"Kak Ai, darimana kita bisa mendapatkan uang besok untuk membayar mereka?" Cicit Denis.
Aileen menatap Denis sesaat sebelum melempar pandangannya ke luar jendela.
'Paman Barito, hanya dia satu-satunya harapan terakhir,' batin Aileen.
"Denis, bisa antar aku ke suatu tempat?"
"Mau kemana, Kak?"
"Nanti juga kamu tahu," ucap Aileen datar.
***
[Tok ... Tok ...]
Pintu terbuka, seorang wanita keluar dari rumah tipe sederhana. Wanita itu terkejut begitu melihat Aileen berdiri di depan rumahnya.
"Ai?"
Aileen tersenyum tipis. "Apa kabar, Tante Mira?" Sapa nya sambil mencium tangan wanita paruh baya itu.
"Baik, Nak. Kamu apa kabar?"
"Baik Tante."
Mira melirik pemuda yang berdiri di belakang keponakannya. "Siapa? Pacar?"
"Denis," sahut Aileen sambil meringis lucu.
Mira terkekeh. "Udah gede ya?"
"Ayo masuk, Nak Denis," ajak Mira. "Duh, terakhir kali Tante liat kamu masih merangkak."
Denis tersipu malu-malu.
"Denis, ini istri dari Paman Barito. Kakak Ayahku," jelas Aileen.
"Ayo duduk, Nak. Pamanmu sebentar lagi pulang."
"Paman masih kerja di perusahaan yang sama?" Tanya Aileen.
Mira menggelengkan kepala. "Udah lama Pamanmu di PHK. Sekarang Paman jualan ikan di pasar baru."
"Paman Barito nggak pernah cerita," gumam Aileen kecewa.
Meski tidak sering bertemu, Paman Barito satu-satunya orang yang masih peduli pada Aileen meskipun Ayahnya sudah meninggal.
"Mana mungkin Pamanmu ngasih tahu kamu, Ai. Pamanmu tidak mau membebani kamu dengan masalah kami."
"Kamu sudah terlalu sering membantu kami," lanjut Mira.
Aileen mendesah pelan. "Tante dan Paman nggak perlu sungkan sama Ai."
Mira menggenggam tangan wanita muda itu, menepuknya pelan. "Terima kasih Ai. Apa yang kamu lakukan dulu untuk anak kami sangat mulia, bahkan sampai sekarang kami belum bisa membalasnya."
"Gimana kondisi, Ningsih?"
Mira tersenyum senang kala mengingat putri kecilnya. "Sehat, berkat ginjal yang kamu berikan. Sekarang anak itu lebih kuat dan ceria. Dia lagi main di rumah temannya."
"Syukurlah."
Denis menatap Aileen haru. Dia belum pernah mendengar cerita tentang Aileen yang hidup dengan satu ginjal.
"Apa?" Tanya Aileen sengit. Dia merinding melihat Denis menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Denis mengalihkan pandangannya.
"Oh, itu Pamanmu." Seru Mira begitu melihat suaminya memasuki rumah.
"Sayang, lihat siapa yang datang."
Mata Barito berbinar senang begitu melihat keponakannya. "Aileen? apa kabarmu, Nak? Paman sangat merindukanmu," sambutnya.
"Baik, Paman."
Aileen mencium tangan Pamannya lalu mengikuti langkah cepat Barito dan duduk di sampingnya.
"Denis, kamu bisa bantuin Tante? Kebetulan Tante lagi masak ikan kukus, kita siapkan buat Paman dan Kakakmu."
Mira mencoba memberikan waktu untuk suami dan keponakannya. Ia yakin, Aileen datang karena ada hal yang ingin dibicarakannya.
Denis mengangguk patuh lalu mengikuti Mira ke dapur.
"Ai, ada yang mau kamu bicarakan dengan Paman?"
