'Bagas?!'
Aileen membulatkan matanya kaget, terlebih begitu melihat sosok yang berdiri disamping Daren.
"Da—dari atap," balas Aileen singkat lalu beralih pada Bagas—pria yang tengah menatapnya melalui sorot mata tajam.
Meski dia telah membulatkan tekad untuk menemui Bagas tapi tetap saja hatinya tidak siap bila harus berpapasan langsung dengan pria itu, secepat ini.
"Bisa kita bicara?"
"Bicara apa? Aku tidak berminat mendengar omong kosong mu lagi," sergah Bagas ketus.
Aileen menelan amarah yang meluap naik untuk mengontrol emosinya.
"Ada hal penting yang harus aku sampaikan." Ia melirik Aira yang sedari tadi ada disampingnya.
"Kamu udah makan siang, Ai? Gimana kalau kamu ikut kami makan bareng?" Sela Daren begitu melihat ketegangan diantara kedua pasiennya.
"Tidak," protes Bagas cepat. Namun Daren tak mengindahkannya.
"Sudah, dok," sahut Aileen lalu kembali beralih pada Bagas. "Bisakah kita bicara sebentar?" Pintanya setengah memohon.
Bagas berdecak pelan lalu beralih pada sepupunya. "Daren, kamu duluan aja. Sebentar lagi aku menyusul," ujarnya pada sepupunya.
Daren mengangguk ragu. "Bagas, jangan kasar padanya." Pesannya sebelum bergerak memasuki lift.
Dia cemas meninggalkan Aileen bersama Bagas yang terkadang masih sulit mengendalikan emosinya.
Bagas mendengus malas. "Memangnya aku bisa apa sama perempuan gila ini?"
"Bagas!" Geram Daren. Namun dia tidak sempat melancarkan protes karena pintu lift terburu menutup.
'Apa yang harus aku katakan?' desah Aileen dalam hati.
Dia meremas ujung baju, berpikir keras. Mencari cara terbaik untuk menyampaikan pesan Aira pada suaminya.
"Kamu mau bicara apa?" Sentak Bagas menyadarkan Aileen dari lamunannya.
"Ah," Aileen berdeham pelan. "Aku mau berterima kasih atas bantuanmu semalam dan—"
Aileen terdiam, ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Untuk sekarang aku belum bisa mengembalikan uangmu tapi segera—"
"Sudahlah, lupakan saja uang itu. Aku yakin sampai matipun belum tentu kamu bisa membayarnya," potong Bagas.
Aileen terdiam, memejamkan mata, menelan rasa sakit yang dirasakannya.
'Ya, dia benar,' batinnya perih. Meskipun kalimat Bagas telak menusuk hati tapi, Aileen sadar bahwa apa yang dikatakan pria itu benar.
"Aku tetap akan membayarnya, paling tidak aku akan berusaha mencicilnya," ujar Aileen mencoba menyelamatkan harga dirinya yang nyaris hancur tak berbentuk.
"Terserah," sahut Bagas malas.
Aileen mendesah lega. Paling tidak untuk sekarang dia bisa bernapas lega untuk beberapa saat sebelum kembali mencari pekerjaan dan membayar uang Bagas.
"Cuma ini yang mau kamu bicarakan?" Usik Bagas yang mulai terlihat tak sabar dengan sikap Aileen yang bertele-tele.
"Ah, satu lagi." Tahan Aileen. "Hmm, aku tahu kamu marah atas apa yang aku lakukan waktu itu. Tapi,"
Aileen mengeratkan genggaman tangannya, mencoba mengumpulkan keberanian.
"A—aku tidak berbohong tentang Aira," lanjutnya terbata.
Ekspresi Bagas mengelap. "Jangan coba-coba menipuku lagi. Aku tidak akan terpedaya dengan omong kosong yang sama," kecam Bagas.
"Tidak, tidak!" Aileen menahan tangan Bagas, menghalau pria itu pergi. "Aku tidak bohong. Aku seorang indigo dan aku bisa melihat roh Aira, dia yang memintaku untuk menyelamatkanmu waktu itu."
