Aileen datang. Itu yang pertama kali dilihat Viona dari ujung aula rumah Hendra begitu mobil Pradipta berhenti dan Aileen turun dengan gaun hitam sederhana milik Cintya yang dipotong sedikit di bagian lengan. Bibir Viona menipis. Tamu-tamu di dekat pintu menoleh satu per satu, lalu berbisik-bisik seperti angin yang lewat di semak.
"Jangan dengarkan," ujar Cintya pelan. Ia menggandeng lengan Aileen dan menuntunnya ke deretan kursi paling belakang, jauh dari barisan keluarga di depan. "Mereka akan bosan sendiri."
"Saya tidak keberatan duduk di belakang, Tante."
"Tante yang keberatan." Cintya merapikan lipatan gaun di bahu Aileen. "Tapi lebih baik begini dulu. Hari ini bukan hari untuk menang."
"Gaunnya kebesaran, ya?"
"Sedikit. Tapi kamu tidak kelihatan seperti orang yang meminjam." Cintya tersenyum tipis, dan Aileen baru sadar ucapan itu adalah hadiah.
Aula itu penuh. Barisan kursi berlapis kain putih memanjang sampai ke taman yang dipasangi tenda. Di depan berdiri foto Aira berukuran besar dalam bingkai kayu gelap, tersenyum lebar, dikelilingi bunga lili putih dan lilin yang menyala. Acara itu hanya berisi kenangan. Hanya kursi, bunga, dan orang-orang yang bergantian maju untuk bercerita.
Aira tidak duduk bersama keluarga. Ia memilih kursi kosong di antara dua orang tamu paruh baya, dengan kedua tangan dilipat di pangkuan, dan menatap fotonya sendiri dengan wajah orang yang sedang mengintip dari pintu.
Soraya naik ke podium kecil. Gaun hitamnya memeluk tubuh dengan pas, rambutnya tergerai rendah, dan suaranya jernih, nyaris bergetar pada saat-saat yang tepat. "Terima kasih sudah hadir. Hari ini kita tidak hanya mengenang Kak Aira, tetapi merayakan apa yang beliau tinggalkan untuk kita semua."
Seorang demi seorang maju. Teman kuliah yang bercerita bagaimana Aira menyelundupkan makanan ke asrama. Seorang pengurus panti yang kesulitan menyelesaikan kalimat karena tangisnya sendiri. Anak berumur delapan tahun yang membacakan surat dengan huruf besar-besar: "Kak Aira, aku nggak lupa kamu."
Di kursinya, Aira menangis tanpa menutupi wajah, air mata menetes dari dagu ke gaun yang tak bisa basah.
Setelah anak itu turun, Soraya melangkah dari podium, lurus ke bangku depan, dan meraih lengan Bagas dengan tangan kanan. Gerakannya ringan dan wajar, seperti sudah dilakukan ratusan kali. "Bagas, giliranmu," bisiknya, cukup keras untuk terdengar tiga baris ke belakang. Bagas bangkit tanpa menepis. Beberapa tamu saling pandang. Aileen mendengar seseorang di belakangnya berbisik, "Memang mereka cocok. Dulu juga begitu."
Dua ibu di kursi di belakang Aileen tidak repot menurunkan suara.
"Itu istri barunya?"
"Katanya calon. Kenal di rumah sakit, entah bagaimana."
"Kasihan Aira. Belum dingin tanahnya."
"Ya, tapi lihat gandengan itu. Soraya jauh lebih pantas."
Aileen menatap lurus ke depan dan menghitung jarinya satu per satu di atas pangkuan, supaya wajahnya tetap datar. Aira, dari kursinya yang jauh, menoleh sekilas kepadanya dan menggeleng, seolah berkata: jangan, jangan dengarkan.
"Aku bisa mendengar mereka sendiri, Ai," bisiknya ketika Aileen menunduk, tak peduli bahwa Aileen tidak mungkin menjawab. "Dan yang paling menyakitkan, mereka tidak salah. Soraya memang selalu di sampingnya."
***
Bagas hanya berbicara dua menit. Ia mengucapkan terima kasih, menyebut Aira sebagai "perempuan yang paling keras kepala yang pernah kukenal", dan membuat separuh ruangan tertawa dalam tangis. Kemudian ia turun, dan acara dilanjutkan dengan jamuan di taman.
Aileen menunggu sampai kerumunan menipis. Ketika Hendra duduk sendirian di bangku kayu dekat kolam ikan, bahunya menunduk seperti orang kelelahan setelah mengangkat sesuatu terlalu lama, ia melangkah ke sana.
