Perut Aileen berbunyi tepat ketika Gio membelokkan mobil ke halaman Rumah Sakit Setia Budi. Bunyinya panjang dan memalukan.
"Maaf," gumam Aileen.
"Jangan minta maaf. Dokter Daren bilang puasa delapan jam." Gio melirik kaca spion dengan senyum kecil yang sopan. "Pak Bagas sudah menyuruh saya menyimpan roti di laci mobil. Untuk sesudahnya, bukan sebelumnya."
"Dia bilang begitu?"
"Dengan kalimat yang lebih pendek. Intinya sama."
Aileen menyandarkan kepala ke kaca. Bagas tidak ikut. Ia sedang rapat dengan dewan komisaris sejak pagi, dan ia hanya berkata, di meja sarapan yang tak ia sentuh, bahwa Gio akan mengantar. Satu kalimat, tanpa menatap. Namun sebelum berangkat, Aileen menemukan sebotol air dingin di kursi mobil yang bukan dibawa Gio.
Aira duduk di kursi belakang dan sejak tadi tidak bicara. Ia menatap gedung rumah sakit itu seperti orang menatap rumah lama yang kini dihuni orang lain.
"Gio," ujar Aileen sambil turun. "Ini di luar jam kerjamu, kan? Pak Bagas pasti membayar lembur."
"Beliau menawarkan. Saya menolak."
"Kenapa? Orang lain minta lebih."
"Saya biasa menyumbang, Aileen." Gio membukakan pintu lobi. "Tenaga, bukan tagihan. Silakan."
Lobi pagi itu ramai. Antrean di loket pendaftaran memanjang sampai ke pintu, suara pengeras suara memanggil nama-nama, dan bau antiseptik bercampur sup dari kantin. Mereka baru melewati meja informasi ketika sebuah suara melengking dari atas kepala Aileen.
"Calon istri Pak Bagas!"
Rachel melayang turun dari langit-langit dengan rambut pirang kecokelatan yang selalu tampak habis ditiup angin. Di belakangnya, perlahan dan tenang, melayang Mardiana dengan rajutan di tangan, jarum bergerak tanpa suara.
"Ya ampun, ya ampun, bocah gila ini sudah dilamar!" Rachel memutari Aileen dua kali. "Cincinnya mana? Gaunnya warna apa? Kalau krem, aku mogok bicara seminggu. Kamu ini punya selera atau cuma takut warna?"
"Diam, Rachel," desis Aileen sebelum sempat menahan.
Langkah Gio berhenti setengah detik. Aileen membeku, menyadari bahwa tidak ada siapa pun di sebelah kirinya yang bisa diajak bicara, dan Gio baru saja menoleh persis ke arah itu.
Gio menatap Aileen, lalu ruang kosong di samping Aileen, lalu kembali pada Aileen. Wajahnya tidak berubah. Ia hanya merapikan lengan jasnya dengan dua jari.
"Radiologi lewat sini," katanya, sama sopannya seperti tadi. "Lantai satu, sebelah kiri."
Mardiana mendekat dan menatap Aira yang berdiri kaku di dekat pintu. "Anak manis," katanya hangat, seperti pada cucu yang lama tak muncul. "Pantas bocah gila kami jadi ramai. Mari, jangan berdiri di situ."
"Tante Mardiana." Aira membungkuk kecil, hampir menangis lagi. "Terima kasih sudah menjaga Ai."
"Kami hanya menemani." Mardiana mengusap udara di dekat pipi Aira. "Dia yang keras kepala."
Mereka berjalan menyusuri lorong lantai satu. Di ujungnya, Daren muncul dari arah ruang dokter dengan jas putih dan map di tangan. Ia mengangguk pada Gio, mengangguk pada Aileen, lalu memimpin jalan menuju radiologi tanpa banyak bicara.
Namun di depan ruang bernomor 117, langkahnya tersendat. Hanya sekejap, seperti kaki yang menemukan lubang kecil di lantai. Rahangnya mengeras. Ia melewati pintu itu dengan mata lurus ke depan.
Di ambang pintu 117, Rachel berhenti melayang. Tidak ada lagi tawa. Ia memandang punggung Daren dengan wajah orang yang ingin berkata sesuatu dan tidak berani.
Aileen menyimpan semuanya dalam kepala, lalu masuk ke ruang pemindaian.
Sebelum pintunya menutup, Gio menahan lengan pintu dengan sopan. "Saya tunggu di bangku depan. Kalau kamu butuh sesuatu, tinggal panggil."
"Nah, begitu." Aileen mengangkat alis. "Kamu mulai lancar."
