"Apa kamu percaya kalau di dunia ada mahkluk tak kasat mata?" Ungkap Aileen. Ia menelisik ekspresi Daren, memastikan dokter tampan itu tidak menganggapnya gila.
"Maksud kamu hantu?" Tukas Daren sambil terkekeh geli.
Aileen mengangguk ragu. "Ya. Sejenis itu lah."
"Tentu saja. Bukankah semua kitab suci menyatakan bahwa mereka ada?"
"Ah, ya." Kekeh Aileen datar. "Kamu benar."
"Lalu?" Daren menatap lekat wajah Aileen. Menunggunya dengan rasa penasaran.
Aileen mengaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. "Hmm. I—itu …"
"Ah, sebentar," tahan Daren. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.
"Baiklah. Aku kesana sekarang." Ucapnya pada seseorang di balik sambungan ponsel.
"Aileen, aku harus ke UGD. Ada pasien mendadak."
Aileen mengangguk cepat. "Pergilah."
"Disini dingin, lebih baik kamu segera kembali ke kamarmu." Pesan Daren dan berlari pergi dengan terburu-buru.
"Terima kasih Tuhan. Anda tidak menambah deret orang yang menganggap ku gila." Desah Aileen lega.
***
"Akh!"
Bagas bangkit dari posisi tidurnya. Ia melirik jam weker di atas nakas, jam tiga pagi.
"Ini gila!" Umpatnya kesal. "Kenapa kata-kata wanita itu terus saja menganggu pikiran ku?"
"Wanita itu hanya berusaha menipu mu lagi, Bagas." Gumamnya. Mencoba segala cara untuk meyakinkan dirinya bahwa apa yang di katakan Aileen hanya lah omong kosong belaka.
"Tapi, hanya Aku dan Aira yang tahu sejarah kalung itu." Pikir Bagas.
"Kalung itu merupakan hadiah anniversary pernikahan kami dan aku tidak pernah menunjukkannya pada orang lain."
"Jangan-jangan wanita itu bekerja di tempat aku membeli kalung itu," tebaknya. Terus mencoba menemukan berbagai alasan logis untuk menepis perkataan Aileen.
"Ya, pasti itu. Besok aku harus kesana untuk meminta pihak toko untuk bertanggung jawab. Mereka tidak boleh membiarkan data konsumen tersebar begitu saja."
Tekad Bagas jelas. Ia akan menemukan celah dari kebohongan yang diungkapkan wanita yang dianggapnya gila.
"Bagas." Aira yang duduk disampingnya mendesah sedih. "Kumohon, percaya lah pada Aileen. Hanya dia satu-satunya harapan ku untuk menolong mu."
***
"Pak, anda baik-baik saja?" tanya Gio. Ia khawatir melihat wajah pucat dan lingkaran gelap yang berkantung di bawah mata Bagas.
"Ya." Sahut Bagas datar. Mood-nya kembali kacau setelah semalaman tak bisa memejamkan mata.
"Kamu sudah menghubungi pihak toko?"
"Sudah, Pak. Mereka membantah telah membocorkan informasi konsumen dan tidak mengenal sosok wanita yang kita maksud."
Bagas mengeram kesal. "Terus paksa mereka mengaku."
"Baik, Pak."
***
Aileen menyusuri lorong rumah sakit didampingi Mardiana dan Rachel.
"Kenapa kalian terus mengikuti ku?" Aileen menautkan alisnya heran.
"Kami hanya mau mengantarkan mu," bantah Rachel.
"Rachel." Panggil Mardiana.
Aileen menatapnya curiga. "Oke, oke. Aku mau minta maaf."
"Kenapa?"
"Itu, hmm." Rachel menatap Aileen takut. "Ka—karena banyak yang penasaran, tanpa sengaja aku menceritakan tentangmu." Tuturnya terbata-bata.
"Tanpa sengaja apaan," desah Aileen kesal.
