"Pak?"
Bagas membalikkan badannya begitu mendengar suara Gio—asisten pribadinya.
"Kamu menemukan wanita itu?"
Pria yang mengenakan jas hitam dengan dasi berwarna senada, menyerahkan sebuah amplop kepada Bagas. "Ini semua informasi tentang wanita bernama Aileen Andita."
Bagas mengangguk puas. Membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan lembaran kertas berisi informasi pribadi Aileen. Perempuan yang tiba-tiba menghilang setelah mengatakan omong kosong.
"Kanker perut stadium dua?" Bagas melirik asistennya. "Kamu yakin?"
"Ya, Pak. Saya sudah mengonfirmasikan data ini dengan rekam medis di rumah sakit."
Bagas kembali membaca baris demi baris riwayat hidup Aileen. Keningnya mengerut semakin dalam.
'Di sepanjang hidupnya, perempuan ini membawa nasib buruk bersamanya,' pikir Bagas.
"Siapkan mobil, Gio. Kita harus segera bertemu dengannya," perintah Bagas pada asistennya yang disambut oleh anggukan cepat.
"Bagas, apa yang akan kamu lakukan?"
Tak jauh dari sana, Aira berdiri menatap suaminya dengan ekspresi cemas. Dia berdoa, semoga apa yang akan dilakukan Bagas tidak semakin membebani hidup Aileen.
***
"Kak Ai, tidak bisakah kakak tinggal bersama kami? Denis tidak tenang meninggalkan Kak Ai sendirian disini." Ulang Denis untuk ke sekian kalinya.
Sejak Aileen keluar dari rumah sakit, setiap hari Denis menyempatkan diri mengunjungi rumah saudara tirinya untuk memastikan Aileen meminum obatnya, makan dan istirahat yang cukup.
Aileen menggeleng tegas. "Aku tidak berencana mati besok. Walaupun tidak banyak tapi aku masih punya waktu untuk hidup beberapa hari lagi."
Denis menghela napas berat. "Kak, bisakah kamu berhenti bercanda seperti itu? Aku sedih setiap kali mendengarnya."
"Aku hanya mengatakan kenyataan," kilah Aileen.
Wajah Denis meredup. "Aku tahu, tapi sulit bagiku untuk menerimanya."
Airmata mengenang di pelupuk mata Denis. Ia ingin menangis sekencang-kencangnya tapi bertahan agar tidak membuat Aileen semakin tertekan karena kesedihannya.
"Belajarlah, saat waktunya tiba tidak akan terasa berat."
"Kak," rengek Denis semakin sedih.
"Sudahlah, aku capek. Lebih baik kamu pulang," sergah Aileen. Dia tidak ingin berlama-lama meratapi nasib.
"Kak, hubungi aku bila kamu membutuhkan sesuatu," pesan Denis. Meski Aileen telah memastikan bahwa dirinya baik-baik saja tapi, Denis tetap cemas bila meninggalkan saudara tirinya sendirian di rumah ini.
Aileen mengangguk paham lalu menarik daun pintu untuk menutupnya.
"Ah satu lagi," tahan Denis. "Jangan lupa minum obat terus kalau perut Kak Ai terasa sakit—"
"Ya, ya. Aku sudah ingat semuanya," potong Aileen lalu menutup pintu itu cepat tanpa mau mendengar kelanjutan rentetan nasihat beserta rengekan Denis.
"Kenapa dia mengatakan hal yang sama berulang kali," gumamnya kesal.
Aileen membongkar keranjang pakaian kotor, memasukkan satu persatu kain ke dalam mesin cuci tua, satu-satunya barang yang tidak berhasil di jual oleh Ibu.
Ia mendesah pelan, matanya menyusuri setiap sudut ruangan 4x6 meter itu. Dua Minggu telah berlalu sejak terakhir kali Aileen membersihkan ruangan ini. Melihat ketebalan debu di atas meja, Aileen yakin ini saat yang tepat untuk bersih-bersih.
'Di mana aku meletakkannya?' batin Aileen sambil mengubek-ngubek barang, mencari sapu ke setiap sudut ruangan.
[Trrrt ... Trrrt ...]
'Hhh, apalagi yang mau dikatakan anak itu,' batin Aileen begitu mendengar suara bel pintu rumahnya.
Aileen menarik kasar pintu dan bersiap untuk menghardik orang yang berdiri di depan pintu, tapi ia segera mengatupkan bibirnya kembali begitu melihat dua wajah yang tak asing—berdiri diambang pintu, menatapnya dengan ekspresi yang berbeda.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
Aira tersenyum datar lalu menggeser tubuhnya. Membuka jalan bagi seorang pria yang berdiri tepat dibelakangnya.
"Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri secara resmi lagi?"
Aileen mengerutkan keningnya bingung. "Apa yang kamu lakukan disini?" Ulangnya dengan pertanyaan yang sama tetapi ditujukan pada orang yang berbeda.
Bagas tersenyum sinis. Ia merentangkan tangan untuk membuka pintu lebih lebar lalu beranjak masuk tanpa memberi kesempatan Aileen untuk bereaksi.
"Apa? Ah, s**t!" Aileen menahan dirinya untuk mengulang pertanyaan yang sama. "Darimana kamu tahu rumahku?" Selidiknya.
Aileen melirik Aira curiga, ia mengirimkan pertanyaan beserta ancaman. Namun Aira dengan cepat menyilangkan tangan sebagai pertanda bahwa dia tidak terlibat.
Bagas menarik satu-satunya kursi yang ada di ruang makan. "Sepertinya kamu tinggal sendirian di gubuk ini," ejeknya.
Aileen mendesis kesal. "Sepertinya kamu sudah cukup sehat untuk datang ke rumah orang lain dan mengejek pemilik rumah," balasnya tidak mau kalah. Ia menyilangkan kedua lengannya di depan d**a. Menantang pria tidak sopan yang masuk ke dalam rumahnya tanpa izin dan mengenakan sepatu.
"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Aileen ketus.
Bagas berdecak kesal. Seperti profil yang diberikan asistennya, Aileen Andita bukanlah perempuan manis yang lugu layaknya perempuan pada umumnya.
"Aku datang untuk membahas apa yang kamu katakan hari itu."
"Maksudmu?" Aileen menaikkan sebelah alisnya.
"Aira?" Tebaknya.
"Ya." Rahang Bagas mengeras saat mendengar nama istri tercintanya keluar dari mulut Aileen dengan nada ketus.
"Apa maksudmu mengatakan istriku masih disini? Disisi ku."
Aileen menggaruk tengkuknya sambil melirik Aira.
"Ai, tidak bisakah kamu menyampaikan perasaanku pada Bagas?" Pinta Aira.
Aileen menatap hantu cantik itu lamat-lamat, beralih pada Bagas lalu kembali menatap Aira sambil menggeleng lemah.
'Maaf, tidak ada gunanya memupuk harapan palsu. Saat dua dunia tak lagi sama, mustahil bagi hati untuk kembali terpaut,' lirihnya dalam hati.
"Maaf, aku hanya mengarang cerita," ucap Aileen tegas.
"Apa?!"
"Yah, aku hanya membuat alasan untuk membuatmu turun dari pagar itu."
Aileen terhenyak oleh ekspresi kecewa sekaligus tersakiti di wajah Bagas.
"Ai, kamu jahat," lirih Aira sedih. Airmata mengalir di pipinya melihat kondisi Bagas yang semakin terpuruk.
"La-lagian, apa kamu bodoh? Percaya pada hantu? Konyol," lanjutnya dengan nada mengejek.
"Cukup Ai, kamu menyakitinya!" Jerit Aira pilu.
Bayangan itu menyongsong tubuh suaminya, berusaha memeluk pria itu. Namun hanya ruang hampa yang tergapai. Membuat tangisnya semakin keras, menyayat hati.
Aileen mendesah dalam. Hatinya juga teriris sembilu namun Aileen tak bisa begitu saja melawan takdir. Ia menguatkan diri, sengaja membuat Bagas melupakan apapun yang Aileen katakan sekaligus belajar untuk merelakan kepergian Aira.
"Ka—kamu? Kamu hanya membuat alasan? Kamu hanya main-main?"
"Kamu gila!" Umpat Bagas kasar.
Bagas terbata tak percaya dengan apa yang sedang terjadi. Ia mengeram marah, bangkit dari posisinya dan membanting kursi dimana sebelumnya dia duduk. Wajahnya merah padam, terbakar oleh amarah. Harapan yang dijaganya dengan sudah payah sampai beberapa detik lalu seolah menguap hingga tak bersisa.
"Aku berjanji, kamu akan mendapatkan balasan yang setimpal atas apa yang kamu lakukan," kecamnya. Dia berlalu, keluar dan membanting pintu.
'Aku akan memastikan kamu membayar semua omong kosong mu,' batin Bagas penuh amarah.
*****