Hari ketiga di rumah ibunya, Rani bangun pukul sembilan dan tidak tahu harus berbuat apa dengan tubuhnya.
Selama bertahun ia bangun sebelum subuh, dan tangannya tahu urutan: cuci muka, seragam, motor dinas, daftar kunjungan yang sudah ia susun semalam. Sekarang daftar itu ada di tangan Yoga. Ponselnya ia letakkan di laci atas perintah dr. Pram—"Cukup nyalakan sore, sekali, untuk telepon ibumu kalau kamu butuh," katanya, dan Rani tahu itu trik agar ia tak menelepon Puskesmas tiap jam. Maka ia berbaring, mendengar ibunya menyapu halaman, mendengar ayam tetangga, dan untuk pertama kali sejak Bagas, ia membenci diam.
Di Puskesmas, diam adalah barang langka. Pagi itu Yoga berdiri di depan papan jadwal dengan spidol di tangan dan keringat di pelipis, padahal belum panas. Bu Inah duduk di sampingnya, mengaduk teh dengan ketukan yang ia kira menenangkan tapi sebenarnya membuat Yoga makin gugup.
"Sutejo injeksi depot besok," Yoga membaca daftar. "Ratri kontrol minggu ini, minggu kedua obat, harus dilihat efek sampingnya. Wulan rutin. Topan obat antiepilepsi, aman. Mbah Ginem—penitipan siang." Ia menurunkan kertas. "Bu, ini kerjaan tiga orang. Kita berdua."
"Mbak Rani biasanya berapa orang?" tanya Bu Inah.
Yoga membuka mulut, lalu menutupnya. Satu. Mbak Rani biasanya satu orang, ditambah ia yang ikut tapi selalu menunggu diberi tahu. Itulah masalahnya. Ia sudah ikut puluhan kunjungan, tapi selalu sebagai bayangan—yang membawa tas, yang mencatat, yang mengangguk. Bukan yang memutuskan.
"Kita bagi," katanya akhirnya, dan suaranya lebih mantap dari yang ia rasakan. "Bu Inah pegang yang sudah kenal Bu Inah—Sutejo, Mbah Ginem, Posyandu. Saya pegang yang klinis—Ratri, Wulan, Topan. Kalau ada yang nggak yakin, kita catat, tanya dr. Pram, jangan telepon Mbak Rani." Ia menelan ludah. "Mbak Rani lagi sakit. Beneran sakit."
Bu Inah memandangnya lama. "Kamu ngomong kayak dia."
"Saya niru dia," aku Yoga. "Belum bisa jadi dia."
Masalah datang lebih cepat dari yang mereka harap. Sore itu, suami Wulan—Mas Bayu—datang tergesa, sarungnya basah keringat, mengatakan ibunya, Bu Marni, lagi-lagi mempersoalkan obat. Wulan mengantuk seharian setelah dosis disesuaikan, dan Bu Marni bilang itu tanda obat meracuni cucunya lewat air susu, dan menyuruh berhenti.
Naluri pertama Yoga adalah meraih ponsel. Mbak Rani pasti tahu cara menjawab ini. Mbak Rani selalu tahu kalimat yang membuat orang tua seperti Bu Marni berhenti melawan tanpa merasa dipermalukan. Jarinya sudah di layar ketika ia teringat wajah Rani yang merosot di anak tangga itu, pucat, basah dingin, tubuh yang menolak berdiri. Ia menarik napas dan memasukkan ponsel kembali.
"Saya ikut Mas Bayu pulang sekarang," katanya pada Bu Inah. "Bu, tolong telepon dr. Pram, tanya soal sedasi risperidon di ibu menyusui—apakah aman, berapa kadarnya di ASI. Saya butuh angka, bukan tebakan."
Di rumah Wulan, Yoga melakukan hal yang belum pernah ia lakukan sendirian: ia duduk berhadapan dengan Bu Marni, perempuan tua yang matanya keras oleh ketakutan bertahun, dan ia tidak berdebat. Ia bertanya. Apa yang Ibu lihat? Mengantuknya seperti apa—susah dibangunkan, atau cuma lebih banyak tidur? Wulan masih mau makan? Masih mau gendong bayi? Pelan-pelan ia memetakan bukan waham, tapi ketakutan Bu Marni—takut kehilangan cucu, takut menantunya berbahaya lagi, takut pada barang asing bernama obat yang tak ia mengerti.
Ketika dr. Pram membalas lewat Bu Inah—kadar di ASI rendah, mengantuk wajar di awal dan akan mereda dalam seminggu, tak perlu dihentikan, hanya dipantau—Yoga menyampaikannya bukan sebagai vonis, tapi sebagai kabar baik. "Bu, kantuknya bukan racun. Itu badan Wulan lagi nyetel sama obat. Minggu depan reda. Kalau nggak reda, kita turunin dikit. Tapi kalau berhenti sekarang, suara-suara itu balik—dan Ibu yang paling tahu betapa serem itu."
Bu Marni tidak langsung mengangguk. Tapi ia juga tidak menyuruh buang obat. Itu, Yoga belajar, sudah kemenangan.
Di rumah ibunya, sore harinya, Rani menyalakan ponsel sekali. Ada satu pesan dari Yoga, dikirim malam: Wulan aman. Bu Marni nggak jadi nyuruh berhenti obat. Saya nggak nelpon Mbak. Sengaja. Istirahat yang bener. Tidak ada laporan lengkap, tidak ada minta arahan. Hanya itu.
Rani membaca pesan itu tiga kali. Sesuatu di dadanya mengencang dengan cara yang aneh—campuran lega dan, ia akui dengan malu, luka. Selama ini ia merasa dirinya benang yang menahan seluruh kain agar tak terurai. Dan ternyata, ketika ia ditarik keluar, kain itu tidak terurai. Yoga menjahit lubang itu. Canggung, dengan jahitan yang tak serapi miliknya. Tapi terjahit.
Ia mematikan ponsel dan berbaring lagi, dan menyadari bahwa hal yang paling menyakiti egonya adalah persis hal yang dulu ia perjuangkan mati-matian: bahwa program ini tidak boleh, tidak boleh, bergantung pada satu tubuh. Ia telah mengajari Yoga untuk tidak meneleponnya. Dan Yoga mendengarkan.
Di luar, ibunya memanggil makan. Rani bangkit, dan untuk pertama kali dalam berhari-hari, tubuhnya menurut—pelan, tapi menurut. Ia berjalan ke dapur dengan langkah seseorang yang baru sadar bahwa rumah-rumah di seberang sana, malam ini, dijaga oleh tangan-tangan lain. Dan rantai yang dulu ia kira hanya bisa ia tahan sendirian, ternyata kini dipegang berbanyak.