Rani tak bisa melepaskan titik merah di Wuni Tengah dari kepalanya. Maka dengan dalih kunjungan Posyandu, ia dan Bu Inah datang ke rumah belakang masjid itu pada pagi yang masih basah embun—membawa timbangan bayi sebagai alasan yang tak bisa ditolak siapa pun.
Rumah itu bersih, terawat, justru lebih rapi dari rata-rata. Itu yang pertama mengganggu Rani: aib paling dalam sering disembunyikan di balik rumah paling rapi. Nenek—ibu mertua Wulan—menyambut dengan ramah berlebihan, menggendong bayi laki-laki gemuk berusia sekitar tiga bulan, sigap menjawab tiap pertanyaan tentang imunisasi dan berat badan. Bayinya memang sehat. Tapi tiap kali Rani menanyakan ibunya, jawaban yang sama meluncur: "Wulan lagi istirahat. Capek. Habis lahiran kan butuh pulih."
Dari ruang depan, Rani bisa melihat sebuah pintu kamar di lorong belakang. Pintu itu diselot dari luar. Sebuah selot besi, dipasang baru, mengilap di kayu yang tua.
Suami Wulan, Mas Bayu, pulang dari menjaga toko saat mereka hampir pamit. Lelaki muda itu, mungkin seusia istrinya, punya wajah yang membuat Rani menahan langkah—wajah orang yang sedang hancur pelan-pelan dari dalam. Ketika ibunya masuk menidurkan bayi, Rani mendekat dan bicara rendah, cepat, sebelum kesempatan hilang.
"Mas Bayu. Saya perawat jiwa di Puskesmas. Saya nggak ke sini buat nuduh siapa-siapa. Saya cuma mau bantu Wulan. Saya tahu di balik pintu itu istri Mas."
Bahu lelaki itu runtuh. Ia menengok ke arah dapur memastikan ibunya tak dengar, lalu bicara dengan suara pecah, kalimat yang sudah terlalu lama ia tahan. "Saya nggak tahu harus gimana, Mbak. Dia berubah habis lahiran. Awalnya cuma sedih terus, nangis, nggak mau gendong bayinya. Saya kira baby blues, kata orang nanti hilang sendiri. Tapi makin lama makin parah. Dia ngomong sendiri. Bilang bayi kami bukan bayi kami, bilang ada yang nyuruh dia... nyuruh dia nyakitin anak kami." Suaranya nyaris tak terdengar. "Sebulan lalu saya pergoki dia... dia gendong bayi kami di atas sumur. Pandangannya kosong. Saya rebut anak saya tepat waktu."
Rani menahan napas. Di kepalanya, gambaran klinis menyusun diri dengan dingin dan mendesak: psikosis pascapersalinan. Bukan baby blues, bukan sekadar depresi pascamelahirkan—ini bentuk yang lebih jarang dan jauh lebih berbahaya, di mana seorang ibu kehilangan pijakan pada kenyataan dan, dalam genggaman waham, bisa membahayakan dirinya sendiri atau bayinya. Ini bukan kasus yang bisa diawasi pelan-pelan selama berbulan seperti Sutejo. Ini kondisi di mana hari, kadang jam, menentukan ada atau tidaknya tragedi.
"Keluarga manggil orang pinter," lanjut Mas Bayu. "Bilang Wulan kena guna-guna dari orang yang iri sama pernikahan kami. Ibu saya yakin banget. Dia bilang kalau Wulan dibawa ke dokter jiwa, malah aibnya kebuka, satu kampung tahu menantunya gila, anak saya nanti dapet cap. Jadi... jadi dia dikunci. Biar aman. Biar nggak nyelakain bayinya, biar nggak ada yang tahu." Air mata jatuh di pipinya. "Saya cinta istri saya, Mbak. Tapi saya juga takut sama anak saya. Saya kayak harus milih, dan saya nggak bisa milih."
Rani minta izin melihat Wulan. Mas Bayu menggeser selot dengan tangan gemetar.
Kamar itu remang, jendelanya ditutup papan. Di atas kasur tipis, seorang perempuan muda duduk memeluk lutut, rambutnya panjang tak terurus, menatap dinding. Tubuhnya kurus—jelas tak cukup makan. Tapi yang menghantam Rani bukan keadaan fisiknya. Yang menghantamnya adalah ketika Wulan menoleh, dan dari mata itu Rani melihat dua hal bertumpuk: ketakutan murni seorang manusia yang terjebak, dan, di baliknya, kabut waham yang membuatnya tak sepenuhnya berada di kamar itu bersama mereka.
"Wulan," Rani bicara selembut yang ia bisa, jongkok di lantai, menjaga jarak. "Nama saya Rani."
Wulan menatapnya lama. Lalu berbisik, dan bisikannya membuat bulu kuduk Rani berdiri bukan karena takut, tapi karena urgensinya: "Mbak juga dengar suaranya? Yang nyuruh-nyuruh itu. Tiap malam. Dia bilang... dia bilang bayiku harus dikembalikan. Aku nggak mau, Mbak. Aku nggak mau. Tapi suaranya keras sekali. Tolong matiin suaranya."
Rani keluar dari kamar itu dengan satu kesadaran yang dingin dan jelas. Sutejo, dengan segala lukanya, bisa menunggu seminggu, sebulan; bahayanya terhadap dirinya sendiri lambat, menahun. Wulan tidak punya kemewahan waktu itu. Di balik pintu berselot ini, dua nyawa—ibu dan bayi—digantungkan pada keyakinan satu keluarga bahwa kunci besi lebih murah daripada aib. Dan Rani tahu, dengan kepastian yang membuat perutnya mengeras, bahwa ini bukan lagi kasus yang bisa ia dampingi pelan-pelan dengan membangun kepercayaan selama berminggu. Ini perlombaan. Dan ia tak tahu berapa banyak waktu yang tersisa di jam yang sudah mulai berdetak.