"Bagas? Kamu baru pulang, Nak?"
Bagas menghampiri sang Ibu yang telah menyambutnya di pintu depan dengan senyum terkembang.
"Iya, Ma." Ia memeluk dan mengecup sekilas pipi Cintya.
"Apa Mama menunggu ku?" Bagas mengiring ibunya untuk masuk ke dalam rumah bersamanya.
"Iya, Sayang. Gio bilang kamu dari rumah sakit, apa kata Daren?"
"Kondisi ku sudah lebih baik. Daren juga mengamuk dan segera mengusir ku pulang," canda Bagas.
Cintya menepuk pelan lengan putra semata wayangnya. "Pasti kamu menggoda adik sepupu lagi."
"Hmm. Mama mulai lagi deh. Selalu saja memihak Daren," goda Bagas. Sengaja memasang wajah sedih yang berlebihan.
"Habisnya kamu suka sekali mengganggunya," kilah Cintya.
Bagas terkekeh pelan. "Dia terlalu polos, Ma. Selalu saja gampang dibodohi."
"Oh, ya. Mama masak apa? Aku lapar?"
"Ayo. Mama sengaja menunggumu pulang untuk makan siang bersama. Mama tahu, kamu pasti belum makan apalagi kamu nggak suka makan sendirian 'kan?"
"Iya, Ma. Semenjak pacaran dan menikah dengan Aira, aku tidak pernah lagi makan sendirian." Lirih Bagas.
Cintya kasihan melihat raut sedih di wajah putranya. "Nak, kamu harus segera berbenah hati. Aira sudah tenang di alam sana," hiburnya.
"Apa benar Aira sudah tenang, Ma?" tanya Bagas.
"Tentu saja." Angguk Cintya yakin. "Aira wanita yang baik hati. Tuhan akan menempatkannya di tempat yang baik pula."
Bagas tersenyum tipis. "Ya. Aira wanita yang sangat baik."
"Ayo, duduk. Kita makan dulu, Mama juga udah kelaparan." Ajak Cintya sambil mengiring Bagas untuk duduk di depan meja yang menghidangkan masakan kesukaan putranya.
"Mama masakin ayam rendang favorit kamu."
"Terima kasih, Ma."
"Kamu tenang saja. Mama akan tinggal disini sampai kamu menikah lagi."
Bagas mengerutkan keningnya. "Menikah lagi?" Ucap sambil tertawa, seolah itu adalah kalimat terkonyol yang pernah ia dengar.
"Ya, menikah lagi. Mama tahu, pasti sulit bagi mu untuk melupakan Aira tapi kamu harus segera menemukan pendamping hidup."
"Ma, aku tidak akan mengantikan Aira dengan wanita manapun," desah Bagas.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu, Nak. Aira akan sedih bila melihat mu hidup seperti ini. Kamu pasti akan membutuhkan seorang wanita yang bisa mendampingi mu dalam suka maupun duka."
Bagas mengabaikan nasehat Ibunya. Untuk saat ini dia tidak akan pernah menerima kehadiran wanita manapun di hidupnya. Hanya Aira satu-satunya wanita yang dicintainya.
"Oh ya, tadi Mama mertua mu datang. Kami mengobrol beberapa hal."
Bagas mengangkat kepalanya dengan kening berkerut. "Mama Viona?" tanyanya memastikan.
"Iya. Dia menanyakan kabar mu."
"Hmm." Bagas mengumam samar. "Lalu?"
"Viona mengusulkan sesuatu." Cintya mengantung kalimatnya demi meneliti ekspresi di wajah putranya.
"Sepertinya kalian membahas masalah serius?"
"Mama harap kamu tidak marah akan ide ini tapi, Cintya mengusulkan turun ranjang dalam pernikahan mu."
Kerutan di kening Bagas semakin bertambah begitu ia mendengar kata asing yang dilontarkan Ibunya.
"Turun ranjang? Maksud Mama?"
"Hmm. Kamu dan Soraya punya hubungan yang baik. Apa salahnya bila kamu menikahi adik Aira," pungkas Cintya hati-hati.
