Malam itu Aileen menunggu di ruang kerja sampai lewat tengah malam.
Lampu meja menyala, toples kaca berlabel "Panti" berkilat di rak, dan sofa tempat Bagas biasa tidur masih rapi dengan selimut terlipat. Aira duduk di lantai, bersandar pada kaki meja, setengah tertidur dalam cara hantu setengah tertidur: pandangannya melayang ke arah yang tak ada. Jam di dinding berdetak dengan keras sekali.
Pintu depan akhirnya berderit sekitar pukul setengah satu. Langkah Bagas menyusuri lorong, berhenti di ambang, dan wajahnya yang kusut berubah dingin begitu melihat siapa yang duduk di kursi tamunya.
"Kenapa belum tidur?"
"Besok jam sepuluh, ada janji dengan Dokter Mahesa. Dokter bedah onkologi, teman Dokter Daren." Aileen berdiri supaya tidak terlihat seperti orang yang memohon. "Kamu menanggung biaya pengobatanku. Pasal empat. Menurutku kamu berhak ikut mendengar rencananya."
"Aku ada rapat sampai siang."
"Kalau begitu datanglah setelah rapat. Aku akan menunggu di sana."
Bagas membuka dasinya dengan gerakan lelah. Matanya turun pada map cokelat di meja, pada tangan Aileen yang mengepal di sisi roknya, lalu naik lagi. "Aku akan usahakan," katanya, tanpa janji, dan itu cukup.
Aileen sudah di pintu ketika ia menambahkan, setengah pada dirinya sendiri, "Ada yang belum kukatakan."
"Besok saja." Bagas tidak menoleh. "Aku terlalu capek untuk kabar buruk."
Aileen menutup pintu perlahan. Ia tidak berani mengatakan bahwa kabar buruk itu tidak akan menunggu sampai ia lebih segar.
***
Ruang praktik Dokter Mahesa lebih kecil daripada yang Aileen bayangkan. Rak buku, meja kayu polos, selembar gambar anatomi lambung dalam bingkai tipis, dan seorang lelaki sekitar empat puluhan dengan kacamata bundar dan suara yang terdengar seperti orang yang sudah terbiasa mengatakan hal-hal sulit tanpa menghias. Daren duduk di kursi samping meja, menyilangkan lengan. Bagas belum datang.
"Kita mulai saja," ujar Mahesa. "Aileen, saya sudah baca berkas dari Daren dan hasil pemindaian kemarin. Saya akan bicara lugas. Anda tidak keberatan?"
"Lebih suka begitu, Dok."
"Tumor di lambungmu belum menembus dinding luar. Itu kabar baiknya. Ada pembesaran satu kelenjar di dekatnya, itu kabar buruknya." Mahesa membuka map. "Rencana yang saya usulkan: empat siklus kemoterapi sebelum operasi, jarak dua minggu antar-siklus, supaya tumor mengecil dulu. Sesudah itu operasi pengangkatan sebagian lambung. Setelah pemulihan, kemoterapi lanjutan."
"Sebelum operasi dulu," ulang Aileen pelan. Perutnya mendadak terasa dingin.
"Dok," ujarnya, memaksa suaranya tetap datar. "Berapa persen peluangku? Jangan dibulatkan supaya enak didengar."
Mahesa tidak berkedip. "Pada stadium dan ukuran seperti ini, dengan tumor yang belum menembus dinding, peluang sembuh dengan pengobatan lengkap lebih besar daripada tidak. Saya tidak akan menyebut angka, karena angka itu rata-rata ribuan orang, bukan Anda. Yang bisa saya janjikan: kalau Anda menunda lagi, peluangnya turun. Kalau Anda berobat, peluangnya naik."
"Rambut saya rontok?"
"Hampir pasti. Mual, lemas, sariawan, mati rasa di ujung jari, semuanya mungkin. Sebagian Anda rasakan, sebagian tidak." Mahesa mengetuk map dengan bolpoin. "Saya tidak akan bilang ini mudah. Saya akan bilang ini bisa dilewati."
Di sudut ruangan, Aira mundur selangkah, matanya melebar. Aileen tidak menoleh. Ia hanya mengangguk, sekali, seperti orang yang menandatangani sesuatu dengan kepalanya.
"Dan tentang ginjal." Mahesa mengangkat wajah. "Daren sudah menyampaikan. Dengan satu ginjal, saya tidak bisa memakai obat standar penuh. Saya pilih kombinasi yang lebih ringan, hidrasi yang lebih banyak, dan cek fungsi ginjal sebelum tiap siklus. Itu masih aman."
Pintu terbuka sebelum Aileen sempat menjawab.
