"Maaf, Nona Aileen. Pak Bagas ingin bertemu dengan anda."
Aileen mengerutkan keningnya begitu melihat sosok jangkung berdiri tepat didepannya. Ia menengadah untuk melihat wajah dari orang yang menghalangi langkahnya dengan lebih jelas.
"Kamu? Asisten Bagas?" Tebak Aileen.
Gio mengangguk kecil. "Pak Bagas ingin bertemu anda." Ulangnya.
"Apa lagi yang diinginkan bos mu itu?" Desah Aileen malas.
"Mari Nona Aileen—"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu. Kamu membuat semua bulu ku bergidik ngeri." Protes Aileen.
"Cukup Aileen, saja." Tegasnya.
Seumur hidup, Aileen berada di ruang lingkup warga pinggiran hingga tak pernah ada orang yang bicara bahkan memanggilnya dengan sebutan yang formal.
"Hmm." Gio berdeham canggung. "Baiklah, Aileen."
"Itu terdengar lebih baik."
"Pak Bagas menunggu mu di cafe." Tunjuk Gio ke arah cafe di seberang jalan.
Aileen menghela napas panjang. "Apa yang akan dibicarakannya?" Keluhnya seolah tengah bicara pada dirinya sendiri.
"Ayo." Ajak Gio.
Ia menatap kasihan wanita malang itu. Terlihat jelas dia sangat tidak ingin untuk bertemu dengan Bagas.
Tapi itu tak membuat gio mengendurkan penjagaan. Ia tetap bersiaga bila saja Aileen berniat untuk melarikan diri.
Aileen mengangguk pasrah dan mengikuti langkah Gio masuk ke coffee shop dengan interior retro minimalis.
"Masuk lah, Pak Bagas menunggu mu di ruang rapat."
"Kamu mau kemana?" Tahan Aileen begitu Gio berbalik badan hendak meninggalkannya.
"Oh, aku mau memesan minuman dan kue untukmu. Apa kamu ingin sesuatu yang spesifik?"
"Bisakah kita masuk bersama saja?" Pinta Aileen memelas. "Kumohon. Aku tidak ingin berada dalam satu ruangan dengan bos mu."
Melihat ekspresi frustasi di wajah Aileen membuat Gio hampir saja lepas kendali untuk tertawa keras. Ia mengertakan giginya, untuk menahan diri.
"Maaf, Aileen. Aku tidak bisa membantu mu. Pak Bagas ingin bicara masalah serius jadi dia melarang ku masuk sampai di panggil."
Aileen mengeratkan genggaman tangannya. "Apa? Kenapa begitu serius, ini membuatku semakin takut."
"Apa yang sebenarnya mau dia katakan?" Tanyanya.
Gio menggelengkan kepalanya. "Nanti juga kamu tahu. Tenang lah, Pak Bagas memang sedikit keras tapi dia tidak mengigit manusia." Hiburnya.
"Hei, itu sama sekali tak menghibur."
Gio terkekeh pelan dan mendorong Aileen ke muka pintu lalu mengetuk pintu itu.
"Masuk lah. Aku akan memesankan beberapa cake manis untuk mengisi energi mu."
Aileen dengan sangat terpaksa mendorong pintu dan melangkahkan kakinya masuk.
"Hai, wanita gila!"
Aileen mengeram marah begitu mendengar panggilan yang ditujukan untuknya. Tanpa melihat pun, ia tahu siapa sosok pemilik suara.
"Apa kamu tidak bisa lebih sopan?" Desisnya.
Setiap kali berhadapan dengan Bagas, Aileen hanya akan menunjukkan dua emosi. Takut dan marah.
"Norma kesopanan hanya ditujukan kepada orang yang sesuai dan dalam pandangan ku, kamu tidak masuk dalam kriteria."
Bagas mengatur nada suaranya Serapi mungkin seolah tengah menunjukkan kastanya yang lebih tinggi dibandingkan lawan bicaranya.
Aileen berdecih pelan. "Aku tahu dia kaya raya tapi tidak perlu sesombong itu." Gumamnya.