Bagas meletakkan sendoknya dan menggeser piring dengan isi yang belum tersentuh.
"Ma, itu ide paling konyol yang pernah ku dengar."
"Hubungan ku dengan Soraya sebatas pekerjaan dan untuk saat ini aku tidak ingin memikirkan apapun yang berhubungan dengan pernikahan." Tegas Bagas.
"Oke, Mama paham." Cintya mengangguk paham. Ia tidak ingin terlalu mendesak putranya. "Mama tidak akan memaksamu tapi Mama mohon, pertimbangkan usulan ini."
Bagas bangkit dari posisinya. "Maaf, Ma. Lupakan saja masalah itu. Aku harap Mama tidak membahasnya lagi." Ucapnya lalu berlalu pergi.
Cintya mendesah pelan. "Mungkin Bagas masih butuh waktu," desahnya.
***
"Aileen, apa kamu menunggu Orion lagi?" Sapa Daren.
Kali ini ia menghampiri Aileen dengan membawa botol air mineral dan obat-obatan.
"Jangan terlalu sering menghilang. Denis panik mencarimu."
"Dia emang selalu berlebihan." Desis Aileen.
"Minum obat." Daren menyerahkan plastik kecil berisi lima butir tablet dan botol air mineral.
"Jangan lewatkan obat malam mu."
Aileen menerimanya dengan ekspresi enggan. "Kapan aku harus berhenti meminum pil-pil ini," keluhnya sambil menuang langsung isi di balik plastik ke dalam mulutnya dan mendorongnya dengan beberapa tegukan air.
"Sampai kamu sembuh total," tukas Daren tegas.
Aileen mendesis pelan. "Kurasa itu masih lama."
"Apa yang kamu bicarakan dengan Bagas? Dia tiba-tiba pergi tanpa pamit dan membatalkan acara makan siang."
Aileen mengosok rahangnya yang masih terasa sakit bila digerakkan.
"Hanya obrolan kecil," kilahnya.
"Apa itu tentang Aira?" Selidik Daren.
Ia sedikit penasaran. Apa yang membuat Bagas begitu membenci wanita ini dan apa hubungan antar Aileen dengan Aira.
"Bisa di katakan seperti itu."
"Aileen, aku penasaran." Daren memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan dengan wanita disampingnya.
"Apa hubungan kamu dengan Aira?"
Aileen menatap bola mata dengan bias kecoklatan yang memancarkan aura teduh. "Sebatas kenal," sahutnya singkat.
"Apa kalian bertemu di panti asuhan?"
Aileen mengerutkan keningnya. "Apa Aira yatim piatu?"
"Heh?" Daren melongo. "Tidak. Dia punya keluarga yang utuh meskipun Ibunya sudah meninggal."
"Lalu, kenapa kamu menyebut panti asuhan?"
"Oh." Daren terkekeh geli. "Jangan suka mengambil kesimpulan sendiri," ujarnya.
"Selama ini Aira mengelola yayasan dan panti asuhan yang bergerak untuk memberdayakan fakir miskin dan merawat anak yatim."
"OOO." Aileen membulatkan bibirnya hingga mengeluarkan suara vokal yang panjang.
"Hatinya sangat mulia."
Daren mengangguk setuju. "Dia wanita yang sempurna." Pujinya.
"Sepertinya kamu menyukainya?" Tebak Aileen setelah memperhatikan raut wajah Daren yang bersinar cerah setiap kali menyebut nama Aira.
"Ah, kamu jangan salah paham." Elak Daren. "Aku hanya mengangumi kebaikannya."
"Benarkah? Hanya sebatas itu?" Goda Aileen.
"Ya. Sebatas itu." Ekspresi Daren berubah serius seolah ingin Aileen percaya akan kata-katanya.
"Baiklah, hanya sebatas itu. Kamu tidak perlu ngotot seperti itu."
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku. Di mana kamu bertemu Aira?"
"Ah, i—tu …"
*****