"Maaf," cicit Rachel. Ia sangat menyesal atas kekhilafan yang dilakukan oleh mulutnya.
"Sudahlah. Ini bukan pertama kalinya terjadi."
"Hmm, tapi Ai. Mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati."
"Kenapa?" Aileen beralih pada Mardiana yang tampak gusar.
"Ada satu hantu berenergi negatif. Aku takut dia mencelakai mu."
Aileen mengibaskan tangannya, acuh. "Ini bukan kali pertama terjadi." Ujarnya santai.
"Tetap saja kamu harus berhati-hati, Nak." Pesan Mardiana cemas.
Aileen hanya mengangguk singkat.
"Aileen." Panggil Daren yang berjalan mendekatinya. "Kamu mau pulang?"
Aileen kembali mengangguk untuk ke sekian kalinya. Di sampingnya, Rachel berteriak histeris sambil merapikan dress panjangnya seolah tengah memantaskan dirinya di depan dokter tampan.
"Dia tak bisa melihatmu," ejek Aileen.
Rachel berdecak kesal. "Dasar sitik," desisnya lalu berjalan menembus tembok.
"Sampai jumpa lagi, Ai." Pamit Mardiana. Ailee meliriknya dan menarik senyum tipis sebagai jawaban.
"Bagaimana dengan kemoterapi, kamu sudah memikirkannya?"
"Ah?" Aileen kembali fokus pada sang dokter. "Jawaban ku masih sama, dok."
"Aileen, sebagai dokter aku ingin pasien ku menerima perawatan—"
"Sebagai pasien, aku menolak." Potong Aileen. "Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidup ku di ruangan berbau obat-obatan. Lagian kemoterapi bisa membuat rambut indah ku rontok."
"Penyakit mu masih dalam fase awal, Ai. Masih ada banyak waktu untuk menemukan metode pengobatan yang efektif. Kemoterapi bisa menghambat pertumbuhan sel kanker." Jelas Daren.
"Dok, apa kita akan memulai seminar kesehatan di tengah lobi seperti ini?"
"Yang pasti aku tidak ingin menjadi biksu," ucapnya dengan mimik serius.
"Hhh." Daren mendesah lelah. "Sulit sekali bicara denganmu."
Aileen mengangguk setuju. "Seharusnya kamu merekomendasikan ku ke psikolog bukannya dokter saraf."
"Apa kamu selalu bercanda seperti ini?" Kekeh Daren gemas.
"Tidak juga. Tergantung siapa orangnya. Aku hanya bersikap santai di depan orang-orang yang membuat ku nyaman."
Senyum cerah menghiasi wajah Daren. "Apakah aku membuat mu nyaman?"
"Tentu saja." Angguk Aileen yakin. "Kamu adalah dokter yang merawat ku."
"Makna kalimat mu rancu, Aileen." Protes Daren.
"Jadi, kamu menyukaiku sebagai dokter atau sebagai orang yang membuatmu nyaman?"
Aileen mengerutkan keningnya. "Aku tidak pernah bilang menyukaimu." Tuturnya dengan raut wajah serius.
Senyum cerah di bibir Daren segera hilang berganti dengan raut datar.
"Bercanda, dok." Ucap Aileen sambil memamerkan gigi kelincinya.
"Sangat sulit menebak isi pikiran mu, Ai." Daren mencubit gemas kedua pipi Aileen.
"Aaaa … sakit. Itu masih ada bekas memarnya, dok."
Aileen meringis kesakitan sambil memegang tangan Daren, mencegah dokter muda itu menyentuh sudut bibirnya yang masih meninggalkan membekas ruam kebiruan.
Tanpa keduanya sadari, di kejauhan ada sosok Bagas yang berdiri menatap keakraban sepasang pasien dengan dokternya.
'Kalau wanita itu benar-benar bisa melihat Aira. Maka aku harus memastikan dia berada disisiku agar Aira bisa selamanya bersama ku.' batin Bagas.
*****