Aileen memandang kotak beludru itu lama. Angin malam menggerakkan ujung rambutnya, dan dari bawah terdengar jangkrik bersahut-sahutan seolah tak peduli pada apa pun.
"Boleh kubuka sendiri?"
"Terserah." Bagas menatap bintang, bukan dia.
Tutup kotak itu keras sedikit. Di dalamnya, sebuah cincin polos dari logam putih, tipis, tanpa batu, tanpa ukiran. Aileen mengangkatnya dengan dua jari dan menyelipkannya ke jari manis kiri. Pas. Terlalu pas, sampai ia melirik Bagas dengan curiga.
"Gio mengambil ukurannya dari berkas rumah sakit," ujar Bagas tanpa ditanya. "Cincin ini bukan milik siapa-siapa. Aku membelinya kemarin."
Dari bawah tangga, suara Aira naik samar. "Benar, Ai. Bukan punyaku. Punyaku modelnya lain."
Aileen menutup kotak kosong itu dan menyodorkannya kembali. "Kalau begitu, terima kasih."
"Itu bukan hadiah." Bagas bangkit. "Itu perlengkapan."
Ia turun tanpa menoleh lagi. Aileen mengangkat tangan kirinya ke arah Orion, menatap lingkaran tipis itu di antara jarinya dan tiga bintang di kejauhan, dan untuk sesaat tidak bisa memutuskan apakah ia ingin tertawa atau menangis.
***
Pagi hari pernikahan datang terlalu cepat. Cintya mengetuk pintu kamar tamu sebelum matahari benar-benar naik, membawa nampan berisi teh hangat dan sisir tulang.
"Duduk, Nak. Hari ini kamu tidak mengurus apa-apa selain duduk."
Aileen duduk di depan cermin meja rias kecil. Gaun krem menggantung di pintu lemari. Cintya menyisir rambut sebahunya dengan gerakan yang pelan sekali, seakan setiap helai berharga, dan Aileen menyadari dengan nyeri kecil di dada bahwa ia tidak pernah disisir ibunya sendiri sejak sangat kecil.
"Tante, nanti rambut saya..."
"Belum rontok. Hari ini masih milikmu." Cintya menyematkan jepit mutiara kecil di sisi kiri. "Ini pinjaman. Boleh dikembalikan."
"Saya tidak mau memakai milik Aira."
"Ini bukan milik Aira. Ini milik Tante waktu menikah dulu." Cintya menatapnya dari cermin. "Tante tahu pernikahan ini bukan seperti pernikahan lain. Tapi kamu tetap pengantin, dan pengantin harus punya sesuatu yang dipinjam."
Aileen mengangguk. Matanya menemukan cincin di jari kirinya, di bawah sorot lampu meja rias yang kuning.
Pukul sembilan, ruang tamu rumah Bagas sudah dirapikan. Sofa digeser ke pinggir, kursi lipat berbaris dua-dua, vas lili putih dari butik langganan Cintya berdiri di atas meja kecil tempat seorang pegawai pencatat dari kantor negara menata berkas. Jendela besar dibuka, dan cahaya pagi jatuh di lantai sebagai kotak-kotak panjang.
Paman Barito berdiri di dekat pintu dengan kemeja batik yang jelas dipinjam dari lemari terbaiknya. Mira di sebelahnya sudah menangis sebelum Aileen turun tangga. Denis, di sisi lain, tegak seperti tiang, jasnya satu ukuran terlalu besar.
"Kak Ai," bisiknya ketika Aileen mendekat. Hanya itu. Ia menggenggam tangan Aileen sebentar, sangat kuat, lalu melepasnya.
Hendra duduk di kursi paling depan di sisi mempelai wanita, dengan kardigan abu-abu yang sama. Daren berdiri tak jauh darinya, mengenakan kemeja putih tanpa jas dokter, dan menjadi satu-satunya orang yang menatap Aileen tanpa senyum. Pradipta dan Cintya duduk di barisan keluarga Bagas.
Bono dan Nani masuk paling akhir. Mereka berpakaian pinjaman, Nani dengan kebaya biru tua yang kebesaran di bahu dan Bono dengan kemeja yang kancingnya salah satu. Bono menghindari mata Aileen. Nani menatap gaun krem itu seperti menghitung harganya.
Nani mendekat sebelum Aileen sempat menghindar. "Cantik, Ai." Matanya turun ke jari kiri Aileen dan berhenti di cincin tipis itu. "Itu... mahal?"
"Ibu duduk saja."
"Bapakmu mau minta maaf soal semalam. Dia malu, dari tadi nggak berani bicara." Nani menurunkan suaranya. "Jangan marah di hari begini."
