Subuh itu dirakit dari potongan-potongan kebaikan yang tak ada satu pun cukup sendirian.
Ustaz Karim datang ke rumah keluarga Wulan sebelum azan selesai, duduk bersama ibu mertua dan mertua lelaki, dan dengan kewibawaan yang tak dimiliki seragam Puskesmas mana pun, ia berbicara. Ia tidak menyangkal yang gaib, ia hanya berkata bahwa menjaga nyawa adalah kewajiban yang mendahului segala kekhawatiran tentang nama baik, bahwa membiarkan seorang ibu dan bayinya dalam bahaya demi menghindari omongan tetangga adalah dosa yang jauh lebih besar daripada aib mana pun. Ketika ibu mertua menangis dan berkata, "Nanti kampung bilang menantu saya gila," ustaz menjawab pelan, "Lebih baik kampung bilang dia sakit dan diobati, daripada kampung melayat. Pilih, Bu."
Mas Bayu, dengan keberanian yang baru ia temukan, berdiri di sisi Rani melawan ibunya sendiri untuk pertama kalinya. dr. Pram menulis surat rujukan kegawatan psikiatri dengan tangan yang akhirnya tak ragu, dan—mengejutkan Rani—menyodorkan amplop berisi uangnya sendiri untuk menambal ongkos. Yoga dan Bu Inah mengumpulkan urunan: sebagian dari kantong tim, sebagian dari jamaah langgar Ustaz Karim, sebagian dari kotak amal yang dibuka khusus. Cukup untuk mencarter mobil, bensin pulang-pergi, dan beberapa hari menunggu. Tiga jam perjalanan ke RS Jiwa provinsi yang selama ini jadi tembok, pagi itu, runtuh oleh tangan-tangan yang bergotong-royong menambalnya.
Wulan, yang sudah Rani beri obat penenang dengan persetujuan suami, tenang di sepanjang jalan, kepalanya bersandar di pundak Mas Bayu yang menggendong bayi mereka di pangkuan. Di RS Jiwa, seorang psikiater menerima mereka, membaca surat dr. Pram, memeriksa Wulan, dan mengangguk. Ada tempat. Ada penanganan. Ibu dan bayi diselamatkan tepat waktu, di hari yang—Rani tahu betul—seandainya tertunda satu-dua hari lagi, mungkin berakhir di sumur belakang rumah itu.
Di perjalanan pulang, sendirian di kursi belakang mobil carter, Rani membiarkan dirinya merasakan sesuatu yang nyaris tak pernah ia izinkan: lega. Satu nyawa, dua nyawa, lepas dari kamar terkunci. Mahal, nekat, hampir mustahil—tapi berhasil. Ia menyandarkan kepala ke kaca, dan untuk beberapa kilometer, ia membiarkan matanya terpejam.
Ponselnya berdering saat ia hampir tiba di Tanjung Wuni. Bu Surti. Suaranya parau, seperti orang yang sudah lama menangis dan menyerah. "Mbak Rani. Maaf. Maaf, Mbak. Semalam Tejo... dia teriak-teriak, ngamuk, mecahin barang. Kami nggak bisa hubungi Mbak, telepon nggak diangkat. Kami panik, Mbak. Bapaknya nggak tahu harus gimana. Jadi kami..." Kalimat itu tak ia selesaikan. Ia tak perlu.
Rani turun dari mobil di mulut gang dan berlari. Embun masih menggantung di daun, pagi baru mulai hangat, ayam tetangga berkokok seolah hari ini sama seperti hari-hari lain. Ia menerobos halaman rumah Darmin, ke samping, ke bagian rumah yang tak punya jendela menghadap jalan. Bau itu menyambut lebih dulu daripada gelap—bau yang ia kenal, bau yang selalu lebih dulu tahu daripada pikirannya.
Sutejo duduk di sudut gudang, di atas dipan bambu yang sama. Kakinya—pergelangan kaki kanannya, yang seminggu lalu untuk pertama kali dalam belasan tahun bebas dari kayu—terkurung balok itu lagi. Paku-paku baru. Rantai sepeda yang sama. Tapi luka di pergelangannya, yang dengan susah payah mulai mengering selama berminggu perawatan, kini menganga kembali, lebih dalam dari sebelumnya, merah basah di mana kayu menjepit kulit yang belum sempat pulih. Ia tak mengamuk lagi. Ia hanya menatap satu titik di lantai, jauh, seperti orang yang sudah kembali berhenti menunggu siapa pun datang.
Dan di lantai semen, di dekat kaki dipan, tergeletak selembar kertas. Rani mengenalinya bahkan sebelum ia memungutnya—surat rujukan RS Jiwa provinsi untuk Sutejo, yang ia simpan rapi sejak berminggu lalu, menunggu celah. Entah bagaimana berkas itu sampai kemari, mungkin sempat diurus diam-diam, mungkin dititipkan, mungkin dijemput oleh tangan yang putus asa di malam ketika Rani tak mengangkat telepon karena sedang menyelamatkan nyawa lain di kamar terkunci tiga gang dari sini. Di sudut kertas itu, sebuah cap dan tulisan tangan petugas: rujukan tidak dapat diproses. Kuota rawat inap penuh. Biaya transport tidak tertanggung.
Rani memegang surat itu. Ia memandang kaki Sutejo, lalu surat di tangannya, lalu kaki Sutejo lagi. Pagi ini ia telah membebaskan satu tubuh dari kamar terkunci dengan tangan-tangan banyak orang yang bergotong-royong, dan pada pagi yang sama, di gudang ini, sebuah tubuh yang telah ia bebaskan seminggu lalu dikembalikan ke rantai—karena pada malam ketika ia dibutuhkan, ia hanya satu orang, dan satu orang tak bisa berada di dua kamar terkunci sekaligus.
Sutejo mengangkat matanya. Pelan, seperti seminggu lalu. Tapi kali ini, ketika tatapannya menemukan wajah Rani, tak ada lagi pertanyaan apakah aman untuk diperlakukan sebagai manusia. Hanya ada sesuatu yang jauh lebih menghancurkan: ia menatapnya seperti orang yang pernah, untuk sesaat singkat, percaya—dan kini tahu bahwa percaya pun ada harganya.
Rani berlutut di lantai yang dingin, surat rujukan yang ditolak itu lemas di tangannya, dan untuk pertama kali sejak ia berdiri di depan kelas dan mendengar nama dari penyakit yang membunuh kakaknya, untuk pertama kali sejak ia bersumpah pulang ke kecamatan ini dan tak membiarkan Bagas-Bagas lain mati di balik papan—untuk pertama kali, ia tidak tahu apakah ia sanggup.