Mobil baru melewati ujung gang ketika Aileen sadar tangannya masih gemetar. Ia menyembunyikannya di bawah paha, lalu menegakkan punggung.
"Telepon mereka sekarang," ucapnya.
Bagas duduk di sebelahnya, menatap lurus ke depan seolah suara Aileen hanya dengung radio. "Aku sudah mendengar syaratmu tadi."
"Itu bukan syarat. Aku sudah bilang setuju. Menikah, tinggal di rumahmu, apa pun. Sekarang suruh orang-orangmu berhenti memukul adikku."
"Surat perjanjiannya belum kamu tandatangani."
"Adikku sedang dipukuli sementara kita ngobrol soal kertas!" Suara Aileen pecah di ujung kalimat. Di balik kemudi, Gio melirik spion sekilas, lalu kembali menatap jalan dengan wajah sopir yang terlatih pura-pura tuli.
Di kursi depan, Aira menoleh ke belakang. Setengah badannya menembus sandaran kursi, dan ia tidak tahu harus meletakkan mata di mana. "Ai, maafkan aku," bisiknya.
Aileen tak bisa menjawab. Ia hanya memejamkan mata sebentar, cukup lama untuk Aira paham bahwa itu bukan salahnya, dan cukup singkat agar Bagas tidak curiga.
Tapi Bagas melihatnya. Rahangnya mengeras. "Dia ikut?" tanyanya pelan.
"Di depan. Di sebelah Gio." Aileen mengedikkan dagu.
Pandangan Bagas bergeser ke kursi kosong itu. Hanya sedetik, lalu ia berdeham dan memutar kepalanya ke jendela. "Gio."
"Ya, Pak."
"Hubungi kepala tim yang di rumah itu. Suruh mereka berhenti. Tidak boleh ada tangan yang terangkat lagi. Mereka menunggu di luar pagar sampai ada perintah berikutnya."
"Baik, Pak." Gio menekan tombol di setir dan menyebut satu nama yang tidak dikenal Aileen. Suaranya datar. Ia mengulang perintah itu kata demi kata, lalu menambahkan, "Sekarang, bukan nanti."
Aileen menahan napas sampai terdengar jawaban "siap" dari pengeras suara. Bahunya turun sedikit.
"Puas?" Bagas menoleh padanya.
"Belum. Denis dan Bono yang sudah terlanjur dipukuli, siapa yang mengurus mereka?"
"Gio bisa mengirim dokter kalau perlu."
"Aku tidak mau dokter suruhanmu menyentuh adikku." Aileen menggeleng keras. "Aku sendiri yang akan melihatnya. Hari ini."
Bagas menaikkan satu alis. Ia tampak hendak membantah, tetapi akhirnya hanya berkata, "Tanda tangani suratnya dulu. Setelah itu, terserah."
"Dan kenapa mereka masih di sana?"
"Karena itu jaminanku sampai kamu menandatangani." Bagas menyandarkan kepala dengan santai. "Kamu bilang tidak akan kabur. Aku hanya memastikan."
'Brengsek,' batin Aileen. Kuku-kukunya kembali menekan telapak tangan. Ia ingin sekali membalas, tetapi suaranya sudah habis di gang tadi. Yang tersisa hanya tatapan, dan itu pun Bagas abaikan.
"Di rumah ada Mamaku," ujar Bagas setelah beberapa menit. "Dia belum tahu apa-apa. Jangan mengatakan hal yang tidak perlu."
"Soal apa? Soal hantu atau soal utang?"
"Keduanya."
"Jadi aku harus berbohong di rumah orang." Aileen tertawa kering. "Kamu menyuruhku bohong, padahal kamu yang menyeretku ke sini."
"Kamu pandai berbohong. Waktu itu di lotengmu kamu melakukannya dengan sangat meyakinkan." Bagas masih menatap jendela. "Kali ini kamu tinggal mengulanginya."
Aileen membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ucapan itu benar, dan itu yang membuatnya makin kesal.
Mereka tidak bicara lagi sampai mobil melambat di depan sebuah gerbang besi setinggi dua meter.
***
Gerbang itu terbuka sendiri. Di baliknya, jalan masuk berbatu memanjang melewati taman yang rumputnya sudah terlalu tinggi, dan di ujungnya berdiri rumah dua lantai berwarna gading dengan jendela-jendela lebar. Terlalu besar untuk dihuni satu orang yang menolak makan sendirian.
Aira turun lebih dulu, menembus pintu mobil yang belum dibuka. Ia berhenti di tengah halaman. Kakinya memang tidak menyentuh batu, tapi caranya berdiri seperti orang yang takut menginjak sesuatu.