Bagas masuk dengan jas tersampir di lengan, napasnya sedikit memburu. Ia mengangguk singkat pada Mahesa. "Maaf terlambat."
"Pak Bagas." Mahesa bangkit sebentar dan mempersilakan. "Silakan. Saya baru mulai menjelaskan, kebetulan masuk ke bagian yang terpenting."
Bagas duduk di sebelah Aileen, jaraknya satu lengan penuh. Aileen mencium samar wangi kayu dan kopi dari jasnya.
"Tadi saya menyinggung ginjal," kata Mahesa kepada Bagas, tenang, tidak sadar bahwa ia baru saja menjatuhkan sesuatu. "Karena hanya ada satu, pilihan obat dan jadwal harus lebih hati-hati. Ini juga yang membuat kunjungan kontrol tiap siklus tidak bisa dilewatkan."
Hening.
"Satu ginjal," ucap Bagas.
Daren melirik Aileen. Aileen menatap map Mahesa.
"Anda belum mengetahuinya?" Mahesa mengerutkan kening sedikit. "Maaf. Saya kira..."
"Tidak apa-apa, Dok," potong Bagas, datar. "Silakan lanjutkan."
Mahesa melanjutkan, dan Bagas mendengarkan seperti patung yang ditempatkan di kursi. Ia mengajukan dua pertanyaan, tentang efek mual dan lamanya rawat inap, keduanya dengan nada yang bisa dipakai untuk membeli lahan. Ia tidak sekali pun menoleh pada Aileen.
***
Mobil bergerak keluar dari halaman rumah sakit, Gio di balik kemudi dengan pandangan terpaku ke depan, seolah jalan raya adalah satu-satunya hal yang boleh ia lihat. Aileen duduk di kursi belakang di samping Bagas, mengantongi kedua tangan di bawah paha.
"Siapa?" tanya Bagas akhirnya, setelah dua lampu merah.
"Ningsih." Aileen menelan ludah. "Sepupuku. Putri Paman Barito. Dua setengah tahun lalu ginjalnya rusak. Paman baru di-PHK dan nggak punya apa-apa, dan aku cocok."
"Dan kamu memberikannya."
"Iya."
"Kenapa tidak kamu katakan padaku? Kemarin, atau minggu lalu."
"Kamu bilang jangan bahas hal yang tidak perlu dibahas." Aileen mengangkat bahu. "Aku pikir itu termasuk. Ternyata aku salah."
"Itu bukan alasan."
"Bukan. Alasannya, kalau kamu tahu aku cuma punya satu, kamu bisa berpikir dua kali untuk menahanku di rumahmu." Ia berhenti, menyadari betapa jujurnya ucapan itu. "Dan aku butuh pengobatan yang kamu tawarkan."
"Tanpa uang?"
"Tanpa uang." Aileen menoleh ke jendela. "Jangan salah paham. Aku nggak mulia. Waktu itu aku cuma merasa, satu ginjal cukup, dan dia masih kecil."
Bagas tidak segera menjawab. Di pangkuannya, jari-jarinya mengetuk lutut pelan, satu tanda yang belum pernah Aileen lihat. "Kamu pernah bilang pada Gio dan padaku bahwa kamu mata duitan."
"Memang."
"Orang mata duitan menyumbangkan ginjal tanpa bayaran?" Nada suaranya bukan menuduh. Lebih seperti orang yang sedang menghitung sesuatu dan mendapati angkanya tidak cocok.
"Lihat, Bagas," bisik Aira dari kursi tengah, mendadak muncul di antara mereka. Suaranya bergetar penuh kemenangan yang pahit. "Dia nggak seperti yang kamu kira. Dia nggak..."
"Jangan sekarang!" bentak Aileen.
Bagas tersentak. Gio menginjak rem sedikit lebih dalam dari seharusnya, lalu melepasnya.
Aileen menutup mulut dengan telapak tangan. "Maaf. Bukan kamu. Aira. Dia ... bicara terus."
Rahang Bagas bergeser, sangat sedikit, entah menahan tawa atau marah. "Apa katanya?"
"Katanya, lihat. Aku nggak mau meneruskan sisanya."
"Teruskan."
"Katanya kamu salah menilaiku." Aileen menelan pahit. "Itu bukan hal yang perlu kamu pikirkan."
Bagas memandang keluar jendela cukup lama. Sebuah truk melintas dan bayangannya menyapu wajahnya sebentar. "Aku memang memikirkannya," ucapnya pelan.
Mobil berhenti di lampu merah ketiga. Bagas memutar badan, dan kali ini ia menatap Aileen lurus, tanpa mencibir, tanpa memerintah.
"Kemoterapi mulai Senin sesudah pernikahan," katanya. "Dan jangan pernah menyembunyikan penyakitmu lagi dariku."