Aileen terbangun karena silau. Tirai kamar tamu itu setebal permadani, tetapi ada celah di tengahnya, dan cahaya pagi menembus tepat ke matanya. Ia butuh beberapa detik untuk ingat di mana ia berada. Ranjang sebesar itu, seprai sewangi sabun mahal, langit-langit yang terlalu tinggi. Gagang pintu masih diganjal kursi, padahal Pasal enam sudah tertulis dan Bagas tidur di sofa ruang kerja satu lantai di bawahnya. Semalam Aileen tetap tidak percaya pada kertas.
Dari celah itulah ia melihat Denis.
Adiknya berdiri di luar gerbang besi, dengan jaket lusuh dan mata kiri yang masih biru. Seorang penjaga berseragam sedang berbicara dengannya sambil memegang telepon. Denis tampak tidak mau masuk, juga tidak mau pergi.
'Dia benar-benar datang,' pikir Aileen. Ia melompat turun dari ranjang.
Di lemari, Aileen tertegun. Pintu kayunya terbuka sedikit, dan di dalamnya tergantung belasan pakaian yang belum ia lihat semalam: terusan krem, blus lengan balon, rok panjang bermotif bunga kecil. Label harga masih menempel di beberapa gantungan.
"Itu bukan bajuku," kata Aira dari ambang jendela. Ia tampak canggung. "Maksudku, bukan baju yang pernah kupakai. Tapi modelnya... Bagas pasti menyuruh Gio membelikan yang mirip dengan kesukaanku."
"Pasal tiga," gumam Aileen. Ia menutup lemari dengan telapak tangan, perlahan. "Aku tidak wajib menyerupaimu. Aku sudah menuliskannya dengan pulpen."
"Aku tidak pernah memakai warna sepucat itu, Ai. Bagas lupa." Aira terdiam, lalu tertawa pendek yang terdengar mirip isak. "Dia lupa, atau dia ingin lupa."
Aileen tidak menjawab. Dari kantong plastik yang semalam ia temukan di jok mobil, titipan Denis yang diselipkan tanpa sepengetahuannya, ia mengeluarkan kemeja flanel kotak-kotak yang bagian sikunya sudah menipis. Sebuah celana panjang hitam. Kain yang bersih dan berbau sabun murah. Ia mengenakannya, mengikat rambut sebahunya dengan karet gelang, lalu menuruni tangga setengah berlari.
Bagas sudah ada di taman belakang ketika Aileen sampai di pintu kaca. Denis berdiri di hadapannya di atas rumput yang tinggi. Mereka berjarak tiga langkah, saling menatap tanpa suara.
Aileen berhenti sebelum pintu. Ia memutuskan menahan diri dan mendengarkan dari balik kaca.
Bagas menatap lebam di wajah Denis. Sebentar saja. Rahangnya bergerak sekali, lalu ia mengalihkan pandangan ke pohon di ujung halaman. "Pintu depan tidak dikunci," ucapnya datar. "Kakakmu bebas pergi kapan pun dia mau."
"Anda memukuli saya, dan keluarga saya," jawab Denis. Suaranya rendah tetapi stabil. "Lalu Anda bilang kakak saya bebas."
"Aku tidak menyuruh siapa pun memukul wajahmu."
"Anda menyuruh orang menagih. Anda tahu cara mereka menagih."
Bagas tidak membantah. Aileen menahan napas di balik kaca. Kalimat itu seharusnya membuat Bagas marah, dan ia sudah siap melihat tangan laki-laki itu mengepal. Tetapi Bagas hanya berkata, "Masuk. Sarapan."
"Saya tidak datang untuk makan."
"Kalau begitu pulanglah dan jangan datang lagi." Bagas berbalik. "Tapi kalau kamu mau bicara dengan kakakmu, dia sudah di belakangmu."
Denis menoleh. Aileen membuka pintu kaca dan melangkah keluar.
"Kak." Denis mendekat dan merendahkan suara menjadi bisikan, supaya Bagas yang berjalan menjauh tak menangkapnya. "Kalau dia menyakiti Kakak, sekecil apa pun, telepon aku. Aku jemput Kakak saat itu juga. Aku nggak peduli soal utang."
"Dia tidak akan."
"Janji dulu."
