Ruang tamu keluarga Hendra begitu besar sehingga suara langkah Aileen memantul dari langit-langitnya. Lantai marmer putih, sofa kulit krem, lampu gantung kristal yang tidak dinyalakan seluruhnya, seolah penghuninya enggan melihat terlalu terang. Udara di dalamnya dingin, dan Aileen merapatkan jaket pinjaman Cintya di bahunya.
Seorang laki-laki tua berdiri dari sofa tunggal ketika mereka masuk. Rambutnya hampir putih seluruhnya, tubuhnya kurus dalam kardigan abu-abu yang terlalu longgar, dan tangannya sedikit gemetar saat ia mengulurkannya pada Bagas.
"Papa," ucap Bagas. Suaranya turun satu nada. Ia menyambut tangan itu dengan kedua tangannya.
"Bagas." Hanya itu. Hendra menepuk punggung tangan menantunya dua kali, lalu menoleh pada Pradipta dan mengangguk. Dua laki-laki yang sudah saling kenal puluhan tahun tak perlu banyak bicara.
Aira muncul di sisi Aileen. Wajahnya sudah basah sebelum ia melihat siapa pun. Ia hanya berdiri di sana, memandang laki-laki tua itu seolah menghafalkan setiap garis baru di wajahnya.
"Papa menua," bisiknya. "Dalam sebulan, Ai. Hanya dalam sebulan."
Aileen menahan diri untuk tidak menoleh.
"Silakan duduk," kata Hendra pelan.
Mereka belum sempat duduk ketika langkah tinggi-tinggi terdengar dari arah tangga. Viona turun dengan gaun hitam, rambut tersanggul ketat, dan wajah yang jelas telah disiapkan. Soraya mengikuti satu langkah di belakangnya, mengenakan blus putih sederhana yang membuatnya tampak lebih muda, lebih rapuh, lebih mudah dikasihani.
"Jadi kalian benar-benar datang." Viona berhenti di dasar tangga dan melipat tangan. "Membawa perempuan itu ke rumah ini, ke rumah Aira. Di mana letak hormat kalian?"
"Viona," ujar Pradipta.
"Jangan 'Viona' padaku, Pradipta." Ia melangkah maju sampai berhadapan dengan Bagas. "Nak Bagas, Mama sudah bilang. Mama sudah bilang kita bicarakan baik-baik. Soraya itu adik Aira. Dia mengenal rumahmu, mengenal ibumu, mengenal kebiasaanmu. Dan kamu memilih perempuan yang tidak jelas asal-usulnya? Penjudi di keluarganya, penyakitan..."
"Mama." Soraya menyentuh siku ibunya, kali ini lebih keras. "Cukup. Jangan begitu."
"Penyakitan?" Pradipta menyipitkan mata. "Dari mana kamu tahu soal penyakitnya?"
Viona terdiam setengah detik. Cukup lama untuk Aileen menyadarinya. "Dari wajahnya," balas Viona cepat. "Siapa pun bisa melihat."
Soraya menunduk, lalu mengangkat wajah dan tersenyum pada Aileen dengan senyum yang sama seperti kemarin, sejuk seperti es batu di gelas. "Maafkan Mama, Mbak Aileen. Beliau masih terguncang. Kami semua begitu."
"Tidak apa-apa," balas Aileen. "Saya juga terguncang."
Aira di sampingnya sudah gemetar sejak Soraya membuka mulut. Aileen melirik, dan melihat hantu itu mundur satu langkah, lalu satu lagi.
"Cukup." Suara Hendra tidak keras, tetapi seisi ruangan menghentikan apa pun yang sedang dikerjakan. Ia menatap Viona, lalu Soraya, lalu Bagas, akhirnya Aileen. Matanya cokelat tua, dan sepasang pelipisnya memperlihatkan bayangan yang tampak amat lelah. "Duduk. Semua."
Mereka duduk. Hendra tetap berdiri sebentar, memandang Aileen cukup lama sampai Aileen merasa seperti diperiksa dengan alat yang tidak terlihat. Bukan tatapan menilai seperti Pradipta, bukan menusuk seperti Viona. Tatapan orang yang sedang mencari sesuatu di wajah orang lain.
"Kamu sehat?" tanyanya akhirnya.
Pertanyaan yang tidak ia duga membuat Aileen terdiam. Ia menimbang dua jawaban: yang aman dan yang jujur. "Baik, Pak."
