Pagi itu, taman belakang berbau rumput basah. Seorang tukang kebun berkaus oranye sudah mulai memangkas pagar tanaman, dan Aileen duduk di bangku kayu di bawah pohon dengan secangkir air hangat yang tak ia minum.
Aira duduk di ujung bangku yang lain. Ia tidak membuat bangku itu bergeser sedikit pun, dan sudah sejak subuh ia diam, menarik-narik ujung gaun bunganya.
"Aku tidak akan bertanya lagi kenapa," ucap Aileen pelan, nyaris tanpa menggerakkan bibir. "Kemarin kamu sudah menjawabnya, dan jawabannya tidak ada. Jadi kita mulai dari yang bisa dilihat. Waktu bingkai itu digeser, kamu melihat apa?"
"Soraya tidak melihat foto itu." Aira menjawab lambat, seperti menarik benang yang tersangkut. "Kamu juga melihatnya, kan? Dia melihat Bagas. Dia menunggu Bagas menoleh. Kak Aira paling tidak suka bingkainya miring, katanya. Padahal aku tidak pernah bilang begitu padanya."
"Lalu?"
"Lalu itu saja. Aku tidak tahu apa artinya." Aira menekan pelipisnya. "Mungkin aku cuma ketakutan pada hal yang tidak ada."
Aileen mengaduk air hangatnya dengan jari. Dari semua hal yang bisa ia hadapi, ia paling tidak tahu cara menghadapi ketakutan yang belum punya alasan. "Kita tidak menuduh siapa-siapa. Kita hanya mencatat. Tiap kali dia datang dan kamu merasakan itu lagi, tarik ujung gaunmu dua kali. Aku akan memperhatikan apa yang dia lakukan saat itu."
"Kalau tidak ada yang bisa dicatat?"
"Aku akan tetap ada di sini." Aileen mengucapkannya tanpa berpikir, dan baru kemudian sadar betapa gegabah janji itu, dari mulut orang yang kontraknya hanya dua tahun.
Aira tersenyum samar, dan tidak berkata apa-apa lagi.
***
Pukul sembilan malam, Aileen mengetuk pintu ruang kerja. Tiga kali, pelan.
"Masuk."
Bagas duduk di balik meja dengan kedua tangan terkatup di depan wajah. Lampu baca hanya menyala satu, menyisakan separuh ruangan dalam remang. Di rak buku sebelah pintu ada sebuah toples kaca bening yang jelas tidak pernah ada di sana sebelumnya, tutupnya rapat, label kecil terpasang di dasarnya: Panti.
"Gio memasangnya tadi siang," kata Bagas, mengikuti arah mata Aileen. "Aku tidak menyuruhnya."
"Dia asistenmu yang paling cekatan."
"Dia asistenku yang paling menyebalkan." Bagas menunjuk kursi di seberang meja. "Duduk. Pasal dua."
Aileen duduk. Aira sudah lebih dulu berdiri di belakang kursi suaminya, kedua tangan di dada, ketakutan pada hal yang tidak ia ucapkan.
"Aku punya tiga pertanyaan," ujar Bagas. Suaranya kering. "Hanya dia yang bisa menjawabnya. Kalau salah satu keliru, kamu pulang ke loteng dan kita lupakan semuanya."
"Seratus juta itu tetap ditagih, ingat."
"Kalau salah satu keliru, aku akan menagihnya." Tak ada ancaman di nadanya, hanya kelelahan. "Pertama. Siapa yang selalu memotong rambutku?"
Aileen menoleh ke Aira.
"Aku," jawab Aira cepat. Matanya sudah basah. "Di teras belakang. Dengan gunting jahit. Dia selalu protes karena aku tidak pernah memotongnya lurus."
Aileen mengulanginya persis, termasuk bagian gunting jahit. Bagas tak bergerak. Hanya rahangnya yang menegang, sekali.
"Kedua. Di mana kalung biru itu disimpan?"
"Di laci meja riasku." Aira menelan ludah. "Kamar utama. Lacinya yang paling bawah, yang terkunci. Kuncinya kusimpan di dalam kotak musik. Kotak musik yang diberi Papa."
Aileen menyampaikan semuanya. Pada kata "kotak musik", bahu Bagas bergetar.
"Ketiga." Suaranya hampir tak terdengar sekarang. "Apa yang kulakukan waktu aku melamarnya?"
