Aileen menoleh ke arah ambang pintu, tempat Bagas tadi berdiri bersama Gio. Kosong. Bagas sudah berpindah ke sisi lain ruangan, dikepung Pradipta, Hendra, dan dua kenalan bisnis yang baru Aileen lihat hari itu. Ketika matanya mencari mata Bagas, lelaki itu justru menunduk pada gelas di tangannya, seperti orang yang tahu sedang diawasi.
"Jangan sekarang," bisik Aira, yang rupanya menebak isi kepalanya. "Sore nanti dia pasti kabur ke ruang kerja."
Tebakan itu tepat. Tamu terakhir pulang menjelang sore, Nani dan Bono pulang dengan kantong berisi kue, Denis lama sekali memeluk Aileen di teras, dan pintu ruang kerja menutup sebelum lampu halaman menyala. Aileen memilih menunggu. Yang ia perlukan bukan perang di tengah pesta, melainkan pagi yang tenang.
***
Hari berikutnya, ia menemukan Bagas di taman belakang sedang menyeruput kopi di bangku batu, kemejanya tak dikancing sampai ujung, rambutnya masih basah. Untuk lelaki yang tak pernah makan sendirian, ia tampak mantap duduk sendirian.
"Aku mau bicara soal Paman Barito."
"Aku sudah menduga." Bagas tidak menoleh.
"Kamu menyuruh Gio mengganti uang pinjaman Paman. Kamu nggak bilang apa-apa padaku."
"Itu urusanku."
"Itu uang yang Paman pinjam atas namaku." Aileen duduk di ujung bangku, sejauh yang bisa tanpa terkesan menghindar. "Sembilan puluh juta, Bagas. Kamu sudah membayar utang yang sebesar itu untukku, dan sekarang kamu membayar utang yang tidak pernah kuminta."
"Kalau aku bilang, kamu akan menolak."
"Tentu."
"Karena itu aku tidak bilang." Bagas meletakkan cangkir. Ia akhirnya menatapnya, dan matanya tidak sedingin yang Aileen persiapkan. "Pamanmu menangis di depan umum karena tidak bisa memberimu uang. Aku tidak mau melihat itu lagi, apalagi dengan alasan yang bisa dihapus dengan satu transfer."
"Itu bukan hakmu."
"Bukan. Tapi uangnya milikku." Ia berdiri dan merapikan kemejanya. "Besok pagi jam delapan. Pakai sesuatu yang tidak mengganggu infus. Dan jangan membantah soal ini lagi."
Aileen ingin membantah. Ia membuka mulut, lalu menyadari Bagas sudah menghilang di balik pintu kaca. Dari semak mawar, Aira menahan tawa.
"Dia kalah, Ai."
"Dia nggak kalah," sungut Aileen. "Dia kabur."
***
Ruang infus Rumah Sakit Setia Budi bernuansa hijau pucat, dengan sepuluh kursi berlapis kulit yang menghadap jendela. Sebagian kursi sudah terisi: seorang perempuan paruh baya dengan penutup kepala, seorang lelaki muda yang bermain ponsel dengan wajah abu-abu, dan seorang kakek yang tertidur dengan mulut terbuka. Bau alkohol swab dan sup tomat dari pantri tercium samar.
Aileen duduk di kursi paling ujung, dekat jendela. Syal tipis berwarna jingga pucat dari Cintya terlilit longgar di lehernya, sengaja dipakai meski rambutnya belum rontok sehelai pun. Perawat memasang jarum di punggung tangan kirinya, mengatur selang, dan menempelkan plester.
"Obat antimualnya masuk dulu, Bu," kata perawat itu. "Kemudian obat utamanya. Sekitar tiga jam. Kalau ada yang terasa aneh, tekan tombol ini."
"Baik, Sus."
Bagas berdiri di samping kursinya, tak sempat duduk karena tidak ada kursi tambahan. Seorang perawat membawakannya satu dari pantri tanpa diminta. Ia duduk dengan punggung kaku, jasnya masih terpasang, seakan ruang infus adalah ruang sidang.
"Rasanya bagaimana?" tanyanya.
"Dingin. Itu saja."
"Itu saja?"
"Kamu pikir bakal ada musik?" Aileen mengangkat alis. "Untuk sementara belum ada apa-apa, Bagas. Nanti baru terasa."
Bagas tidak membalas. Aira, di seberang, duduk bersila di lantai di samping kursi Aileen, bersandar pada kaki kursi. Rachel muncul dari jendela dengan kehebohan seperti angin, dan Mardiana menyusul pelan, rajutan di pangkuan.
"Selamat datang di spa, bocah gila!" Rachel memutari kursi dengan kedua tangan terentang. "Sepuluh dari sepuluh. Pemandangan jelek, makanan jelek, tapi pelayanan..."
