Rani kembali bekerja pada hari Senin, dua minggu lebih sejak ia merosot di anak tangga. dr. Pram menahannya di pintu sebelum ia sempat duduk.
"Setengah hari," kata dokter itu, menyodorkan secarik kertas. "Saya tulis ini bukan buat Dinas. Buat kamu. Aturan baru."
Rani membaca. Pulang jam empat. Tidak ada kunjungan hari Minggu kecuali kegawatan jiwa. Makan siang duduk, bukan sambil jalan. Satu hari libur penuh tiap minggu—mati ponsel. Ia hampir tertawa. "Dok, ini—"
"Ini resep," potong dr. Pram. "Kamu yang ngajarin saya bahwa kepatuhan obat itu separuh dari kesembuhan. Nah. Ini obatmu. Patuh."
Mudah ditulis di kertas. Sulit dijalani. Hal pertama yang menguji Rani datang hari itu juga: Bu Lastri, ibu Topan, menelepon panik karena Topan demam dan menolak makan. Tangan Rani sudah meraih kunci motor sebelum otaknya selesai berpikir. Lalu ia berhenti. Demam. Menolak makan. Bukan kejang, bukan status epileptikus, bukan kegawatan jiwa.
Ia menelepon balik. "Bu Lastri, demamnya berapa? Sudah dikasih parasetamol? ... Belum. Coba dikasih dulu, kompres, banyakin minum. Kalau dua jam nggak turun, atau kejang, atau dia bingung-bingung, telepon saya lagi—saya datang. Tapi kalau cuma demam biasa, Topan kuat. Badannya udah jauh lebih sehat dari setahun lalu."
Menutup telepon, tangannya berkeringat. Bukan karena khawatir Topan—ia cukup yakin itu demam biasa. Tapi karena tidak pergi. Karena menahan diri. Karena untuk pertama kali ia membiarkan dirinya percaya bahwa tidak setiap panggilan adalah Bagas yang sekarat di gudang.
Dua jam kemudian Bu Lastri mengirim pesan: demam turun, Topan minta bubur. Rani menatap pesan itu dan merasakan sesuatu yang asing—bukan kemenangan, tapi keheningan yang tenang. Tidak ada yang mati karena ia tidak datang.
Yang lebih sulit adalah berhadapan dengan dirinya sendiri saat sore. Pukul empat ia harus pulang, dan laporan provinsi masih separuh. Tangannya gatal meraih map. Tapi ia teringat anak tangga itu, teringat wajah ibunya yang menyelimutinya, teringat ironi yang menohok ulu hatinya di kamar masa kecil: bahwa ia telah memperlakukan dirinya persis seperti keluarga memperlakukan ODGJ yang mereka pasung—memaksa berfungsi tanpa pernah merawat.
"Laporannya besok," katanya keras, pada ruangan kosong. "Besok masih ada."
Ia pulang. Memasak untuk dirinya sendiri—bukan biskuit dari laci, bukan kopi, tapi nasi dengan tempe dan sayur bening yang ibunya ajarkan. Ia makan duduk, pelan. Ia mandi air hangat. Ia tidur sebelum pukul sepuluh, dan tidurnya—untuk pertama kali sejak entah kapan—tidak dipenuhi daftar yang berputar.
Tapi batas itu juga mengguncang sesuatu yang lebih dalam. Suatu sore di Posyandu Jiwa, seorang ibu baru bertanya apakah Rani bisa datang ke rumahnya malam-malam, kapan saja, kalau anaknya gelisah—"Mbak kan biasanya selalu ada." Dan Rani, yang dulu akan langsung mengiyakan untuk membeli rasa aman orang itu dengan tubuhnya sendiri, kini menarik napas.
"Bu, saya nggak selalu ada," katanya, dan kalimat itu terasa seperti melepas batu dari dada. "Saya manusia, saya juga bisa sakit—dua minggu lalu saya jatuh karena kecapekan. Tapi ada nomor darurat sekarang, ada Mas Yoga, ada Bu Inah, ada ibu-ibu kader, ada tetangga di kelompok ini yang bisa saling bantu. Bukan satu Rani yang jaga Bu. Tapi banyak tangan."
Ibu itu tampak kecewa sebentar. Lalu mengangguk pelan. Dan Rani menyadari bahwa selama ini ketika ia membuat dirinya tampak tak tergantikan, ia sebenarnya membuat keluarga-keluarga itu lemah—menggantungkan keselamatan mereka pada satu tubuh yang bisa kolaps kapan saja. Membatasi diri bukan pengkhianatan. Itu, justru, cara membuat jaring pengaman yang tak akan runtuh saat ia jatuh.
Malam itu ia membuka catatan lamanya—catatan dari minggu-minggu setelah ia bersumpah di gudang Sutejo bahwa tak akan ada lagi yang mati seperti Bagas. Sumpah itu, ia kini paham, adalah rantai yang ia pasang sendiri di pergelangan tangannya. Rantai yang tak kalah kejam. Ia tak bisa mencegah semua kematian. Pak Kasto membuktikan itu. Dan menghukum dirinya seumur hidup karena tak bisa jadi Tuhan hanya akan membuatnya jadi perawat yang mati muda dan tak menyelamatkan siapa pun.
Ia menulis di bawah catatan lama itu, kalimat baru: Aku tidak menyelamatkan semua orang. Aku merawat sebanyak yang bisa, selama mungkin, dengan tubuh yang juga kurawat. Itu cukup. Itu, sebenarnya, satu-satunya cara agar cukup.
Lalu ia menutup buku, mematikan lampu, dan tidur—malam penuh pertama dalam hidupnya yang ia izinkan untuk dirinya sendiri tanpa rasa bersalah. Dan saat fajar datang, tak ada satu pun rumah di Tanjung Wuni yang hancur karena perawat jiwanya akhirnya belajar tidur.