"Biarkan mereka menunggu," kata Bagas tanpa menoleh pada Gio. Ia mengambil map cokelat itu dari tangan asistennya. "Ke ruang kerja. Sekarang."
Aileen diseret lagi, kali ini bukan oleh tangan, melainkan oleh nada suara yang tidak memberi ruang. Ia mengikuti Bagas melewati ruang tamu berlantai marmer, menyusuri lorong yang berbau lilin dan debu halus, sampai ke sebuah pintu kayu gelap di ujung lantai bawah.
Ruang kerja itu rapi tapi tidak terawat. Di sudut ada sofa panjang dengan satu bantal dan selimut yang terlipat asal-asalan, dan Aileen sempat melihat bahwa bantal itu masih berlekuk bekas kepala. 'Dia tidur di sini,' pikirnya, lalu cepat-cepat membuang pikiran itu karena bukan urusannya.
Bagas meletakkan map di atas meja besar. Gio berdiri di dekat pintu dengan tangan tertaut di depan, seperti saksi pernikahan yang disewa.
"Baca," perintah Bagas.
Aileen menarik lembar pertama. Judulnya cetak tebal: Surat Perjanjian. Di bawahnya ada lima pasal, rapi dan dingin, seperti catatan bengkel. Ia membaca pelan dan sengaja tidak buru-buru, karena Bagas jelas tak sabar. Aileen tinggal di rumah Bagas selama dua tahun. Aileen "menyampaikan pesan almarhumah Aira kepada pihak pertama pada waktu yang ditentukan". Biaya pengobatan ditanggung pihak pertama. Utang atas nama Aileen sebesar seratus juta rupiah akan ditagih penuh bila Aileen meninggalkan rumah sebelum masa berakhir.
Di sudut matanya, Aileen melihat Gio tidak berkedip saat kalimat tentang pesan almarhumah terbaca. Ia menunggu, tapi wajah laki-laki itu tetap sekeras tembok.
"Ini," Aileen mengetuk kertas dengan jari, "cuma separuh dari yang kuinginkan."
"Aku tidak ingat menanyakan keinginanmu."
"Kamu menyuruhku tanda tangan. Berarti aku boleh membaca. Berarti aku boleh menambah." Aileen mengulurkan tangan ke arah Gio. "Gio, boleh pinjam bolpoin?"
Gio melirik atasannya. Bagas mendengus pelan, dan itu cukup menjadi izin. Pulpen hitam berpindah ke tangan Aileen.
Ia menulis di pinggir kertas, huruf-hurufnya miring tapi tegas. Pasal dua kuperjelas: sesi tiap malam jam sembilan, dan Aileen tidak wajib memerintah Aira. Pasal tiga: Aileen tidak wajib menyerupai Aira dalam hal pakaian, rambut, maupun sikap. Pasal enam: tidak ada hubungan suami-istri secara fisik. Pasal tujuh: Bagas tidak boleh menghina Aileen, baik dengan sebutan gila, soal miskin, maupun soal sakit; tiap pelanggaran didenda satu juta rupiah tunai, masuk toples, dan toples itu disumbangkan ke panti yayasan Aira.
Bagas membaca dari balik bahunya. "Memerintah?" tanyanya.
"Kamu pernah menyuruhku mengusir Aira dari kafe, ingat? Aku bukan penjaga pintunya."
Bagas mengatupkan rahang dan tidak membalas. Ia beralih mencibir pada pasal enam. "Kamu pikir aku tertarik?"
"Aku pikir kamu butuh dituliskan." Aileen tidak mengangkat kepala. "Pasal lima."
"Utangnya sudah ada di draf."
"Ditagih penuh bila aku keluar, ya. Aku tambah: selama kontrak berjalan, utang itu ditangguhkan. Kalau kontrak selesai, suratnya hangus." Ia mengetukkan ujung pulpen. "Utang Ibu dan Bapakku yang masih berdiri hari ini kamu bayar langsung ke penagih. Dan keluargaku tidak boleh disentuh atau diancam lagi. Satu tangan terangkat ke Denis, aku keluar."
"Perlindunganmu gugur kalau mereka berjudi dan meminjam atas namamu," tukas Bagas.
Aileen berhenti menulis. Ia menoleh, dan untuk sekali itu Bagas menatapnya lurus, tanpa senyum miring. "Setuju," kata Aileen. Ia menambahkan kalimat itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Masih kurang?"
