Cintya sudah menjelaskan sisanya di sela sarapan yang tak habis: Viona adalah ibu tiri Aira, Soraya putri kandung Viona, dan Viona-lah yang paling keras mengusulkan agar Bagas menikahi adik tiri almarhumah istrinya. Aileen belum pernah bertemu keduanya, tetapi ia sudah tidak menyukai mereka.
"Duduklah, Aira," bisik Aileen dari balik cangkir tehnya, ketika Cintya sedang di dapur. "Kamu membuatku pusing."
"Aku tidak bisa." Aira berdiri di dekat rak buku, tangannya melipat di dada, dan sejak pagi ia memang tidak pernah diam. Wajahnya bukan sedih, lebih mirip orang yang mendengar langkah di rumah kosong. "Aku juga tidak tahu kenapa."
Pukul satu siang, suara mesin terdengar di halaman. Dari jendela, Aileen melihat sebuah sedan hitam berhenti di depan teras. Sofa paling ujung, tempatnya duduk dengan punggung tegak, mendadak terasa terlalu empuk, dan perutnya jadi lebih berat daripada pagi tadi.
'Tenang,' batinnya. 'Mereka cuma dua orang.'
Pintu terbuka. Dua perempuan melangkah masuk. Yang lebih tua mengenakan setelan abu-abu dan kalung mutiara, dagunya terangkat seakan seisi ruangan berutang padanya. Yang lebih muda, di belakangnya, bergaun biru pucat dengan rambut disanggul rendah. Cantik, rapi, dan tersenyum.
"Viona. Soraya." Cintya berdiri dan menyambut mereka dengan senyum yang hanya mengembang di mulut. "Terima kasih sudah datang. Ini Aileen."
Aileen berdiri. "Selamat siang."
Viona memandangnya dari ujung kepala sampai ujung sepatu, tanpa menjawab salamnya. Lama. Lalu beralih ke Bagas, yang baru muncul dari lorong dengan kemeja digulung. "Nak Bagas, siapa perempuan ini?"
"Calon istriku." Bagas tidak berbasa-basi. "Aku akan menikahinya."
Ruangan itu membeku. Aileen sempat mendengar jarum jam di dinding berdetak jelas.
"Kamu bercanda." Viona tertawa pendek, tidak ada geli di dalamnya. "Aira belum empat puluh hari, Bagas. Belum empat puluh hari, dan kamu membawa perempuan dari antah-berantah ke rumah ini? Kita sudah bicara baik-baik soal turun ranjang. Cintya, kamu mendengarnya sendiri."
"Aku tidak pernah setuju, Mama Viona." Suara Bagas tenang, tapi urat di pelipisnya menonjol. "Aku tidak meminta izin. Aku memberi tahu."
"Mama." Soraya menyentuh siku ibunya dengan lembut. "Tenang dulu. Pasti ada alasan kenapa Bagas memutuskan begini." Ia menoleh pada Aileen dan tersenyum, manis sekali, terlalu manis untuk dipercaya. "Aku Soraya, adik Aira. Kamu pasti lelah. Maaf kalau sambutan kami kurang ramah."
"Tidak apa-apa." Aileen membalas senyum yang sama. "Saya juga kurang ramah kalau harus menyambut tamu di rumah orang."
Viona menyipitkan mata. "Dari mana kamu berasal? Orang tuamu siapa? Kerja di mana?"
"Ayah saya sudah meninggal. Ibu saya tinggal di pinggir kota. Dan sampai sebulan lalu saya bekerja di sebuah perusahaan." Aileen menjeda. "Sekarang saya berhenti, jadi pekerjaan saya calon istri."
"Aileen," gumam Cintya, bukan menegur, hanya mengingatkan.
"Kurang ajar," desis Viona. Matanya turun ke kemeja flanel Aileen, ke siku yang menipis dan kotak-kotak yang sudah pudar. "Dan pakaian apa itu? Kamu datang ke rumah keluarga Pradipta dengan baju pembantu?"
"Baju saya," jawab Aileen. "Yang lain masih di lemari, dan bukan saya yang membelinya."
"Mama!" Soraya menahan lengan ibunya. "Mbak Aileen hanya gugup. Iya kan, Mbak?"
Aileen tidak menjawab. Ia memandang tangan Soraya di lengan ibunya: kuku rapi, jari panjang. Bagas berdiri di sisinya, diam, tetapi tidak bergerak seinci pun dari posisinya, dan itu sudah cukup.
Soraya melepaskan ibunya dan melangkah ke bufet di dekat jendela. Di atasnya berdiri bingkai foto Aira dan Bagas, berpegangan tangan di depan sebuah pantai. Dengan ujung jari, Soraya menggeser bingkai itu setengah senti ke kanan.