"Hmm," Aileen menatap mata Pamannya ragu. Hatinya menimbang, melihat kondisi Barito saat ini, mustahil bagi Aileen untuk menambah beban pria paruh baya itu.
"Katakan, Nak. Paman pasti membantumu."
Aileen menggeleng cepat. "Nggak ada Paman, semua baik-baik saja," sahutnya riang.
"Ai, kamu butuh uang?"
Aileen terdiam. 'Sejelas itukah?'
"Hmm, ada keadaan mendesak." Aileen mendesah pelan. "Tapi, jumlahnya lumayan besar."
"Berapa, Nak? Katakanlah. Paman akan mengusahakannya untukmu."
"Sembilan puluh juta."
Barito menghela napas panjang. "Itu jumlah yang besar," desahnya.
Aileen mengangguk paham. 'Itu jumlah yang sangat besar. Bahkan, ia tak pernah bisa membayangkan yang sebanyak itu.'
"Boleh paman tahu, untuk apa uang itu?" Selidik Barito. Ia hanya tidak ingin keponakannya terjerat tindak kejahatan.
Aileen terdiam sambil menunduk dalam.
Melihat ekspresi keponakannya, Barito segera tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Apa Ibu mu berulah lagi?"
Aileen mengangkat kepalanya lalu menggeleng tapi reaksinya gagal untuk mengelabui pria yang telah lama mengantikan peran Ayah di hidup Aileen.
Barito mendesah pelan. "Kapan kamu membutuhkannya? Paman bisa meminjam kepada beberapa teman."
Aileen terharu. "Tapi, Paman—"
"Kamu tenang saja. Besok Paman usahakan dan mengantar uangnya ke rumahmu," Barito menepuk pundak Aileen.
"Terima kasih, Paman."
"Tidak perlu berterima kasih. Kamu sudah banyak membantu kami. Sekarang waktunya kami yang membantumu."
"Ayo, ayo, ini waktunya makan siang." seru Mira. Mengajak dua orang yang duduk di ruang tamu untuk bergabung bersama mereka di meja makan.
"Ayo, Nak."
Barito mengiring Aileen untuk ikut bersamanya. "Kamu harus mencoba ikan kukus buatan Tante mu, sangat enak," ujarnya mempromosikan masakan istri tercintanya.
***
"Denis, kamu sudah menyuruh Ibu dan Bapakmu pergi dari rumah?" Tanya Aileen tiba-tiba.
Begitu keluar dari rumah Paman Barito dia segera mengeluarkan topi dari tas dan memakaikannya ke kepala Denis.
Denis mengangguk cepat. "Ibu dan Bapak nginap di rumah Bibi di kota sebelah."
"Kamu juga jangan pulang ke rumah sampai aku menghubungimu."
"Kenapa, Kak?" Tanya Denis bingung.
"Mereka pasti mencari kamu di rumah."
"Siapa? Preman-preman itu?"
Aileen mengangguk. "Lebih baik kamu tinggal di rumah temanmu beberapa hari sampai aku mendapatkan uang untuk membayar mereka."
"Tapi, mereka bisa mencelakai Kak Ai kalau mereka tidak mendapatkan uangnya hari ini," ujar Denis cemas.
"Aku mau sama Kak Ai aja. Jadi aku bisa—"
"Kamu nggak akan bisa melindungi ku," potong Aileen.
"Lebih baik kamu menjauh dariku, jadi mereka tidak bisa mengancam ku," ujarnya kejam.
'Maaf, tapi lebih baik kamu tidak bersamaku karena mereka bisa memanfaatkan mu sebagai kelemahan ku,' desis Aileen dalam hati.
"Kak," rengek Denis sedih. Dia tidak ingin meninggalkan Aileen sendirian menghadapi para preman.
"Pergilah, aku baik-baik saja."
Aileen melompat naik ke dalam angkot yang berhenti untuk mengangkut penumpang, meninggalkan Denis yang masih menatapnya dengan mata sedih.
