"Kenapa kamu tidak hati-hati? Sebelum menolong orang lain, pikirkan dirimu sendiri dulu."
Aileen mengerutkan keningnya hingga berlapis-lapis. Telinganya lelah mendengar rentetan omelan Daren yang di mulai sejak satu jam yang lalu.
Pria itu terus mengingatkan tentang kondisi tangannya sambil menjahit serta membalut ulang perban.
"Berhentilah mengomel. Kalau di hitung, omelan mu sama panjangnya dengan perban ini," keluh Aileen.
Dia menunjuk tangannya yang di bebat dengan sangat rapat.
"Lagipula, jika aku sibuk memikirkan diriku sendiri, kapan aku menolong pria bodoh itu?" bantah Aileen tapi dia buru-buru menutup mulutnya karena Daren mendelik tajam.
"Oke, aku salah." Aku-nya menyerah.
"Ke depannya kamu harus lebih berhati-hati," ucap Daren lebih tenang.
Ia merapikan peralatan yang digunakannya untuk menjahit ulang luka Aileen lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.
"Kamu mengenal, Kak Bagas?"
"Kak Bagas? Kalian dekat?" Balas Aileen.
Daren mengangguk kecil. "Dia sepupuku," jelasnya.
"Oh. Kebetulan sekali."
"Kamu mengenalnya?" Ulang Daren.
"Nggak, aku mengenal orang lain."
"Siapa? Kak Aira?"
Aileen terdiam sesaat, menimbang baik dan buruknya bila ia mengatakan yang sebenarnya. "Yah, seperti itulah," sahutnya.
"Di mana dan kapan? Kak Aira tidak pernah cerita punya teman sepertimu." Otak Daren bekerja keras untuk mengingat sosok Aileen dalam setiap cerita Aira.
Aileen mengukir rasa penasaran akan maksud kalimat dokter tampan itu.
"Seperti, apa?"
"Seperti, kamu."
"Miskin? Jelek?" tebak Aileen.
Daren terkekeh. "Bukan, Kak Aira tidak pernah menceritakan keburukan orang lain."
Aileen menganggukkan kepala. "Aku hanya sekedar mengenal Aira. Jadi wajar bila dia tidak menceritakan apapun karena tidak ada yang spesial dari pertemuan kami."
"Mungkin." Daren mencoba memahami maksud Aileen meski rasa penasaran masih mengusiknya.
"Sudah selesai?" Tanya Aileen sambil mengangkat tangannya.
"Sudah."
"Terima kasih."
"Kamu yakin mau keluar rumah sakit hari ini?"
Aileen mengangguk. "Aku sudah tidak sabar keluar dari tempat ini."
"Tunggulah di lobi. Aku akan mengantarmu dan Denis."
"Nggak usah. Kamu pasti sibuk, lagian Denis juga bawa motor," tolak Aileen cepat.
Daren mendesah pasrah. "Ya udah, hati-hati."
"Oke."
Aileen menyusuri lorong rumah sakit. Langkahnya terhenti begitu melewati pintu masuk ruang VIP. Rasa penasaran menelisik hatinya. Aileen ingin tahu kondisi suami Aira. Mudah-mudahan pria itu tidak mati karena syok yang dialaminya pasca jatuh ke lantai.
"Ai," panggil Aira. "Kamu mau ke mana?"
"Pulang."
Aira melirik pergelangan tangan Aileen yang kembali di perban. "Terima kasih."
"Untuk?"
"Karena kamu mau menolong Bagas."
Aileen mengendikkan bahunya. "Tidak perlu berterima kasih. Aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan waktu itu."
"Kamu memang anak yang baik," ucap Aira sambil tersenyum puas. "Seperti yang Bu Mardiana katakan."
"Kalian harus berhenti bergosip," desis Aileen jengah.
Aira terkekeh geli. "Apa kita bisa bertemu lagi, Ai?"
Aileen terdiam, tak lama ia menggelengkan kepala tegas. "Tidak."
Wajah Aira meredup sedih. "Aku akan merindukanmu," lirihnya.
"Selamat tinggal, Aira. Semoga kamu secepatnya mendapatkan kedamaian." Pamit Aileen. Ia meneruskan langkahnya untuk menyusul Denis yang menunggunya di lobi depan rumah sakit.
***
Bagas membuka matanya perlahan, samar-samar dia dapat melihat bayangan orang-orang yang menatapnya. Ayah, Ibu, wajah keduanya tampak lelah. Mereka pasti telah menjalani hari-hari yang melelahkan sejak kecelakaan yang menimpa anaknya.
"Aira," gumam Bagas pilu karena tidak menemukan sosok istrinya.