Hendra mengangguk, tetapi tidak berpaling. Ada sesuatu dalam matanya yang membuat Aileen yakin ia tidak sepenuhnya percaya.
Hendra menoleh pada Bagas. "Apa kamu sudah memikirkan Aira?"
Bagas tidak langsung menjawab. Rahangnya bergerak, dan Aileen melihat ibu jarinya menggosok-gosok sisi telunjuk. "Setiap hari, Papa."
"Tapi tetap menikah lagi?"
"Saya tidak minta restu Mama Viona." Bagas menatap mertuanya tanpa mengelak. "Saya minta Papa mendengar langsung dari saya. Itu saja."
Di samping Aileen, Aira terisak tanpa suara. Hendra mengangguk lambat, seakan kalimat itu sudah cukup menjadi jawaban, dan duduk kembali.
Sesudah itu percakapan berjalan tanpa Aileen. Pradipta menyampaikan kronologi dengan nada seorang notaris. Bagas mengatakan tanggal yang ia tetapkan. Viona menyelipkan sindiran. Soraya menengahi. Berulang-ulang. Dan di sela-sela itu, Aira tiba-tiba berbalik dan berlari menuju tangga, menembus tubuh Viona yang tidak merasakan apa pun.
Aileen menunggu tiga menit, lalu berdiri. "Permisi. Saya ke toilet."
Tak ada yang mencegah. Hendra menunjuk ke lorong di sisi tangga tanpa menoleh.
***
Kamar itu ada di ujung lantai dua, pintunya setengah terbuka. Aileen mendorongnya dengan hati-hati. Di dalamnya, ranjang kecil dengan seprai biru muda, rak berisi buku cerita yang sudah menguning, dan jendela lebar yang menghadap kolam ikan di halaman belakang beserta sebuah gudang kecil di ujung kebun.
Aira duduk di lantai di depan meja belajar. Di atasnya, sebuah foto berbingkai: seorang laki-laki tua berkardigan, sedang tersenyum kepada kamera dengan mata yang sudah kehilangan ketajaman muda. Hendra, beberapa tahun lebih muda dari yang Aileen lihat di bawah.
"Terakhir kali bicara dengan Papa, aku bilang mau mampir akhir pekan," bisik Aira tanpa menoleh. "Papa bilang tidak usah repot-repot, dia baik-baik saja. Dia selalu begitu." Bahunya naik turun. "Sekarang dia mengurung diri di ruang kerjanya, dan aku bahkan tidak bisa menyentuh bahunya."
Aileen berjongkok, menjaga jarak sehasta. "Dia melihat ke arahmu tadi. Aku tidak tahu apakah itu perasaanku saja."
"Aku tahu." Aira tertawa pendek di sela tangis. "Itu yang membuat aku ingin lari ke sini."
Mereka diam. Di luar jendela, ikan koi berkelebat di air gelap kolam.
Langkah pelan terdengar di lorong. Aileen berdiri tegak dan berbalik. Hendra berdiri di ambang pintu, satu tangan bertumpu pada kusen, napasnya agak berat karena menaiki tangga.
"Pak. Maaf, saya hanya..."
"Tidak apa-apa." Hendra tidak melangkah masuk. Matanya berpindah dari Aileen ke ruang kosong di dekat meja belajar, sekilas saja. "Ini kamar Aira waktu kecil. Aku menyuruh mereka tidak mengubah apa pun."
Aileen tak tahu harus menjawab apa.
Hendra menarik napas pelan. Ketika berbicara lagi, suaranya hampir tak terdengar, hanya cukup untuk sampai ke telinga Aileen. "Kalau suatu hari kamu merasa Aira ada di dekatmu... katakan padanya, Papa tidak marah."
Aileen merasakan tenggorokannya menyempit. Di belakangnya, Aira menutup mulut dengan kedua tangan.
"Saya tidak mengerti maksud Bapak," ucapnya, pelan.
"Aku tahu." Hendra tersenyum sedikit, dan senyum itu lebih menyakitkan daripada tangis. "Cuma jaga-jaga."
Ia berbalik dan turun lebih dulu. Aileen menunggu tiga napas lagi sebelum menyusul. Di ujung tangga, Viona sudah berdiri di bawah, dagunya terangkat.
"Rabu ini peringatan hari keempat puluh Aira," kata Viona, dingin dan terang. "Kalau perempuan itu berani, silakan datang."
Hendra, yang berdiri tepat di sebelah Aileen, menjawab sebelum siapa pun sempat menyahut.
"Datanglah."