"Ai, aku tahu kamu orang yang ketus dan dingin, tapi aku nggak nyangka hati kamu sekeras ini."
"Padahal kamu tahu, saat ini Bagas rapuh. Dia butuh pertolongan kamu. Paling tidak, kamu bisa menyemangatinya, menghiburnya."
Aileen mengalihkan pandangannya dari bayangan samar yang berdiri di balik tubuhnya.
[BRUK ...]
"Ai!"
Aira menyongsong tubuh Aileen yang luruh ke lantai.
"Ai, kamu kenapa?" Buru Aira. Ia melihat Aileen menekan perutnya sambil meringis kesakitan. "Sakit banget ya?
"Akh." Rintih Aileen. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, berharap rasa sakit ini segera berlalu.
"Apa yang harus aku lakukan?"
Aileen melambaikan tangannya lalu menepuk lantai. Meminta Aira untuk tenang. Saat ini ia butuh ketenangan untuk dapat meredam gelombang rasa sakit yang tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya.
"Aira, ma-maaf," ucap Aileen terbata.
"Nggak Ai. Kamu nggak perlu minta maaf. Aku tahu, ini juga berat untukmu."
Airmata Aira tak terbendung. Ia mengguncang tubuh Aileen, berharap dapat menyentuhnya. "Demi tuhan Ai, kumohon. Jangan membuatku takut!" Jerit Aira panik karena Aileen tak lagi membuka matanya.
[BRAK!]
Pintu depan tiba-tiba terbuka dengan kasar. Bagas masuk dengan wajah merah menahan amarah.
"Hei, paling tidak kamu ha—"
"Bagas! Ayo cepat tolong Ai. Dia pingsan," buru Aira begitu melihat suaminya kembali masuk ke dalam rumah.
"Hei, cewek gila! Apa yang terjadi padamu?"
"Bagas, bawa Ai ke rumah sakit. Penyakitnya kumat!"
"Hei, bangun!" Bagas menepuk pelan kedua pipi Aileen. "Hei, Aileen Andita. Bangun!"
'Sial! Apa penyakitnya kambuh? Aku harus segera membawanya ke rumah sakit," batin Bagas.
Ia mengangkat Aileen ke dalam dekapannya lalu membawa tubuh yang tak lagi sadarkan diri bersamanya.
***
Daren menghela napas panjang. Seperti yang ia duga, tanpa operasi dan kemoterapi kondisi Aileen akan semakin memburuk. Bahkan, jika Bagas semenit saja terlambat mengantarnya ke rumah sakit, nyawa Aileen bisa saja tidak terselamatkan.
"Gimana kondisinya?" Tanya Bagas begitu melihat Daren keluar dari pintu UGD.
"Buruk."
"Apa sudah separah itu?"
"Di awal aku pikir masih bisa mengandalkan obat-obatan tapi sekarang, operasi adalah jalan terbaik."
Daren melepas sarung tangan dan masker lalu duduk disamping Bagas. "Di mana kamu bertemu Aileen?"
"Oh." Bagas gelagapan, bingung bagaimana baiknya menjawab pertanyaan Daren. "Di jalan," sahutnya singkat.
Bagas tidak mungkin mengatakan pada Daren bila dia sengaja datang ke rumah Aileen untuk menanyakan tentang Aira pada perempuan itu. Daren pasti akan menganggapnya gila.
"Aileen sangat sulit di atur. Padahal aku sudah melarangnya pergi tanpa pengawasan."
Bagas menatap sepupunya curiga. Ini pertama kalinya ia melihat Daren begitu peduli pada pasiennya.
"Kamu menyukai perempuan itu?"
Daren memalingkan wajahnya menghadap Bagas. "Siapa? Aileen?"
"Ya, kamu menyukainya?" Ulang Bagas.
"Untuk sekarang aku tidak tahu apa yang sebenarnya kurasakan. Mungkin ini bukan suka tapi lebih pada empati," jelas Daren
Bagas mengangguk paham. Dari kecil Daren memang kerap kali menunjukkan sikap simpati dan empati yang berlebihan kepada orang lain.
"Bagaimana kondisimu? Lebih baik?" Daren mengalihkan perhatiannya pada Bagas.
"Yah, lumayan."
"Kata Paman, kamu nggak pulang ke rumah?"
Bagas mengangguk ringan. "Sulit bagiku, terlalu banyak kenangan tentang Aira disana."
Daren menepuk pelan pundak Bagas, mengirim energi untuk menguatkannya. "Bangkitlah, Bagas. Istrimu pasti sedih kalau melihat kondisimu seperti ini."
"Ya, Bagas. Aku sangat sedih melihatmu seperti ini," desah Aira yang duduk disamping Bagas.
***
'Hhh, rumah sakit lagi! Aku benci tempat ini,' batin Aileen.
Begitu membuka matanya, Aileen kembali disambut aroma khas, menyengat dari alkohol dan obat-obatan. Perlahan Aileen bangkit untuk duduk.
"Kak Ai?"
