Aileen membuka matanya perlahan disusul oleh rasa perih akibat mata yang bengkak setelah semalaman menangis.
Ia meraba sudut nakas, mencari benda yang terus bergetar hingga menganggu tidurnya.
"Halo." Ucapnya dengan suara serak.
[Aileen, mengapa orang-orang ini datang dan menagih utang kesini?]
Suara teriakan bernada emosi seketika menarik paksa kesadaran Aileen untuk kembali. Ia memaksa tubuhnya untuk bangkit dari posisi tidur lalu melihat nama di layar ponselnya, Denis.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya yang yakin kalau Ibunya telah mengambil alih ponsel Denis.
"Ada lima pria mengerikan datang ke rumah dan menagih utang." Jelas Nani.
'Orang? Utang?' pikiran di benak Aileen berkecamuk. Memaksanya untuk fokus.
Ia menjauhkan layar ponsel demi melihat jam, 10.30.
'Celaka! Aku terlambat bangun.'
"Di mana mereka sekarang?"
"Di depan rumah. Mereka tidak mau pergi kalau kamu tidak membayar utang mu." Nani terisak pelan. "Mereka memukuli Denis dan Bono."
"Apa?" Aileen berdesis geram dan mengacak rambutnya.
"Ini semua salah mu, Aileen." Tuding Nani.
'Kenapa ini menjadi salah ku? Ini semua terjadi karena utang kalian.' desisnya marah tapi Aileen tak menyuarakan suara hatinya. Ia lelah dengan segala perdebatan tak berguna ini.
Ia memilih mematikan sambungan dan berlari ke ruang tengah. Mencari secarik kertas yang kemarin dilemparkannya karena marah. Aileen mencari ke setiap sudut tapi tak menemukannya, entah kemana perginya kertas itu.
"Di mana?" Gumamnya sambil terus mengali ingatannya. "Kemana aku melemparkannya."
Ia berputar-putar di sekitar ruang tengah, dimana potongan kue dan cream berserakan di lantai.
"Seharusnya di sekitar sini," desahnya gelisah.
"Apa yang kamu cari?"
Aileen kaget dan segera berpaling begitu mendengar suara. Ia mendesah lega saat melihat bayangan Aira muncul dari balik pintu masuk.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu tidak pulang?"
"Ah, aku tidak tega meninggalkan mu sendirian," sahut Aira.
"Lalu, apa yang kamu cari?" Aira mengurai rasa penasarannya dengan pertanyaan yang sama.
"Oh, aku mencari kartu nama Gio."
"Gio?"
Aileen mengangguk. "Suamimu mengirim orang ke rumah ku untuk menagih utang. Mereka mengancam dan memukuli adikku."
Aira terdiam, merasa bersalah atas tindakan suaminya.
"Maaf." Sesalnya.
"Sudahlah, lupakan saja. Aku hanya membutuhkan kartu nama itu untuk menghubungi Gio." Aileen mengibaskan tangannya dan terus mencari kertas yabg dimaksud.
"Apa kamu mau bicara dengan Bagas?" Cerca Aira.
Aileen hanya membalasnya dengan anggukan singkat.
"Langsung ke rumah saja," usul Aira.
Aileen terdiam ragu. "Ke rumahnya?" Gumamnya.
"Ya." Aira mengangguk cepat lalu mengerakkan tangannya seolah tengah meraih jari Aileen, memintanya untuk ikut.
"Kamu yakin?"
"Bukankah kita harus segera menemuinya? Kamu tidak mau orang suruhan Bagas menyakiti keluarga mu 'kan?"
"Baiklah," putus Aileen dan mengikuti langkah ringan Aira.
Aileen membuka pintu dengan tergesa-gesa tanpa menyadari seseorang telah berdiri di depan pintu.
"Akh!" Keluhnya sambil mengosok keningnya yang berbenturan dengan permukaan datar yang keras.
Ia membuka matanya agar bisa melihat lebih jelas apa yang membuat keningnya begitu sakit.
"Ka—kamu?"
"Kenapa kamu begitu terburu-buru? Apa ibu mu baru saja menelpon dan menangis ketakutan?"
Bagas berdiri di depan pintu dengan senyum sinis yang selalu menghias bibirnya setiap kali bertemu dengan wanita yang dianggapnya aneh.
"Segera suruh orang-orang mu untuk meninggalkan rumah orangtua ku," sergah Aileen marah.
Matanya memancarkan kebencian yang mendalam, hingga membuatnya ingin mengutuk wajah tampan itu.
"Tergantung jawaban mu," ucap Bagas santai.
Aileen menghela napas panjang. "Aaa …" teriaknya frustasi.
"Terserah. Menikah, istri pengganti ataupun bayangan. Apapun itu aku tidak perduli lagi." Seru Aileen pasrah.
"Singkirkan orang-orang itu dari rumah keluarga ku." Tegasnya.
Bagas melebarkan senyum di bibirnya lalu berdecak puas. "Bagus. Aku suka cara berpikir orang-orang seperti mu, rasional." Ujarnya bernada sindiran.
"b******k," umpat Aileen pelan. Ia mengepalkan tangan hingga kuku nya tercetak hingga ke lapisan dalam telapak tangannya.
"Segera bereskan barang-barang mu."
"Hah? Buat apa?" Aileen melongo bingung.
"Bukankah kamu setuju menikah dengan ku?" Bagas memasukkan kedua tangannya ke balik saku. Menebar aura dingin tak terbantahkan.
"Ya." Tutur Aileen berjeda. "Lalu apa hubungannya dengan barang-barang ku?"
"Mulai hari ini kamu tinggal di rumah ku." Ucap Bagas.
Bagai mendengar petir di siang bolong, Aileen tercengang dan mundur beberapa langkah.
"Apa? Tinggal di rumah mu?" Ulangnya terbata.
Bagas mengangguk tegas.
'Ini bencana,' batin Aileen panik.
"Ja—jangan bercanda!" Aileen menggeleng kuat. "Setuju menikah dengan mu bukan berarti aku setuju untuk kumpul kebo."
Bagas tersenyum sinis. "Jangan terlalu tinggi menyanjung diri."
Aileen mendesis kesal. Ia ingin sekali melayangkan kuku tajamnya untuk merobek senyum meremehkan di balik wajah congkak itu.
"Aku butuh jaminan kalau kamu tidak menipu ku dan kabur." Lanjut Bagas.
"Aku tidak akan kabur kemanapun," sergah Aileen tak terima.
"Ayo." Bagas menarik tangan Aileen. Menyeretnya keluar untuk ikut bersamanya.
"Hei, tunggu." Tahan Aileen. "Bagaimana dengan orang-orang di rumah orangtua ku? Kamu harus menyuruh mereka pergi dari sana."
"Kamu tidak perlu khawatir. Begitu kamu menandatangani surat perjanjian, mereka akan segera enyah dari rumah mu." Ujar Bagas dan kembali menyeret tangan Aileen.
"Bagaimana dengan barang-barang ku? Aku belum merapikan—"
"Buang semua. Kamu tidak akan memakai pakaian murahan itu di rumah ku."
"Hah? Tapi, hei—"
"Masuk." Tegas Bagas.
Aileen tak sempat melayangkan protes nya karena Bagas memaksanya masuk ke dalam mobil dan mobil bergerak meninggalkan rumah repot dan kumuh yang selama dua tahun terakhir menjadi tempat baginya bernaung dari kerasnya hidup.
*****