"Apa?!"
'Surat penagihan utang?'
"Apa maksudnya ini? Bukankah kamu bilang aku bisa mencicil utang ini?" Buru Aileen.
Bagas mengendikkan bahunya. "Aku berubah pikiran." Ujarnya santai.
"Kamu!" Erang Aileen marah. Ia meremas kertas sampul yang di bacanya.
"A, A." Bagas menggoyangkan telunjuknya. "Jangan lakukan itu, kamu harus menyimpan setiap lembaran itu dengan baik karena mereka bernilai 100 juta untuk mu."
"b******k. Kamu pria terburuk yang pernah ku temui."
Bagas mengabaikan setiap makian yang keluar dari mulut wanita itu. Tujuannya jelas, bagaimanapun caranya ia harus membuat Aira tetap disampingnya.
"Nampaknya kamu tidak berniat untuk membaca isi dokumen itu. Jadi, aku akan menjelaskannya."
Aileen bungkam seribu bahasa. Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak memuntahkan sederet umpatan yang bersarang di pikirannya.
"Menikahlah denganku," ucap Bagas dengan ekspresi datar.
"Hah?" Aileen memusatkan perhatiannya. "Apa?"
Baru saja—bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulut Bagas, suara petir terdengar menyambar di atas kepalanya.
"Menikahlah denganku," ulang Bagas. "Maka aku akan mengganggap semua utang mu lunas."
Tidak ada ekspresi bahagia ataupun senang seperti layaknya seorang pria yang melamar kekasihnya. Setiap kata-kata Bagas terdengar seperti sebuah perintah.
"Kurasa kamu harus segera ke rumah sakit." Kekeh Aileen konyol. "Jangan bercanda dengan kalimat sakral seperti itu."
"Aku tidak sedang bercanda dan serius mengajak mu untuk menikah dengan ku."
"Tunggu, tunggu!" Tahan Aileen. "A—apa kamu menyukai ku?" tanyanya ragu.
"Heh." Bagas mendengus sinis. "Teruslah bermimpi. Mana mungkin aku menyukai wanita seperti mu," desisnya.
"Lalu? Mana ada pria yang melamar wanita yang tidak dicintainya," tukas Aileen ketus.
"Aku tidak melamar mu untuk menjadi istri ku," ujar Bagas. "Kamu hanya akan menjadi penghubung antara aku dan Aira."
Aileen mengerutkan keningnya, bingung. "Maksud mu? Kamu mau aku menjadi istri pengganti?"
"Hmm." Bagas berpikir keras untuk menemukan sebutan yang cocok untuk menggambarkan hubungan yang diinginkannya."
"Yah, bisa di bilang seperti itu. Kamu akan menjadi seorang istri pengganti yang menghubungkan aku dengan istriku, Aira."
"Aku tidak mau," tolak Aileen tegas.
"Kenapa?" Mata Bagas melebar, ia tidak pernah menyangka Aileen akan menolak tawarannya.
"Kamu hanya ingin memanfaatkan kemampuan ku saja."
Bagas mengeram pelan. "Ini kesempatan langka, Aileen. Kamu bisa melunasi utang mu dan hidup dengan ekonomi yang lebih baik."
"Bahkan kamu menyandang status terhormat sebagai istri seorang Bagas Pradipta, pengusaha kaya dari keluarga konglomerat." Lanjut Bagas dengan nada bangga.
Aileen tertawa sinis. "Aku memang mata duitan tapi aku tidak segila itu menjual harga diriku hanya untuk uang." Desisnya marah.
"Hmm." Bagas menganggukkan kepalanya. Seolah apa yang dikatakan Aileen terdengar masuk akal. "Sayangnya, tanpa kemampuan mu itu. Di mataku kamu tidak bernilai sedikitpun. Kamu hanya wanita miskin dan pesakitan."
"Apa?" Aileen membulatkan matanya. Ia merasa sangat terhina dan merasa harga dirinya di injak-injak.
"Kamu kejam." Kecamnya.
Bagas bangun dari kursinya. Membenarkan letak dasi dan mengancingkan jasnya.
