Bagas sudah berpakaian rapi ketika Aileen tiba di meja makan. Kemeja putih, jas abu-abu tersampir di punggung kursi, dasi belum dipasang. Matanya agak bengkak, tetapi wajahnya rata seperti permukaan meja.
"Jangan bahas semalam," katanya, bahkan sebelum Aileen sempat menarik kursi.
"Aku tidak berniat."
"Bagus."
"Tapi toplesnya masih di rak."
Bagas mengangkat mata dari cangkir kopi. Sepasang alisnya bertaut, mencari apakah ada lelucon di sana, lalu menyerah. "Itu hakmu."
Hanya itu. Aileen menunggu kalimat berikutnya, ejekan atau perintah, tetapi Bagas hanya menggeser koran ke samping dan menatap jendela. Keheningan itu lebih canggung daripada bentakan.
Mereka sarapan dalam diam, ditemani dentang sendok dan suara radio kecil dari dapur tempat Cintya sedang menyiapkan sesuatu. Aileen memaksa dirinya menelan setengah potong roti panggang. Bagas menghabiskan kopi dan menyisakan telur di piringnya. Aira berdiri di ambang jendela, menatap suaminya dengan wajah yang jelas sekali tidak mau mengganggu.
Bel pintu berbunyi pukul tujuh lewat sepuluh.
Cintya keluar dari dapur sambil mengelap tangan dengan serbet. "Itu pasti Daren."
"Daren?" Bagas meletakkan cangkirnya agak terlalu keras. "Mama meneleponnya?"
"Mama bilang kamu akan menikah, Sayang. Daren itu sepupumu dan dokter keluarga kita. Dia berhak tahu dari orang rumah, bukan dari gosip."
Sebelum Bagas sempat membalas, Daren sudah muncul di ambang ruang makan, masih berjas dokter di balik mantel tipis. Rambutnya sedikit berantakan, seperti orang yang berlari dari tempat parkir. Pandangannya menyapu ruangan, berhenti sebentar pada Aileen, lalu berpindah pada Bagas.
"Kita bicara di serambi," katanya. Itu bukan ajakan.
Aileen baru saja hendak berdiri ketika Daren menambahkan, tanpa menoleh, "Kamu di sini dulu, Aileen. Sebentar."
Serambi samping rumah hanya dibatasi pintu kaca. Dari kursinya, Aileen bisa melihat dua laki-laki itu berdiri berhadapan, dan mendengar sebagian percakapan lewat celah pintu yang tak tertutup rapat.
"...pasienku, Bagas!" Suara Daren menekan, namun jelas. "Kamu tahu kondisinya. Kamu tahu apa yang dia hadapi. Dan kamu menikahinya?"
"Aku tahu persis kondisinya."
"Kamu memanfaatkan perempuan yang tidak punya pilihan."
"Dia setuju."
"Orang yang setuju karena tidak punya pilihan itu bukan setuju." Daren menurunkan suara, tetapi tidak menurunkan kerasnya. "Aku melihat sendiri bagaimana kamu memperlakukan orang yang melawanmu sejak kamu sadar di rumah sakit. Dan Kak Aira belum genap lima minggu, Bagas. Belum genap lima minggu."
"Jangan bawa Aira ke dalam ini." Nada Bagas jatuh sangat rendah. "Kamu tidak berhak."
Aira, yang berdiri di samping Aileen, menahan napas mendengar namanya disebut. "Daren selalu begitu," bisiknya, separuh haru, separuh sedih. "Dia tidak pernah bisa berpura-pura tidak peduli. Dulu pun ketika aku sakit, dia yang pertama datang."
Aileen menggigit bibir dan tidak menanggapi. Di balik kaca, Bagas tidak membalas. Tangannya mengepal di sisi tubuh, lalu mengendur lagi, seperti orang yang belum memutuskan harus memukul atau menyerah.
Daren terdiam cukup lama sampai Aileen mengira percakapan itu selesai. Lalu ia berbalik, membuka pintu kaca dengan kasar, dan berkata kepada Aileen: "Bisa bicara berdua? Di taman."
Bagas tidak mencegah. Ia hanya menatap Aileen, wajahnya mengirim sesuatu yang tak bisa Aileen tebak, entah ancaman atau permohonan. Lalu ia menarik jasnya dari punggung kursi dan mengikuti mereka keluar, tetapi berhenti di undakan serambi, tidak lebih jauh.