Denis yang baru keluar dari kamar kecil segera menghampiri Aileen.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu? Kamu bertengkar dengan teman?" Buru Aileen cemas melihat bekas lebam yang membiru di pipi Denis.
"Nggak kak, aku kepeleset pas main basket," kilah Denis cepat.
Aileen menyipitkan matanya, menatap adiknya tajam. "Kamu nggak bohong 'kan?" Tudingnya.
"Nggak dong, buat apa aku bohong sama Kak Ai."
"Ya udah, jangan lupa diobatin."
Denis tersenyum lalu mengangguk.
"Kenapa aku di ruangan ini?" Aileen heran. Kenapa dia berapa di ruang VIP?
"Oh, Pak dokter bilang Kak Ai harus istirahat di ruangan yang nyaman."
'Nyaman ruangan tapi nggak nyaman bagi dompet,' keluh Aileen dalam hati.
"Besok kita langsung pulang aja," Aileen mengangkat tangannya. Mencegah Denis mendebatnya. "Berapa lama aku nggak sadar?"
"Nggak lama kok, setengah harian," sahut Denis sambil menuangkan air ke dalam gelas lalu memberikannya pada Aileen.
Aileen meneguk perlahan, mengalirkan cairan itu melewati tenggorokannya.
"Kamu nggak ke kampus?"
"Hari ini nggak ada kelas."
"Oh ya, Kak Ai pasti lapar. Sebentar ya, aku siapkan bubur."
"Kamu beli dimana?"
"Nggak. Kak Ai ingat sama cowok yang mau bunuh diri? Dia yang bawa kakak ke rumah sakit terus ngasih bubur ini," jelas Denis.
'Bagas?'
"Dia mengatakan hal lain?"
Denis diam sejenak, mencoba mengingat apa saja yang dikatakan Bagas saat memberinya bubur.
"Nggak ada, Kak. Orangnya rada aneh, nggak banyak ngomong."
'Kayak Kak Ai,' batin Denis.
Denis merogoh saku celananya begitu merasakan getaran ponsel. Ia mengintip dari celah untuk melihat nama di layar ponsel. Wajahnya berubah tegang begitu melihat nama orang yang dikenalnya.
"Kak, Denis keluar sebentar ya."
"Mau kemana? Udah malam." Aileen melirik jam di dinding, 11.30 WIB.
"Cu—cuma mau ketemu teman di lobi depan. Dia datang buat ngantar bahan buat skripsi."
"Ya udah. Cepetan balik, jangan keluyuran," pesan Aileen.
"Iya, Kak." Denis buru-buru, setengah berlari keluar dari ruangan.
Aileen mengerutkan kening melihat gelagat Denis yang gelisah.
'Anak itu kenapa sih?' batin Aileen curiga.
***
"Apa yang kalian lakukan disini?" Hardik Denis begitu melihat dua preman yang datang untuk menagih utang.
Siang tadi mereka mengacau di warung kopi dimana Denis kerja, akibatnya Denis di pecat tanpa diberikan sedikitpun sisa gaji.
"Bocah ini sudah berani membentak kita, Sob. Gimana kalau kita matiin aja?"
Kaki Denis bergetar, ancaman itu membangkitkan rasa takut yang terus berusaha di tepis olehnya.
"Kamu pengen di hajar lagi kayak tadi siang ya?"
'Aku harus kuat! Demi Kak Ai,' batin Denis.
"Ka—kalian harus pergi dari sini! Jangan sampai Kak Ai melihat kalian, dia sakit."
"Peduli setan sama kakakmu yang penyakitan itu!" Hardik salah satu preman. Ia menerjang, menggapai kerah kemeja Denis. "Bayar utang! Aku sudah muak setiap hari mengejar-ngejar sampah seperti kalian."
"Hentikan!" Sebuah tangan menarik lepas tangan preman dari kerah baju Denis. "Menjauh darinya!"
Aileen datang, menarik Denis menjauh dan menyembunyikan Denis di balik tubuhnya. "Aku sudah pernah memperingatkan kalian, jangan pernah menyentuh adikku!"
"Oho, ini dia si penyakitan. Mana janji mu, kamu bilang mau membayar utang Ibumu."
"A—aku,"
"Jangan coba-coba membuat alasan! Kali ini kami tidak akan percaya padamu lagi."
"A—aku akan segera membayar semuanya tapi kalian harus memberi ku waktu."
"Kagak ada waktu-waktu! Sikat aja sekarang, matiin," ujar preman lain untuk memprovokasi.
"Jangan!" Teriak Aileen takut. Ia menjauhkan Denis dari jangkauan tangan para preman. "Jangan menyakitinya," ucapnya dengan suara bergetar.
"Aku janji! Ini yang terakhir, be—besok aku akan memberikan uangnya," mohon Aileen. Ia takut para preman menyakiti Denis.
"Besok, besok hari terakhir mu. Kalau sampai kamu bohong, aku akan mengorok leher adik kesayanganmu itu."
"Ya, ya! Besok aku akan memberikan uangnya," ucap Aileen diantara airmata nya.
'Tuhan!'
*****