Sepanjang jalan pulang, Aileen duduk meringkuk di kursi belakang dengan dahi menempel pada kaca jendela yang dingin. Setiap kali mobil berbelok, perutnya ikut berbelok. Gio mengemudi pelan sekali, nyaris seperti membawa telur di atas nampan.
Aira duduk di sebelahnya, tidak bersandar, tidak diam. Kepalanya menoleh ke jendela belakang terus-menerus.
"Masih di sana?" bisik Aileen, bibirnya nyaris tak bergerak.
"Mengikuti. Seperti asap yang menempel di mobil." Aira menelan ludah, yang tidak perlu ia lakukan. "Dia tidak masuk. Dia tidak berani mendekat. Tapi dia ada."
Gerbang rumah Bagas terbuka otomatis. Mobil melaju masuk dan bayangan di jalan itu berhenti tepat di garis besi gerbang, seakan menabrak kaca yang tak terlihat. Ia diam sebentar, tubuh bungkuknya tak bergerak, lalu menipis seperti kabut diserap tanah.
"Hilang," Aira menghela napas panjang. "Rumah ini menolak dia. Entah kenapa."
Aileen tidak menjawab. Rasa dingin yang sejak ruang infus membeku di tengkuknya baru mulai longgar ketika Gio membukakan pintu mobil. Ia mencoba berdiri sendiri. Lututnya langsung menyerah, dan Gio menangkap sikunya sebelum ia terjatuh.
Aira berkeras mengantarnya sampai pintu kamar tamu. "Kamu tahu kenapa dia berhenti di gerbang?" tanyanya sambil menarik selimut ke dagu Aileen, gerakan yang cuma sebatas niat karena jarinya menembus kain. "Aku juga tidak tahu. Tapi ini pertama kali aku merasa rumah ini melakukan sesuatu yang berguna."
"Rumah ini?"
"Mungkin Bu Cintya menyiram tanaman terlalu rajin." Aira tersenyum lemah. "Tidur, Ai."
Malam itu demamnya naik. Tiga puluh delapan koma tujuh, kata termometer yang disodorkan pembantu rumah. Ia muntah dua kali sebelum pukul tujuh, dan satu kali lagi ketika bau nasi dari dapur menyusup lewat celah pintu.
***
"Sini, Nak. Jangan bangun."
Cintya masuk membawa nampan berisi mangkuk bubur putih tanpa apa-apa, segelas air hangat dengan irisan jahe, dan handuk kecil basah. Ia meletakkannya di nakas dan duduk di tepi ranjang, tanpa bertanya apakah boleh. Ia menempelkan telapak tangannya ke dahi Aileen.
"Masih panas. Kita tunggu sejam lagi, kalau belum turun Tante telepon Daren."
"Saya sudah merepotkan Tante."
"Tante yang meminta." Cintya mengaduk bubur dengan sendok perak, meniupnya dua kali. "Dulu, waktu Pradipta sakit, Tante merawatnya tiga bulan penuh di rumah sakit. Orang paling keras kepala yang pernah Tante temui. Dia tidak mau bubur. Katanya bubur makanan bayi."
"Lalu?"
"Tante tidak membujuk. Tante duduk di sampingnya dan makan bubur di depannya, pelan-pelan, sampai dia kesal sendiri dan merebut mangkuknya." Cintya tersenyum, matanya melayang jauh. "Orang sakit tidak butuh dinasihati. Mereka butuh ditemani sampai mau."
Aileen menerima sesendok bubur. Rasanya hambar, dan entah kenapa itu justru satu-satunya rasa yang bisa ia tahan. Ia menghabiskan setengah mangkuk dalam senyap, dan Cintya, tanpa kata-kata, membersihkan ujung bibirnya dengan handuk kecil seperti memperlakukan anak bungsu.
"Tante," ujar Aileen. "Terima kasih."
"Habiskan dulu."
Sekitar pukul sembilan malam, pintu depan terbuka dan sepatu kulit berat naik tangga. Cintya berdiri, merapikan nampan, dan sebelum keluar menyentuh bahu Aileen sekali. "Tante di bawah kalau butuh."
Bagas muncul di ambang pintu kamar tamu beberapa menit kemudian. Ia masih mengenakan jas, dasinya dilonggarkan, dan rambutnya acak oleh angin. Ia tidak melangkah masuk. Ia berdiri di garis pintu seperti ada tali yang tak boleh dilewati.
"Aku dengar kamu muntah."
"Sudah biasa."