"Foto ini miring," katanya pelan, pada siapa pun. "Kak Aira paling tidak suka kalau bingkainya miring."
Cintya berpaling. Bagas menatap bingkai itu terlalu lama.
"Soraya benar," gumam Bagas. "Dia memang tidak suka."
Soraya tersenyum, merapikan bingkai sekali lagi. Dan Aileen, yang duduk paling dekat, sempat melihat sesuatu yang aneh: Soraya tidak menatap foto itu. Ia menatap Bagas, menunggu apakah laki-laki itu memperhatikannya.
Aira menggigil.
Aileen melihatnya dari sudut mata, dan seluruh bulu kuduknya berdiri. Hantu yang ia kenal tidak pernah gemetar seperti itu, bahkan ketika ia menatap ledakan mobil di aspal. Hantu itu tidak melangkah mendekat. Tubuhnya mundur selangkah demi selangkah menuju sofa tunggal di sudut ruangan, lalu berjongkok di belakangnya, mencengkeram sandaran yang tak bisa ia pegang. Wajahnya putih, bibirnya terkatup.
'Aira?' batin Aileen. Tapi ia tak bisa bertanya.
"Bagas, Sayang, setidaknya beri waktu. Kasihan suamiku. Ayah Aira itu bahkan belum bisa tidur nyenyak." Viona mengubah nada, dari tajam menjadi pura-pura memohon. "Hormati Aira dulu. Satu tahun, enam bulan, apa pun. Orang-orang akan bicara."
"Biarkan mereka bicara," jawab Bagas. "Mereka juga bicara waktu Aira meninggal."
"Bagas." Cintya menyentuh lengan putranya. "Kita minum teh dulu."
Aileen mengambil kesempatan itu. "Permisi, Tante. Saya ke belakang sebentar."
Tak seorang pun mencegah.
***
Lorong menuju dapur dingin dan sepi. Aileen membasuh wajah di wastafel kecil, memandang bayangannya di cermin, dan mendapati wajah yang sama pucatnya dengan pagi tadi. Ia mengusap muka dengan telapak tangan, mengatur napas, dan baru hendak kembali ketika ada bayangan lain muncul di cermin.
"Kamu hebat juga," kata Soraya.
Ia bersandar di kusen pintu, tangan terlipat anggun. Senyumnya masih ada, tetapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Terima kasih." Aileen mengelap tangan dengan handuk. "Saya tidak sempat menyiapkan pidato."
"Aku tahu jenismu." Nada Soraya sama lembutnya dengan tadi, hanya isinya yang berubah. "Perempuan yang menjual diri demi utang. Aku sudah banyak melihat. Mulai dari yang pura-pura polos sampai yang pura-pura kuat."
Aileen menggantung handuk di pengait. Jari-jarinya sempat gemetar sedikit, tapi ia tahan. Ia berbalik dan menatap Soraya tepat di mata.
"Tepat," ucapnya. "Dan harganya sudah ada yang membayar."
Soraya mengerjap. Hanya sekali, tetapi cukup bagi Aileen untuk melihat senyum itu retak sepersekian detik sebelum kembali rapi. "Kamu pikir ini akan bertahan?"
"Mbak lebih mengenal dia daripada saya. Silakan menebak."
"Bagas cepat bosan pada yang bukan Aira." Soraya melangkah masuk satu langkah, dan wangi bunga mahal ikut menyesaki ruang sempit itu. "Kamu hanya kursi kosong yang kebetulan dia duduki. Jangan salah mengira itu rumah."
"Kursi pun bisa kokoh kalau kayunya bagus."
"Saya tidak pikir apa-apa. Saya sudah tanda tangan." Aileen melewatinya. "Teh sudah dingin, Mbak."
Ia berjalan menjauh tanpa menoleh. Baru ketika tikungan lorong menyembunyikannya dari Soraya, lututnya terasa lemas dan ia bersandar pada dinding.
Aira sudah menunggu di sana. Ia menembus dinding tanpa suara, matanya merah dan basah.
"Ai," bisiknya. Tubuhnya masih bergetar halus.
"Dia pernah menyakitimu?" Aileen balas berbisik, menunduk seolah sedang mengusap perut.
"Tidak. Tidak pernah. Dia selalu baik padaku, selalu memanggilku Kak Aira dengan manis. Itu yang membuatku bingung." Aira menatap lorong yang baru dilewati Soraya. "Aku tidak tahu kenapa, tapi tiap dia tersenyum aku ingin lari."