Mobil Pradipta meninggalkan halaman rumah Hendra tanpa ada yang bicara. Pradipta duduk di depan, memandangi jalan. Cintya duduk di kursi belakang di samping Aileen, dan di antara mereka ada ruang kosong yang ditempati Aira. Hantu itu menempel di kaca jendela, mengikuti pagar rumah ayahnya yang makin lama makin kecil.
"Ai," bisiknya. "Kamu dengar yang dikatakan Soraya tadi? Dia..."
Aileen menggeser tas ke pangkuan dan mengetuk lututnya dua kali dengan ujung jari. Nanti. Di depan Cintya, ia tidak bisa menjawab apa pun tanpa kelihatan berbicara pada udara.
"Wajahmu pucat, Nak." Cintya merogoh tasnya dan menyodorkan sebungkus permen jahe. "Makan satu. Perutmu pasti kosong sejak pagi."
"Terima kasih, Tante."
Permen itu pedas dan manis. Aileen mengulumnya sampai mobil berhenti di depan garasi, lalu naik ke kamar tamu tanpa menunggu siapa pun. Ia baru menutup pintu ketika Aira muncul dari dinding, duduk di ujung ranjang dengan lutut dipeluk.
"Dia bilang kamu cuma pelarian."
"Dia bilang begitu supaya kamu mendengarnya lewat aku." Aileen melepas jaket pinjaman dan menggantungnya di belakang pintu. "Kamu benci senyumnya. Aku nggak benci. Aku cuma nggak percaya."
"Apa bedanya?"
"Benci itu bikin kamu ingin lari. Nggak percaya itu bikin aku tetap berdiri di tempat dan mengawasi." Aileen duduk di tepi ranjang yang lain, memijat pangkal hidungnya. "Utangku sudah dipegang orang lain. Aku nggak punya apa-apa lagi yang bisa dia rugikan."
Aira terdiam. Lalu, pelan, ia tersenyum, senyum orang yang baru sadar sedang ditemani. "Besok Mama pasti membawamu ke butik. Aku mau ikut. Aku yang pilih gaunnya."
"Pasal tiga."
"Aku cuma memilih. Kamu yang boleh menolak." Aira mengangkat dagu. "Aku istri yang sangat toleran, tahu."
Aileen tertawa lewat hidung, dan untuk sesaat kamar tamu itu terasa seperti kamar biasa.
"Soal Soraya," lanjut Aira, tawanya cepat surut. "Tadi waktu dia lewat, ada bau yang mengganggu. Manis, terlalu manis. Seperti bunga yang kelamaan di vas." Ia mengernyit. "Cuma itu. Tidak ada gambar apa-apa."
"Bau," ulang Aileen. Ia merebahkan diri sebentar, menatap langit-langit. "Itu baru. Sebut kalau muncul lagi."
Aira mengangguk lama.
***
Butik itu kecil, terselip di antara toko roti dan toko buku di jalan yang teduh. Pemilik butik, perempuan berambut perak, menyambut Cintya seperti kawan lama dan langsung membuka lemari kaca di belakang. Aileen berdiri di tengah ruangan yang beraroma kain baru, merasa seperti kardus di rak porselen.
"Yang ini," Aira berseru di balik bahunya, menunjuk gaun berenda dengan lengan menggembung. "Atau ini. Ai, yang ini!"
Aileen mengabaikannya dan menarik satu gaun krem tanpa renda, tanpa payet, dengan potongan lurus sampai di bawah lutut. "Yang ini, Tante."
"Itu saja?" Cintya mengangkat alis. "Polos sekali."
"Saya nggak mau ada orang yang bilang gaunnya lebih cantik daripada yang memakainya." Aileen melirik pantulan dirinya di cermin. "Lagi pula, sedikit hiasan, sedikit bahan yang perlu dibayar."
Pemilik butik tertawa kecil. Ia membawa kotak beludru, membukanya, dan memperlihatkan seuntai mutiara. "Ini cocok sekali dengan krem."
"Leher saya biar kosong saja, Bu," ujar Aileen. "Terima kasih."
Ia masuk ke ruang ganti. Ritsleting tertarik, kain jatuh lurus di tubuhnya yang terlalu kurus, dan ketika tirai dibuka, Cintya menutup mulut dengan satu tangan. Aira, di sudut ruangan, tidak bicara apa-apa dulu.
"Kamu cantik, Ai," katanya akhirnya, nyaris tanpa suara. "Bukan seperti aku. Cantik sendiri."
Aileen pura-pura merapikan kerah yang sudah rapi.