Di samping Bagas, bayangan Aira mengatupkan tangannya untuk meminta maaf sembari menunjukkan ekspresi menyesal akan sikap Bagas. Aileen tak bereaksi berlebihan, ia hanya sedikit menganggukkan kepalanya.
"Kebiasaan orang indigo sangat buruk, kalian selalu bicara sendiri seperti orang gila." Sindir Bagas.
"Kamu menyuruh ku datang hanya untuk mengejek ku?"
"Bisa di bilang begitu." Balas Bagas sambil mengayunkan bahunya dengan santai.
"Kalau begitu, aku akan memasang tarif. Paling tidak aku bisa pelan-pelan melunasi utang ku dengan membuatmu puas."
Tiba-tiba Bagas tertawa keras. "Orang miskin tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghasilkan uang," sindirnya.
"Ya, ya. Teruskan saja. Aku akan menutup telinga dan hati ku rapat-rapat. Jadi kamu bisa mengejek ku sesuka hati mu." Ujar Aileen pasrah.
Bagas menatap lekat sosok wanita itu. "Aku tidak akan membuang waktu ku hanya untuk sekedar mengejek mu." Desisnya.
"Duduk lah. Kita akan bicara serius."
Aileen bergetar takut setiap kali Bagas menunjukkan raut wajah serius dan tegang. Seolah ia mendapatkan sinyal akan datangnya bahaya.
"Apa yang mau kamu bicarakan?"
"Apa Aira ada disini?"
"Hah?" Aileen menatap Bagas, bingung. "Apa sekarang kamu percaya pada ku?"
"Tergantung dari jawaban mu." Ekspresi tegang di wajah Bagas tak sedikitpun mengendur meski kegelisahan menghantui hatinya.
"Apa istriku ada di ruangan ini?" Ulangnya dengan pertanyaan bermaksud sama.
"Hmm." Aileen melirik Aira meminta petunjuk dan wanita itu hanya mengangguk kecil.
"Ya. Dia di samping mu."
"Sayang, bisakah kamu menunggu di luar sebentar," ucap Bagas seolah tengah bicara pada istri tercintanya.
Aira dan Aileen saling bertukar pandangan.
"Ai, apa yang ingin dibicarakan Bagas?" tanya Aira.
Aileen melengos malas. 'Kalau kamu saja tidak tahu, apalagi aku!' batinnya.
"Kenapa dia harus keluar?" Alih Aileen. Mempertanyakan perintah Bagas.
"Karena aku tidak ingin istriku mendengar apapun yang akan kukatakan padamu."
Aileen mendesah pelan. "Tak apa, keluarlah, Aira. Aku akan menjerit kencang bila dia mengigit ku."
"Ai, jangan memancing emosi Bagas. Aku tidak ingin dia menyakitimu." Ucap Aira. Ia khawatir meninggalkan dua orang dengan temperamen yang sama tinggi.
"Kenapa kamu menyalahkan aku? Suamimu saja yang kasar dan pemarah." Sergah Aileen tak terima.
"Ai …" rengek Aira panik.
Bagas mengeram dalam sambil mendelik kesal.
"Ck." Aileen berdecak sebal. "Baiklah. Aku akan menjadi anak patuh."
Aira tersenyum lega lalu menembus pintu dan menghilang di baliknya.
"Cepat katakan. Aku tidak punya waktu seharian untuk mendengarkan sindiran dan makian mu."
"Memangnya apa yang akan dilakukan seorang pengangguran?" Kekeh Bagas dengan senyum sinis.
"Justru karena aku seorang pengangguran. Aku harus segera pergi kesana kemari untuk mencari pekerjaan."
Bagas berdecak sebal lalu melemparkan amplop coklat ke arah Aileen.
"Apa ini?"
"Buka dan bacalah." Seru Bagas misterius.
Aileen tidak suka akan kejutan, setiap kali ia menerima kejutan selalu berakhir dengan kabar buruk.
Ia membuka ujung amplop dengan hati-hati. Mengeluarkan bundel kertas dari dalamnya dan membaca kalimat pertama di sampul depan.
"Apa?!"
*****