Aileen menepis tangan Nani yang hendak menggandengnya. "Siapa yang bilang begitu?"
"Orang-orang tadi. Salah satunya, yang bertato, bilang kamu mau jadi nyonya." Nani tersenyum lebar, bibirnya bergetar karena girang. "Mereka langsung pergi setelah ada telepon. Ai, Ibu sudah bilang dari dulu, kamu itu cantik kalau mau berdandan sedikit."
"Aku mau lihat Denis dulu," potong Aileen dan menerobos masuk.
Ruang tengah rumah itu berantakan. Kursi plastik terbalik, gelas pecah di dekat pintu, dan kain pel basah tergeletak di lantai yang bernoda gelap. Bono duduk bersandar di dinding dengan kepala dibalut kain putih yang tidak rapi, bahunya miring ke satu sisi. Di sebelahnya Mbok Darmi, tetangga sebelah rumah, menempelkan handuk dingin ke leher laki-laki itu sambil menggerutu pelan.
Denis berdiri dekat jendela. Mata kirinya membiru, sudut bibirnya pecah, tapi ia tetap tegak seperti selalu. Begitu melihat Aileen, bahunya yang kaku turun sedikit.
"Kak Ai." Denis maju dan memeriksanya dari atas ke bawah, seolah Aileen yang baru dihajar. "Kakak nggak apa-apa? Mereka bilang Kakak dibawa pergi."
"Aku baik-baik saja. Lihat?" Aileen mengangkat kedua tangan, menyembunyikan perban di pergelangan kirinya di balik lengan kaus. "Kamu yang harus diobati. Mbok Darmi, ada es?"
"Sudah dari tadi, Nduk," sahut Mbok Darmi. "Anakmu ini keras kepala. Dia nggak mau duduk sebelum bapaknya ditolong."
Denis memejamkan mata sebentar. Ketika terbuka, tatapannya sudah berubah. "Mereka bilang suruhan orang kaya yang menggendong Kakak di rumah sakit waktu itu. Katanya Kakak mau menikah dengannya. Itu bohong, kan?"
Aileen menelan ludah. 'Terserah. Menikah, istri pengganti ataupun bayangan.' Kalimat yang diucapkannya pagi tadi terasa ribuan hari lalu.
"Itu benar," ujarnya.
"Kak!"
"Aku yang memilih menikah dengannya, Denis. Dia yang membayar utang itu, seratus juta. Seratus juta, kamu ingat? Siapa lagi yang mau menolong kita?"
"Dengan memukuli kami?" Denis menunjuk bibirnya. "Itu cara orang menolong?"
"Itu salah paham." Bohongnya keluar mulus dan Aileen benci betapa mudah. "Mereka bergerak sebelum urusan kami selesai. Sekarang sudah selesai. Tidak akan terulang."
"Kakak tidak mencintainya."
"Siapa bilang pernikahan harus dimulai dari cinta?" Aileen mengangkat satu alis. "Orang lain mulai dari utang juga, kok."
Denis mengatupkan bibir. Nani menyela dari belakang dengan nada manis yang dibuat-buat. "Sudah, sudah. Yang penting Ai sudah beruntung. Dia kan sekarang istri orang kaya. Kalau nanti ada rezeki, Ibu butuh uang bulanan, Ai. Rumah ini atapnya bocor, listrik nunggak..."
"Ibu."
Satu kata dari Aileen, pelan, dan ruangan itu langsung senyap.
Ia menatap ibunya lurus. "Utang yang ada sekarang sudah dibereskan. Itu pun bukan karena Ibu pantas dibantu. Itu karena aku memilih begitu." Ia berhenti sebentar, mengatur napas yang mulai pendek. "Mulai hari ini ada aturan. Satu, kalau ada penagih datang, jangan sebut nama Bagas. Nama itu bukan jaminan. Dua, jangan berjudi lagi. Tiga, jangan pinjam uang atas namaku, sekecil apa pun. Kalau Ibu atau Bono melanggar, perlindungan dicabut. Kalian hadapi sendiri."
Bono bergeser menjauh sampai punggungnya membentur dinding. Dalam sekejap wajahnya yang pucat berubah ketakutan, mirip lima tahun lalu, saat Aileen berdiri di depannya dengan batu bata di tangan. "Aku nggak akan... Ai, Bapak nggak akan berjudi lagi. Sumpah."