***
Mereka duduk di bangku kayu di bawah pohon, jarak setengah meter di antara mereka. Tukang kebun sudah selesai memangkas pagar dan meninggalkan bau getah segar di udara.
"Aku tanya sekali saja," kata Daren. "Kamu dipaksa?"
Aileen menatap tanah. Ia sudah menyusun jawaban itu semalam, tetapi sekarang kalimatnya terasa seperti baju sewaan. "Aku yang memilih, dok."
"Jangan panggil aku begitu kalau sedang berbohong." Daren tersenyum miris. "Aku sudah mengenalmu cukup lama untuk tahu kapan kamu menyembunyikan sesuatu."
"Aku tidak berbohong. Dia membayar utangku, dok, seratus juta. Aku tidak punya apa-apa untuk membayarnya kembali. Menikah dengannya adalah cara paling masuk akal."
"Itu transaksi."
"Namanya hidup." Aileen akhirnya menatapnya. "Banyak orang memulai pernikahan dengan alasan yang lebih buruk."
Daren menghela napas, memijat batang hidungnya. Ia tampak lelah dengan cara yang tidak berhubungan dengan jam kerja. "Aku tidak bisa membuatmu berubah pikiran, ya?"
"Tidak."
"Baik." Ia menarik tas jinjing kecil dari bahunya dan mengeluarkan map tipis. "Kalau begitu aku ingin kamu menerima hal lain. Pengobatan."
Aileen menegang. "Dok..."
"Aku tidak bicara sebagai sepupunya. Aku bicara sebagai dokter yang sudah melihat hasil pemeriksaanmu." Daren memegang map itu seperti memegang barang yang mudah pecah. "Kamu menunda terlalu lama. Setiap minggu yang lewat membuat pilihan kita menyempit. Dan sekarang kamu punya satu hal yang tidak kamu punya sebelumnya."
"Biaya."
"Ya."
Aira, di belakang bangku, berbisik, "Ai, dengarkan dia."
Aileen memejamkan mata sebentar. Ia teringat ayahnya, kanker yang sama, meja operasi yang tak pernah ia tinggalkan hidup-hidup. Ia teringat betapa ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menjadi orang yang sama. "Bagas menanggung seluruhnya," ujarnya. "Itu salah satu syaratnya. Aku... setuju memulai kemoterapi."
Daren mengangguk pelan, tetapi ekspresinya tidak tampak lega. Ia justru menatap Aileen sedikit lebih lama dari yang diperlukan, seakan ada hal lain yang hendak ia tanyakan lalu ia tahan. "Aku akan kirim berkasmu ke temanku. Dokter Mahesa, bedah onkologi. Dia orang yang paling kupercaya untuk kasus seperti ini. Kamu akan menemuinya minggu ini."
"Terima kasih, dok."
"Jangan terima kasih. Datang saja." Daren menutup map dan menyerahkannya sebentar ke tangan Aileen, seakan ingin memastikan ia benar-benar memegangnya. "Dan makan. Ada bubur di dapur, kata Tante Cintya. Bukan perintah dokter, tapi hampir."
Daren sudah berdiri dan merapikan tasnya ketika Aileen memanggil, "Dok." Daren menoleh. "Soal Bagas. Dia tidak seburuk yang dokter kira. Dia hanya sedang tidak tahu cara menangis di depan orang."
Daren menatapnya terkejut. "Kamu membelanya?"
"Aku tidak membela. Aku mengatakan apa yang kulihat."
"Dan apa lagi yang kamu lihat, Aileen?" Ia bertanya pelan, dan kalimat itu seperti pintu yang setengah terbuka. Aileen hampir menjawab. Hampir.
Dari arah gerbang terdengar suara mesin mobil mendekat. Aileen menoleh. Sebuah sedan hitam besar, lebih panjang dan lebih tua dari mobil Gio, memasuki halaman dengan perlahan dan berhenti di depan teras.
Daren menoleh ke gerbang, wajahnya berubah. "Itu mobil Paman."
Cintya sudah berada di ambang pintu teras, wajahnya pucat. Ia berjalan cepat ke arah taman, melewati Aileen, dan berhenti di depan putranya. Berbisik, nyaris tanpa menggerakkan bibir:
"Ayahmu sudah tahu."