"Aku nggak marah, Ibu. Aku cuma sudah selesai dengan itu." Aileen menunjuk deretan kursi tengah. "Duduk di sana. Dan diam sampai acara selesai."
Denis, yang mendengar dari belakang, menutup mulut dengan tinju supaya tidak tertawa. Ia pasti akan menceritakan itu kepada kaktus-kaktusnya nanti.
Viona dan Soraya datang lebih terlambat lagi. Mereka duduk di belakang tanpa menyapa siapa pun. Soraya tersenyum kepada seluruh ruangan, sendu dan sopan, seperti pelayat.
Aira berdiri di samping Bagas. Hari ini ia memakai gaun biru muda, pakaian yang paling jarang Aileen lihat darinya. Wajahnya tegang, dan jemarinya menggenggam ujung kemeja Bagas tanpa bisa menyentuh kainnya.
"Baik," ujar pegawai pencatat. "Kita mulai."
Prosesnya lebih pendek dari yang Aileen takutkan. Nama dibacakan, berkas diperiksa, pertanyaan dijawab. Lalu tibalah bagian janji. Bagas mengucapkannya lebih dulu, dengan suara datar yang tidak bergetar: ia menyatakan bersedia menjadi suami Aileen Andita, menjaga, dan menghormati. Kata "mencintai" tidak ada dalam kalimat yang ia pilih. Aileen memperhatikan bahwa pegawai pencatat tidak menyadarinya.
Giliran Aileen. Ia berdiri, menarik napas, dan menoleh. Matanya bertemu mata Aira.
"Saya, Aileen Andita," ucapnya, "bersedia menjadi istri Bagas Pradipta, mendampingi dan menjaganya."
Aira terisak. Air matanya jatuh dalam diam, dan ia menggeleng pelan seolah berkata: jangan menatapku, tatap dia. Namun Aileen tetap menatapnya, sampai kalimat itu selesai, sampai kata terakhir. Itu janji yang ia buat bukan untuk lelaki di sampingnya, melainkan untuk perempuan di antara mereka yang tidak lagi bisa menjaga suaminya sendiri.
Bagas menyadarinya. Ia tidak bergerak, tetapi bahunya mengeras sedetik, dan Aileen melihat matanya mengikuti arah pandangan itu ke ruang kosong di sebelah kanannya.
Tepuk tangan terdengar canggung, dimulai oleh Denis dan disusul Barito. Mira terisak keras. Viona memalingkan muka ke jendela.
Daren menjadi orang pertama yang mendekat setelah tanda tangan. Ia membubuhkan namanya sebagai saksi dengan tulisan tegak, menaruh pulpen, dan hanya berkata pelan, "Selamat, Aileen. Senin pagi, jangan lupa, cek ginjal dulu sebelum infus pertama." Itu satu-satunya cara ia tahu mengucapkan selamat tanpa berbohong.
Aileen tersenyum kecil. "Siap, dok."
***
Sesudah dokumen ditandatangani, ruang tamu mulai ramai dengan suara sendok dan piring. Barito menarik Aileen ke sudut dekat jendela. Wajahnya tampak lebih tua dari yang Aileen ingat.
"Ai." Ia mengeluarkan amplop cokelat tebal dari balik batiknya. Tangannya gemetar. "Sembilan puluh juta. Dari kawan Paman, pinjaman. Paman janji waktu itu... Paman tidak sempat memberikannya sebelum ada yang membayar semua utangmu."
"Paman."
"Terimalah, Nak. Untuk pengobatanmu. Paman tidak mau kamu bergantung pada..." Barito menelan kata terakhirnya dan melirik ke arah Bagas.
Aileen mengambil amplop itu dengan dua tangan, menimbangnya sebentar, lalu meletakkannya kembali ke telapak tangan pamannya dan menutup jari-jari tua itu di atasnya. "Paman nggak boleh meminjam lagi. Pengobatanku sudah ditanggung. Simpan ini. Kembalikan pada kawan Paman."
"Ai..."
Aileen memeluknya. Barito mengeras sesaat, lalu bahunya runtuh, dan lelaki yang pernah memikul ikan seharian itu menangis di pundak keponakannya.
"Paman minta maaf," bisiknya. "Paman tidak bisa melindungimu."
"Paman sudah melakukannya. Dengan satu-satunya cara yang Paman punya." Aileen menepuk punggungnya. "Datanglah ke tiap kontrol kalau Paman mau. Itu cukup."
Di balik bahu pamannya, Aira muncul, menatap ke arah Bagas yang sedang berbicara dengan Gio di ambang pintu. Wajahnya berubah antara kaget dan sulit percaya.
"Ai," bisiknya. "Bagas menyuruh Gio mengganti uang pamanmu. Aku mendengarnya sendiri."