"Kebiasaan lama." Gio mengangguk kecil. "Saya sedang melatih diri."
Ia mundur, dan pintu menutup di antara mereka. Dari celah kaca kecil, Aileen melihatnya duduk di bangku plastik biru dengan punggung lurus dan tangan di atas lutut, menatap dinding seberang seolah mencatat sesuatu yang tidak ada di sana.
***
Satu jam lebih ia terbaring di dalam lorong putih yang berdengung, tubuhnya didorong masuk dan keluar sementara suara mesin memerintah: tarik napas, tahan, lepas. Ketika selesai, seorang perawat membantunya duduk dan menyodorkan segelas teh manis hangat. Roti dari laci mobil Gio belum pernah serasa sekenyang itu.
Gio berdiri begitu melihatnya keluar. Ia menyerahkan botol air dan roti, tanpa bertanya apa pun, lalu berjalan di sampingnya menyusuri lorong.
"Tadi di lobi," ujar Aileen akhirnya, lebih cepat dari niatnya. "Kamu lihat sesuatu?"
"Saya melihat kamu berbicara." Gio tidak berhenti melangkah. "Saya bekerja untuk Pak Bagas sudah lama, dan saya belajar bahwa tidak semua yang tidak saya lihat artinya tidak ada."
"Itu bukan jawaban."
"Memang bukan." Gio tersenyum tipis. "Tapi itu satu-satunya yang jujur. Saya belum bisa percaya, jadi saya tidak akan menyebutnya bohong."
Aileen mengunyah roti sambil memikirkan itu. Itu lebih banyak daripada yang ia harapkan dari siapa pun.
Daren menunggunya di ruang periksa kecil di ujung lorong, duduk di kursi dokter dengan map terbuka di meja. Ia tidak mengangkat kepala ketika Aileen masuk.
"Duduk."
"Hasilnya sudah keluar, dok?"
"Belum semua. Tapi aku sudah melihat yang kuperlukan." Daren menutup map dan menatapnya, dan tatapan itu bukan tatapan dokter yang sedang menyampaikan kabar buruk, melainkan tatapan orang yang sudah menunggu lama. "Dari MRI pertamamu, ginjal kananmu tidak ada, Aileen. Dan aku menunggu kamu mengatakannya sendiri."
Aileen menggenggam gelas kertas di pangkuannya. Aira yang berdiri di dekat pintu mengerjap, lalu menoleh padanya.
"Aku ingin tahu kapan kamu mau bilang. Seminggu, dua minggu. Sudah lewat." Daren mengusap wajah. "Dokter Mahesa membaca berkasmu besok. Kalau kamu tidak mengaku sebelum itu, aku terpaksa bicara."
"Aku nggak menyembunyikannya karena niat jahat, dok."
"Lalu karena apa?"
Aileen mengembuskan napas. "Karena itu cerita lama. Dua setengah tahun lalu, di rumah sakit ini juga, aku menyumbangkan satu ginjalku untuk sepupuku. Ningsih. Waktu itu umurnya masih kecil sekali, dan Paman Barito baru kena PHK. Mereka tidak punya apa-apa." Ia menggeleng. "Aku sehat waktu itu. Aku pikir, satu cukup."
Daren diam beberapa saat. "Itu sebabnya Rachel dan Bu Mar mengenalmu."
"Ya."
"Kenapa tidak bilang waktu aku memeriksamu pertama kali?"
"Karena waktu itu aku belum yakin mau diobati." Aileen menunduk. "Sekarang sudah."
Daren menatapnya, sedikit lebih lama dari yang perlu. Lalu ia mengambil bolpoin dan menulis sesuatu di pinggir map. "Mulai hari ini kamu tidak minum obat pereda nyeri apa pun tanpa aku. Beberapa jenis merusak ginjal, termasuk yang kamu simpan di tasmu." Suaranya turun. "Dan beberapa obat kemoterapi juga. Dokter Mahesa harus tahu sebelum memilih rencana. Bagas pun harus tahu."
"Bagas?"
"Dia yang membiayai dan menandatangani persetujuan. Dia berhak." Daren menutup bolpoinnya dengan bunyi klik pendek. "Aku tidak mau dia mendengarnya dari dokter yang baru ia kenal. Lebih baik dari mulutmu."
Aileen menggigit bagian dalam pipinya. "Dia pasti marah."
"Mungkin." Daren berdiri dan membuka pintu. "Besok jam sepuluh, di ruang Dokter Mahesa. Kalau kamu tidak memberi tahu Bagas, aku yang akan."