Pintu sedan hitam itu dibuka oleh sopir, tetapi laki-laki yang turun tidak menunggu siapa pun. Ia bertubuh tegap dengan rambut keperakan yang disisir ke belakang, jas gelap, dan sepasang mata yang langsung menemukan Bagas di tengah taman seolah ia sudah tahu persis di mana putranya berdiri.
"Ayah," ucap Bagas.
"Viona meneleponku pukul enam pagi." Pradipta berjalan menyeberangi rumput tanpa terburu-buru. Sepatunya tidak berhenti sampai ia berdiri satu langkah dari Bagas. "Dua puluh menit lebih dia bicara. Aku sudah mendengar versinya. Sekarang aku ingin mendengar versimu."
"Aku akan menikah. Itu versiku."
"Itu kesimpulan, bukan versi." Pradipta menoleh. Tatapannya jatuh pada Aileen, yang berdiri kaku di dekat bangku dengan kedua tangan tersembunyi di balik punggung. "Jadi ini orangnya."
"Selamat pagi, Om."
"Namamu?"
"Aileen Andita."
"Aileen." Pradipta menatapnya dari atas ke bawah, tanpa penghinaan seperti Viona, dan itu justru membuat Aileen lebih gugup. Tatapan orang yang sedang menghitung. "Aku makan malam di sini. Pukul tujuh. Cintya, siapkan meja."
Ia berbalik masuk tanpa menunggu jawaban. Daren, yang sejak tadi hanya menjadi saksi, menepuk bahu Bagas sekali dengan gerakan canggung, lalu pamit ke rumah sakit dengan wajah orang yang meninggalkan pertempuran yang belum selesai.
***
Sore itu Aileen membantu Cintya di dapur, karena menurutnya itu lebih baik daripada duduk menunggu seperti terdakwa. Ia mengupas bawang sementara Cintya menyiangi ikan, dan kebisuan di antara mereka terasa tidak buruk.
"Dia akan menguji kamu," ujar Cintya akhirnya. "Ayah Bagas itu begitu. Dia menanyakan hal yang sudah dia tahu jawabannya, hanya untuk melihat apa kamu berbohong."
"Kalau begitu saya jawab jujur saja, Tante."
"Itu satu-satunya cara yang tidak bikin kamu capek." Cintya tersenyum tipis tanpa mengangkat pisau dari ikan. "Dan Tante tidak menyuruhmu pergi, Nak. Tante hanya tidak tahu harus berkata apa. Itu bukan penolakan."
Aileen menunduk ke bawang, dan matanya perih untuk alasan yang tidak ada hubungannya dengan bawang.
"Ayah Bagas bukan orang jahat," sambung Cintya sambil membersihkan sisik. "Dia hanya takut kehilangan lagi. Ketika Aira pergi, dia yang paling lama tidak bicara. Tante pikir dia menyalahkan dirinya karena tak bisa menahan Bagas pergi ke pesta itu."
"Bagas sendiri yang bilang begitu, Tante?"
"Bagas tidak bilang apa-apa. Itu yang Tante khawatirkan."
***
Meja makan malam itu dihiasi lebih banyak piring daripada penghuninya. Cintya memasak sendiri, hal yang jelas jarang ia lakukan: sup ayam, ikan bakar, tumis kangkung, nasi yang masih mengepul. Pradipta duduk di ujung. Bagas di sisi kanannya. Aileen di seberang Bagas, dan Cintya di sebelah Aileen seperti pagar.
Pradipta makan perlahan. Dia tidak bertanya apa pun sampai sup di mangkuknya tinggal setengah.
"Kamu bekerja di mana?"
"Dulu karyawan kontrak di sebuah perusahaan, Om. Lima tahun. Saya dipecat di hari yang sama dengan kecelakaan Aira." Aileen meletakkan sendoknya. "Sekarang saya menganggur."
"Orang tuamu?"
"Ayah saya meninggal. Ibu saya tinggal bersama suaminya yang kedua. Mereka berjudi, dan saya yang berkali-kali membayar utangnya. Saya punya adik tiri, Denis, mahasiswa menjelang skripsi."
Tak ada satu pun yang berusaha dibungkus. Aileen mengatakannya seperti menyebutkan daftar belanjaan, dan ia melihat Cintya menahan napas di sebelahnya.
"Utang berapa?"
"Seratus juta. Bagas yang membayarnya."
"Dan kamu setuju menikah dengannya sebagai balasan." Pradipta menyuap lagi, mengunyah. "Kamu pikir kamu pantas?"