"Rachel, duduk," tegur Mardiana. Ia menatap Aileen dengan sabar yang dalam. "Nak, kami temani sampai selesai. Kalau kamu butuh bicara, bicara saja, kami tidak keberatan dilihat orang."
Aileen mengangguk kecil sambil pura-pura membetulkan syal. Bagas, yang selalu menangkap gerakan itu, melirik ke arah yang sama.
Dua puluh menit kemudian, infus utama mulai mengalir. Aileen merasakan dingin merayap dari punggung tangan sampai siku. Bagas, yang sejak tadi diam, mengeluarkan ponsel dari saku jas dan membacanya sebentar, lalu menyimpannya lagi. Ia melakukannya tiga kali.
Mardiana tiba-tiba berhenti merajut.
Jarum di tangannya tergantung di udara. Ia tidak menatap Aileen; ia menatap sudut ruangan di dekat pintu pantri, tempat dinding bertemu langit-langit. Rachel, yang tadi masih mengoceh, berhenti di tengah kata.
"Nak," bisik Mardiana nyaris tanpa suara. "Jangan menoleh. Ada yang memperhatikanmu dari pojok sana."
Aileen tidak menoleh. Ia melirik dari sudut mata, sebatas yang bisa. Di bawah sorot lampu neon, di sudut itu, sebuah bayangan lebih gelap dari bayangan seharusnya, berbentuk orang yang duduk membungkuk, tanpa wajah. Tak ada gerak, tapi ia tahu, dengan keyakinan yang mengerutkan kulit lengannya, bahwa sosok itu sedang menatap tepat ke arahnya.
"Dia sudah lama di bangsal bedah," lanjut Mardiana pelan. "Dia suka yang lemah tapi bercahaya. Hati-hati."
Aileen menelan ludah. Ponsel Bagas berdering.
Nama di layar membuat rahangnya mengeras. Ia mengangkat dengan satu gerakan. "Ya." Hening. "Sekarang?" Lebih lama. "Kapan?" Bagas berdiri. "Aku datang."
"Bagas."
"Soraya. Rapat darurat dengan investor, soal proyek yang sedang bermasalah." Ia sudah memasukkan ponsel ke saku. "Gio akan menunggumu. Aku kembali sebelum selesai kalau bisa."
"Pergilah," ujar Aileen. "Aku nggak keberatan."
Bagas menatapnya sebentar, seakan menunggu kebohongan itu retak. Tidak retak. Ia pergi dengan langkah panjang, dan pintu ruang infus menutup perlahan di belakangnya.
Aira berdiri. "Kamu pergi karena Soraya," katanya kepada pintu yang sudah tertutup, getir, lalu menoleh pada Aileen. "Aku akan tinggal bersamamu."
Satu jam kemudian, Aileen muntah. Datangnya tiba-tiba, tanpa peringatan, dan ia hampir tidak sempat meraih baskom plastik yang disodorkan perawat. Setelah itu tubuhnya lemas seperti kain basah. Gio, yang sejak tadi duduk di kursi tunggu di dekat pintu, sudah berdiri di sampingnya sebelum perawat sempat memanggil.
Tanpa bicara, ia meletakkan satu tangan di bahu Aileen, hangat dan mantap, dan tetap di sana sampai napasnya teratur.
"Maaf," gumam Aileen, wajahnya menempel di lututnya sendiri. "Aku nggak bermaksud merepotkan."
"Tidak merepotkan." Gio mengambil tisu dari kantong jasnya, tisu yang jelas sudah ia bawa sejak pagi. "Pak Bagas meminta saya mencatat semua yang terjadi hari ini. Jam berapa mual mulai, berapa lama, apa yang membantu. Saya hanya menjalankan perintah."
"Dia menyuruhmu mencatat?"
"Dengan buku yang lebih tebal daripada milik kamu." Gio nyaris tersenyum. "Beliau pandai berpura-pura tidak peduli, tapi tidak pandai menyembunyikan buku catatan."
Aileen tertawa lemah, dan tawa itu membuat perutnya berdenyut lagi. Aira, yang duduk di lantai di dekat kakinya, mengusap udara di atas lutut Aileen tanpa bisa menyentuh.
Dua jam berikutnya berlalu dalam kabut. Ketika jarum dicabut dan Gio memapahnya ke lorong, Aileen sudah tidak sanggup menegakkan kepala. Aira berjalan di sampingnya, menengok ke belakang berkali-kali.
Di depan pintu mobil, Aira berhenti mendadak, wajahnya memucat, dan telunjuknya menunjuk kaca belakang. Aileen menoleh pelan. Di kaca itu, di balik pantulan wajahnya sendiri, sebuah bayang hitam berdiri di ujung parkiran. Bayang itu diam di sana, sama seperti di lorong tadi, seolah sudah ikut sejak mereka keluar dari ruang infus.