"Soraya," jawab Aileen.
Hanya itu, dan hanya itu yang perlu. Bagas tidak bergerak selama tiga detik, lalu menyeberangi ruang tamu dalam empat langkah dan mengambil botol kaca itu dari meja dengan dua jari, seperti mengangkat ular yang belum tentu mati. Tutupnya terbuka. Ia menurunkannya jauh dari wajah.
"Kapan?"
"Baru saja, sebelum kamu masuk. Mobilnya mungkin masih di ujung jalan." Aileen menyandarkan punggung ke bantal sofa. "Dia bilang itu kenang-kenangan dari kamar Aira. Dia ingin aku memakainya supaya rumah ini terasa seperti dulu."
"Dan kamu?"
"Aku bilang aku punya bau sendiri. Bau obat."
Sesuatu di wajah Bagas mengendur. Bukan senyum, bukan lega yang tampak, tetapi bahunya turun sedikit, seperti lelaki yang menahan beban lebih lama daripada yang ia sadari. "Kamu menolaknya."
"Pasal tiga. Aku tidak wajib menyerupai siapa pun."
"Aku tahu bunyi pasalnya." Ia menutup botol itu dengan gerakan pelan. "Apa lagi yang dia katakan?"
Aileen menimbang. Di sisi sofa, Aira berdiri dengan wajah menunggu, bibirnya bergerak tanpa suara: katakan, katakan.
"Dia bilang malam kecelakaan itu Aira tidak enak badan dan ingin tinggal di rumah, tapi kamu memaksanya datang. Dia mendengar sendiri dari telepon." Aileen menatap mata Bagas. "Aira bilang itu bohong. Dia sendiri yang mau pergi, dia sendiri yang memilih gaunnya. Katanya kamu tidak memaksa."
Hening. Bagas memejamkan mata sebentar, sangat sebentar. Ketika ia membukanya, ia tidak menatap Aileen, tetapi ruang kosong di dekat lengan sofa.
"Kamu ingat," ucapnya serak.
"Aku selalu ingat," bisik Aira, dan Aileen menyampaikannya apa adanya.
Bagas menyodorkan botol itu kepada Gio, yang sudah muncul di ambang pintu tanpa suara. "Keluarkan dari rumah ini. Jangan dibuang. Simpan di tempat yang aman." Setelah Gio pergi, ia mengusap tengkuk dengan satu tangan. "Selasa depan ada jamuan perusahaan. Aku ingin kamu menemaniku."
"Aku sedang kemoterapi."
"Selasa depan sudah delapan hari setelah infus pertama, kata Gio. Kamu seharusnya sudah lebih baik."
"Kalau aku masih mual?"
"Kita pulang." Bagas mengatakannya seperti hal paling mudah di dunia. "Aku perlu dilihat bersama istriku, Aileen. Bukan karena aku mau pamer, tapi karena orang-orang itu sudah membicarakan kita sejak peringatan itu, dan lebih baik mereka membicarakannya setelah melihatmu."
Aileen mengerjapkan mata. Kata "istriku" baru kali ini ia dengar tanpa nada mencibir. "Kamu tidak bilang itu sambil marah."
"Aku sedang lelah. Itu berbeda."
Malamnya, di meja makan, Aira mengambil alih pelajaran dengan semangat seorang guru baru. Ia duduk di sebelah Aileen, tepat di tempat yang tidak ditempati siapa pun, dan mulai berbisik begitu Cintya menaruh piring pertama.
"Sendok dari luar ke dalam, Ai. Luar. Bukan yang paling dekat."
Aileen mengambil sendok kecil yang salah. Aira menepuk dahinya sendiri.
"Dan jangan berbunyi. Pelan-pelan. Jangan mengaduk sup seolah kamu menggali parit."
"Aku tidak menggali," desis Aileen di bawah napas, nyaris tanpa gerak bibir.
"Siapa yang kamu ajak bicara?" Cintya mengangkat wajah dari piring.
"Sup, Tante. Saya mengancamnya supaya tidak tumpah."
Pradipta, yang kebetulan makan malam bersama mereka, mendengus kecil ke dalam gelasnya. "Selasa nanti banyak rekan yang bertanya soal keluargamu," katanya. "Jawab seperlunya."
"Jawaban favorit saya, 'Silakan tanya Pak Bagas', Om."
"Itu jawaban yang bagus." Pradipta kembali menunduk pada piringnya, tetapi Aileen yakin ia melihat ujung kumisnya bergerak. Bagas menunduk menatap piring, dan ujung bibirnya bergetar nyaris tak kentara.