"Jangan bersumpah. Buktikan."
Nani membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya. Ia mundur ke dapur dengan bahu terangkat, menggerutu sesuatu tentang anak yang tidak tahu terima kasih. Aileen membiarkannya.
Aileen berlutut di depan Bono dan menyingkap kain di kepalanya. Lukanya panjang, tepinya sudah menghitam di sekitar darah yang mengering. Bono menahan napas, matanya memejam rapat seperti anak kecil yang menunggu dipukul.
"Ini harus dijahit," gumam Aileen. "Ibu, temani Bono ke klinik."
"Pakai apa?" Nani menjulurkan kepala dari pintu dapur. "Ongkos ke klinik pun Ibu tak punya."
"Kalau mau, saya antar."
Suara itu berasal dari ambang pintu. Gio berdiri di sana dengan jas terlipat di lengan, napasnya sedikit memburu seperti baru melewati gang dengan terburu-buru. Mbok Darmi sampai menegakkan punggung melihat laki-laki berpakaian rapi memenuhi pintu rumah yang sempit.
"Klinik biasa," tegas Aileen. "Bukan dokter yang dikirim Bagas."
"Klinik biasa di ujung jalan besar. Biayanya Pak Bagas yang menanggung, sesuai pasal lima." Gio berkata pelan, dan tidak ada nada menggurui di dalamnya. "Mobil saya parkir di mulut gang."
Nani menatap Aileen, menunggu persetujuan. Aileen mengangguk sekali. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menahan rasa malu yang tiba-tiba menyesakkan dada.
Bono membuka mata. "Ai," bisiknya serak, nyaris tak terdengar. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih padaku." Aileen berdiri dan merapikan kausnya yang kusut. "Berterima kasihlah dengan tidak membuat aku kembali ke sini."
Gio membantu Bono berdiri. Nani mengikuti dengan bibir mengerucut, dan tak lama deru mobil terdengar menjauh dari mulut gang.
***
Begitu suara mobil lenyap, Denis menarik tangan Aileen pelan, membawanya ke belakang rumah. Di tanah kecil di samping sumur, tiga pot berisi kaktus berdiri berjajar di bawah naungan atap seng. Duri-durinya masih utuh, hijaunya tak kalah segar.
Aileen berhenti. Dadanya menghangat dengan cara yang tak ia duga.
"Waktu mereka pergi dari loteng Kakak, aku pulang dan memungut yang masih hidup," kata Denis, nadanya canggung. "Cuma tiga. Aku siram tiap pagi. Takutnya mati juga."
"Kamu..." Aileen menyentuh salah satu pot dengan ujung jari. Ia tak melanjutkan, karena kalau berbicara lagi, suaranya akan pecah. "Simpan di sini dulu ya. Aku belum punya tempat."
"Kakak punya tempat sekarang. Rumah orang itu."
"Itu bukan tempatku, Denis."
Denis diam. Lalu, tanpa memandangnya, ia berkata, "Kakak pucat. Tadi di depan pintu aku lihat Kakak berpegangan pada tiang. Kakak sakit lagi? Ginjal Kakak yang satu itu nggak apa-apa, kan?"
Aileen mematung. Dari ujung lorong sempit itu, ia bisa melihat Aira berdiri di bawah pohon belimbing, menyilangkan tangan dengan wajah cemas.
"Belum sarapan," jawab Aileen akhirnya. "Aku cuma lapar."
"Kak."
"Denis, jam delapan nanti aku harus ada di sana. Aku tidak akan bohong soal sakitku kalau memang ada yang harus kamu tahu." Ia menepuk lengan adiknya. "Skripsimu. Dosen pembimbing sudah balas?"
"Belum. Besok aku disuruh revisi bab tiga." Denis menjawab dengan tertahan, lalu menghela napas. Matanya kembali pada Aileen, lebih tajam. "Kak, jawab aku satu hal saja. Dia memperlakukan Kakak dengan baik?"
"Dia tidak memukulku."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang jujur." Aileen tersenyum letih. "Sudah, jangan bikin keputusan apa pun malam ini."
Denis menunduk, menatap tiga pot kaktus itu lama. Ketika mengangkat wajah, rahangnya sudah mengeras seperti Aileen.
"Besok pagi aku ke rumahnya."
"Denis, jangan."
"Aku bukan minta izin, Kak."