Buku catatan itu murah, bersampul biru, dibeli Aileen di toko alat tulis dekat rumah sakit sepulang dari ruang Mahesa. Malam itu juga ia duduk bersila di lantai kamar tamu dan menulis di halaman pertama dengan huruf kecil yang rapat.
"Perut perih di kanan atas, kira-kira empat dari sepuluh," bacanya keras-keras sambil menulis. "Mual setelah makan siang. Nggak muntah. Tidur gelisah. Tidak minum pereda nyeri karena kata Dokter Daren aku harus tanya dulu."
Aira, yang bersandar di dinding, mengerutkan dahi. "Kamu mau menulis sampai kapan?"
"Sampai dia berhenti mengancam."
"Dia nggak mengancam. Dia khawatir."
"Dengan caranya, itu sama." Aileen merobek satu halaman kosong sebagai penanda, lalu keluar kamar dan meletakkan buku itu di meja kecil di lorong lantai dua, tepat di antara pintu kamarnya dan kamar utama yang terkunci. Di atasnya ia menaruh pulpen. Lalu ia mundur, bersembunyi di balik tikungan tangga, dan menunggu.
Bagas naik jam sebelas. Ia berjalan menuju kamarnya, berhenti, melihat buku itu, melirik ke kiri dan ke kanan seperti pencuri yang tidak terlatih. Ia membukanya. Matanya bergerak dari kiri ke kanan, lama sekali untuk beberapa baris.
Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk satu kali, kecil, kepada udara kosong, lalu menutup buku itu dan meletakkannya persis di tempat semula, dengan pulpen di sisi yang sama.
"Dia membacanya," bisik Aira dengan kagum yang bercampur geli.
"Aku tahu." Aileen menahan senyum yang tidak ia izinkan keluar.
Begitulah enam hari berikutnya berjalan. Buku itu terisi: mual yang naik turun, malam yang gelisah, nasi yang hanya habis setengah. Dan setiap pagi, entah bagaimana, ada tanda kecil di halaman terakhir, sebuah garis tipis di bawah kata "nasi" dengan huruf B di pinggir, seolah Bagas sedang memeriksa tugas muridnya. Tak seorang pun membahasnya. Di meja sarapan Bagas menyodorkan teh jahe tanpa menatap. Aileen menerimanya tanpa berterima kasih. Itu cara mereka.
***
Pada malam sebelum hari pernikahan, hujan baru berhenti dan jalan di depan rumah mengilat. Aileen sedang melipat gaun krem di kamar tamu ketika suara teriakan terdengar dari arah gerbang. Ia menyibak tirai.
Bono. Bahkan dari lantai dua, sosoknya yang membungkuk dan sempoyongan tak bisa dikira orang lain. Ia mencengkeram pagar besi dengan satu tangan dan menunjuk-nunjuk penjaga dengan tangan lainnya.
"Aku mau bertemu anakku! Anakku! Dia mau kawin dan nggak bilang-bilang!"
Aileen turun secepat kakinya mampu. Di halaman, Gio sudah berdiri di depan gerbang, sebelah tangannya memegang bahu Bono dan wajahnya dingin sekali. "Pak, silakan pergi. Atau saya antar dengan cara yang tidak Bapak sukai."
"Lepas! Kamu itu cuma anjing penjaga!"
"Gio." Suara Bagas datang dari tangga teras. Ia berjalan menuruni anak tangga dengan kemeja yang lengannya digulung, dan Gio menoleh seketika. "Lepaskan."
"Pak, dia mabuk."
"Aku lihat." Bagas berhenti dua langkah dari Bono. Ia memandang lelaki itu lama, tanpa kemarahan yang bisa dibaca. "Biarkan dia bicara. Apa maumu?"
Bono menyeka mulut dengan punggung tangan. Matanya merah, napasnya bau minuman murah. Ia memandang Bagas, lalu tersenyum, senyum orang yang baru ingat bahwa ia punya sesuatu untuk dijual. "Aku ayah dari istrimu. Aku berhak dapat penghormatan, kan? Uang tutup mulut atau uang selamat, apa saja. Dia itu persis ayahnya yang sombong. Sama-sama keras kepala, sama-sama merasa lebih baik dari semua orang."
Wajah Bagas tidak berubah. Tapi Aileen, dari lima langkah, melihat urat di pelipisnya menegang.
"Bono."