"Pertimbangkan dengan baik, Aileen. Batas waktu mu hanya sampai jam sepuluh pagi esok hari. Lewat dari itu, aku akan mengirimkan orang ke rumah mu dan orangtuamu untuk menagih uang yang dipakai untuk membayar utang mu." Ujar Bagas. Menekankan kalimatnya sebagai ancaman serius.
"Hubungi Gio bila kamu berubah pikiran." Ia berlalu, keluar ruangan meninggalkan Aileen yang masih meratap dengan mata yang bergetar menahan emosi.
Suara pintu yang kembali bergeser tak membuat Aileen bergeming.
"Aileen, aku membungkus beberapa kudapan manis dan kopi untuk mu. Makan lah disini atau bawa pulang."
Gio meletakkan kotak berukuran sedang bersama dua tumbler berisi teh barley dan earl grey. Gio kasihan pada Aileen, ia bisa melihat dengan jelas, genangan airmata yang bersiap untuk tumpah di balik pelupuk mata wanita itu.
"Ini kartu namaku. Hubungi aku kapanpun kamu membutuhkan bantuan." Ucapnya dan bergegas keluar untuk menyongsong langkah sang bos.
Aileen mengeratkan genggamannya sembari mengertakan gigi.
"Aaaa …" jeritnya pilu.
***
Aileen membanting pintu rumahnya. Menghempaskan semua yang dibawanya ke lantai. Kotak kue, tumblr minuman dan amplop coklat yang ditinggalkan Bagas, berserakan di lantai.
Ia menghempas benda apapun yang berada dalam jangkauannya.
"Aaa … sialan, b******k!" Teriaknya. Melepaskan emosi yang menekan batinnya.
Aileen menyandarkan tubuhnya di dinding yang perlahan-lahan luruh, terduduk di lantai. Ia merapatkan tubuhnya, menekuk lutut ke d**a dan menenggelamkan wajahnya di atas lipatan lengan.
Airmata terus mengalir bersama Isak tangis yang memburu. Ia menyesali takdir hidupnya yang malang. Tak satupun kalimat Bagas bisa terbantahkan.
Aileen hanya bisa menelan bulat-bulat kenyataan bahwa dirinya hanya wanita miskin dan pesakitan. Satu-satunya yang bisa dihargai darinya hanya bakat indigo yang amat dibencinya. Itu saja, tidak lebih.
"Ai, maafkan aku," ucap Aira.
Selepas pertemuan di Cafe, Aira kaget melihat kondisi Aileen. Wanita itu tampak kacau. Wajahnya pucat dengan langkah yang tertatih.
Aira memilih untuk mengikuti Aileen pulang ke rumahnya dari pada pergi bersama Bagas.
"Apa hidup miskin itu sangat hina?" Lirih Aileen sambil terisak-isak.
"Tidak, Ai. Kamu sudah menjalani hidup mu dengan sangat baik. Dengan segala keterbatasan, kamu terus berusaha menjadi Aileen yang kuat dan tegar." Hibur Aira.
Hatinya ikut menangis pilu melihat kondisi Aileen yang terpuruk. Meski ia tidak tahu apa yang terjadi antara Aileen dan Bagas, tapi ia bisa menebak. Bagas pasti berbicara kasar lagi pada wanita itu.
"Ai, aku minta maaf atas nama Bagas."
Aileen mengeleng lemah. "Apa yang dikatakannya benar, aku hanya wanita miskin dan pesakitan. Tidak ada yang patut dihargai dari ku," rintihnya.
"Ai, aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian tapi aku yakin, Bagas tidak berniat menyakitimu." Ucap Aira dengan airmata yang berlinang.
"Maafkan aku, Aira. Aku tidak mampu melanjutkan ini, aku tidak bisa membantu mu lagi."
Aileen mengangkat wajahnya yang bersimbah airmata. Ia mengengam tangan Aira dan memohon maaf. Untuk kali ini ia tak mampu untuk memenuhi janjinya.
"Maaf."
*****