"Aku janji akan menelepon." Aileen menyentuh sudut matanya yang lebam, ringan sekali. "Sekarang pulang. Obati ini."
Denis menatapnya lama, lalu mundur satu langkah, dua langkah, dan pergi lewat gerbang tanpa menoleh lagi.
Aileen baru sadar Bagas belum benar-benar pergi. Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dapur, setengah tersembunyi di balik tirai, memperhatikan punggung Denis sampai hilang.
"Pintu depan memang tidak dikunci," kata Aileen. "Tapi seratus juta rupiah tergantung di gagangnya."
"Kamu membaca pasalnya dengan baik." Bagas menoleh. Matanya jatuh pada kemeja flanel yang dikenakan Aileen, lalu naik sebentar ke arah jendela kamar tamu. "Kamu tidak memakai yang disiapkan di lemari."
"Pasal tiga."
"Aku tahu pasalnya." Ia berhenti, sepertinya hendak menambahkan sesuatu, lalu memilih urusan lain. "Sarapan. Sepuluh menit."
Ia pergi lebih dulu. Aira memandang punggung suaminya dengan wajah yang sulit dibaca. "Dia tidak marah," bisiknya, heran. "Biasanya dia sudah membanting sesuatu."
"Mungkin dia belum bangun sepenuhnya," gumam Aileen, dan tidak percaya pada kalimatnya sendiri.
***
Meja makan keluarga itu panjang, cukup untuk dua belas orang, tetapi hanya tiga kursi yang terisi. Bagas duduk di ujung. Cintya di sisi kirinya, sedang menuang teh. Dan Aileen, setelah Bagas mengetuk meja dua kali tanpa berkata apa-apa, menarik kursi di sisi kanan.
Piring di depannya berisi nasi goreng dengan telur mata sapi. Aileen mengaduknya pelan. Perutnya melilit sejak bangun.
"Kamu tidak suka?" tanya Bagas.
"Aku tidak makan sepagi ini."
"Aku tidak makan sendirian." Bagas mengatakannya cepat, nyaris menggerutu, lalu mengambil sendok dan mengunyah sesuap seperti orang menjalani hukuman. "Duduk saja. Itu cukup."
Cintya menatap putranya sebentar. Sesuatu di wajahnya melunak, lalu ia menunduk memotong buah. Aira berdiri di belakang kursi Bagas, mengamati suaminya makan tiga suap, empat suap, lalu berhenti. Sendoknya terlalu lama menggantung di atas piring, seolah ia lupa harus diapakan.
"Dia sudah berminggu-minggu begini," bisik Aira sambil menahan tangis. "Makan sedikit, berhenti."
Aileen melirik sebentar. Dari saku kemejanya, kantong plastik putih berisi obat pereda nyeri menyembul keluar dan jatuh ke lantai di dekat kaki Cintya.
Cintya memungutnya sebelum Aileen sempat bergerak. Ia membaca label kecil di bagian depan, lalu mengangkat mata. "Obat apa ini, Nak?"
"Obat lambung, Tante." Aileen menarik kantong itu pelan-pelan dari tangan Cintya. "Asam lambung saya sering kambuh."
"Kamu pucat sekali sejak kemarin."
"Memang begitu wajah saya, Tante."
Cintya menatapnya sedikit lebih lama dari yang nyaman, tetapi tidak mendesak. Ia hanya mengangguk, menaruh gelas teh di dekat piring Aileen, dan menarik napas yang terdengar seperti keputusan. "Baiklah. Kalau suatu hari kamu mau cerita, Tante ada di rumah ini."
Bagas mengangkat kepala. "Ma."
"Biar saja, Sayang." Cintya menyendok buah ke piring Aileen. Bagas memperhatikan potongan pepaya itu bertambah, lalu bergumam, "Habiskan."
"Itu tidak ada di kontrak."
"Bukan perintah." Bagas menunduk ke piringnya sendiri. "Kamu kelihatan seperti akan tumbang kalau ada angin."
Aileen mengunyah satu potong pepaya dan menahan mual. Rasanya manis sekali dan sama sekali tidak bisa dinikmati. Cintya meletakkan garpunya. Tanpa mengubah nada, ia berkata, "Siang ini Viona dan Soraya datang. Kamu belum tahu siapa mereka."