"Saya tidak bilang pantas, Om. Saya bilang saya setuju."
Sudut bibir Pradipta bergerak, tipis sekali, nyaris tak terlihat. "Kamu punya penyakit?"
Sendok Bagas berhenti di udara. Cintya menoleh pelan ke arah Aileen.
"Ada," jawab Aileen. Ia tidak menyiapkan kalimat ini, tetapi mulutnya sudah bergerak sendiri. "Lambung. Sedang diobati, dan Daren yang menanganinya."
"Parah?"
"Cukup parah sampai tidak bisa dibuat main-main."
Pradipta mengangguk sekali, lambat, seolah nilai itu sudah ia tuliskan di suatu buku. Ia membersihkan mulut dengan serbet, lalu merogoh saku jasnya dan meletakkan sebuah amplop cokelat tebal di tengah meja. Disorongnya sejengkal ke arah Aileen.
"Ambil. Dan pergi tanpa membuat Bagas lebih rusak dari sekarang."
Suasana meja berubah beku. Aira, yang berdiri di belakang kursi Bagas, mengangkat tangan menutup mulutnya.
Aileen menatap amplop itu. Tebalnya mungkin lebih dari yang ia pegang seumur hidup. Cukup untuk Denis lulus, cukup untuk melunasi semua yang tersisa, mungkin cukup untuk operasi. Selama sedetik yang tidak ia banggakan, ia benar-benar menimbangnya.
"Om," katanya, dan menggeser amplop itu kembali sampai menyentuh piring Pradipta. "Kalau saya ambil, saya menjual diri dua kali. Sekali kepada anak Om, sekali lagi kepada Om. Itu terlalu murah untuk saya."
Pradipta menaikkan satu alis.
"Ayah." Bagas meletakkan sendoknya perlahan. Suaranya datar dan dingin, dan Aileen baru sadar sudah ia kenal baik nada itu: nada yang dipakai Bagas ketika ia tidak berniat kalah. "Tarik kembali amplopnya. Dia tidak akan pergi. Aku yang memutuskan, bukan dia, bukan Ayah, bukan Mama Viona."
"Kamu membelanya sekarang?"
"Aku membela keputusanku."
Pradipta menatap putranya cukup lama. Lalu ia mengambil kembali amplop itu dan memasukkannya ke saku jas, tanpa komentar. Ia kembali makan.
Cintya yang pertama menyadarinya. Bagas menyendok nasi, menyuap, mengunyah. Menyendok ikan. Menambah kangkung dari mangkuk di tengah. Ia tidak sadar piring di depannya sudah bersih sampai Cintya mengulurkan lagi sendok nasi ke piringnya, dengan tangan yang gemetar. Mata Cintya basah dan ia pura-pura sibuk menuang air.
Aileen menunduk dan memakan ikannya sendiri, supaya tidak ikut menangis tanpa alasan.
"Mobilmu," ujar Pradipta kemudian, tanpa mengangkat mata, "sudah diperiksa?"
"Mobil yang mana?"
"Yang kamu pakai sekarang. Tadi kulihat di garasi. Bukan yang lama, tentu." Ia mengaduk teh. "Kalau mau servis, hubungi Darsa. Eh. Aku lupa. Dia tidak bisa dihubungi lagi."
"Siapa Darsa?" tanya Aileen.
"Mekanik langganan keluarga kami sejak aku muda. Dia pamit lewat telepon seminggu sesudah kecelakaan itu. Berhenti begitu saja, tanpa menemui siapa pun." Pradipta mengangkat bahu kecil. "Orang tua. Mungkin sakit. Mungkin pulang kampung."
Di belakang Bagas, Aira mengerutkan dahi. Ia tampak seperti orang yang mendengar nama dari mimpi yang sudah lama dilupakan. "Pak Darsa," bisiknya. "Pak Darsa... aku kenal. Tapi kenapa terasa dingin?"
Aileen menelan ludah dan menyembunyikan wajahnya di balik gelas.
Pradipta menghabiskan tehnya dan berdiri. Ia merapikan jas, memandang Aileen sekali lagi, lalu memutar tubuh ke arah Bagas.
"Hendra belum mendengarnya langsung darimu. Viona yang menyebar kabar, itu cukup untuk membuatnya terkejut dari orang lain. Itu salah." Nada suaranya final. "Besok malam kamu ke rumahnya, bersama perempuan ini. Aku ikut."