Hari ketiga datang persis seperti yang dijanjikan.
Aileen terbangun dengan rasa asam di pangkal lidah dan tulang-tulang yang terasa seperti dipinjam dari orang lain. Ia tidak sanggup duduk lebih dari sepuluh menit. Cintya memindahkannya ke sofa panjang di ruang tamu, dekat jendela yang menghadap taman, dengan selimut wol, bantal tambahan, dan semangkuk bubur yang ia sentuh hanya dengan sendok kecil. Rasanya aneh: bukan sakit yang menusuk, melainkan lelah yang merayap ke sumsum, mual yang datang bergelombang tanpa jadwal, dan lidah yang mengecap logam bahkan dari air putih. Buku biru di pangkuannya hanya terisi dua baris sejak pagi: "Hari ketiga. Semuanya." Setelah itu Cintya pergi arisan, dengan banyak pesan kepada pembantu dan lebih banyak lagi kepada Aira, meski Aira tidak bisa mendengarnya.
"Dia menyuruhku menjagamu," Aira melapor sambil duduk di sandaran sofa. "Padahal aku tidak bisa menjaga apa-apa."
"Kamu menjagaku dengan menyebalkan." Aileen menutup mata. "Itu cukup."
Sekitar pukul sebelas, pembantu rumah muncul di ambang ruang tamu dengan wajah ragu. "Bu Aileen, ada tamu. Mbak Soraya."
Aira menegang seketika. Aileen membuka mata.
"Suruh masuk," katanya. "Dan bawakan teh."
Soraya masuk seperti seseorang yang membawa sinar. Blusnya putih gading, rambutnya disanggul rendah, di tangan kanannya sebuah kantong kertas kecil bertali sutra. Ia tersenyum begitu melihat Aileen, senyum sama persis seperti di rumah Hendra, lalu menunduk sedikit dengan simpati yang diukur.
"Mbak Aileen. Maaf mengganggu. Aku dengar kamu sakit, jadi aku mampir."
"Dari siapa?"
"Dari Tante Cintya. Beliau meneleponku kemarin." Soraya duduk di kursi tunggal di seberang sofa, menyilangkan kaki. "Boleh aku minta maaf dulu soal Mama? Beliau memang begitu. Tapi hatinya baik."
"Tidak apa-apa."
Teh datang di nampan. Soraya mengambil teko dari tangan pembantu, mengisi cangkir Aileen sendiri, lalu cangkirnya. Gerakannya tenang, nyaris anggun. Matanya sempat bergeser pada tas obat Aileen yang terbuka di meja kecil, dengan pil-pil pereda nyeri dan vitamin dalam wadah plastik berkotak-kotak.
"Itu apa?"
"Vitamin."
"Vitamin tidak sebanyak itu." Soraya mengambil cangkirnya sendiri, tersenyum lembut. "Obat lambung, ya? Pantas wajahmu pucat. Mama tidak salah, ternyata."
Aileen tidak menjawab. Di sampingnya, Aira bergeser mundur dengan tubuh kaku. Tepi baju Aira bergetar, padahal tidak ada angin di ruangan itu.
"Aku bawa sesuatu." Soraya mengangkat kantong kertas dan mengeluarkan sebuah botol kecil kaca bening berisi cairan keemasan. Penutupnya berbentuk kelopak. Aroma bunga putih dan sedikit kayu manis merebak begitu tutupnya terbuka, dan lambung Aileen langsung mengerut seperti kepalan tangan. "Parfum Kak Aira. Kesukaannya. Waktu merapikan kamarnya di rumah Papa, aku menemukan satu yang belum dibuka. Kupikir Bagas akan senang kalau..."
"Aku tidak pernah menyimpan yang belum dibuka," desis Aira di telinga Aileen. "Aku selalu memakainya sampai tetes terakhir. Papa selalu menggodaku soal itu."
"Mbak." Aileen menaikkan alis. "Parfum itu untuk apa?"
"Untuk kamu." Soraya mengulurkan botol itu dengan kedua tangan. "Bagas pasti rindu wangi ini. Kalau kamu memakainya, rumah ini akan terasa lebih seperti dulu. Kamu juga akan lebih mudah diterima. Orang butuh waktu untuk terbiasa."
Aileen tidak bergerak. Botol itu tergantung di udara di antara mereka, berkilat kena cahaya jendela.
