Aileen merintih pelan, menyeret langkahnya tertatih, menyusuri lorong rumah sakit. Pandangannya berpindah dari satu sudut ke sudut lainnya untuk mencari sosok yang sangat dibutuhkannya saat ini.
"Ai, apa yang kamu cari?"
Mardiana menghampiri Aileen yang sedari tadi mengusik rasa penasarannya.
"Bu Mar, lihat Aira?"
"Aira?" Mardiana mengernyitkan keningnya, bingung.
"Semenjak suaminya diperbolehkan pulang, wanita itu tidak pernah lagi muncul disini."
Aileen berdiri, menyandarkan tubuhnya ke dinding. 'Kemana aku harus mencari wanita itu?' Pikir Aileen.
"Kamu mau ketemu sama Aira?"
Aileen mengangguk ringan. "Ya, ada sesuatu yang harus aku katakan padanya."
"Kamu ke rumah suaminya saja. Aira pasti ada disana," usul Mardiana.
'Ya, Aira pasti ada di sekitar suaminya,' batin Aileen membenarkan.
"Terima kasih, Bu Mar. Aku pergi dulu."
Aileen melanjutkan langkahnya, menuju pintu keluar rumah sakit. Begitu mencapai pintu lobi, sebuah tangan menangkap dan menariknya kembali.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu mau kolabs lagi?" Hardik Daren kesal.
"Oh, dokter Daren?" Aileen kaget melihat dokter muda itu mencengkram kuat tangannya lalu menyeretnya kembali menuju kamar rawat.
"Kamu mau kemana dengan wajah babak belur seperti itu?"
"Dokter Daren, kamu sepupunya Bagas 'kan?" Ingat Aileen.
Langkah Bagas terhenti. Dia membalikkan badannya, menanggapi pertanyaan Aileen.
"Kenapa tiba-tiba kamu membicarakan Bagas?"
Aileen menggaruk tekuknya. "Aku dengar dia yang membawaku kemari. Jadi aku ingin berterima kasih. Bisakah kamu memberiku alamat rumahnya?"
"Jadi, kamu kesana kemari cuma untuk bertemu Bagas?" Selidik Daren.
"Bu-bukan. Aku mau cari angin."
Aileen membuang pandangannya ke arah yang berbeda. Menghindari tatapan tajam dokter tampan itu.
Daren menatapnya menyelidik. Dia tahu kelakuan Aileen terkadang aneh dan sulit di tebak tapi kali ini Daren merasa wanita itu jauh lebih parah daripada biasanya.
"Besok saja kamu berterima kasih langsung sama orangnya," sergahnya. "Besok Bagas ada jadwal check up."
Wajah Aileen langsung berubah cerah. "Jam berapa dia datang? Pagi, siang, malam?" Buru nya.
Daren semakin curiga. Ia melengos, tidak senang melihat antusias Aileen untuk bertemu sepupunya.
"Lebih baik kamu istirahat. Tidak perlu memeriksa hal-hal yang tidak penting," ujar Daren datar.
"Selamat malam," pamitnya. Daren berbalik pergi tanpa menunggu balasan Aileen.
Aileen mengerutkan keningnya, bingung dengan perubahan mood sang dokter yang terjun bebas layaknya rollercoaster.
'Kenapa tiba-tiba dia kesal tanpa alasan?' batinnya bingung.
***
Aileen menghela napas panjang. Ia duduk di bangku taman, atap gedung. Menikmati semilir angin sambil menunggu kedatangan Bagas. Aileen telah berpesan pada para makhluk kasat mata di rumah sakit untuk memberitahunya bila pria itu dan istrinya muncul di rumah sakit.
"Ai."
Aileen berpaling untuk menyambut suara yang memanggil namanya.
"Kamu ngapain disini? Ini tempat berbahaya. Ayo turun," sergah Aira panik.
Sejak melihat Bagas berdiri di tepi pembatas atap, Aira memiliki trauma tersendiri terhadap tempat ini.
Aileen menepuk sisa ruangan di bangku yang didudukinya. "Duduklah."
Kening Aira mengerut tidak senang. "Apa yang mereka lakukan pada wajah cantikmu?" Desisnya kesal sambil duduk disamping Aileen.
Dia mengikuti Bagas untuk check up ulang di rumah sakit. Begitu sampai, para hantu yang di pimpin Rachel langsung menyerbunya untuk menceritakan apa yang terjadi pada Aileen. Emosi Aira seketika bergejolak dan semakin menjadi begitu melihat deretan perban dan lebam di wajah wanita malang itu.
"Sakit?"
Aileen meringis pelan untuk menggoda hantu cantik itu. "Apa terlihat seperti luka ringan?" ujarnya sarkas.
"Apa sebenarnya yang terjadi pada hidupmu, Ai? Setiap kali aku melihatmu, selalu saja ada luka yang bertambah," gerutu Aira cemas.
"Tenanglah, aku tidak akan mati karena luka seperti ini."