Aira tertawa kecil di sela tangisnya. Tawa yang basah, hangat, dan sama sekali bukan tawa orang yang sedang berduka. "Dia menyalakan pemutar musik, tapi pemutarnya rusak. Jadi dia bernyanyi sendiri. Sumbang sekali. Aku tertawa sampai menangis, dan dia mengira aku menolak."
Aileen menyampaikan itu dengan suara yang tak sepenuhnya stabil.
Bagas menutup wajah dengan kedua tangan. Pelan-pelan, bahunya turun, lalu terguncang. Tidak ada suara, hanya napas yang pecah dan terdengar lagi dan lagi. Aileen duduk kaku di kursinya, tidak tahu harus melakukan apa dengan tangannya sendiri. Aira berlutut di samping kursi suaminya, mencoba memeluk bahu yang tak bisa ia sentuh.
Aileen tidak mendekat. Pasal enam menyebutkan tidak ada hubungan fisik, dan lagi pula ia tidak sanggup membayangkan Bagas ingin disentuh olehnya, bukan oleh perempuan yang kini berlutut di sampingnya.
Lima menit. Mungkin lebih.
Bagas mengangkat kepala. Matanya merah, rahangnya basah, dan ia menyekanya kasar dengan punggung tangan seolah baru saja kalah dalam sebuah pertandingan. "Dia..." Ia berhenti, memaksa suaranya naik. "Dia marah padaku?"
Aileen menoleh. Aira menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa suara. "Bilang aku tidak marah. Bilang aku ikut ke pesta itu karena aku sendiri yang mau."
Kalimat terakhir itu membuat Aileen ragu. Aira memohon dengan wajah begitu sungguh-sungguh sehingga ia menyampaikan bagian pertama saja. "Dia bilang dia tidak marah."
"Dia selalu bilang begitu." Bagas tersenyum pahit, tanpa memandang siapa pun. "Bahkan waktu aku pantas dimarahi."
"Dia juga bilang kamu menyanyi sumbang."
Sesuatu di wajah Bagas bergetar, antara tawa dan sisa tangis. Ia mengusap hidungnya dengan lengan kemeja, lalu menyipitkan mata ke arah Aileen, seakan baru menyadari siapa yang duduk di hadapannya. "Perempuan gila. Kamu benar-benar bisa melihatnya."
Aileen tak bergerak. "Pasal tujuh," ucapnya, tanpa mengubah wajah. "Satu juta."
Bagas menatapnya dengan wajah orang yang tiba-tiba teringat ia punya kontrak. Lalu, tanpa komentar, ia membuka laci, mengeluarkan dompet, dan menghitung sepuluh lembar seratus ribuan. Ia mendorongnya ke seberang meja. Aileen berdiri, melangkah ke rak, membuka tutup toples, dan menjatuhkan uang itu ke dalamnya. Lembaran itu jatuh pelan, melengkung, lalu mendarat di dasar kaca.
"Satu," ucap Aileen sambil menutup toples. "Masih banyak ruang kosong di dalamnya."
"Aku hanya akan mengatakannya sekali lagi." Bagas menyandarkan kepala ke kursi. Nada suaranya setengah menyerah, setengah entah apa. "Mungkin dua kali."
Sesi itu selesai pukul sepuluh lewat. Bagas tidak mengusir Aileen, tetapi ia juga tidak mencegahnya pergi. Ia berpindah ke sofa panjang di sudut ruangan, merebahkan diri tanpa melepas kemeja, dan memejamkan mata. Hanya sebentar, katanya. Hanya ingin memejamkan mata.
Dalam beberapa menit napasnya berubah panjang.
Aileen berdiri di tengah ruangan. Selimut yang terlipat di lengan sofa itu tidak bergeser sejak kemarin. Ia mendekat sejauh yang diperlukan, membentangkan selimut dengan dua jari dari ujungnya yang paling jauh, lalu meninggalkannya menggantung di lengan sofa dalam jangkauan Bagas. Tanpa menyentuh. Tanpa disentuh.
Ia baru mencapai pintu ketika terdengar suara serak di belakangnya.
"Aira?" Bagas membuka mata setengah, kabur dan basah. "Kamu... pulang?"
Aileen berbalik. Cahaya lampu baca jatuh di wajahnya. Bagas menatapnya sedetik, dua detik, dan ekspresinya berubah: harapan yang runtuh, lalu rasa malu yang cepat-cepat menutupinya.