Pelan-pelan Soraya meletakkannya di meja, tepat di sebelah wadah obat. Ia menuangkan teh untuk dirinya lagi, mengaduk sekali, lalu bicara dengan suara yang diturunkan seperti seseorang yang berbagi rahasia.
"Boleh aku cerita sesuatu? Mungkin kamu perlu tahu, supaya kamu mengerti Bagas." Ia menatap cangkirnya. "Malam kecelakaan itu, Kak Aira sebenarnya tidak enak badan. Dia sudah bilang ingin tinggal di rumah. Tapi Bagas memaksa. 'Kamu istriku, kamu harus ada di pesta itu,' katanya. Aku mendengarnya sendiri dari telepon."
Aira berhenti menggigil.
"Aku tidak menyalahkan," lanjut Soraya, lirih dan manis. "Sama sekali tidak. Tapi Bagas tidak pernah memaafkan dirinya. Dan orang yang tidak memaafkan diri akan mencari penebus. Itu sebabnya dia memilihmu."
"Itu bohong!"
Teriakan Aira membelah ruangan. Rambutnya melayang, tangannya terkepal, dan untuk sesaat lampu gantung berkedip. "Aku sendiri yang mau pergi! Aku yang memilih gaun itu! Aku yang bilang jangan terlambat! Dia tidak memaksaku sama sekali, Ai, katakan padanya, katakan sekarang!"
Cangkir di tangan Aileen bergetar. Teh tumpah sedikit ke pangkuan selimut. Soraya melirik lampu yang berkedip, mengerutkan dahi sedetik, lalu tersenyum maklum. "Listrik di rumah tua memang begitu."
Aileen mengepalkan tangan di bawah selimut sampai kukunya masuk ke telapak. Menjawab Aira sekarang berarti berbicara pada udara di depan musuh. Menjawab Soraya berarti membuka kartu yang belum waktunya. Ia menarik napas dalam, dalam, sampai dadanya yang nyeri tenang.
"Mbak tahu banyak sekali tentang malam itu," ucapnya akhirnya, datar.
"Aku adiknya."
"Ya." Aileen meletakkan cangkir. "Terima kasih parfumnya, tapi aku tidak akan memakainya."
Senyum Soraya bertahan, hanya matanya yang berhenti bergerak. "Kenapa?"
"Aku punya bau sendiri. Maaf. Bau obat." Aileen menepuk wadah plastik di sebelahnya. "Dan kalau Bagas merindukan wangi itu, dia tahu di mana kenangan itu disimpan. Dia tidak perlu aku untuk itu."
Soraya memandangnya lama. Kali ini senyumnya tidak punya tujuan, hanya bertahan karena belum ada gantinya. "Kamu keras kepala," katanya akhirnya, hampir ramah. "Aku suka itu. Aku hanya khawatir tubuh yang lelah sering kehabisan tenaga untuk hal-hal lain."
Aira menahan napas. Aileen merasakan dinginnya merambat sampai ke leher, tetapi wajahnya tetap datar.
"Terima kasih atas perhatiannya."
Soraya berdiri, merapikan blusnya, mengambil tasnya. Di ambang pintu ia berhenti dan menoleh. "Cepat sembuh, Mbak Aileen. Orang sakit sering lupa tempatnya."
Pintu depan menutup. Mobil menjauh. Aileen memandang botol kaca di meja, dan botol itu balas memandang dengan aroma bunga yang menyesakkan.
"Ai," bisik Aira, nyaris tanpa suara, hampir menangis. "Dia berbohong. Kamu percaya aku, kan?"
"Aku percaya."
"Dia membawa botol itu bukan untuk Bagas."
"Aku tahu." Aileen mencoba bangkit untuk menyingkirkan botol itu, menahan napas supaya tidak mencium wanginya, tetapi lututnya kembali menyerah. Ia terhempas ke sofa, memejamkan mata, dan di saat itulah derap sepatu terdengar dari lorong depan. Bagas masuk lebih cepat dari seharusnya, jasnya di lengan, wajahnya letih.
Langkahnya terhenti tepat di ambang ruang tamu. Hidungnya mengerut, seperti seseorang yang tersambar dari belakang oleh sesuatu yang sangat lama tidak ia cium. Matanya jatuh pada botol kaca di meja, lalu naik, dan seluruh raut wajahnya mengeras.
"Siapa yang membawa ini ke rumahku?"