Aira mendengus. "Aku malah merasa orang sepertimu tidak akan mati secepat itu."
Aileen tertawa, miris dengan nasibnya. "Hidup ini sangat lucu. Selama hidup aku selalu ingin mati tapi kini-"
Dia menghela nafasnya yang tercekat di tenggorokan. "Aku ingin hidup, Ai. Aku hanya ingin hidup," lirihnya. Aileen menyapu bulir airmata yang mengalir turun dari sudut matanya.
Aira menatap kasihan. "Ai, kamu nggak boleh putus asa seperti ini."
"Apa yang harus kulakukan Aira?" Aileen menatap nanar bayangan samar itu.
Aira mencoba menyentuh pundak Aileen, dia ingin sekali memeluk jiwa rapuh itu.
"Ai, maukah kamu mengabulkan satu permintaanku?"
Aileen mendesah pasrah. "Katakan," putusnya.
Mengingat pertolongan dan hutangnya pada Bagas, Aileen tidak mungkin menolak permintaan Aira. Bagaimanapun, Aileen masih punya harga diri.
Aira tersentak kaget karena Aileen tidak menolaknya mentah-mentah seperti yang selalu wanita itu lakukan selama ini.
"Ma-maukah kamu membantu ku menjaga Bagas?"
"Apa yang membuatmu sangat mencemaskan nya? Suamimu terlihat baik-baik saja."
Aileen menatap Aira lamat-lamat, menyelami ekspresi wajah cemas yang selalu ditampilkannya setiap kali menyebut nama suaminya.
Aira menggeleng pelan. "Dia hanya terlihat baik tapi-"
"tapi dia rapuh. Apalagi saat ini dia dikelilingi oleh orang-orang yang berniat buruk dan ingin menjatuhkannya. Aku takut Ai," sambung Aira dengan airmata yang berurai jatuh di pipinya.
Alis Aileen terangkat, bingung. "Aira, aku ini hanya orang luar, tidak mungkin bagiku untuk tiba-tiba muncul dan berada disamping suamimu. Lagipula kamu tahu, Bagas membenciku."
"Ai, kumohon," pinta Aira. "Bagas hanya terlihat dingin di luar tapi dia pria yang hangat, baik dan perhatian," urutnya untuk membujuk Aileen.
"Berhenti memuji suamimu dengan berlebihan. Itu membuatku ingin muntah," sela Aileen.
Aira terkekeh pelan. "Kamu dan Bagas punya sifat yang sama."
"Apa?"
"Keras kepala," sahut Aira sambil mengulum tawa di balik bibirnya.
"Seakan itu bisa dibanggakan," balas Aileen mencibir.
"Tapi, Ai. Apa kamu bisa mengabulkan permintaan ku?"
"Aku tidak bisa berjanji, Aira. Tapi aku akan berusaha menolongnya semampuku," sahut Aileen sambil mendesah pelan.
Mata Aira berbinar cerah. "Terima kasih, Ai. Bagiku itu cukup, aku hanya ingin ada seseorang yang bisa ku percaya disamping Bagas."
***
"Mana perempuan gila itu?" Tanya Bagas. Ia menjepit kapas yang menutup bekas tusukan jarum di lengannya.
Daren mengernyit bingung. "Siapa?"
"Aileen Andita."
"Oh, tadi siang aku masih melihatnya di ruangan. Retak di tulang rusuk, membuatnya sulit bergerak."
"Ah, aku lupa. Dari semalam, Aileen mencarimu," ujar Daren sambil meneliti laporan hasil MRI terakhir Bagas.
"Mau apa lagi perempuan gila itu," desis Bagas malas.
"Berhenti menyebutnya gila, Bagas. Dia punya nama," sergah Daren tak suka. "Lagian, Aileen cuma mau mengucapkan terima kasih."
"Katakan padanya berhenti mengangguku."
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sendiri?"
"Aku nggak mau mendengar omong kosong dari perempuan gi-" Bagas menghentikan kalimatnya karena Daren mendelik kesal dan siap melemparkan botol tumbler ke arahnya.
"Oke, oke. Aku tidak akan menghinanya lagi."
Bagas melengos malas. Entah sejak kapan sepupunya itu menjadi sangat protektif pada pasiennya.
"Nggak ada masalah dengan hasil tes, semuanya aman. Untuk selanjutnya kamu bisa datang sebulan sekali untuk check up," jelas Daren.
Dia menutup berkas di tangannya lalu melirik jam di tangannya, masih tersisa waktu tiga puluh menit sebelum jadwal praktik nya dimulai.
"Sebelum kamu pulang, gimana kalau kita makan siang bareng," ajaknya.
Bagas mengangguk santai. "Mau makan dimana?"
"Di kantin aja. Waktuku nggak cukup kalau harus makan di luar."
Keduanya berjalan ke arah kantin umum di kawasan rumah sakit.
"Aileen? Kamu dari mana?" Sapa Daren begitu pintu lift terbuka dan Aileen keluar dari balik pintu.
'Bagas?!'
*****