbalik menyapa tamu lain.
Mereka bertahan satu setengah jam. Menjelang akhir, Bagas menunduk ke arah Aileen dan bertanya pelan, "Boleh pulang?"
"Aku mau," jawab Aileen. "Sekarang."
***
Di dalam mobil, malam sudah gelap dan jalan raya penuh titik-titik lampu.
"Kamu menjawab ibu berkalung emas itu dengan baik," kata Bagas dari sisi lain jok, matanya ke jendela.
"Aku cuma bilang apa adanya."
"Itu sebabnya baik." Ia diam sebentar. "Capek?"
"Sedikit."
Aileen bersandar pada jok, membuka kancing atas jaket, dan menyisir rambutnya ke belakang telinga dengan jari, gerakan yang sudah ia lakukan ratusan kali tanpa berpikir.
Jari-jarinya menyangkut.
Ia menarik tangan pelan-pelan. Di sela jari tengah dan telunjuk, tersangkut segumpal rambut, tebal seperti gumpalan benang, panjang-panjang, hitam. Rasanya sama sekali tidak sakit. Tangannya hanya terlalu ringan, dan rambut itu terlalu mudah lepas.
Aira, di kursi depan, menoleh dan melihat. Mulutnya terbuka, lalu tertutup. Aileen menggeleng sedikit, sekali, dan menyembunyikan gumpalan itu ke dalam saku jaket sebelum Bagas, yang duduk di sisi lain dengan pandangan ke jendela, sempat menoleh.
Di rumah, ia hanya sempat berkata, "Aku mandi dulu," dan Bagas mengangguk tanpa bertanya. Ia masuk ke kamar mandi kamar tamu dan menutup pintu.
Ia memandang cermin cukup lama. Lalu ia mengangkat tangan, menyentuh kepalanya, dan menarik pelan. Segenggam rambut ikut terlepas. Ia menarik lagi, dan lagi, dan wastafel marmer itu perlahan dipenuhi helai-helai hitam yang melengkung, menumpuk seperti rumput yang baru dipangkas.
Aileen mengambil gunting kecil dari laci. Tangannya gemetar. Ia memotong sebagian rambut di sisi kanan, asal-asalan, pendek, dan potongan itu jatuh tanpa suara. Ia memotong lagi. Air matanya jatuh ke wastafel bersama rambut-rambut itu, tanpa isak, tanpa suara, hanya bahu yang naik turun dan napas yang ditahan.
Ia tidak sadar pintu tidak terkunci sampai terdengar ketukan pelan.
"Aileen. Kamu di dalam?"
Ia tidak menjawab. Pintu terbuka sedikit. Bagas berdiri di ambangnya, melonggarkan dasi, lalu berhenti begitu melihat wastafel, gunting di tangan Aileen, wajah yang basah. Ia tidak bertanya apa pun. Ia hanya berkata, pelan, "Sudah mulai." Matanya bergerak dari rambut ke rambut, dan sesuatu di wajahnya berubah.
Ia pergi. Aileen mendengar langkahnya menjauh dan mengira ia sudah selesai. Namun semenit kemudian langkah itu kembali, dan di tangannya ada sebuah alat cukur listrik kecil berwarna hitam, dengan kabel tergulung.
"Boleh?" tanyanya.
Satu kata. Bukan nada perintah, bukan beban, hanya pertanyaan yang menunggu.
Aileen menatap alat itu, lalu pantulan dirinya di cermin, kepala yang sudah separuh gundul, mata yang merah. Ia mengangguk.
Bagas menutup pintu di belakangnya dan mencolokkan kabel ke stopkontak. Ia berdiri di belakang Aileen, tidak terlalu dekat, tangan kirinya menahan sisi kepala dengan sentuhan yang tidak lebih dari telapak yang hangat. Alat cukur berdengung.
"Jangan lihat mukaku," kata Aileen, suaranya pecah.
"Aku melihat kepalamu. Wajahmu urusan lain."
"Kamu nggak perlu melakukan ini."
"Aku tahu. Tapi aku mau." Bagas menggeser alat itu ke atas telinga. "Diam sebentar. Nanti miring."
"Kamu mulai terdengar seperti aku."
"Itu bukan pujian." Rambut jatuh dalam jalur-jalur rapi, dan pegangan tangannya mantap sekali.
"Dulu Aira yang memotong rambutku," katanya, matanya terpaku pada kerja tangannya. "Di teras belakang, dengan gunting jahit. Hasilnya selalu miring. Aku tidak pernah bilang apa-apa."
Aileen tertawa pendek, parau, di sela air mata.
"Aku tidak sepandai dia," lanjut Bagas, menggeser alat itu perlahan ke belakang telinga. "Tapi tidak akan miring."
Aira berdiri di sudut kamar mandi yang sempit, kedua tangan menutup mulut, matanya basah dan berkilau. Ia tidak berkata apa-apa. Untuk sekali itu, ia hanya menyaksikan.
Dengung berhenti. Bagas mengambil handuk kecil, menyapu serpihan dari tengkuk Aileen dengan gerakan hati-hati yang ia ulangi dua kali, lalu mundur satu langkah.
"Selesai," ujarnya. "Aileen."
Nama itu keluar dengan nada yang tidak pernah Aileen dengar sebelumnya. Bukan "Aileen Andita" yang menggeram, bukan "Aileen" yang menyuruh. Hanya namanya, dipanggil seperti seseorang memanggil orang yang ada di depan matanya.
Ia mengangkat wajah ke cermin. Kepalanya licin, matanya terlalu besar, lehernya terlihat terlalu kurus. Tapi di pantulan itu ada Bagas yang berdiri di belakangnya, melihat dirinya, bukan siapa pun yang lain.
"Siklus kedua Senin depan," ucap Bagas, menggulung kabel. "Kuantar sampai selesai. Dan aku tidak akan menerima telepon."