"Gio sudah menceritakan semuanya." Ia menatap termometer di nakas. "Demam."
"Itu wajar. Dokter bilang..."
"Sampaikan, Ai," potong Aira. Hantu itu berdiri di sisi ranjang dengan tangan terkepal, wajah memerah oleh amarah yang jarang sekali ia tunjukkan. "Sampaikan padanya. Sekarang."
Aileen memejamkan mata. "Aira bilang sesuatu."
Bagas menegang. "Apa?"
"Dia bilang..." Aileen mengerutkan dahi. "Kamu pergi karena Soraya."
Hening yang panjang. Bagas menarik napas, dan nadanya berubah menjadi dingin, tapi dengan retakan di tepi. "Itu rapat dengan investor. Bukan soal Soraya. Ada kontrak yang bisa gagal kalau aku tidak hadir."
"Dia bilang kamu juga berkata bahwa kamu akan kembali sebelum selesai."
"Aku..."
"Kamu nggak kembali, Bagas." Aileen membuka mata. Suaranya serak, tapi tidak keras. "Itu bukan tuntutan. Aku hanya menyampaikan. Aira bilang kamu selalu begitu waktu dia sakit flu: janji pulang cepat, lalu pulang jam sebelas."
Bagas membuka mulut untuk membantah. Kemudian ia berhenti. Rahangnya bergerak sekali, dua kali, dan sorot matanya berpindah ke ruang kosong di sebelah ranjang, tempat ia tahu istrinya berdiri.
"Aku tidak tahu kamu masih ingat itu," katanya lirih, ditujukan bukan pada Aileen.
"Dia ingat semuanya," bisik Aileen.
Bagas tidak membalas. Ia berdiri lama di ambang pintu, dan akhirnya mengangguk, bukan kepada Aileen, bukan kepada udara, tetapi kepada kenyataan yang tidak enak. Ia berbalik dan pergi tanpa berkata apa-apa.
"Dia kalah lagi," gumam Aira setelah langkahnya menjauh, tapi suaranya gemetar.
***
Aileen terbangun dengan tenggorokan kering. Jam digital di nakas menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh. Demamnya sudah turun, tubuhnya lengket oleh keringat dingin, dan perutnya masih berdenyut samar seperti mesin yang belum sepenuhnya mati. Rumah itu sunyi sekali.
Ada sesuatu di lorong. Cahaya lampu koridor menyelinap lewat celah pintu yang entah kapan terbuka seperempat. Aileen mengangkat badan, menyibak selimut, dan berjalan dengan kaki telanjang.
Di kursi kayu yang biasanya dipakai untuk menaruh tas, Bagas duduk dengan kepala bersandar ke dinding, matanya terpejam. Jasnya sudah dilepas, kemejanya kusut, dan di pangkuannya, dipeluk kedua lengan seperti bantal, ada sebuah termos kecil berwarna perak. Dari penutupnya yang miring tercium aroma jahe.
Aileen berdiri diam di ambang pintu, terlalu lama. Ia tidak ingin membangunkannya. Tetapi napas Bagas berubah, dan kelopak matanya terbuka perlahan, mata merah yang bingung sebentar lalu waspada.
"Kamu bangun."
"Kamu tidur di sini?"
"Kenapa tidak di sofa ruang kerja? Itu tempat tidurmu."
"Terlalu jauh. Kalau kamu muntah di tengah malam, aku tidak akan dengar." Bagas mengucapkannya datar, seperti membaca laporan keuangan, lalu tampaknya baru sadar apa yang baru ia katakan. "Maksudku, Pasal empat. Aku menanggung biaya pengobatanmu. Itu termasuk memastikan kamu tidak pingsan sendirian."
"Pasal empat tidak menyebut kursi."
"Pasal empat tidak menyebut banyak hal."
Aileen menahan senyum. Bagas memandang termos di pangkuannya seolah baru menyadari benda itu ada.
"Gio bilang jahe membantu. Aku membuatnya sendiri. Lalu tidak tahu kamu sudah tidur atau belum."
"Dari jam berapa?"
"Aku tidak menghitung." Ia mengusap wajah dengan kedua tangan. Lalu, tanpa menatapnya, dengan suara yang tidak punya nada perintah di dalamnya, ia bertanya, "Apa selalu sesakit ini?"
Aileen memandang lelaki di kursi itu, bahunya yang turun, termosnya yang dipeluk. "Lebih," jawabnya. "Puncaknya biasanya hari ketiga."