Sesudah gaun dibungkus, Cintya menggandengnya menyeberang ke kafe kecil di seberang jalan. Mereka mengambil meja di sudut, dekat jendela. Cintya memesan teh melati, Aileen memesan air putih, dan pelayan baru pergi ketika Cintya meletakkan sendok kecilnya dengan hati-hati di atas tatakan.
"Nak, Tante mau tanya satu hal, dan Tante mau dijawab jujur." Suaranya lembut, tetapi tidak memberi jalan keluar. "Sakit lambungmu itu namanya apa?"
Aileen memutar gelasnya setengah putaran. Aira, di kursi kosong di sebelahnya, menahan napas.
"Kanker, Tante. Stadium dua."
Cintya tidak menjerit atau menunduk. Ia hanya diam, dan mata yang sebulan terakhir terbiasa menahan tangis itu perlahan menggenang. Ia menarik serbet, menekannya ke sudut mata, lalu menarik napas panjang sampai bahunya naik.
"Bagas tahu?"
"Tahu. Sejak sebelum kami menandatangani apa pun."
"Dan kamu sudah berobat?"
"Belum. Tapi Dokter Daren sedang mengatur." Aileen menelan ludah. "Saya sudah janji pada dia."
"Kamu akan berobat, Nak." Cintya meraih tangan Aileen di atas meja, dan kali ini Aileen tidak menariknya. Telapak tangan itu hangat dan sedikit gemetar. "Tante tidak bertanya karena ingin tahu aibmu. Tante bertanya karena Tante ingin ada di sana waktu kamu membutuhkannya."
Aileen ingin membalas dengan lelucon. Tidak ada yang keluar.
"Tadi pagi Bagas makan dua kali," kata Cintya, tersenyum dengan mata yang masih basah. "Sarapan dan bekal yang dibawakan Gio ke kantor. Tante tidak tahu itu karena apa. Tante cuma tahu bahwa sejak kamu ada di rumah, piringnya kosong lagi."
"Mungkin karena masakan Tante enak."
"Mungkin karena ada yang memaksanya duduk." Cintya mengaduk tehnya yang sudah dingin. "Jangan berhenti memaksanya, Nak."
Setelah teh habis, Cintya menariknya masuk ke toko di sebelah kafe, toko kecil penuh topi rajut dan syal. Ia memilih satu topi krem, satu hijau lumut, dan dua syal tipis, lalu membayar sebelum Aileen sempat membuka mulut.
"Saya belum rontok, Tante."
"Lebih baik siap sebelum butuh." Cintya menyerahkan kantong belanja itu dengan kedua tangan. "Ini bukan kasihan. Ini perlengkapan."
Aileen memeluk kantong itu di dadanya sepanjang jalan pulang.
***
Menjelang malam, dari jendela kamar tamu, Aileen menelepon Paman Barito. Suara di seberang terdengar bising, ada orang menawar ikan, ada bunyi es dipecah.
"Ai! Nak, bagaimana kabarmu?"
"Baik, Paman. Sabtu minggu depan saya menikah. Paman dan Tante Mira saya undang."
Hening sebentar, lalu suara Barito yang tiba-tiba berubah. "Menikah? Dengan siapa? Ai, apa kamu..."
"Dengan orang yang baik, Paman." Itu bukan sepenuhnya bohong, juga bukan sepenuhnya benar. "Nanti saya jelaskan kalau ketemu."
Telepon berpindah tangan. Mira langsung menangis sebelum Aileen sempat berkata apa-apa, dan Aileen terpaksa menahan telepon sedikit menjauh dari telinga sambil tersenyum bodoh pada dinding.
Telepon kedua lebih berat. Denis mengangkat pada dering kelima.
"Aku nggak mau datang, Kak."
"Denis."
"Kakak jual diri ke orang itu."
"Dengar." Aileen duduk di lantai, bersandar pada ranjang. "Dia membiayai pengobatanku. Kemoterapi, operasi, semuanya. Kamu tahu aku nggak akan mampu sendirian."
Sunyi cukup lama. Napas Denis terdengar berat. "Kakak benar mau berobat?"
"Iya."
"Aku datang." Suaranya serak. "Tapi kalau dia membentak Kakak, aku bawa Kakak pulang saat itu juga. Di depan semua orang."
"Aku nggak keberatan." Aileen memejamkan mata. "Denis, makan yang benar. Skripsimu jangan telat gara-gara aku."
"Kakak urus diri sendiri dulu," tukas Denis, lalu menambahkan lebih pelan, "Kaktusnya masih hidup semua. Aku siram tiap pagi."
Ponselnya bergetar di telinga begitu Denis memutus sambungan. Nama Daren muncul di layar.
"Pemindaian besok pagi," kata Daren tanpa basa-basi. "Jam delapan. Jangan sarapan."