"Pasal delapan. Dua tahun itu terlalu lama untuk perempuan yang kamu kira cuma pantas dipakai." Aileen menarik napas. "Kontrak berakhir bila Aira sudah pergi, atau dua tahun, mana yang lebih dulu."
Bagas menatap kertas itu cukup lama. Lalu sudut bibirnya naik, tipis, hampir kasihan. "Aira tidak akan pergi ke mana-mana."
"Kalau begitu kamu tidak rugi apa-apa."
"Setuju," ucap Bagas. Dua kali ia menekan kata itu. "Gio, cetak ulang."
Di dekat jendela, Aira memeluk lengannya sendiri. "Aku tidak akan pergi ke mana-mana," gumamnya, mengulang kalimat Bagas. Tapi nadanya naik di ujung, seperti orang yang bertanya pada dirinya sendiri, dan Aileen terpaksa pura-pura sibuk dengan pulpen agar tak menjawab.
Dalam sepuluh menit pintu ruang kerja terbuka dan tertutup lagi. Gio kembali dengan kertas hangat dari mesin cetak. Pasalnya kini delapan. Aileen membacanya sekali lagi dari baris pertama, jarinya menyusuri tiap kalimat.
Angin dari jendela membawa suara yang hanya Aileen dengar. "Tanda tangani, Ai." Aira berdiri di balik kursi, wajahnya letih dan lembut. "Aku tidak ingin kamu pulang ke tempat itu lagi. Dan Denis, orang-orang itu..."
'Kamu juga ikut-ikutan,' pikir Aileen, tapi tidak sampai hati menolak. Ia menandatangani di atas namanya yang diketik. Aileen Andita. Garis terakhir huruf a bergetar.
Bagas membubuhkan tanda tangannya cepat, tegas, tanpa ragu. Ia menyelipkan salinan Aileen ke dalam map tipis dan mendorongnya ke seberang meja. "Simpan. Dan isi perjanjian ini tidak dibicarakan di luar rumah, dengan siapa pun. Termasuk keluargamu."
"Aku sendiri tidak sudi menceritakannya," balas Aileen. "Gio, kamu saksi. Catat itu."
"Sudah tercatat," jawab Gio datar.
"Gio, tarik mereka," perintah Bagas.
"Baik, Pak." Gio mengeluarkan ponsel dan keluar ke lorong.
Aileen baru saja meletakkan pulpen ketika ponselnya bergetar di saku celana. Layar menyala: Denis.
"Kak!" Suara adiknya parau. "Orang-orang itu tiba-tiba pergi. Tapi kepala Bapak berdarah, Kak. Bibirnya robek. Mbok Darmi lagi bantu menekan lukanya. Ibu nangis terus. Kakak di mana sebenarnya?"
Aileen memejamkan mata. "Aku ke sana sekarang."
"Tunggu." Bagas sudah mengangkat tangan. "Gio akan mengantarmu. Kamu pulang sebelum jam delapan malam. Aku tidak mau mendengar alasan."
"Aku bukan anak SMP," desis Aileen.
"Kamu penghuni rumah ini sekarang. Jam delapan."
Aileen tidak menjawab. Aira sudah menunggu di depan pintu, melayang di samping Gio yang kembali masuk.
***
Di dalam mobil, Gio menyodorkan sebungkus roti dari laci dasbor tanpa menoleh. "Kamu belum sarapan, kan? Dari tadi wajahmu pucat."
"Aku mual kalau makan pagi-pagi."
"Kalau begitu simpan saja. Siapa tahu nanti perlu." Gio berhenti di lampu merah. "Aileen, soal surat tadi. Pak Bagas jarang menyetujui tambahan pasal dari siapa pun. Dua kali, malah."
"Itu pujian atau peringatan?"
"Keterangan saja." Matanya tetap di jalan. Sudut bibirnya nyaris terangkat.
Aira terkikik di kursi depan. "Aku suka dia," bisiknya. Aileen menyimpan roti itu di saku dan tidak menanggapi.
Mereka sampai di gang rumah Nani menjelang tengah hari. Rumah sempit dengan cat mengelupas itu terlihat lebih kecil dari yang diingatnya, dan pagarnya terbuka lebar. Aileen baru menginjak undakan pertama ketika pintu terlempar terbuka dari dalam.
Nani berdiri di sana. Pipinya merah, matanya berkilat, dan bibirnya melengkung ke atas dengan cara yang tidak pernah dilihat Aileen sejak ia kecil.
"Ai!" seru Nani. "Orang kaya itu benar mau menikahimu?"