Tekanan datang dari segala arah sekaligus, seperti air yang menemukan tiap retakan.
Di Puskesmas, dr. Pram memanggil Rani ke ruangannya dengan map laporan beban kerja terbuka di meja. "Aku sudah peringatkan kamu soal ini. Sekarang kamu pegang Sutejo yang masih rapuh dan butuh kunjungan rutin, plus kasus Wulan yang menurut catatanmu sendiri kegawatan psikiatri. Dua-duanya butuh kamu setiap hari. Kamu nggak punya badan dua, Rani." Ia menutup map. "Aku nggak bilang berhenti. Aku tanya: kalau besok kamu harus pilih satu, mana yang kamu tinggalkan? Karena dengan tenaga yang ada, kamu akan dipaksa memilih, dan aku nggak mau itu terjadi pas kamu sudah terlalu capek buat mikir jernih."
Rani tak punya jawaban yang jujur dan tak menyakitkan sekaligus, jadi ia diam.
Di desa, masalah lain memanas. Pak Lurah mengumumkan akan ada kunjungan pejabat kabupaten bulan depan—penilaian desa, mungkin ada bantuan, mungkin ada nama baik. Dan Pak Hardi, kepala dusun, menerjemahkan itu dengan caranya sendiri. Ia mengumpulkan beberapa tokoh dan melontarkan gagasan yang membuat Rani mendingin saat Bu Inah menceritakannya: agar kampung "bersih" dan "tertib" saat pejabat datang, orang-orang bermasalah sebaiknya "ditertibkan"—dikondisikan di rumah masing-masing, tidak berkeliaran, tidak terlihat. Bahasa halus untuk dikunci, dikurung, dipasung sementara. Termasuk, tentu saja, Sutejo yang baru saja bebas.
"Dia bilang," Bu Inah menirukan dengan getir, "'jangan sampai pejabat lihat ada orang gila keluyuran di kampung kita, malu-maluin'."
Maka inilah peta sebenarnya yang harus dinavigasi Rani: bukan melawan satu penjahat, tapi melawan ketakutan yang berbaju ketertiban, kemiskinan yang berbaju kasih sayang keliru, dan kelelahan yang berbaju realisme anggaran. Tiap sekutu punya batasnya. dr. Pram benar soal tenaga. Pak Hardi tidak merasa jahat—ia merasa menjaga nama baik kampungnya. Bahkan keluarga Wulan, yang mengunci menantu mereka, melakukannya karena versi cinta dan malu yang berlilit jadi satu.
Malam itu Rani duduk sendiri di depan peta titik merah, kelelahan yang ia tahan berminggu-minggu mulai menembus pertahanannya. Tangannya gemetar bukan karena takut, tapi karena kurang tidur, kurang makan, dan beban janji yang ia buat di gudang itu—"kamu nggak akan jadi kakakku"—yang sekarang terbelah dua: Sutejo di satu sisi, Wulan di sisi lain, dan ia hanya satu orang.
Ini titik yang dulu ia baca di buku teks dengan nama yang dingin: kelelahan empati, burnout. Ia tahu gejalanya pada orang lain. Mengenalinya pada diri sendiri jauh lebih sulit. Yoga menemukannya pagi-pagi tertidur di kursi ruang konseling, dan tak berkata apa-apa, hanya menaruh teh hangat di sebelahnya dengan kelembutan yang membuat Rani hampir menangis.
Lalu kabar dari Mas Bayu mengubah segalanya menjadi keputusan yang tak bisa ditunda. Ia menelepon dengan suara panik di pagi hari: semalam Wulan hampir berhasil membuka jendela papan kamarnya, dan saat ibunya masuk, ia mendapati menantunya berdiri memegang bantal, bicara pada bayi yang bahkan tidak ada di kamar itu, menyuruh "suara itu" berhenti memerintahnya. Keluarga makin yakin guna-guna. Mereka berencana memanggil orang pinter dari luar kota, ritual semalam suntuk, dan—ini yang membuat Rani berdiri dari kursi—mereka berencana memindahkan bayi sepenuhnya ke rumah saudara di kota agar "aman dari ibunya", memutus Wulan dari satu-satunya tali yang mungkin masih menahannya pada kenyataan.
Rani tahu, dengan kepastian klinis yang tak menyisakan ruang tawar, bahwa Wulan harus dirujuk ke RS Jiwa provinsi. Bukan minggu depan. Sekarang. Kondisi seperti ini, psikosis pascapersalinan dengan ide menyakiti bayi dan diri sendiri, adalah salah satu dari sedikit keadaan di mana rawat inap jiwa bukan pilihan melainkan keharusan untuk menyelamatkan nyawa—dua nyawa.
Tapi merujuk Wulan berarti melawan tiga tembok sekaligus. Keluarga yang menolak karena malu dan percaya guna-guna. Pak Hardi yang justru ingin semua "orang bermasalah" disembunyikan menjelang pejabat datang, dan akan menghalangi apa pun yang membuat kampung terlihat "punya orang gila yang dibawa ke RSJ". Dan dr. Pram yang sudah memperingatkan bahwa tenaga tim ini tak cukup untuk dua kegawatan.
Rani berdiri di depan peta itu untuk waktu yang lama. Lalu ia mengambil ponselnya dan mulai mengetik—pesan ke Ustaz Karim, ke Mas Bayu, ke dr. Pram, ke Yoga. Ia membuat keputusan yang ia tahu akan menabrak kepala dusun secara terbuka, yang mungkin merusak hubungan rapuh yang ia bangun di kampung ini, yang mungkin membuat program keswa Puskesmas dicap pembuat onar. Ia memilih melewati garis yang selama ini ia jaga hati-hati: jangan bikin ribut, jangan lawan aparat desa.
Untuk Wulan dan bayinya, malam itu, Rani memutuskan ia akan membuat ribut. Ia mengetik kalimat terakhir ke grup tim dengan tangan yang akhirnya berhenti gemetar: "Besok subuh kita rujuk Wulan. Apa pun caranya. Sebelum keluarganya pindahkan bayinya dan sebelum Pak Hardi sempat menghalangi. Saya yang tanggung jawab."