"Serbet di pangkuan, bukan di leher! Sedikit saja menyentuh bibir!" Aira terus berbisik. "Tarik kursi dengan tangan, bukan dengan kaki. Kamu bukan sedang kabur dari restoran."
Aileen mengangkat gelasnya, dan karena menahan tawa, hampir tersedak. Cintya menepuk punggungnya, Bagas menyodorkan air tanpa bertanya, dan malam itu ruang makan rumah itu akhirnya terasa seperti ruang makan.
***
Penata rambut itu tiba pukul sepuluh pagi dengan koper hitam besar dan dua asisten. Ia memperkenalkan diri sebagai orang yang "sudah lama kenal Bu Aira", berkacamata, wangi, dan bicara terlalu cepat.
"Jadi ini ya Bu Aileen." Ia memutari kursi dan mengangkat sehelai rambut Aileen dengan dua jari. "Hmm. Sebahu, lurus, agak kusam. Tidak apa-apa, kita punya waktu. Pak Bagas minta hasilnya seperti Bu Aira dulu. Ikal panjang di bawah bahu, warna cokelat madu. Saya bawa sambungannya."
"Sambungan?"
"Rambut tambahan. Tiga lapis."
Aileen duduk tegak di kursi rias dadakan di serambi belakang. Rambutnya yang sebentar lagi akan rontok mau disambung dengan rambut orang lain; ia nyaris tertawa, dan menahannya hanya karena asisten sedang memegang gunting. Ia memandang foto yang disandarkan di cermin: Aira dengan rambut ikal panjang yang jatuh di bahu seperti air terjun, tersenyum ke arah kamera. Aira sendiri berdiri di sudut dengan tangan di mulut, wajahnya memucat.
"Terima kasih, Mas. Tidak jadi."
"Maaf?"
"Aku tidak mau." Ia berdiri, melepas kain pelindung dari lehernya. "Silakan pulang. Biayanya Pak Bagas yang tanggung, kan? Tolong sampaikan, aku yang membatalkan."
"Tapi Pak Bagas..."
"Siapa yang menyuruhmu?" Suara Bagas memotong dari pintu kaca. Ia berdiri di sana dengan setelan kerja, rupanya baru pulang di tengah hari. "Aileen, duduk."
"Tidak."
"Aku menyewa orang ini supaya kamu tampil layak di jamuan itu."
"Aku sudah layak." Aileen menghadapinya, tangan di sisi tubuh. "Kamu bilang pakai apa saja. Pasal tiga."
"Aku bilang tampil layak!" Suara Bagas naik, dan asisten penata rambut mundur selangkah. "Hanya itu. Apa susahnya? Kamu hanya perlu tampil layak, bukan menjadi perempuan gila yang membantah tiap—"
Ia berhenti. Kata itu sudah keluar, tergantung di antara mereka seperti kaca yang belum jatuh.
Aileen mengangkat satu alis. "Satu juta."
Bagas menarik napas panjang melalui hidung. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan lembaran-lembaran merah, menghitungnya dengan jari yang kaku, dan menyodorkannya. Aileen tidak mengambil. "Taruh sendiri di toples nanti. Aku tidak mau menyentuhnya."
"Sampaikan," desak Aira dari sudut. Suaranya bergetar tetapi tegas, sesuatu yang baru. "Sampaikan, Ai. Sekarang."
Aileen menarik napas. "Aira bilang sesuatu."
Bagas membeku.
"Dia bilang, 'Aku tidak mau dia jadi aku.'"
Tak ada yang bersuara. Burung di pohon belakang berkicau. Si penata rambut, yang tidak mengerti apa-apa, menatap sepatunya sendiri. Bagas memandang foto Aira di cermin, lalu perempuan hidup di depannya yang masih memegang kain pelindung. Rahangnya mengendur sedikit demi sedikit.
"Mas," katanya akhirnya, tanpa menoleh. "Terima kasih. Maaf merepotkan. Tagihannya kirim ke Gio."
Para penata rambut berkemas dengan kecepatan orang yang tahu kapan harus menghilang. Setelah pintu pagar menutup, Bagas masih berdiri di tempatnya, uang di tangan, sebelum akhirnya berjalan ke ruang kerja untuk memasukkannya ke toples berlabel "Panti".
Ia kembali dan berhenti di ambang serambi.
"Selasa depan," ujarnya. "Pakai apa saja yang kamu mau. Tapi datang."