"Bagas, kamu harus kuat, Nak." Ibu menggenggam tangan Bagas. Memberi dukungan pada putra semata wayangnya.
"Ibu?"
"Ya Bagas. Ibu disini."
"Di mana Aira?"
"Nak, Aira sudah pergi. Istrimu sudah tenang di sisi Tuhan," sahut Ibu.
Bagas mengerutkan keningnya. Ia beranjak dari posisi tidurnya. "Tidak Bu. Aira ada di sini, dia masih di sisiku."
"Bagas," tangisan Sang Ibu kembali pecah melihat kondisi putranya. Sang Ayah yang berada disampingnya kembali memapah sang istri, menguatkannya.
"Bu, Aira masih di sini. Wanita itu mengatakan Aira masih bersama kita."
Ibu menggeleng kuat, meremas baju suaminya. Ia tak kuat melihat Bagas bertingkah seperti orang gila.
"Bagas, sadarkan dirimu. Aira sudah meninggal," sentak Ayah marah. Dua Minggu telah berlalu tapi Bagas tidak juga bisa menerima kenyataan bahwa istrinya telah meninggalkan dunia ini.
"Nggak, Ayah dan Ibu harus percaya. Aira ada disini," ujar Bagas yakin. "Perempuan itu,"
Bagas menarik lepas selang infus yang menancap di lengannya lalu turun dari ranjang. "Perempuan itu, aku harus mencarinya. Dia tahu Aira ada di mana," lanjutnya.
"Bagas, Bagas!" Ayah dan Ibu berteriak panik karena Bagas berlari ke luar ruangan seperti orang gila. "Kembali, Nak!"
'Aku harus menemui perempuan itu. Dia tahu di mana Aira,' batin Bagas. Ia berlari cepat menyusuri lorong rumah sakit. Ia berlari ke sembarang arah untuk menemukan tempat untuk bertanya.
"Suster, di mana ruangan wanita itu?" Sentaknya langsung begitu menemukan meja suster jaga.
"Maaf, wanita yang mana Pak?" Tanya suster bingung.
"Itu, wanita yang menolong saya di atas," jelas Bagas panik.
"Bagas, ngapain kamu di sini?" Sapa Daren. Ia melirik kedua suster yang berjaga, bertanya tentang masalah yang terjadi. Para suster kompak menggelengkan kepala.
"Daren, kamu kenal wanita yang bersamaku di atap?" Buru Bagas.
"Maksud kamu, Aileen?"
"Aileen? Namanya Aileen?"
Daren menahan kedua pundak sepupunya. "Bagas, tenang dulu. Lebih baik sekarang kita kembali ke ruangan mu."
Bagas menggeleng cepat. "Tidak, aku mau mencari perempuan itu. Dia tahu di mana Aira."
Kening Daren mengerut mendengar kalimat Bagas. "Apa maksudmu?"
"Dia tahu di mana Aira. Katanya istriku masih disini, bersamaku."
"Bagas, kamu butuh banyak istirahat. Ayo, aku antar ke ruangan—"
"Nggak." Bagas menepis tangan Daren yang menariknya untuk kembali ke ruangan. "Aku harus menemui perempuan itu." Sentaknya berkeras.
"Suster, ambilkan obat penenang," perintah Daren cepat.
"Daren, minggir. Aku mau mencari perempuan itu." Bagas berkelit dari cengkraman tangan Daren yang mengetat di kedua lengannya.
"Percuma Bagas, Aileen sudah keluar dari rumah sakit."
"Apa? Dia pergi?" Bagas berhenti berontak.
"Ya, siang tadi Aileen keluar dari rumah sakit."
"Kalau begitu berikan alamat rumahnya, kamu tahu 'kan?"
Daren menggeleng pelan, bukan karena tidak tahu alamat rumah Aileen tapi ia khawatir dengan kondisi Bagas saat ini. Semenjak kematian istrinya , Bagas mengalami depresi berat hingga sulit dikendalikan. ia telah menyarankan terapi kejiwaan kepada kedua orang tua Bagas, sebelum semuanya terlambat.
Tubuh Bagas luruh, terduduk di lantai. "Sialan, perempuan itu—" geramnya marah. Airmata nya tak tertahankan. "Daren, aku harus segera menemukan perempuan itu. Hanya dia yang bisa melihat Aira."
Daren mengangguk paham lalu menepuk pelan pundak sepupu sekaligus sahabatnya.
"Dok, ini." Suster menyodorkan jarum suntik.
Daren segera mengambil dan menusukkannya ke lengan Bagas. "Istirahatlah," ucapnya menenangkan Bagas.
"Kamu harus kuat menghadapi cobaan ini."
*****