Semua menoleh. Aileen melangkah maju sampai berhadapan dengan ayah tirinya. Kakinya sedikit gemetar, tetapi suaranya tidak.
"Pulang."
"Ai, nak, Bapak hanya..."
"Ini yang terakhir. Dengar baik-baik." Ia menghitung dengan jari. "Aku sudah bilang tiga hal di rumah Ibu. Jangan menyebut nama dia kepada penagih. Jangan berjudi lagi. Jangan pinjam uang atas namaku. Malam ini kamu mabuk dan meminta uang di gerbang dengan memakai namaku, dan itu sudah satu dari tiga." Ia mendekat, dan Bono, yang takut sejak batu bata lima tahun lalu, mundur setengah langkah. "Pulang sekarang. Gio akan mengantarmu ke gang depan rumahmu, bukan sampai pintu. Kalau kamu kembali dalam keadaan begini, tidak ada yang membukakan gerbang. Aku sendiri yang menutupnya."
Bono membuka mulut, lalu menutupnya. Ia menatap Bagas sekali lagi, kemudian menunduk dan berjalan pergi mengikuti Gio ke mobil dengan bahu merosot.
Aileen baru sadar napasnya tersengal setelah gerbang menutup. Di belakangnya, Bagas tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri dan menatap punggungnya.
"Dia selalu begitu?" tanyanya akhirnya.
"Setelah minum, iya." Aileen menyisir rambut ke belakang telinga dengan tangan yang masih gemetar. "Maaf. Aturan di kontrak bilang keluargaku nggak boleh lagi diganggu. Tapi nggak ada pasal yang melarang mereka mengganggumu."
"Aku mendengar semuanya." Bagas menatap gerbang yang sudah tertutup. "Ayahmu. Dia yang disebut sombong itu."
"Ayahku memang sombong. Tapi cuma kepada orang yang pantas dibenci." Aileen tersenyum tipis, pahit. "Kamu mau marah soal Bono atau nggak?"
"Aku tidak punya tenaga untuk dua hal sekaligus malam ini." Bagas berbalik menuju rumah. "Tidurlah."
Aileen tidak tidur. Ia membuka lemari, memeriksa lipatan gaun krem sekali lagi, lalu menutupnya, dan akhirnya memanjat tangga besi menuju atap.
***
Teras atap rumah Bagas hanya bisa dicapai lewat tangga besi sempit di ujung lantai dua. Aira memilih berhenti di anak tangga paling bawah. "Aku tunggu di sini," katanya, memeluk lengannya sendiri. "Tinggi. Aku tidak suka."
Langit pasca-hujan bersih sekali. Aileen duduk di bangku panjang dan mendongak. Orion ada di sana, tiga bintang berjejer di pinggang, lebih terang dari yang pernah ia lihat dari loteng.
Langkah di tangga besi. Bagas muncul dan berdiri agak jauh, kedua tangan di saku.
"Boleh duduk?"
Aileen menggeser tubuh ke ujung bangku. Bagas duduk di ujung lainnya, dan jarak di antara mereka cukup untuk satu orang lagi.
"Itu Orion," ujar Aileen tanpa menoleh. "Ayahku yang mengajariku. Waktu itu ia sudah kemoterapi, kurus, nggak punya rambut. Tapi tiap malam ia keluar ke teras dan menunjukkannya. Katanya, kalau kamu bisa menemukan tiga bintang itu, kamu nggak akan tersesat."
"Dan dia meninggal."
"Di meja operasi." Aileen mengangguk. "Aku takut kamu mengira aku mau mati dengan cara yang sama."
Bagas diam. Angin membawa bau tanah basah. Dari bawah terdengar bunyi jangkrik, dan sesekali bunyi pintu mobil.
"Aku bukan orang baik," kata Bagas akhirnya. Suaranya rendah dan datar. "Aku memerasmu dengan surat itu, dan aku tahu itu. Tapi kamu tidak perlu takut kehabisan hidup di rumah ini."
Aileen akhirnya menoleh. Ia tidak menemukan sindiran di wajah itu. Hanya kelelahan, dan sesuatu di bawahnya yang belum punya nama.
Bagas merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berlapis beludru gelap. Ia meletakkannya di bangku, tepat di tengah-tengah jarak mereka, tidak menyodorkannya.
"Aku tidak memilihnya dengan perasaan apa pun," ucapnya. "Pakai atau tidak."