"Dan tentang kalung berlian biru yang dikenakan Aira, dia sendiri yang mengatakan kalau kamu memberinya kejutan di malam sebelum kalian kecelakaan." Tutur Aileen.
'Indigo? Konyol,' batin Bagas.
Bagas menepis tangan Aileen. "Berhenti mengangguku dengan omong kosong mu!" Ancam Bagas. Ia mencengkram rahang Aileen kasar.
"Dan berhenti menggunakan nama istriku untuk menipu kesana kemari."
"Bagas!" Jerit Aira takut begitu melihat wajah marah suaminya. Sedari tadi ia terus mendampingi Aileen.
"Lepaskan, sakit," rintih Aileen kesakitan. Ia merasa rahangnya mengeluarkan bunyi gemeretak, menunjukkan betapa kerasnya cengkraman tangan Bagas.
"Kalau kamu tahu arti sakit, mulai sekarang lebih baik kamu berhenti mempermainkan perasaan orang lain," desis Bagas sengit.
Ia menurunkan tangannya, menatap perempuan di hadapannya penuh kebencian, menabrak tubuh kurus itu hingga terpental mundur dan berlalu pergi.
"Ai," serbu Aira panik. "Kamu baik-baik saja?"
Aileen memegang lehernya, ia terbatuk perlahan sambil menata laju napasnya.
'Pria itu mengerikan,' batinnya takut.
"Ai, maafkan Bagas ya. Tidak biasanya dia bersikap kasar pada wanita," ucap Aira memohon.
Aileen hanya dapat menatapnya pasrah. "Semua ini karena kesalahanku juga. Dia pasti tidak akan percaya apapun yang aku katakan sekarang."
"Ayo Ai, untuk sekarang lebih baik kamu kembali ke kamar. Aku akan memikirkan cara lain agar Bagas mau mendengarkan penjelasan kita."
Aira mencoba tegar meski hatinya sedih melihat perlakuan suaminya pada Aileen. Dia takut, apa yang terjadi saat ini bisa membuat Aileen membatalkan niatnya untuk menolong Bagas.
***
"Wanita sialan!"
Bagas melangkah cepat menyusuri pelataran parkir dengan luapan emosi yang membara.
"Berani-beraninya dia membawa nama Aira untuk menipu ku lagi," desisnya marah.
Bagas masuk dan membanting pintu mobilnya. "Gio, apa kamu sudah menyelidiki semua informasi tentang wanita itu?" tanyanya pada sang asisten yang duduk dibalik kursi kemudi.
"Ya. Saya sudah menyelidiki semua anggota keluarga dan orang-orang terdekat dari Aileen Andita dan saya juga sudah merincikan daftar utang Ibu kandung dan Ayah tirinya." sahut Gio.
Gio melirik sekilas wajah Bagas yang memerah karena marah. Ia berusaha sebaik mungkin untuk tak mengusik singa yang tengah mengaum. Gio menekan tombol starter mobil dan memutar kemudi, keluar dari pelataran parkir rumah sakit.
"Apa kamu menemukan kaitan antara wanita itu dengan istriku?"
"Tidak, Pak." Gio menggeleng cepat. "Saya sudah menelusuri riwayat almamater dan pekerjaan. Aileen berasal dari sekolah yang berbeda dengan Ibu Aira. Dan keduanya tidak pernah bertemu untuk urusan pekerjaan."
"Lalu, mengapa dia mengenal Aira?" Gumam Bagas resah.
'Apa wanita itu benar-benar bisa melihat roh Aira?' pikir Bagas.
"Gio, apa kamu percaya tentang Indigo?"
Gio melirik bos nya, keningnya berkedut mendapati ekspresi bingung di wajah yang selalu terlihat serius.
"Entahlah. Saya tidak mempercayai hal-hal gaib seperti itu," balasnya ragu.
"Yah, kamu benar. Itu konyol," ucap Bagas sambil menertawakan kebodohannya.
*****