***
"Akhirnya yang di tunggu pulang juga," seru salah satu preman yang berjongkok di tepi jalan. Mereka menghadang langkah Aileen.
"Aku tidak punya uang hari ini. Kembali dua hari lagi atau tinggalkan kontak kalian. Aku akan menghubungi kalian begitu mendapatkan uangnya," ujar Aileen lalu melanjutkan langkahnya.
"Sialan, Kau pikir aku Bapakmu!"
Preman bertato ular menarik rambut Aileen lalu menghempaskan tubuh kurusnya hingga membentur trotoar.
Aileen merintih kesakitan. Ia memegangi kepalanya yang terbentur tepian trotoar.
"Aku bersabar karena kasihan pada cewek penyakitan kayak kamu."
Pria itu menghadiahkan tendangan ke perut samping Aileen lalu menapakkan kakinya, menginjak-injak seolah tubuh Aileen cucian kotor di dalam ember.
"Akh, sakit."
"Bang, dia bisa mati." Lerai teman pria bertato.
"Biar saja. Toh, sebentar lagi dia juga bakalan mati." Sentak pria bertato marah. Dia kembali melayangkan tendangan ke perut Aileen membuat wanita itu terbatuk darah.
Pria bertato kehilangan kesabaran. Ia meraih batu bata yang tergeletak di pinggir jalan, mengangkatnya ke udara. Bersiap untuk menghantamkan batu itu ke kepala Aileen yang tergeletak lemah tak berdaya.
"Hei, hentikan!"
Seorang pria tampan mengenakan setelan jas berjalan mendekat. Ia melirik wanita yang meringkuk kesakitan di aspal jalan. Ia merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Siapa lagi ini?" Seru pria bertato marah karena seorang pria datang untuk menghalaunya.
"Hentikan! Apa yang kalian lakukan?"
"Jangan ikut campur. Aku cuma menagih uang ku. Perempuan sialan ini harus membayar utang Ibunya sebelum mati."
"Kenapa? Kamu kenal wanita ini? Kalau kenal, kamu saja yang bayar." Hardik preman lainnya sambil tetap menahan tangan pria bertato agar tidak menghantamkan bata itu ke kepala Aileen.
"Berapa? Cepat katakan."
"Seratus juta."
"Jangan—" rintih Aileen susah payah.
"Diam kamu!" Hardik pria bertato. Kakinya menjejak semakin keras di tubuh Aileen.
"Baiklah, berikan nomor rekening. Aku akan mengirimkannya sekarang," ujar pria itu santai sambil mengeluarkan ponselnya.
"Cepat Bro, kasih nomornya. Jangan sampe dia berubah pikiran." Perintah pria bertato pada temannya.
Pria yang mendapatkan perintah segera mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya pada pria misterius.
"Wah, Aileen! Akhirnya kamu mendapatkan pria kaya. Bagus, manfaatkan sebaik mungkin sebelum mati," ejek pria bertato.
Dia menarik rambut Aileen kasar untuk memastikan wanita itu masih bernapas lalu menghempaskan nya lagi ke tanah.
"Hei! Jangan menyentuhnya lagi. Aku sudah mengirimkan uangnya. Pergi dari sini!" Hardik pria yang datang untuk menyelamatkan Aileen.
"Silahkan, ambil. Pakai sesukamu. Walaupun harga seratus juta sangat berlebihan untuk orang yang hampir mati," sindir pria bertato sebelum pergi bersama temannya.
"Hei, Aileen Andita, kamu masih hidup?"
"Bagas?" lirih Aileen.
Bagas membantu Aileen bangun. Ia menopang tubuh kurus itu. "Kita ke rumah sakit."
Aileen menggeleng cepat. "Nggak, aku nggak mau ke rumah sakit lagi," ucapnya terbata.
"Jadi?"
Aileen tak sempat menjawab pertanyaan Bagas karena tubuh lelahnya telah terlelap, tak lagi sadarkan diri.
*****