"Pak."
Hendra mengangkat wajah. "Duduklah."
Aileen duduk di ujung bangku, menjaga jarak. Mereka sama-sama memandang kolam. Ikan koi merah dan putih bergerak malas di bawah permukaan.
"Pak," ulang Aileen, lebih pelan, nyaris berbisik. "Ada satu kalimat kecil. Saya tidak tahu harus disampaikan di mana, jadi saya sampaikan di sini." Ia berhenti, menelan ludah. Aira berdiri tepat di belakang bangku dengan kedua tangan di atas mulut. "Aira bilang, sup jagungnya jangan asin lagi, Pa."
Hendra tidak bergerak.
Hendra bahkan tak menarik napas atau berkedip. Hanya kedua tangannya di atas lutut yang perlahan menggenggam kain celananya. Lama sekali. Ikan di kolam berkelebat, dan dari tenda di kejauhan terdengar suara sendok beradu dengan piring.
Akhirnya Hendra berdeham. "Di sana ada teh," katanya, serak, menunjuk meja panjang di dekat tenda. "Ambillah. Kamu pucat."
Aileen mengerti: pembicaraan ini sudah selesai, bukan karena ditolak, melainkan karena ada hal yang belum sanggup disentuh. Ia berdiri dan mengangguk. Di belakangnya, Aira menangis dengan bahu terguncang, tersenyum juga, entah bagaimana.
Ketika Aileen kembali ke tenda, Pradipta sedang memanggil semua orang agar berkumpul. Piring dan gelas diletakkan. Bagas berdiri di depan, dan kali ini ia menarik Aileen ke sisinya dengan satu gerakan kepala, bukan dengan sentuhan.
"Saya hanya ingin menyampaikan satu hal," ucap Bagas, suaranya mantap dan terdengar sampai ke ujung taman. "Saya akan menikah dengan Aileen, Sabtu minggu depan."
Hening. Seorang anak tertawa di kejauhan, lalu dibungkam ibunya.
"Siapa pun yang tidak setuju," lanjut Bagas, matanya menyapu wajah-wajah tamu, berhenti sedetik di wajah Viona, "tidak perlu datang."
Beberapa orang menunduk. Viona memucat. Soraya menyentuh gelasnya dengan kuku, mengetuk sekali.
"Saya datang."
Semua kepala menoleh. Hendra berdiri di dekat kolam, tangannya bertumpu pada sandaran bangku, namun punggungnya tegak. Ia tidak mengulang, tidak menjelaskan. Setelah menatap Bagas, lalu Aileen, ia kembali duduk.
Aileen menahan napas sampai dadanya perih.
***
Dapur rumah Hendra penuh bau kaldu dan kopi. Aileen masuk untuk mengisi gelas air, memberi dirinya tiga menit sendirian. Wastafel batu hitam, tirai jendela putih, pot kecil berisi rosemary di ambang. Tempat yang terlalu tenang untuk rumah berduka.
"Selamat."
Soraya bersandar di meja marmer, kedua tangan di belakang punggung. Dapur itu kosong selain mereka berdua. Pintu kaca ke taman tertutup, meredam suara tamu.
"Terima kasih, Mbak."
"Aku sungguh-sungguh." Senyum Soraya lebar, manis, dan tanpa cela, seperti foto majalah. "Nikmati kamar tamu itu selama Bagas masih butuh pelarian. Orang yang kehilangan bisa menjadikan siapa saja tempat singgah. Aku mengerti. Aku hanya penasaran kamu menyadarinya atau tidak."
"Terima kasih," balas Aileen, mengisi gelasnya perlahan. "Mbak sendiri sudah lama menikmati tempat singgah yang bukan milik Mbak, kan? Gandengan tadi sangat terlatih."
Senyum Soraya tidak bergeser, tetapi jarinya yang memegang tepi marmer memucat. "Kamu pintar. Sayang, kepintaran biasanya habis lebih cepat daripada uang."
Ia menegakkan badan dan berjalan melewati Aileen, wangi bunganya tertinggal sekejap. Pintu dapur menutup di belakangnya dengan bunyi yang nyaris tak terdengar.
Aileen mengepalkan tangan di sekitar gelas. Gelas itu bergetar sedikit, dan air di dalamnya bergoyang.
Aira muncul di sampingnya. Wajahnya basah, dan matanya belum pernah sejernih ini.
"Aku benci cara dia tersenyum," katanya datar, tanpa bisikan, tanpa "Ai" di depannya. Itu pertama kalinya Aileen mendengar Aira bicara tanpa sedikit pun kelembutan.