"Bangku itu," gumamnya, menunjuk sebuah bangku kayu di bawah pohon. "Biasanya ada bantal biru di situ. Aku selalu membaca di sana sore-sore."
Aileen berpura-pura membetulkan tali sandalnya supaya bisa menanggapi tanpa terlihat berbicara sendiri. "Mungkin dipindah," bisiknya.
"Rumputnya juga tidak ada yang memotong." Suara Aira mengecil. "Sudah berapa lama aku tidak pulang?"
Aileen tak punya jawaban yang tidak menyakitkan.
"Kamu mau berdiri di situ sampai sore?" Bagas sudah menutup pintu mobil. Ia menatap Aileen dari ujung rambut kusut sampai sandal jepit yang talinya longgar. Kaus kebesaran dan celana kain lusuh yang dipakainya tidur semalam. Sepasang mata Bagas tidak memperlihatkan apa-apa, tapi rahangnya menegang saat melewati perban di pergelangan kiri Aileen. "Ikut."
"Aku belum bawa apa-apa, ingat? Kamu sendiri yang bilang buang semuanya."
"Akan ada yang menyiapkan."
"Aku tidak minta disiapkan."
"Aileen." Hanya itu. Nada yang sama seperti di depan pintu loteng tadi. Aileen mengatupkan bibir dan mengikuti.
Pintu depan terbuka sebelum Bagas sempat menyentuhnya. Seorang perempuan paruh baya berdiri di teras, mengenakan kardigan abu-abu, rambutnya digelung rapi. Wajahnya mirip Bagas di bagian alis, tapi tatapannya jauh lebih lembut dan jauh lebih lelah.
"Bagas? Kamu pulang cepat sekali." Perempuan itu melangkah maju, lalu matanya jatuh pada Aileen. "Dan ini..."
"Ma." Bagas berhenti di anak tangga terbawah. Ia tidak meminta Aileen mendekat, tidak juga menyuruhnya mundur. "Namanya Aileen. Dia yang menyelamatkanku di atap rumah sakit. Aku akan menikahinya."
Udara di teras itu seolah menipis. Cintya tidak berkata apa-apa. Tangannya naik ke dada, perlahan, seperti sedang memastikan jantungnya masih di tempat.
Aileen menunduk sopan. "Selamat siang, Tante."
Cintya tidak langsung membalas. Ia menatap perban putih yang melingkar di pergelangan tangan Aileen, lama sekali. Lalu pandangannya naik ke wajah Aileen: mata yang bengkak sehabis menangis, bibir pucat, rahang yang terlalu tirus untuk perempuan seusianya. Aileen merasa sedang diperiksa oleh orang yang sudah terbiasa membaca tanda-tanda, dan ia tidak berani memalingkan muka.
'Dia pasti mengira aku perempuan yang mengejar harta anaknya,' pikir Aileen getir. 'Dan kalau dipikir-pikir, itu tidak sepenuhnya salah.'
"Selamat siang, Nak," ucap Cintya akhirnya. Suaranya pelan dan sedikit bergetar. "Masuklah. Di luar panas."
Ia tidak bertanya apa pun pada putranya. Itu yang membuat Aileen lebih gelisah daripada kalau ia dicecar.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Cintya, kali ini hanya kepada Aileen.
"Belum, Tante. Tadi saya..." Aileen mencari kata yang tidak berbohong dan tidak membuka apa-apa. "Tadi terburu-buru."
"Nanti Tante buatkan sesuatu." Cintya menyentuh lengan kardigannya sendiri, seperti orang yang tak yakin tangannya boleh dipakai untuk hal lain. "Dapurnya sudah lama tidak dipakai."
Aira muncul di samping Aileen, setelah puas berkeliling taman. Matanya tertuju pada perempuan di teras itu. "Mama kurusan," bisiknya. "Dulu pipinya tidak sekecil itu, Ai."
Aileen menggigit bagian dalam pipinya. Ia ingin menyampaikan kalimat itu, tapi di depan Bagas dan Cintya, ia hanya bisa menyimpannya.
Dari belakang terdengar langkah cepat. Gio menyusul dari mobil dengan map cokelat tebal di tangan. Ia berhenti satu langkah dari Bagas, mengatur napas, lalu berkata dengan suara yang sengaja diturunkan, tapi masih terdengar jelas oleh semua orang di teras.
"Berkas sudah siap, Pak. Tim di rumah adik Aileen menunggu perintah."